Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 20


__ADS_3

“Cepat mir..!!”


“Kenapa kau malah diam dan berjalan lama sekali?”


Ucap Lilian dan Kirey yang berjalan dengan Polos melewati Almira


Mereka masih berkata seperti itu padaku.. Liburan apa ini? Kenapa kami menuju rumah Serkan dan Emre yang berada dijakarta? Harusnya aku tahu dan bisa menebak akal licik lilian dan kirey.. Pasti mereka juga yang mengajukan saran pada Serkan soal permainan games karena tahu aku sangat lemah bahkan termasuk golongan garis bawah jika sudah mengenai satu hal itu.. Aku menatap tajam kearah mereka namun mereka sama sekali tidak menghiraukanku.. Benar benar mereka itu...!! Tiba tiba emre dan hammet melewatiku dengan sengaja dan didepan mataku mereka mengambil tas dan koper milik lilian dan kirey untuk mereka bawa.. Bahkan dengan tangan mereka yang penuh dengan barang bawaan, mereka masih menggandeng tangan lilian dan kirey untuk masuk kedalam..


“ Lucu sekali. Jika bisa, INGIN KULEMPAR MEREKA DENGAN POT BUNGA INI!!”


Almira yang merasa kesal karena sudah dibohongi dan kalah dalam permainan games


“ Kalau kesal carilah pasangan. Atau, tas mu mau kubawakan?”


Serkan yang tiba tiba muncul disebelah Almira


“ TIDAK. Terima kasih banyak!!”


“ Kau kesal karena kalah olehku dalam games tadi? Atau karena kau tidak punya pasangan?”


“ Lucu sekali.. HAHAHA”


“ Masuklah..”


Senyuman jahil diwajahnya semakin membuatku merasa kesal. Aku pun ridak memiliki pilihan lain selain mengikuti serkan dari belakang menuju pintu masuk rumahnya.. Dari sini aku dapat melihat punggung yang tegap itu berdiri lagi dihadapanku.. Benarkah pria ini adalah serkan? Dia ada disini? Tak lama dia berbelok kiri lalu sungguh diluar dugaan, tidak hanya 1 tapi dia memiliki 4 orang assisten rumah tangga. Terhenti melihat sambutan dari mereka kepada kami, aku mencoba menerka, pria itu adalah ketua dari ketiga pegawai ini. Dan betul saja, dia memanggil dan menyapa Serkan dengan formal bahkan kepala mereka pun seperti tertunduk dengan posisi layaknya para pegawai dikerajaan. Sungguh pemandangan yang tak terbayangkan, karena kukira pemandangan seperti ini hanya di film.. Tapi kini aku melihatnya dengan mataku sendiri.. Serkan tersenyum kepada mereka dan menanyakan kabar mereka semua..


Mataku tiba tiba langsung menuju pada halaman kecil didepan pintu masuk ini.. Dengan terdapat meja bundar berukuran sedang ditengahnya dan hiasan rangkaian bunga yang terkena sinar matahari, membuatnya semakin terlihat indah.. Desain bangunan yang tinggi serta lantai keramik berdesain batu marmer.. Warna rumah yang terkesan hangat dengan penyambutan para pegawai, sepertinya saat ini aku sedang berada di lobby sebuah hotel.. Benar benar UANG ternyata sangat menakutkan.. Bisa kubayangkan jika nanti Serkan berkunjung kerumahku, dia pasti akan terkejut dan merasa tidak nyaman.. Tunggu dulu, apa aku barusan membayangkan aku dan dia......


“ Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan?”


Ucap Serkan dengan menepuk Bahu Almira


“ A..apa? Ya.. Maaf.. Maaf.. Perkenalkan Saya almira..”


Almira langsung meraih tangan salah satu pegawai untuk berjabat tangan


“ Mereka... Tidak menanyakan namamu.”


Ucap Serkan yang merasa bingung dengan tingkah Almira


“Ap, apa??”


“ Pak nomo, aku serahkan dia padamu.”


Serkan yang langsung memalingkan pandangannya dan berjalan duluan


“Baik tuan muda.. Silahkan kemari nona almira..”


“Ap, apa? Aaah.. Ya baik.. Terima kasih”


Otakku sepertinya bermasalah saat ini.. Saat aku melewati ruangan koridor ruangan tengah, langkah kaki terhenti dan benar benar takjub kembali dengan rumah ini.. Benar benar seperti sebuah istana.. Halaman yang luas bahkan sepertinya kau bisa bermain sepak bola disini.. Kolam renang disertai area untuk bersantai.. Bahkan ruangan makan pun seperti sebuah meja jamuan untuk orang orang penting negara.. Diruangan keluarga terdapat sebuah bingkai foto berukuran besar.. Baru kali ini aku melihat ayah serkan.. Visual ayah dan ibunya tidak diragukan lagi, bahkan dipikiran anehku terbersit kenapa bisa ada manusia dengan paras sempurna seperti mereka? Pantas saja serkan... Lupakan! Dan emre.. Lalu.. Apa gadis cantik itu Safiye? Jika dia masih ada disini, pasti akan cantik sekali parasnya..


Mencoba untuk terus berjalan kembali semua yang terlihat terkesan tegas namun hangat.. Apa bu farrah yang mendesain semua ini? Lalu kembali aku berjalan menuju ujung lorong dan berbelok ke kanan.. Kali ini hanya berupa lorong seperti akan memasuki kamar hotel.. Jalan lurus dengan lampu dan beberapa lukisan dinding serta pot bunga.. 2 ruangan didepan pasti kamar untuk nenek dan orang tuanya, lalu 3 kamar disebelahnya pun terlihat tidak kalah besar.. Sepertinya itu kamarnya, emre, dan safiye.. Dimana kamar lilian dan kirey? Kenapa aku dari tadi tidak melihat mereka berempat? Kemana serkan? Apa hanya aku yang berada dilantai 2 sekarang? Lalu aku diberhentikan pak noko disalah satu ruangan yang tadinya menurutku adalah kamar milik safiye..


“ Apa.. ini kamar saya? Bapak tidak salah? Kamar ini sepertinya bukan kamar tamu pak...”


“ Memang bukan nona.. Nyonya farah memerintahkan saya untuk melakukan renovasi sebelum anda datang.. Semua dikamar ini merupakan barang baru..”


“ Apa? Kenapa... Bu farrah?? Jadi beliau tau saya akan datang kesini?”


“ Saya tidak akan berkata lebih.. Barang nona semua sudah saya taruh diruang ganti pakaian.. Silahkan beristirahat nona..”


“ Lupakan istirahatnya. Ikut aku”


Serkan tiba tiba datang dengan menarik tangan Almira meninggalkan kamar


“ Tunggu.. Mau kemana? Lalu lilian dan kirey, aku dari tadi tidak melihat mereka.. Kenapa kau menggenggam dan menarik tanganku? Aku bisa jalan sen...”


“ Kau suka hot plate atau sushi?”


Serkan yang tiba tiba menghentikan langkahnya dan menatap Almira menunggu jawabannya


“ Ho.. Hot plate..??”


“ Sudah kuduga. Mereka sudah pergi duluan, kita susul mereka sekarang”


“ MEREKA PERGI DULUAN?? Lalu kita akan kemana?”


“ Masuklah kedalam mobil”


“ Tunggu dulu.. Tunggu dulu.. Apa ini series terbaru BMW? BMW X7??”


“ Ya. Jangan terlintas dipikiranmu untuk menyetir saat ini, karena aku tidak akan mengijinkan.”


Serkan yang langsung membukakan pintu mobil penumpang pada Almira


" Kapan aku boleh mengen.."


" Masuk."


Serkan langsung  menundukkan kepalaku dengan sedikit mendorongku untuk masuk kedalam mobil.. Saat masuk aku seperti anak kecil melihat isi dan fasilitas apa saja yang berada dimobil ini.. Serkan yang mengemudi sesekali melihatku dan tersenyum karena kelakuanku yang kata orang NORAK atau KAMPUNGAN. Tapi aku tidak perduli, mungkin hanya kali ini saja aku bisa duduk disebuah mobil dengan harga sebuah rumah, itu pun sepertinya aku harus menabung setidaknya 3 tahun dengan gajiku yang sekarang.. Kapan dia membeli mobil ini? Bukankah dia tidak ada disini? Orang kaya benar benar membuatku merinding.. Merasa cukup aku mencoba mengalihkan pandanganku kejalan, tapi serkan tiba tiba memperlambat laju kendaraan dan akan berbelok kesebuah rumah yang tidak kalah saing dengan rumahnya.. Saat akan berbelok, serkan terhenti karena sebuah mobil keluar dari rumah itu.. Mau kemana dia membawaku?


“ Sepertinya Emre dan Lilian sudah selesai bertemu Nenek..”


“ Oohh.. Tunggu.. APA?? NENEK?? Kau membawaku sekarang, KE RUMAH NENEKMU??”


Almira yang langsung terkejut


“ Kenapa kau meninggikan nadamu? Ya.. Serta ada Paman dan Bibiku juga..”


“ Paman dan Bibimu... Juga??.... Turunkan aku Serkan!!”

__ADS_1


Almira yang mencoba membuka pintu mobil


“ Yaa, kita memang akan turun.. Aaah, ternyata mereka masih diluar.”


“ Bukan itu maksudku..! Serkan, tunggu jangan turun..! SERKAN!!”Almira sedikit kesal karena terlambat menarik tangan Serkan yang turun dari mobil terlebih dahulu


“ Nenek..”


Ucap Serkan dengan memeluk Neneknya


“ Bibi, paman, apa kabar?"


Ucap Serkan menggunakan bahasa Turki dengan memeluk paman dan bibinya


“Baik, bagaimana denganmu? Sepertinya kamu tidak datang sendiri"


Ucap sang paman menggunakan bahasa turki


“ Baik paman.. Ya.. aku bersamanya"


“ Haluk suamiku.. Coba kau lihat, gadis itu merasa gugup.. Tersenyumlah.. Kau membuatnya takut”


Ucap Bibi Serkan yang menepuk pundak suaminya


“ Aku tersenyum.. Tidakkah kau lihat?”


Ucap sang paman menggunakan bahasa turki


“ Sudah kubilang potong kumismu itu!”


Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa tadi serkan seperti dicubit oleh neneknya? Apa gara gara membawa wanita tak dikenal ke rumah mereka? Ayolah serkan..!! Kau membuatku jadi serba salah.. Apa aku harus turun? Kenapa mereka sekarang melihat kearahku? Jika aku melambaikan tanganku sungguh tidak punya sopan santun, jika aku menundukkan kepalaku seperti anak sombong yang tidak tahu etika.. Lalu aku harus bagaimana? Kenapa mereka masih melihat kearahku? Tunggu, jangan kemari! Serkan jangan kemari menghampiriku! Tamatlah sudah nasibku......


“ Apa yang kau lakukan?”


Ucap Serkan saat membuka pintu mobil dan menyuruh Almira untuk turun


“ Aku? Kau pikir? Lalu jika mereka bertanya, aku harus mengenalkan diri sebagai..?”


Almira yang menahan dirinya untuk tidak turun dari mobil


“ Apa yang kau inginkan?”


“ Kau bercanda saat ini??”


“ Aku selalu serius mengenaimu, kau tahu itu.”


“ Lalu.. Apa aku harus benar benar menya...”


“ Turunlah dan sapalah mereka”


Ucap Serkan yang menghentikan Almira berbicara dengan menarik tangan Almira untuk Turun


Almira yang merasa canggung saat berjalan bersama Serkan dengan bergandengan tangan


“ Nenek Paman, dan juga bibi.. Perkenalkan, Almira Basera..”


“ Ahhh.. Sa..Se.. Selamat pagi.. Siang? Selamat Siang, ibu, tante..? Bukan. Ne.. Ma, maafkan saya.. Kenapa tiba tiba.. Saya almira.. Saya.....”


Almira yang merasa canggung dan gugup menjadi salah tingkah


“ Panggil aku nenek..”


Ucap Nenek Serkan yang langsung menarik tangan Almira


“ Aku fira, adik kak farrah.. Dan ini suamiku Haluk.. Dia memang terlihat menyeramkan tapi sebenarnya dia saat ini sedang tersenyum padamu.. Panggil saja kami sama seperti Serkan..”


Ucap Bibi Serkan dengan memeluk Almira dan menggenggam tanngannya


“ Ba, baiklah.. Bibi.. Paman.. dan juga.. Nenek.. Perkenalkan saya Almira..”


“ Bolehkah Nenek memelukmu nak?”


“ Aa.. Apa?...Ya, tentu saja nek..”


Aku sedikit menekuk tubuhku dan nenek memelukku dengan lembut dan dapat terasa olehku rasa kasih sayang dari setiap belaian tangannya dirambutku.. Apa mereka seperti ini karena aku menolong Serkan? Bu farrah bercerita pada mereka semua? Perasaan ku sedikit terbawa seuasana saat ini, sadarlah almira! Aku sudah tidak mau lagi menyalah gunakan atau salah menilai atas semua kebaikan dan keramahan ini.. Ya, mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih padaku dan tidak lebih.. Setelah nenek memelukku, tiba tiba Bibi fira pun ikut memelukku.. Lagi lagi aku mencoba meyakinkan diriku dan jangan terlalu larut dalam perasaan..


Selesai memperkenalkan diri, Serkan memotong suasana dengan mengatakan akan mengajakku untuk makan siang bersama dengan lainnya.. Mereka pun langsung menyuruh kami pergi seolah tidak ingin merusak acara kami hari ini.. Serkan kembali menggenggam tanganku menuju mobil dan membuka pintu mobil, setelahnya saat kami berkendara pergi, mereka semua melambaikan tangannya padaku dan aku pun membalasnya.. Aku harus terbiasa dengan suasana seperti ini.. Karena kedepan mungkin ada salah satu keluarga pasien yang akan juga sama memperlakukanku seperti ini. Sepanjang perjalanan pun aku terdiam dengan pikiranku yang melayang, Serkan pun seperti mengerti suasana hatiku sehingga tidak mengatakan apa pun hingga akhirnya kami sampai di restaurant..


“ Kami sudah memesan makanan dan minuman untuk kita semua.. Apa kalian...”


Ucap Lilian kepada Serkan dan Almira mencoba untuk bertanya


“ Aku tidak. Almira??”


“ Tidak.. Aku juga.. Terima kasih..”


Saat Emre dan Serkan sudah terduduk dikursi, aku berbelok untuk mencari toilet.. Dengan kondisi Restaurant saat ini yang terlihat ramai, tiba tiba aku teringat pada Pak Mete dan Kak Ozcan.. Karena melamun tidak sadar akan didepanku, tiba tiba seseorang pria berdiri dari kursi tempat duduknya dan hampir mengenaiku..


“ Maafkan aku.. Minumanku ditumpahkan oleh temanku, jadi....”


“ KAK REZA...??”


“ Almira??. . . Kebetulan tak terduga.. Apa kabarmu?”


Reza yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan


“ Baik kak.. Kau sudah selesai dengan perkuliahan gelar S3 mu, lalu bekerja di jakarta?”


Almira yang membalas jabatan tangan itu dan berbicara dengan menatap Reza


“ Ya.. Itu sebabnya teman temanku merayakannya.. Bagaimana denganmu?”

__ADS_1


“ Baguslah.. Selamat kak.. Mira bekerja di Rumah sakit Helsaid.”


“ Wow.. Rumah sakit internasional? Apa kataku.. Kau pasti akan sukses.. Aku akan mengadakan seminar di salah satu kampus di kotamu nanti.. Jika kau kosong, mungkin bersedia bertemu?”


“ Aku akan lihat jadwal dirumah sakit dulu kak..”


“ Tentu saja, kabari aku.. No. Handphone ku masih yang lama.. Apa kau masih menyimpannya?”


“ Yaa kak...”


“ Almira?”


Serkan yang tiba tiba berdiri disamping Almira


“ Serkan....”


“ Siapa dia mir?”


Reza yang bertanya dengan tatapan serius


“ Kau siapa?”


Serkan yang merasa terpancing membalas dengan tatapan dan suara yang sama seperti Reza


“ Aahh.. Kak Reza ini dia adalah seniorku ku kampus.. Dan Serkan.. Dia... Dia.. Temanku..”


Almira mencoba menjelaskan dengan penuh hati hati


“ Apa? Teman?"


Serkan yang menatap Almira dengan sedikir kesal


“ Oke.. Siapa namamu tadi? Serkan? Senang berkenalan. Mira maaf, bajuku terumpah, jadi..”


Reza yang mempersingkat perkenalan itu dengan berjalan menuju toilet


“ Aaah ya kak silahkan..”


“ Hubungi aku, okey? Jangan sampai lupa”


Reza yang melambai dan berlalu pergi


Begitu sampai dirumah, Serkan membukakan pintu mobil untukku dan langsung berjalan masuk menuju rumah. Aku pun berjalan bersama yang lain tepat dibelakangnya, tiba tiba handphone nya berdering dan seperti panggilan dari orang yang sangat penting sehingga dia langsung menutupi dan berjalan menjauh.. Apa itu dari berguzar? Melihat dari reaksinya sepertinya betul.. Saat malam aku juga tidak melihat serkan.. Bahkan saat jamuan makan malam pun dia tidak keluar dari kamarnya.. Apa karena kejadian tadi siang dia seperti ini padaku? Apa salahku? Hingga Saat pagi pun aku masih belum melihatnya.. Begitu kami semua selesai bersiap dan sarapan, Serkan masih saja belum keluar dari kamarnya.. Lalu terlihat seorang pegawai membawa meja lipat dan terdapat beberapa makanan serta minuman diatasnya.. Apa dia akan sarapan dikamarnya?


Lilian menepuk pundakku dan bekata bahwa apa aku tidak mendengarkan dia berbicara? Yang akhirnya dia menjelaskan kembali bahwa hari ini kegiatan kami akan berkunjung ke ancol atau wahana di dufan dan sekitarnya kemudian ditutup dengan makan disebuah restaurant.. Aku setuju dengan pendapatnya, mengingat kami semua pernah bersenang senang seperti itu saat berada di istanbul.. Tapi, apa kali ini dia tidak akan ikut bersama dengan kami hari ini? Lilian dan kirey langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil.. Dan seperti biasanya, keseruan, canda tawa bersama mereka sangat kunantikan dan kami menikmati hari ini tanpa kehadirannya..


Hembusan angin, suara desiran ombak, bermain dipantai, seafood, serta wahana air lainnya kami nikmati hari ini.. Namun malangnya saat aku sendiri mencoba Speedboat ukuran kecil, tiba tiba ada sebuah speedboat lainnya yang tidak terkendali mengarah sangat cepat, saat aku mencoba membelokkan kearah belawanan salah seorang penumbang remaja wanita melompat kearahku sehingga aku terjatuh kedalam air dan kakiku terluka akibat tabrakan..


Terdengar mereka semua berteriak dan memanggil manggil namaku, tak lama regu penyelamat datang dan membantuku dan seorang remaja wanita itu.. Selesai aku diobati, remaja itu pun meminta maaf padaku karena merasa panik saat mengendarai speedboat yang melaju kencang dan masalah pun terselesaikan. Saat sampai dirumah kembali tak hanya Lilian, Kirey, Emre, dan Hammet yang mengkhawatirkanku.. Kulihat akhirnya dia keluar dari kamarnya dan menungguku didepan pintu masuk..


“ Apa yang kau lakukan? Aku masih bisa berjalan sen...”


Serkan datang dan menggendong Almira  masuk kedalam rumah


“ Diamlah.”


“ Tunggu dulu, kenapa aku masuk kedalam kamarmu?”


“ Perlihatkan luka kakimu.”


Serkan mendudukkan Almira diatas kursi kerjanya


“ Aa..Apa?”


“ Kau terluka persis ditempat yang sama saat kejadian waktu itu. Apa yang kau rasakan?”


Serkan menatap Almira tajam


“ Apa aku harus seperti ini agar bisa melihatmu? Jika kau marah, kesal padaku tidak bisakah kau langsung mengatakannya tanpa perlu menjauhiku?”


Almira yang tertunduk dan mencoba mengalihkan pandangannya dari Serkan


“ Apa yang kau... Kenapa kau menangis?”


“ Lupakan. Aku tidak apa apa!”


Almira yang tiba tiba berdiri berniat meninggalkan Serkan


“ Duduk, dengarkan aku. Ayahku menghubungi dan terjadi masalah serius di perusahaan. Aku mencoba menyelesaikannya, namun karena data perusahaan ada pada Emre. Dan jika aku bertanya padanya, pasti dia akan membantuku dan liburannya bersama Lilian berantakan. Karena itu aku jadi memakan banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku”


Serkan yang menjelaskan terduduk dihadapan Almira dengan mengobati kakinya


“ Kau tidak marah? Aku jadi merasa konyol saat ini!”


“ Untuk apa aku marah? Dasar, kau ini. Apa kau jadi pulang hari ini?"


Ucap Serkan yang menyentil dahi Almira dan berdiri membereskan kotak obat


“ Dari mana kau tahu?.. Aku tiba tiba ada pekerjaan yang mengharuskanku untuk datang besok.. Aku juga sudah memesan tiket travel.”


“ Batalkan. Aku akan mengantarkanmu.”


“ A..apa? Aku tidak apa apa, kakiku hanya tergores dan kau tidak perlu mengantarku”


“ Bersiaplah. Panggil aku jika sudah siap”


“ Serkan.. Kau tidak...”


“ Aku tidak akan mengulangi perkataan yang sama kedua kali.”


Apa maksud dari perkataannya saat ini.. Mengantarkanku? Kerumahku?

__ADS_1


__ADS_2