
Tersadar menundukkan kepalaku dihadapan para orang terkasih yang mencintai anaknya, aku tahu jelas akan posisiku saat ini yang tersudutkan akan tingkah laku yang dianggap tidak baik. Mencoba untuk berdiri, kulihat Bu Farrah berjalan menghampiriku, pikiran ku sudah kemana mana saat ini, bahkan Serkan pun langsung mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya untuk menghentikan ibunya, tapi yang dilakukan Bu Farrah sungguh mengejutkanku dan Serkan.. Tiba tiba memelukku? Tungg dulu, apa maksud dari pelukannya saat ini? Bukankah beliau marah padaku.. Tak lama setelah Bu Farrah memelukku, nenek pun menghampiri untuk memelukku lalu mereka berdua berlalu pergi berbicara menuju ruangan tengah.. Aku dan Serkan yang saling menatap satu sama lain saat ini, merasa kebingungan atas reaksi yang mereka berikan..
Serkan yang langsung berjalan keluar meninggalkanku seorang diri dikamarnya, akhirnya membuatku terdiam seperti patung mendengarkan mereka berdebat. Jantungku berdetak tak karuan, tanganku pun tiba tiba terasa dingin mendengar mereka beradu argument dengan alasan yang menurutku memang benar dan juga akibat apa yang ditimbulkan.. Serkan menolak saran yang diajukan oleh ibu dan neneknya dengan tegas dan juga berbagai alasan, namun Bu Farrah dan nenek berbalik memarahi Serkan bahkan diakhir terdengar seperti suara Bu Farrah yang menahan tangisannya.. Tak lama suasana menjadi hening dan Serkan masuk kedalam kamar dengan muka kesalnya.. Setelah melihatku, dia hanya bisa menundukkan kepalanya kepadaku dan aku pun sangat mengerti apa maksud darinya seperti itu.. Serkan terlihat kebingungan dan mulai gelisah seperti saat itu, saat dia masih.....
“ Aku akan berbicara dengan Bu Farrah, nenek.. Lalu mama, papa.. Semuanya”
Ucap Almira yang berjalan menghampiri Serkan
“ Almira, jangan bilang kau...”
Serkan menatap Almira penuh tanya
“ Serkan.. Kau sendiri.. Bagaimana menurutmu? Perni..”
“ Sekarang kau benar benar hilang akal? Dinginkan kepalamu dulu, lalu kita bicara lagi.”
Serkan memotong pembicaraan Almira dan berjalan menuju ruang ganti pakaian
“ Maaf, nenek mengganggu kalian.. Almira, apa bisa nenek minta nomor telephone ibumu? Banyak yang harus dibicarakan.. Lebih cepat lebih baik, bukan begitu?”
“ NENEK!! Kumohon hentikan.. Tidak, jangan kau... ALMIRAA!! APA YANG..”
Serkan yang merasa marah membentang Almira yang akhirnya memberikan nomor ibunya
“ Serkan.. Jika Almira tidak menikahimu, maka ibumu akan mencarikan wanita lain yang layak untuk kau nikahi. Itu keputusan kami. Sudah cukup kau seperti ini, dan juga sudah waktunya untukmu menikah”
Ucap sang nenek yang terduduk di kursi menatap Serkan dan Almira
“ Serkan.. Akan apa nek?”
“ Jika kau menolak, maka dia akan kami jodohkan. Jadi pertimbangkanlah..”
“ Sa.. Saya pulang dulu.. Nenek.. Almira pamit..”
Almira yang tertunduk dengan salam kepada nenek serkan
“ Aku akan mengantarmu”
Serkan berjalan menuju ruang ganti dan langsung mengambil kunci mobilnya
Sepanjang perjalanan Serkan sama sekali tidak berkata apa pun.. Yang dia lakukan hanya fokus berkendara dengan menghela nafas panjang dan lagi lagi mengacak acak rambutnya.. Dia juga pasti terkejut sama sepertiku. Kenapa jadi berakhir seperti ini? Apa karena aku tidur di.... Aaarrghh!! Kenapa aku bisa sampai tertidur disampingnya?? Seingatku semalam aku mencoba mengecek suhu tubuhnya, lalu aku melihatnya sebentar.. Apa dari situ tak sadar aku tertidur?? Lihatlah almira akibat dari perbuatanmu tanpa berpikir panjang! Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Pernikahan? Apakah itu solusi satu satunya?
“ Hentikan. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini. Ini bukan salahmu”
Ucap serkan yang melihat Almira gelisah
“ Maafkan aku.. Tanpa sadar aku tertidur di..”
“ Aku tahu. Tenanglah, aku akan mencoba mencari jalan keluar.. Kau fokuslah bekerja”
“ Kenapa kau selalu menanggung semua sendiri? Apa kau selalu egois seperti ini?”
“ Apa?”
“ Kau menentukan sesuatu tanpa meminta pendapatku! Membuatku semakin merasa bersalah!”
Almira yang merasa kesal sedikit meninggikan suarang kepada Serkan
“ LALU SOLUSI APA YANG KAU PUNYA?? KAU MAU MENIKAH DENGANKU??”
Serkan yang juga kebingungan akhirnya terbawa emosi dengan membentak Almira
" . . . . . . . . "
Almira terdiam mendengar Pertanyaan Serkan
“ Lupakanlah. Maaf, aku meninggikan suaraku padamu.”
Kenapa aku membuatnya malah semakin pusing? Almira ada apa denganmu? Sepanjang perjalanan ini akhirnya kami benar benar terdiam.. Aku sangat tidak menginginkan ini terjadi.. Dan pilihanku sekarang hanya ada 2, menikahinya atau melihatnya menikah.. Pilihan apa yang akan kau pilih almira? Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya kepadanya? Bahkan selesai dengan pembicaraan yang ambigu ini, Serkan langsung kembali ke Turki pada dini hari dengan setumpuk kegelisahan yang tertuju padaku seolah dia menghindariku..
. . . . . . . . . . . .
Musim hujan berbanding musim dingin.. Kurasa masih saja aku berputar dalam 2 musim ini.. Langit kelabu dan hari selalu ditemani rintikan hujan yang tak menentu.. Sudah sepekan berselang semenjak kejadian itu.. Dan besok hari adalah hari penentuan dimana aku harus memberikan keputusanku mengenai Serkan kepada Bu Farrah dan juga nenek. Hari ini pula adalah hari kepulangan Papa dirumah.. Dokter Arga sangat memberi peringatan kepada kami semua agar tidak sampai hal serupa terjadi kembali karena akan berakibat fatal untuk jantung Papa.. Membuatku semakin ingin berteriak atau membanting diriku agar bisa tak terlihat oleh siapa pun. Serkan pun masih belum menghubungiku sampai saat ini.. Kudengar dari Lilian bahkan Emre pun sampai datang ke indonesia.. Bu Farrah dan nenek seperti memberi kartu merah padaku.. Apa yang harus kulakukan?
Siang hari menuju senja, Lilian kembali mengabariku memberikan kejutan akan datang menemuiku. Merasa sangat senang mendengarnya namun tetap bersikap profesional dalam bekerja, aku kembali mencoba untuk tetap fokus dalam pemeriksaan pasien. Namun ditengah tengah saat istirahat, aku tak bisa berbohong kalau semua ini membuatku merasa semakin sesak.. Sebenarnya kenapa aku seperti ini, bahkan semua pun bisa melihat apa yang aku dan Serkan rasakan.. Aku kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaan, hingga akhirnya jam kerjaku selesai dan Lilian kembali mengabariku untuk menjemputnya disalah satu agent travel yang berada didekat rumah sakit, aku pun langsung berlalu pergi untuk menjemputnya.. Lilian menginap dirumahku sehingga aku bisa sangat leluasa berbicara dengannya.
__ADS_1
“ Hey kak Lilian.. Apa kabarmu?”
Ucap Andre yang menyapa, melihat Lilian menaiki anak tangga menuju kamar Almira
“ Baik Andre.. Kau bagaimana?”
“ Aku?? Semakin tampan tentu saja kak..Selamat untuk Pertunangannya kak.."
Ucap Andre dengan senyuman bangganya
" Ahahaha.. Kau masih saja seperti ini.. Terima kasih ucapannya Dre.."
Lilian yang tersenyum kepada Andre
" Oke, aku tidak akan mengganggu para wanita tua ini berbincang.."
Andre yang berlari sembari tertawa geli
" Menyebalkan sekali anak itu! Masuklah Li.. Aku tidak tahu apakah kamarku ini dapat membuat nyaman Miss. Emuler.."
Almira yang kesal sembari membuka pintu kemudian tersenyum jahil kepada Lilian
“ Berhenti menjahiliku! Aku belum menikah dengan Emre.. Jadi, bagaimana mir? Mama Farrah dan Nenek soal pilihan itu.. Besok jam berapa ke jakarta?”
Lilian menaruh kopernya dan terduduk di atas ranjang bersama Almira untuk berbincang
“ Aku.. Tidak tahu.. Bu Farrah menyuruhku datang pada saat jam makan siang..”
“ Bagaimana orang tuamu?”
“ Aku juga belum memberitahu mereka. Papa juga baru keluar dari rumah sakit, jadi..”
“ Aku mengerti apa yang kau khawatirkan mir.. Lalu, bagaimana reaksi Serkan saat itu?”
Lilian menggenggam tangan Almira dan memberikan senyuman padanya
" Dia terlihat marah dan kesal.."
Almira menundukkan kepalanya
" Dari mana kau tahu dan yakin soal itu?"
“ Aku merekam video ini secara diam diam saat Emre dan Serkan sedang berbicara di halaman rumah waktu di istanbul kemarin.. Kau lihatlah..”
Lilian memberikan rekaman video dari handphonenya dan memberikan kepada Almira
* Lilian akan baik-baik saja.. Kakak\, bagaimana? Apa kau sudah mengambil keputusan?
* Aku tahu betapa kerasnya Almira bekerja untuk sampai ke titiknya saat ini. Jika aku melamarnya\, apakah dia akan siap seperti Lilian? Aku tidak ingin melihat Almira memaksakan diri\, terlebih kondisi keluarganya pun sedang tidak stabil mengingat kondisi ayahnya.
* Ya\, dengan ayah yang menyerahkan semua kekuasaan di perusahaan kepadamu\, sepertinya Almira akan....
* Aku tidak ingin merusak mimpi dan pekerjaannya karenaku. Tapi\, aku juga tidak ingin melihatnya dengan pria lain. Aku benar-benar egois! Memalukan sekali.
“ Almira, Serkan sebenarnya sudah memikirkan masalah ini dari jauh hari.. Karena alasan ini juga sepertinya yang membuatnya maju dan tiba tiba mundur padamu.. Tadinya aku tidak ingin menunjukan video ini padamu, Kirey pun berpendapat sama. Tapi sepertinya....”
“ Terima kasih sudah menunjukan video ini..”
Almira mengembalikan Handphone kepada Lilian dan kembali terdiam merenung
“ Almira, saat Emre membawaku kembali ke istanbul saat pertunangan kami selesai di sini.. Dia memperkenalkanku pada semua keluarga.. Papa Faruk dan lainnya.. Inti dari maksud pembicaraanku adalah, keluarga Emuler benar benar keluarga yang berbeda mir.. Mulai dari gaya hidup, cara bicara, pemikiran, dan kau sudah tidak perlu lagi menanyakan bagaimana penampilan mereka.. Apa kau siap mir jika menerimanya?”
“ Aku tidak tahu....”
Almira pun akhirnya menundukkan kepalanya dengan menghela nafas panjang
“Aku menerima Emre karena dia bisa meyakinkanku. Dari yang kulihat, Serkan jauh lebih serius kepadamu.. Terlebih di mulai saat ayahnya jatuh sakit, semua tanggung jawab keluarga Emuler diserahkan Serkan. Kau tahu bagaimana perusahaanya, pekerjaannya, lingkungan sosialnya bukan? Tapi terlepas dari itu semua, aku yakin Serkan tidak akan menyakitimu mir.. Dia pria bertanggung jawab dan sangat serius terhadapmu, juga keluargamu disini..”
“ Yaa.. Sebenarnya aku juga dapat melihat itu..”
“ Sudah malam, kita harus beristirahat karena besok ke jakarta.. Selamat malam..”
Lilian yang mencoba menarik selimut dan tertidur
“ Malam Li..”
__ADS_1
“ Mir..”
“Yaa?”
“ Aku ingin melihatmu bahagia. Kau orang yang baik.. Temukan kebahagiaanmu”
Lilian mematikan lampu kamar dan mulai tertidur
Temukan kebahagiaanku? Apa yang menjadi kebahagiaanku? Bukankah aku sekarang sudah bahagia? Karier ku, keluargaku tidak ada masalah dengan itu semua dan aku sangat bersyukur semua itu sudah tercapai.. Lalu apa kebahagiaan menurut lilian saat ini? Kenapa mendengar itu membuatku tak tenang? Apa yang harus kukatakan besok? Bagaimana ini.. Apa yang harus aku lakukan?
. . . . . . . . . . . . . .
Pagi kembali menyambut, tanpa berpikir panjang aku dan Lilian pun bersiap siap menuju Jakarta.. Mama dan papa sudah mulai beraktivitas seperti biasa, restaurant dan toko kue pun juga mulai beroperasi kembali.. Andre dan Talita pun selalu membantu disamping mereka sehingga aku tidak perlu lagi merasa khawatir. Saat semua sudah siap dan kami akan mulai berkendara, tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti di teras depan dan itu adalah Emre yang menjemput kami menuju Jakarta..
" Almira, Hey.. Apa kabarmu?"
Emre yang tersenyum menepuk pundak Almira untuk menyapa
" Baik.. Kau terlihat semakin Tampan.. Apa hanya perasaanku saja?"
Ucap Almira yang melirik jahil kepada Lilian
" Aku tidak akan termakan jebakanmu! Jadi hentikanlah.."
Lilian dengan expresi datar melewati Almira dan Emre
" Almira, kakak menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa menjemputmu saat ini. Karena di.."
" Aku mengerti.. Kita pergi sekarang?"
Almira yang memotong pembicaraan Emre dengan masuk dan duduk di kursi mobil belakang
Sepanjang perjalanan kulihat Lilian dan Emre sudah semakin memiliki kedekatan yang lebih dari biasanya, mereka juga terlihat begitu serasi.. Begitulah saat seseorang saat menemukan pasangan yang mampu mengisi dan menerima kekurangan satu dengan yang lainnya.. Lilian, entah mengapa aku sangat merasa iri padamu, tapi kenapa hatiku seperti tidak sama sekali merasakan hal yang sama kepada Serkan? Sepertinya aku tidak sanggup jika harus menikah dengannya. Lalu, apakah ini jawaban dariku? Jadi aku memilih akan melihatnya menikahi wanita lain? Benarkah ini yang kuinginkan....
Saat kami sampai di kediaman keluarga Bu Farrah, terlihat beberapa mobil terparkir dengan rapi.. Dari kendaraan dan pakaian yang mereka kenakan benar benar terlihat sangat berbeda jauh dari penampilanku.. Emre kemudian menyuruhku dan Lilian untuk masuk ke sebuah kamar agar merasa nyaman dan juga lebih leluasa untuk berganti pakaian atau sekedar beristirahat sejenak.. Saat Emre menutup pintu, Lilian tiba tiba memanggilku di ruangan ganti pakaian.. Aku pun berjalan masuk kesana dan telihat sebuah gaun indah tergantung dengan sepasang highheels yang sangat terlihat anggun berwarna merah muda..
Di sampingnya terdapat sebuah kotak kecil yang berisi sepasang anting dengan batu permata yang senada dengan gaun itu semakin membuatnya terlihat mewah saat seseorang mengenakannya.. Apa Serkan yang menyiapkan semua ini untukku? Dan ini juga adalah warna kesukaanku, darimana dia tahu hal ini.. Lilian tanpa pikir panjang langsung membantuku untuk berhias, bahkan rambutku pun dia tata dengan indah.. Hingga aku sendiri tidak menyadari bahwa sosok wanita di cermin ini adalah diriku.. Tak sadar seseorang ternyata masuk ke dalam ruangan dan ternyata itu adalah..
“ Almira?? Kau terlihat sangat cantik sekali.. Lilian, kau pun begitu nak..”
Ucap Bu Farrah yang tersenyum bahagia melihat Almira dan Lilian
" Aku akan menyusul Emre dan ku tinggalkan kalian untuk berbicara.."
Lilian yang menatap Almira dan berlalu pergi keluar kamar setelah salam dan memeluk Bu Farrah
“ Terima kasih bu farrah.. Bu.. Sebenarnya ada yang mau saya sam..”
“ Ibu sudah tahu. Serkan sudah menjelaskan semuanya pada kami kemarin.. Sekali lagi kami mohon maaf karena sudah salah paham dan menyusahkanmu..”
“ Apa?.... Serkan menjelaskan apa pada ibu? Tapi kami sama sekali be..”
" Ibu tahu nak.. Karena itu, anggaplah tidak ada tekanan saat acara pertunangan hari ini.."
" Ma.. Maksud ibu adalah..."
“ Ini adalah Yashinta.. Dia adalah calon tunangan Serkan.. Bagaimana menurutmu?”
Bu Farrah yang memperlihatkan foto seorang wanita dari handphonenya kepada Almira
“ Ca, can..tik.. Wanita yang cantik.. Sangat can.. tik.."
“ Terima kasih akhirnya kau bisa membujuk Serkan setelah sekian lama dia keras kepala! Kau benar benar penolong kami.. Almira, anggap lah kami keluargamu jangan sungkan..”
“ Membujuk.. Serkan?... Bu Farrah, maafkan.. Apa saya diperbolehkan berbicara dengan Serkan?”
“ Tentu saja.. Sepertinya dia masih di kamarnya di lantai atas..”
Bu Farrah mengarahkan salah satu tangannya menunjuk kearah atas
“ Saya permisi bu..”
Almira yang menundukkan kepalanya dan langsung berjalan keluar dari kamar
Aku membujuknya? Penjelasan? Serkan menjelaskan apa pada keluarganya? Tunggu dulu, bukankah ini semua memang yang akan aku katakan? Bahwa aku masih belum siap untuk menikah dengannya.. Lalu kenapa aku seperti ini? Seakan tidak terima dan kaki ku semakin cepat melangkah menuju kamar Serkan, seolah merasa tidak tahu malu. Begitu sampai didepan pintu kamarnya, aku pun mencoba mengetuk pintu kamarnya dan dia pun mempersilahkan untuk masuk. Begitu aku membuka pintu Serkan begitu terlihat tampan lebih dari biasanya.. Dari atas hingga bawah seperti tidak ada kekurangan sama sekali.. Tertegun kagum dengan apa yang kulihat di hadapanku, tersadar aku berdiri seperti patung tak bernyawa di hadapannya yang menatapku saat ini.
__ADS_1
Aku mencoba melangkahkan kaki untuk masuk kedalam dan menghampirinya.. Matanya terlihat serius kepadaku namun seperti terlihat penyesalan yang amat dalam diraut wajahnya.. Apa dia tidak bahagia? Kenapa dadaku terasa sakit melihatnya seperti ini..Aku melangkah dan melangkah hingga sampai tepat dihadapannya.. Akhirnya dia pun memberikan senyumannya padaku yang tersirat akan keterpaksaan. Almira, apa sebenarnya yang aku inginkan?!