Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 15


__ADS_3

Sudah seminggu aku berada dirumah ini.. Disetiap hari yang datang, aku merasa kedekatan kami menjadi lebih seperti benar sepasang kekasih. Saat masih tertidur dipagi hari, kudengar dia bersiap siap untuk pergi ke kantor, saat selesai bersiap dan aku terbangun, Serkan selalu menghampiri untuk melihat kondisiku, mengusap kepalaku dengan lembut dan pergi berlalu. Entah mengapa aku menjadi seperti terbiasa melihatnya disetiap kegiatan yang dilakukannya. Bahkan disetiap waktu menuju senja dia selalu berusaha untuk pulang kerja lebih cepat dan menyiapkan persiapan makan malam sehingga kami dapat bersantai dan berbicara. Aku sangat tahu bahwa yang kulakukan saat ini sungguh salah.. Alhasil pada malam terakhir untuk sesi terapis ini, mereka mengatakan aku sudah sangat jauh membaik sehingga tidak memerlukan perawatan terapis yang intensive.. Saat serkan mengantarkan mereka menuju pintu keluar, aku berdiri dan menyiapkan baju serta semua perlengkapanku yang berada dikamar ini..  Tak sadar serkan datang dengan tatapan penuh tanya..


“ Apa yang sedang kau lakukan?”


“ Membereskan barangku.. Bukankah kau merindukan kamarmu? Sudah seminggu ini kau tidur dikamar tamu”


“ Kenapa tiba tiba kau...”


“ Apa yang tiba tiba? Sudah waktunya untukku kembali bukan? Lagipula apa kata keluargamu nanti jika melihatku terus disini?”


“ Mereka sudah juga tahu dan mengerti. Kenapa kau seolah...”


“ Apa kau akan berdebat denganku saat ini?”


“ Apa maksudmu?”


“ Tidak baik untukku terus menerus berada disampingmu dengan status kau. . . . Intinya sebagai sesama wanita aku sangat mengerti itu”


“ Apa?”


“ Kau melakukan ini semua karena rasa terima kasihmu padaku karena membantumu bukan? Aku terima rasa terima kasihmu, bahkan menurutku ini terlalu banyak untukku.. Jadi, jika kau ingin menghitungnya.. Aku akan membalasmu lain kali”


“ itu yang ada dipikiranmu?”


“ Ya.. Apa ada yang lain?”


“ ini sudah malam, pulanglah besok pagi saat Lilian kemari”


“ Lilian sedang dalam perjalanan untuk menjemputku”


“ Almira... kau...”


“ Terima kasih serkan.. Semuanya.. Untuk semua ini..”


“ Apa ini? Kenapa kau mengulurkan tanganmu kepadaku? Setelah berjabat tangan, kita akan berpisah seperti tak saling mengenal. Itu yang kau mau?”


“ Kurasa lebih baik seperti itu..”


“ Almira..”


“ Terdengar suara mobil di depan, sepertinya lilian sudah datang..”


“ Aku belum selesai berbicara denganmu”


“ Tapi aku sudah.”


Serkan terdiam dan terlihat sangat kesal kepadaku saat ini, namun ia mencoba menahannya.. Dia memutar kepalanya kekanan dan kiri sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku.. Melihatku yang seperti menghindarinya, tanpa berkata dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan kamar dengan menutup pintu kamar dengan sedikit keras hingga aku pun sedikit terkejut.. Ya, dia pasti akan marah padaku karena kelakuanku saat ini padanya.. Melihatnya seperti itu jujur aku sangat ingin berlari kearahnya dan menjelaskan semuanya.. Tapi, tersadar aku harus terbangun dari tidur panjangku dan menghadapi kenyataan.. Maafkan aku serkan.. Tak lama lilian datang dengan mengetuk pintu kamar dan masuk.. Wajahnya penuh kebingungan kepadaku..


“  Apa terjadi sesuatu antara kau dan serkan? Kenapa dia terlihat kesal?”


“ Tidak ada.. Bisakah kau menolongku?”


“ Dan kenapa kau tiba tiba ingin pulang? Kau sudah...”


“ Aku sudah tidak apa apa.. Jadi sebaiknya aku kembali ke apartment”


“ Kau yakin?”


“ Ya..”


Bahkan lilian pun sama sepertinya, aku juga sebenarnya sangat mengerti.. Tapi aku tidak mau terlalu lebih jauh lagi dalam keadaan dan kondisi ini.. Aku harus tahu dimana tempatku.. Akhirnya lilian membantuku membawa barang bawaanku dan koper kecilku menuju mobil, saat aku berjalan keluar kamar serkan sama sekali tidak melihatku.. Dia berdiri dengan tegap membelakangiku dihalaman belakang dengan memegang minuman ditangannya.. Saat melihatnya seperti itu, aku pun memutuskan untuk tidak berbicara lagi dengannya dan berjalan menuju pintu keluar.. Lilian yang meilhatku sudah sangat mengerti dan tahu apa yang terjadi padaku tanpa aku harus berkata banyak padanya.. Dia akhirnya memelukku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil lalu kami pun berlalu pergi.. Saat sampai dilobby apartment, kirey sudah menunggu dan begitu melihatku dia pun memelukku, lalu membantuku membawa barang barang.. Begitu aku selesai membereskan barang barangku dikamar, Lilian mengetuk pintu kamarku dan kirey pun juga melihatku..


“ Mira jujurlah, ada apa antara kau dan Serkan?”


“ Apa maksudmu?”


“ Sepertinya Serkan mabuk disebuah bar.. Emre datang menjemputnya dan membawanya pulang. Emre bilang Serkan berkelakuan aneh lagi.. Begitu pun kau.. Ada apa ini mir?”


“ Ya betul, bahkan hari ini saat dikampuz Zzge datang ke fakultasku dan memberikan jadwal sidang tesismu hari Kamis ini.. Apa kau mempercepat jadwal? Kenapa?”

__ADS_1


Ucap Kirey yang meminta penjelasan lebih pada Almira


“ Terjadi sesuatu padamu lagi? Apa wanita itu...”


“ Tidak. Berguzar tidak menemuiku lagi”


“ Kau yang meminta kami untuk tidak memberitahu Serkan.. Jadi jangan menyalahkannya”


“Aku tahu itu..”


“ Lalu?”


“ Tidak ada apa apa....”


“ MIRA!! ”Lilian dan Kirey menggunakan nada tingginya karena merasa kesal pada Almira yang menutup nutupi


Aku berbalik untuk menghindari percakapan ini dengan lilian dan kirey.. Hingga beberapa saat mereka masih berdiri didepan pintu kamarku, namun mereka juga mengenal bagaiaman sifatku, akhirnya mereka berjalan menuju kamar masing masing.. Ya, aku juga tidak tahu sebenarnya ada apa.. Apa yang harus kulakukan.. Aku juga merasa khawatir akan keadaannya saat ini. Jika bisa aku mungkin akan menghubungi atau datang langsung kerumahnya untuk melihat keadaannya. Tapi, dengan adanya  kejadian ini membuatku sadar akan posisi dan tempatku.. Jujur aku pun tidak berani untuk melangkah lebih jauh lagi karena masih banyak hal yang harus kupikirkan dan aku lakukan. Aku meminum obat terakhir yang harus kuhabiskan dan mencoba untuk tertidur..


...................................


Saat membuka mata dipagi hari ini, entah mengapa cuaca terasa sedikit mendung.. Apa akan turun hujan? Teringat hari ini aku harus ke kampus untuk menyerahkan data tesisku yang akan kugunakan saat sidang nanti.. Aku segara bangun dri tempat tidur dan kembali bersiap mencoba kembali ke kehidupanku sebelum mengenalnya.. Selesai dari kampus, aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan hari ini? Apa sebaiknya aku kembali bekerja? Tapi ozcan hanim sudah sangat jelas melarangku, mete bay pun mengatakan jika aku datang ke restaurant, datanglah sebagai keluarga yang berkunjung, sehingga aku merasa segan untuk datang kesana.. Hari menunjukan pukul 4 sore, cuaca terlihat lebih mendung dari pagi tadi.. Belum lama aku berbicara dalam hati, titikan hujan terasa mengenai wajahku, aku mencoba berlari menuju restaurant terdekat untuk hanya sekedar memesan minuman hangat dan dessert masin sambil menunggu hujan reda..


Waiters kemudian mengarahkanku pada tempat duduk yang berada di samping ujung kaca sehingga aku bisa sangat jelas menikmati pemandangan bosphorus dikala hujan hari ini.. Setelah memesan dan menunggu pesananku datang, aku memalingkan wajahku untuk melihat sekejap dekorasi dan nuansa restaurant ini.. Berbeda dengan tema restaurant mete bay yang bersifat santai dan kekeluargaan, restaurant ini lebih kaku atau formal, sehingga kulihat dibeberapa meja orang orang berpakaian rapi dengan jas atau blazer.. Mataku kembali melihat disudut ruangan pintu kaca, yang hanya terdapat 6 meja.. Kurasa itu adalah ruangan VIP..


Tersadar pada meja kedua, seorang pria berkacamata duduk dengan degap dan berbicara dengan serius.. Penampilannya benar benar membuat yang melihatnya seperti terhenti sejenak untuk memandangnya dari bawah hingga atas.. Apa ini yang dinamakan takdir? Jika betul, mengapa takdir ini seperti mempermainkanku dan dia? Aku mencoba untuk menghindarinya, tapi kenapa lagi lagi seperti ini.. Lagipula tempat dudukku saat ini pasti akan dia lewati jika dia akan menuju pintu keluar.. Saat waiters datang aku meminta untuk pindah tempat duduk, namun yang tersisa hanyalah kursi diluar ruangan dimana saat ini masih hujan jadi tidak memungkinkanku untuk berpindah.. Akhirnya aku mencoba untuk membalikkan tempat duduk untuk membelakanginya agar dia tak melihatku.


Aku mencoba menikmati minuman dan dessert dengan menikmati pemandangan bosphorus, namun waktu tak terasa sudah senja dan menuju malam.. Kulihat dengan mencuri pandang dia masih berbicara dengan beberapa rekan kerjanya, akhirnya aku memutuskan untuk pergi duluan.. Namun lagi lagi malangnya saat aku baru akan berdiri, mereka semua berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.. Aku langsung duduk kembali dan membalikkan badanku, mencoba menutupi wajahku dengan daftar menu yang berada dimeja.. Apa sebenarnya yang sedang kulakukan ini? Mereka berjalan dengan berbicara satu sama lain, kupikir mereka semua sudah melewatkanku, aku pun akhirnya menurunkan daftar menu dari wajahku..


“ Sudah malam. Selalu berhati hati diperjalanan pulang.”


Serkan mengatakan itu tanpa melihatku dan langsung berlalu pergi.. Ternyata dia menyadari aku berada disini.. Entah mengapa tiba tiba dadaku terasa sesak dan tak sadar aku menitikkan airmata.. Apa sebenarnya yang harus kulakukan dengan perasaanku ini? Saat merasa tenang aku akhirnya memutuskan untuk makan malam direstaurant ini karena kalaupun aku pulang menuju apartment, suasana hatiku pasti memburuk.. Baik kirey dan lilian memberitahuku akan pulang terlambat malam ini, tanpa bertanya lagi aku sudah sangat mengerti akan kemana dan dengan siapa mereka akan pergi.. Aku kembali memesan makanan dan minuman serta menikmati pemandangan bosphorus malam hari ini selepas hujan.. Saat aku sedang menyantap makananku, tiba tiba kulihat Emre dan Lilian masuk dan langsung berjalan kearahku..


“ Kenapa, kalian bisa disini?”


“ Tentu saja untuk dinner..”


“ Reservasi ku dibatalkan pihak restaurant karena penuh, jadi aku mengajak Lillian kemari”


“ Benarkah? Jadi aku akan mentraktir kalian makan malam ini”


“ Apa? Tidak perlu mir!”


“ Serkan menghubungi kalian agar menjemputku bukan?”


Almira berbicara dengan nada serius sembari menundukkan kepalanya


“ Terlepas dari itu kami masih sangat mengkhawatirkanmu mir.. Dan, ini sudah malam.. Kau juga sendirian..”


“ Aku sangat mengerti.. Jadi pesanlah sesuatu agar aku merasa nyaman karena merusak malam kalian hari ini”


“ Mir...”


Lilian mencoba menolak tawaran Almira


“ Steak dan juice ini enak, mau kupesankan untuk kalian?”


“ Kami akan pesan sendiri..”


Emre langsung memanggil karyawan Reastaurant untuk memesan makanan


“ Okee.. Aku makan dluan ya, karena sangat lapar..”


Makanan dan minuman ini entah mengapa aku tidak bisa menikmatinya.. Apa yang sedang kulakukan ini, kenapa kehadiranku membuat banyak orang menjadi seperti ini? Kirey menghubungiku sudah 2X semenjak sore masih saja merasa tak tenang.. Hazal bahkan ozge juga mencoba untuk menjemput dan mengantarkanku, namun aku menolak mereka.. Dan sekarang seperti inilah hasilnya.. Lilian dan emre berkorban untuk malam yang akan mereka nikmati bersama gara gara kelakuanku.. Lilian melihatku dan dia sudah sangat paham bagaimana untuk bertindak ditengah rasa kaku ini.. Dia mencoba mencairkan suasana dengan canda guraunya, bahkan emre pun ikut bekerja sama dengannya hanya agar aku dapat tersenyum.. Apa yang harus kulakukan tanpa mereka semua.. Saat makanan dan minuman sudah tersedia, kami akhirnya berbincang..


“ Almira, aku ingin menanyakan hal padamu..”


“ EMRE!”


Lilian memukul tangan Emre seolah menyuruhnya untuk diam

__ADS_1


“ Jangan dengarkan lilian, katakanlah apa itu Emre?”


“ Kau menghindari kakaj bukan? Boleh kutahu alasannya? Lilian tak mau mengatakannya”


“ Aku yang memintanya untuk tak mengatakan padamu.”


“ Kenapa?”


“ Jika kukatakan, apa kau mau merahasiakannya dari Serkan?”


“ Jujur sulit untukku, tapi aku akan mencoba selama itu baik untuknya”


“ Saat aku berada dirumah serkan kemarin, aku lupa pada hari apa Berguzar datang menemuiku.. Kupikir yang datang adalah Lilian, tapi bukan. Lalu dia mengancam ku untuk menjauhi Serkan! Dan Kejadian yang dialami olehku kemarin adalah perbuatannya.”


“ Ap.. Apa? Almira, betulkah..??”


Emre yang terkejut dengan menghentikan menyantap makanannya


“ Ya.. Dia mengakui padaku saat itu. Dan keempat pria itu adalah anak buahnya. Awalnya aku ingin mengatakan padamu atau bahkan Serkan, tapi begitu mendengar kalian menghubungi polisi. Aku tidak mau memperbesar masalah ini.”


“ Tapi yang dia lakukan ini sudah betul betul....”


“ Jangan katakan padanya Emre! Kumohon..”


“ Apa kau juga sudah hilang akal? Justru kakak lah yang harus tahu hal ini! Apa kau tahu seperti apa usahanya mencari keempat pria itu hingga hari ini? Dan kau masih berani keluar malam seperti ini seorang diri? Dimana pikiranmu?!”


“ Maafkan aku.. Aku hanya tidak ingin seorang diri di apartment.. Terdengar manja sekali bukan?”


“ Almira.. Kakak menyuruhku untuk tidak mengatakannya padamu, tapi sepertinya aku sekarang harus mengatakannya. Saat ingatannya kembali, kau ingin menemani dan menjaganya Tapi dia menolakmu. Sebenarnya dia memaksakan diri bertemu Berguzar dan memintaku untuk menemaninya. Saat bertemu dengan Berguzar dirumahnya, Kakak memutuskan hubungan diantara mereka.”


“ Benarkah?"


Ucap Almira yang terkejut


“ Saat kakak memutus hubungan mereka, Berguzar meminta pertanggung jawabannya karena kejadian itu, dia juga mengalami kecelakaan hingga keguguran. Bahkan dokter memvonisnya tidak akan bisa memiliki anak.”


" APA..?”


" Merasa aneh akhirnya saat itu kakak memintanya untuk melakukan pemeriksaan, namun tiba tiba Berguzar terjatuh dan mengatakan perutnya kesakitan lalu melihat obat yang biasa Berguzar minum. Aku mencoba mencaritahu apa obat itu, ternyata itu memang obat yang biasanya diresepkan dari dokter kandungan.”


“ Jadi itu betul? Dia tidak bisa hamil?”


“ Sampai detik ini baik kakak dan aku sendiri masih belum yakin karena Berguzar masih saja menolak melakukan pemeriksaan.”


“ Jadi karena alasan ini Serkan...”


“ Ya. Sebetulnya kakak sudah memutuskan hubungan mereka. Tapi keadaan berkata lain. Tapi kakak tidak ada niat untuk menikahinya”


“ Lalu tanggung jawab apa yang Berguzar inginkan?”


“ Penerimaan status sosial dan biaya hidup”


“ Ap, apa..?”


“ Bisa kau bayangkan tekanan yang dialami oleh kakak saat ini? Bahkan ibu Berguzar datang menemui kakak untuk berterima kasih karena menerima anaknya dan bertanggung jawab.”


“ Tapi Emre.. Dari ceritamu aku cukup yakin wanita itu hanya mengarang cerita. Dia menyiapkan skenario dengan sangat baik”


Lilian yang merasa curiga dan aneh


“ Lilian...!”


Almira menegur dengan menarik tangan Lilian


“ Aku sangat yakin dia hanya ingin memanfaatkan Serkan”


Mendengar dan membayangkan saja sudah cukup membuatku bingung dan merasa tertekan.. Apa lagi dengannya yang mengalami itu semua? Bahkan aku pun bersikap seperti ini padanya, namun masih saja dia memperhatikanku.. Semua ini salah.. Serkan ternyata sudah memutuskannya, mereka sebetulnya sudah berpisah.. Aku... Aku harus menjelaskan semuanya padanya.. Ya, aku akan menemui serkan dan meminta maaf padanya.. Aku langsung berdiri dan memesan kendaraan online, aku tidak lagi mendengar emre dan lilian yang memanggil manggilku.. Saat kendaraan tersebut datang aku pun meminta sedikit berkendara lebih cepat untuk menuju rumahnya..


Begitu sampai kulihat sebuah mobil lainnya terparkir didepan pintu rumahnya.. Namun aku tidak menghiraukan dan berpikir lebih saat ini, yang ingin kulakukan adalah menemui, menjelaskan, dan meminta maaf padanya.. Aku berjalan menuju lantai utama dilantai 2, saat akan sampai diujung tangga terdengar suara seperti sedang berdebat.. Aku semakin melangkahkan kakiku menuju ruangan utama.. Kenapa suasana tiba tiba terdengar sunyi? begitu sampai, entah mengapa pemandangan yang terlihat sungguh jauh berbeda dari yang kubayangkan.. Kulihat berguzar memegang jas yang dikenakannya dan sedang menciumnya.. Almira.. Lagi lagi kau salah..

__ADS_1


__ADS_2