
Pagi menghampiriku kembali dengan cuaca hangat dengan sinar matahari yang cerah.. Aku kembali menyiapkan data serta bersiap dengan berpakaian formal.. Hari ini adalah sesi kedua aku menemani Serkan untuk sesi terapinya bersama Pak Onur. Seperti biasa lilian dan kirey memberikan semangat dan dukungan padaku, dengan perpisahan menuju fakultas masing masing. Disela akan menuju ruangan Pak Onur, terlihat dua pria tinggi dengan penampilan yang membuat hati wanita mana pun yang melihatnya merasa terpana. Meski penampilan Serkan hari ini seperti biasa terlihat berbeda, namun masih saja aku tak berhenti menatapnya.. Menyadari kehadiranku, dia pun tersenyum padaku namun terlihat seperti pasrah akan apa yang akan terjadi. Mencoba mengerti maksud dari expresi yang dia berikan padaku, Aku pun berjalan melewati mereka dan masuk kedalam ruangan Pak Onur.
“ Apakah kamu siap? Kali ini kita akan mencoba untuk lebih menekan ingatan Serkan agar dia bisa mengingatnya.Mungkin ini akan sangat sulit baginya.. Siapkan obat dan minuman untuknya."
“ Baik Pak Onur.."
Almira kemudian langsung menyiapkan sesuai yang diperintahkan Pak Onur
Pak Onur kemudian memanggil Serkan dan Emre untuk masuk, tanpa berkata lagi Serkan dengan biasa melangkah dan duduk terlentang dengan memejamkan matanya.. Selesai menyiapkan obat dan minuman untuknya, aku pun duduk disamping Pak onur.. Kali ini Pak onur tidak membunyikan dentingan jam yang biasa digunakan.. Dengan sedikit serius Pak onur memulai dengan menanyakan perkerjaan dan bagaimana hubungan serkan dengan sekitarnya.. Serkan masih terlihat tenang hingga akhirnya sampailah pada inti sesi, Pak onur menanyakan pada malam kejadian saat safiye datang ke kantor dan terjadilah kejadian itu.. Serkan terlihat kesusahan dengan nafasnya yang mulai terlihat tersenggah, Pak Onur mencoba terus menekannya dengan inti pertanyaan dengan nada serius.. Serkan menjawab sedikit demi sedikit, hingga serkan mendapatkan sedikit kenangan yang dia lupakan.. Serkan menceritakan alasan safiye datang ke kantor mereka pada malam itu dan sampai pada emre yang mendapatkan notifikasi di handphonenya..
Pak Onur menekan kembali pada Serkan, namun Serkan kali ini melakukan penolakan kembali.. Seperti biasa tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dan berbicara tidak jelas dengan mata yang masih tertutup.. Melihat itu Pak onur mencoba menenangkannya, dan Serkan terlihat sedikit tenang dengan berhenti berbicara tak jelas.. Saat mencoba membangunkan Serkan, tiba tiba tubuh Serkan bergetar tak karuan.. Emre yang melihatnya langsung mencoba untuk memegangnya dan Pak onur pun mencoba untuk menenangkannya.. Melihat mereka aku pun berdiri dengan terdiam. Tubuh Serkan masih bergetar dengan melakukan penolakan hingga akhirnya Serkan pun merasa lelah dan mulai tenang. Emre melepaskannya dengan perlahan, tapi Serkan masih saja belum membuka matanya.. Tubuhnya mengeluarkan banyak sekali keringat saat ini.. Pak Onur pun menyuruhku mengambil obat dan minuman yang tadi dipersiapkan untuk diserahkan kepadanya..
Dengan cepat aku mengambil dan menyerahkannya, namun Serkan melakukan penolakan dengan memukul gelas itu hingga terlempar dan terpecah.. Pak Onur langsung berlari untuk mengambil obat yang baru, namun kulihat tiba tiba Serkan membuka matanya dengan sangat terbuka.. Pak Onur yang melihat itu menyuruh Emre untuk memegangnya kembali, namun Emre telat bergerak dan berdiri terlalu jauh dari Serkan. Saat Serkan mencoba untuk bangkit dan terduduk, akhirnya akulah yang bergerak maju dan tanpa sadar aku memeluknya dengan erat.. Aku mengusap dengan perlahan kepala dan juga punggungnya.. Serkan terdiam namun tetap sedikit melakukan perlawanan, aku pun semakin erat memeluknya kemudian berbicara dengan sedikit berbisik ditelinganya..
“ Serkan..? Kumohon sadarlah.. Lihat aku? Ini aku, almira.. Tenanglah.. Kau baik baik saja..”
Serkan masih melakukan perlawanan padaku hingga emre pun ikut membantuku kali ini. Aku melepaskan pelukanku dan memegang wajahnya dan menatap kedua matanya dengan sangat serius.. Tatapan matanya terlihat sangat kosong hingga akhirnya aku menepukkan kedua tanganku diwajahnya agar dia tersadar.. Tak lama tenaganya berkurang dan tidak melakukan perlawanan lagi. Emre kembali melepaskannya dengan perlahan dan aku masih memegang wajahnya saat ini dengan fokus melihat kepada kedua matanya.. Tak lama dia mengedipkan kedua matanya dan mata itu pun akhirnya melihat kepadaku..
“ Aku melihatmu almira”
Mendengarnya berkata seperti itu membuatku merasa lega.. Aku pun melepaskan kedua tanganku dari wajahnya, lalu onur bay memberikan obat untuk diminumnya.. Pak Onur kembali berbicara lagi dengannnya dan serkan pun mengerti apa maksud dari perkataan onur bey.. Lalu seperti biasa saat kami selesai, Pak Onur memberikan selembar kertas laporan data lagi untukku kerjakan. Aku mengambil dan menunduk kepadanya kemudian berjalan menuju keluar.. Sepertinya aku lama lama sudah seperti emre yang bisa mengerti apa yang akan terjadi.. Tak lama berselang saat berjalan menuju mobil, lagi lagi serkan kehilangan keseimbangannya dan mencoba bersandar didinding agar dia tak terjatuh.. Dengan sigap emre dan aku menahannya dan mendudukkannya.. Tubuhnya mulai terasa panas dengan nafas yang kembali tersenggah.. Aku pun kembali memeluknya dan serkan menyandarkan kepalanya kepadaku. Saat emre mencoba mengambil minum, dia tiba tiba terhenti melihat sosok wanita didepannya.. Dan ya, kali ini pun aku melihatnya dengan jelas..
“ Kau lagi? Lepaskan tanganmu darinya"
Ucap Berguzar menggunakan bahasa turki yang semakin berjalan kearah Almira dengan tatapan membunuh
“ TIDAK."
Almira yang berdiri Tegap dihadapan Serkan
“ Apa katamu?"
“ Aku berkata tidak"
“ Saya tunangannya. KAU??"
“ Aku?? Aku. . . . . Psikiater Serkan."
“ Lalu apa hakmu padanya? Pergilah."
Berguzar berdiri tepat dihadapan Almira dan semakin mendekatkan wajahnya seolah mengajak berduel
“ Aku ingin dia sembuh dan normal kembali. Serkan sendiri setuju dengan ini. Jadi kumohon pergilah, saya akan menangani dan membantu Serkan sekarang."
Mendengarku berkata seperti ini, Emre tersenyum lalu membalikkan tubuhnya kearah Berguzar dengan amarah seolah berkata padanya untuk segera pergi. Berguzar yang menyadari itu, dengan merasa kesal mambalikkan tubuhnya dan berlalu pergi.. Jujur apa yang aku lakukan saat ini? Apa kau melibatkan dirimu lebih jauh? Tapi saat ini yang ada dipikiranku adalah menolong Serkan. Aku meminta emre segera membawanya masuk kedalam mobil dan menuju kerumahnya. Lalu seperti biasa aku menjaganya dan mencoba terjaga semalaman untuk mengurusnya sembari mengerjakan kembali laporan data dikertas yang diberikan oleh Pak onur.. Menjelang dini hari, aku kembali memasak sedikit makanan untuk dia santap ketika terbangun pagi nanti.. Melihatnya mulai membaik, pada pagi hari aku pun pulang dengan keadaan sedikit lelah.. Begitu sampai apartment tanpa melihat hal lain aku pun langsung tertidur.
................................
Tak terasa sudah pagi, pengingat handphone ku berbunyi memberitahu bahwa hari ini test hasil evaluasi pertengahan semester keluar.. Aku pun segera bersiap siap menuju kampus, dan begitu sampai sangat bersyukur nilai yang kudapatkan memuaskan.. Jurnal dan tesis ku pun sudah hampir selesai, data keseluruhan pun sudah kudapatkan.. Bahkan onur bay tanpa ragu meluluskanku kembali pada seminar perkuliahannya.. Sekarang yang harus kulakukan adalah lebih fokus pada kedua hal ini. Belum sampai kakiku melangkah menuju perpustakaan kampus, handphone ku berbunyi.. Kak Ozcan? Ada apa menghubungiku, bukankah nanti sore memang jadwalku untuk pergi bekerja? Kenapa pagi ini menghubungiku?
“ Halo kak ozcan?"
“ Almira, maaf.. Apa bisa kesini sekarang?"
“ Baik,kak.."
Dengan setengah berlari aku menuju restaurant, kenapa dari suaranya terdengar sangat serius seolah sesuatu sedang terjadi disana.. Saat turun dari bis, aku berlari dan begitu sampai aku pun dikejutkan dengan pintu masuk kaca yang terpecah, seperti dipukul dengan benda tumpul yang sangat besar hingga pecahan kaca terberai kemana kemana.. Kulangkahkan kakiku dengan perlahan memasuki ruangan tengah restaurant, kulihat hazal pun berada disini untuk membantu semua meja dan kursi yang berantakan dimana mana.. Bahkan salah satu meja utama untuk perjamuan tamu VIP dihalaman teras belakang pun hancur.. Ada apa ini? Aku semakin berjalan menuju lorong meja bar terlihat ozcan hanim berdiri dengan sedikit ketakutan menggendong Aagha anaknya.. Aku menghampirinya dan di dinding batubata ruangan tengah bar terdapat tulisan dengan cat merah #PECAT GADIS ITU BEKERJA DISINI#.
Kak Ozcan yang melihatku dengan tatapan penuh terkejut memberikan Aagha kepada babysitter lalu beralih untuk memelukku.. Terasa dia mencemaskan dan mencoba menenangkanku saat ini. Hazal pun menghampiriku dengan tersenyum sedih kearahku lalu menepuk pundakku dengan lembut.. Aku sangat mengerti maksud perlakuan mereka padaku saat ini. Aku mencoba melepaskan pelukan Kak Ozcan dan berjalan menuju teras luar untuk membantu membereskan kekacauan ini semua.. Apa ini terjadi karenaku? Apa kesalahanku? Tak lama terlihat Pak Mete datang bersama dengan Emre dengan berlari.. Pak Mete menceritakan sedikit kepadanya, lalu Emre yang melihat semua ini juga terlihat begitu terkejut serta terlihat kemarahan diwajahnya.. Kemudian mereka pun melihat kearahku yang berusaha membereskan kekacauan ini dengan wajahku yang terlihat bingung dan sedikit ketakutan..
Setelah selesai membereskan semua ini, aku terduduk dibangku halaman depan karena hari ini restaurant tidak akan beroperasi karena akan ada perbaikan. Hazal kemudian menghampiriku untuk memberikan segelas minuman untuk menenangkanku.. Dia pun menatapku seperti menunggu hasil dari keputusanku saat ini.. Aku sangat mengerti arti dari tatapannya saat ini, saat berdiri dan akan menemui Kak ozcan, Hazal tiba tiba menarikku dan menggelengkan kepalanya.. Aku mencoba melepaskan tangannya dan menepuk pundaknya seolah berkata aku akan baik baik saja.. Hazal kemudian terdiam dan membiarkanku pergi menemui Kak ozcan.. Saat mencari kedalam, terlihat Pak Mete dan Emre sudah selesai berbincang, Emre yang melihatku langsung menghampiriku.
“ Aku tidak mengira wanita itu akan seperti ini. Kau baik baik saja?”
“ Apa benar Berguzar melakukan hal lain pada mereka, karena aku?”
“ Jangan kau pikirkan. Yang kutahu saat kita semua pergi ke taman hiburan, Berguzar menghubungi kakak. Namun kakak menolak untuk bertemu dan memilih ikut bersamaku kala itu menuju taman hiburan. Lalu dengan adanya kejadian kemarin saat didepan ruangan Dokter Onur, kurasa...”
“ Emre.. Apa sebaiknya aku...”
“ Apa? Kau ingin Mengundurkan diri? Kami tidak bisa menerimanya. Kau harus terus bekerja disini.”
“ Tapi Emre, tidakkah kau lihat apa yang.....”
“ Apa?? Ini semua akan diselesaikan secepatnya, tenanglah. Kak Serkan pun tidak akan tinggal diam begitu tahu semua ini.”
“ Aku tidak mau menimbulkan masalah lebih lagi pada orang didekatku. Aku mencoba mencari Kak Ozcan tapi tidak bisa menemuinya..”
“ Mete menyuruhnya pulang karena tau kau pasti akan seperti ini. Mengundurkan diri!”
“ Kalian masih ingin aku bekerja disini, setelah kejadian ini semua??”
__ADS_1
“ Aku, Mete, ozcan, dan semua pegawai disini tidak merasa ini salahmu karena kami sangat tahu mereka orang yang seperti apa. Dan sudah saatnya Kak Serkan juga tahu mereka orang seperti apa.”
“ Maafkan aku Emre.. Aku tetap tidak bisa. Ucapkan terima kasihku pada mereka semua..”
Ucap Almira yang menyerahkan surat pengunduran diri dan berlari meninggalkan Restaurant
“ Almira.. Tunggu.. Almira!!”
Aku berlari dan sudah tidak memperdulikan lagi Emre yang berteriak memanggilku. Aku mencoba mengejar bis yang bisa membawaku saat ini walaupun aku tidak tahu kemana arah tujuan bis ini, mata dan hatiku seperti dibutakan dan telinga ku seperti tertutup untuk mendengar apa pun. Ya, almira.. Inilah akibatnya jika kau ikut campur dengan masalah pribadinya.. Berapa kali memperingatkanmu tapi kau tidak mendengarnya. Jarak.. Kau harus menjaga jarak dengannya, kau pun sama tak mendengarkannya. Apa yang kaulakukan? Apa kau punya kekuasaan seperti wanita itu disini? Ingatlah! Rumahmu bukan disini almira.. Hentikan semua ini.
Mataku terus meneteskan airmata yang tanpa kusadari membasahi kedua tanganku.. Sudah berapa lama aku menangis? Kemana ini? Ada dimana aku? Merasa tidak tahu kemana arah tujuanku, aku turun di hall stasiun bis yang ada didepanku dan turun dari bis ini.. Dengan mata sembab, aku menolehkan kepalaku melihat kearah kanan dan kiriku, aku mencoba membuka Google Maps dan ternyata aku berada cukup jauh dari apartment ku.. Aku melihat jadwal bis yang akan melalui hall stasiun ini lagi, namun ternyata tidak akan ada bis lagi dikarenakan jam operasional yang telah selesai. Kulihat jam tangan ternyata waktu menunjukkan pukul 9 malam.. Bagaimana ini? Kenapa kau jadi seperti almira.. Kau bodoh sekali! Apa aku harus sampai tidur di hall stasiun ini? Aku mencoba menggunakan aplikasi penyewaan supir dan mobil online, tapi tidak ada yang menyanggupi karena aku berada diluar wilayah..
Waktu terus berjalan dan terasa sangat larut. Jalanan sangat sunyi dan tidak ada satu mobilpun yang lewat kemari.. Kembali aku melihat jam tanganku dan sekarang menunjukkan pukul 1 malam.. Aku pun mulai merasa pasrah dengan keadaanku saat ini.. Perutku juga sangat lapar.. Adakah yang bisa menolongku saat ini? Tak tersadar aku pun tertidur dengan menyandar pada dinding hall stasiun..
“ Bangun.. nak.. apakah kamu tidur di sini sepanjang malam?"
Ucap seorang pria paruh baya menggunakan bahasa turki
“ Apa? Maaf pak, saya salah naik bus"
“ Kemana kamu pergi? Akan saya antar kebetulan saya mengantar anak saya ke sekolah"
“ Apa aku tidak mengganggumu? Atau merepotkanmu?"
“ Tiidak, Tidak.. masuklah ke mobil"
Ucap Pria paruh baya itu yang berjalan dan membukakan pintu mobilnya untuk Almira
“ Terima kasih banyak Pak"
Almira pun akhirnya masuk kedalam mobil
Saat masuk kedalam mobil, terlihat gadis manis tersenyum kearahku.. Kami berbincang dan saat mengetahui aku berkuliah dimana, gadis ini terlihat terkejut dan merasa antusias karena saat lulus sekolahnya nanti dia ingin berkuliah juga disana.. Gadis itu pun memintaku untuk bercerita bagaimana kondisi kampus, kelas serta dosen yang ada disana.. Hingga tak sadar kami pun sampai di lobby apartmentku.. Begitu sampai entah apa yang harus kukatakan kepada bapak yang telah mengantarku, aku mencoba untuk menawarkan mereka sarapan dan lain sebagainya namun mereka menolaknya.. Akhirnya mereka pun melambai dan berlalu pergi.. Saat akan masuk kedalam apartment, tiba tiba ada yang menarik tanganku..
“ Kemana saja kau? Kenapa kau tidak pulang semalaman?”
Ucap Serkan yang terlihat begitu khawatir pada Almira
“ Apa aku harus melapor padamu?”
Almira mencoba menarik tangannya dan mencoba mengacuhkan Serkan dengan berjalan meninggalkannya
“ Apa kau tidak tahu bagaimana kami mencoba mencarimu? Bahkan kau tidak bisa dihubungi”
“ Handphone ku mati, aku lupa charge kemarin malam.”
“ Kemana kau pergi?”
“ Kenapa aku harus memberitahumu?”
“ Almira, berhenti dan lihat aku! Aku sudah dengar semua dan melihat sendiri. Berguzar memang keterlaluan, maafkan dia. Aku akan berbicara dengannya dan....”
Ucap Serkan yang menarik tangan Almira dan mencoba menjelaskan padanya
“ Memaafkan dia?? Lalu apa, kau menyuruhku untuk kembali bekerja disana?”
Almira kembali tangannya dengan sangat kesal
“ Bukankah kau membutuhkan uang? Kembalilah bekerja disana”
“ Uang?? Berapa banyak yang bisa kau berikan padaku??”
Almira mendekatkan wajahnya kepada Serkan dan menatapnya Tajam
“ Apa? Tunggu almira, Jangan salah paham.. Maaf, maksudku adalah...”
“ Lucu sekali seperti anak kecil yang mengadu pada kedua orag tuanya. Dengar, setelah kau berbicara dengannya kemudian Berguzar meminta maaf padaku, aku kembali bekerja, dan dengan berada dibelakang punggungmu aku berlindung sehingga jika terjadi hal seperti itu lagi, kau akan datang pada Berguzar dan menegurnya lagi. Begitu?”
“ Almira..”
“ Aku bukan wanita seperti itu. Jadi kumohon pergilah, aku sangat lelah hari ini”
Almira pun mengarahkan tangannya mempersilahkan Serkan untuk pergi
“ Almira, kumohon dengarlah aku tidak bermaksud..”
“ Hentikan. Bukankah kau juga harus pergi bekerja?”
Almira membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Serkan
“ Almira.. Almira..!!”
__ADS_1
Aku sudah tidak mau lagi terlibat.. Cukup bagiku seperti ini, jika bisa kuputar kembali waktu keawal seperti aku belum mengenalmu. Meskipun aku harus menemuimu, aku akan menjaga jarak dan tidak akan mendekat padamu seperti dulu. Saat aku masuk kedalam apartment, hazal, ozge, lilian dan kirey ternyata sudah menungguku.. Mereka terlihat sangat khawatir padaku.. Ozge kemudian menyuguhkanku makanan dan minuman hangat yang dibawanya untuk kusantap.. Sesudahnya mereka menyuruhku untuk mengganti pakaianku dan pergi membersihkan diri.. Begitu selesai yang aku lakukan bukan untuk pergi beristirahat, melainkan aku menuju meja belajarku dan dengan fokus mengerjakan tesis dan jurnal akademikku. Mereka yang melihatku saat ini terdiam tak berkata, aku rasa mereka mencoba mengerti apa yang aku rasakan dan membiarkanku.
“ Almira, sudah malam.. Apa kau tidak makan malam?”
Ucap Kirey yang mengetuk pintu kamar Almira yang terbuka
“ Tidak usah.. aku tidak lapar, kalian pergilah makan”
“ Kau bisa sakit lagi mir..”
“ Kalau begitu belikan saja aku susu dan roti”
“ Itu saja?”
“ Ya.. Aku tidak begitu mempunyai selera makan. Yang penting perutku tidak kosong kan?”
“ Baiklah akan kami belikan..”
“ Hmm.. Terima kasih sist.. Hati hati dijalan..”
Aku tahu lilian dan kirey merasa bingung mengahadapiku saat ini. Entah mengapa aku berprilaku seperti ini, seharusnya aku tidak seperti ini pada mereka. Aku tahu itu, tapi kenapa tubuhku bereaksi sebaliknya.. Ada apa denganmu almira. Aku kembali fokus mengerjakan tesis dan jurnalku, hingga tak tersadar waktu berlalu dan ternyata lilian dan kirey sudah pulang dan menaruh roti dan susu dimeja ruangan tengah. Jujur saat ini aku merasa bersalah kepada mereka, hingga akhirnya saat pagi hari aku mencoba memasakkan sesuatu untuk mereka santap saat sarapan pagi ini..
“ Hmm... Wangi sekali.. Mir, apa kau masak?”
Ucap Kirey yang menghampiri meja makan
“ Ya.. Cobalah..”
“ Waaahh.. Pantas saja dari tadi mendengar suara, ternyata kau sedang memasak.. Serius ini untuk kami semua? Ayam fillet bumbu asam manis.. Tumis sayuran hijau dengan jagung.. Kapan kau pergi berbelanja?”
Ucap Lilian sembari mencoba salah satu masakan yang dimasak Almira
“ Apa kalian lupa supermarket yang hanya beberapa langkah dari apartment ini buka 24jam?”
“ Aaahh.. Lalu apa saat malam kau pergi sendiri ke sana?”
“ Ya.. Begitu selesai mengerjakan tesis dan jurnalku, aku menghabiskan roti dan susu yang kalian bawa. Tiba tiba aku menjadi semangat kembali dan pergi kesana.”
“ Kau selalu membuat kami kagum padamu mir..”
“ Makanlah.. Apa kalian tidak lapar?”
“ Apa? Tentu saja kapan kami menolak masakanmu yang enak!! Sejak awal pun kau yang selalu memasak untuk kami..”
“ Kalian makanlah.. Aku akan bersiap siap dulu kemudian baru makan”
“ Apa kau akan pergi ke kampus?”
“ Ya.. Ada seminar dan juga tambahan perkuliahan”
“ Mirrr....”
“ Aku tahu, aku tahu.. Aku akan memperhatikan kondisiku kali ini. Kalian bisa memukulku jika aku sampai pingsan lagi kali ini..”
“ Jaga perkataanmu barusan. Ingat itu!!”
“ Iyaa, iyaa..”
Mereka terlihat lebih tenang dan tersenyum kembali.. Aku pun berlalu dan segera bersiap untuk pergi ke kampus. Selesai menyantap dan membereskan makanan, aku pun pergi ke kampus.. Seminar dan tambahan perkuliahan membuatku pusing, akhirnya aku memutuskan untuk datang kesalah satu mall yang tak berada terlalu jauh dari kampus.. Namun begitu aku ingin berjalan keluar dari kampus, tiba tiba sebuah mobil berhenti dihadapanku. Ternyata itu adalah Kak Ozcan, dia memintaku untuk meluangkan waktu untuknya dan berbicara. Aku pun setuju dan akhirnya kami pergi kesalah satu cafe terdekat..
“ Apa kabar Aagha?"
Ucap Almira menggunakan bahasa turki sembari memesan minuman
“ Kembalilah bekerja jika kau rindu"
“. . . . . . .”
Almira terdiam mendengar perkataan Kak Ozcan dan memalingkan pandangannya
“ Jika saja kau dapat memahami semua yang ku katakan. Tapi tolong pikirkan setelah menonton video ini"
Ozcan pun memberikan Handphonenya pada Almira dan Almira mengambilnya
“ Video?”
“ Video ini dari salah satu kamera keamanan di restaurant. Kau lihatlah dulu"
Dalam video berdurasi 2 menit itu memperlihatkan moment ketika Serkan melamar Berguzar.. Terlihat semua merasa senang saat ia menerima lamaran itu.. Lalu saat mereka sedang merayakannya, Berguzar secara diam diam berjalan menuju pintu samping restaurant, namun Serkan seperti menangkap basah dirinya dan bertanya padanya.. Entah mengapa Berguzar merasa marah dan menampar Serkan, namun Serkan terdiam bahkan tidak bergerak sama sekali saat Berguzar berjalan meninggalkannya. Begitu video ini selesai, aku pun menatap Kak Ozcan dengan tatapan penuh tanya padanya..
“ Ternyata dia hamil saat itu dan dia menyembunyikannya dari Serkan. Serkan mendapat sebuah pesan dari Rumah sakit yang menjadi Rekanan dengan perusahaannya bekerja. Pihak Rumah sakit berpikir jika hal itu juga harus diberitahukan padanya. Serkan yang terkejut mencoba mencari Berguzar yang sedang menghubungi seseorang. Dia tidak tahu anak siapa yang dikandungnya karena Serkan tidak pernah berhubungan badan dengannya."
__ADS_1
“ APA??"
Ada apa lagi ini.. Kenapa disaat aku ingin menghindar, semua menjadi begitu mengikatku seolah aku tidak bisa pergi?