Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 24


__ADS_3

Akhir tahun dan musim hujan kali ini terasa menyedihkan bagiku.. Jika sekarang aku masih berada di istanbul, mungkin dapat kulihat salju dimusim dingin, pemandangan bosphorus.. Entah mengapa aku merindukan moment itu. Tak terasa hampir 1 tahun sudah sejak terakhir kali aku melihatnya, hubungan ku dan Serkan seperti sudah benar benar usai bagai lembaran kertas yang terobek dengan paksa dan terlihat lembaran kertas putih lainnya yang harus kuisi dengan tinta baru.. Kirey dan Lilian selalu menanyakan kabarku bahkan pertunangan mereka pun sudah terlaksana, sepertinya mereka sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka..


Kak gihan dan istrinya yang selalu memperhatikanku selalu menanyakan bagaimana perasaanku atau pekerjaanku. Entah mengapa kehadiran kak Reza membuat hari hariku tak terasa hampa meski pun kami memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan. Apa yang harus kukatakan pada mereka, meskipun kak Reza kembali dan seperti mencoba mendekat kembali padaku, terkadang aku mengingat moment perpisahan kami waktu dulu membuatku mundur darinya.. Bahkan Sesekali kak Reza datang ke restaurant, mama dan papa pun masih menyambutnya dengan baik, meski hanya andre yang tidak begitu menyukainya, karena dia tahu bagaimana aku menangis saat kak Reza memutuskanku.


Kehadiran Talita disini seperti memberi suasana baru, dia pun sudah banyak berubah, bahkan tak kala memberikan masukan yang membuat restaurant disukai oleh kalangan anak muda.. Mama dan papa pun juga seperti sudah menganggapnya seperti anak mereka sendiri bahkan dengan melihat kedekatannya dengan andre yang semakin hari semakin dekat.. Pemasalahannya dengan teman dan lingkunagn sosialnya pun sudah selesai hanya tertinggal kejanggalan yang masih meresahkanku prihal keluarga Talita.. Dan belum selesai aku bergumam, tiba tiba datang 2 buah mobil mewah didepan restaurant dan ternyata itu adalah....


“TALITA ISLAN!! KELUARLAH!!”


Ucap Ayah Talita dengan meninggikan suaranya ditemani beberapa pria kekar di belakangnya


Pandangan mata teralihkan pada Talita yang terlihat begitu ketakutan dan bersembunyi dibelakang Andre. Ternyata benar dugaanku, keluarganya lah yang melakukan tindakan kekerasan sehingga menyebabkan Talita menjadi seperti itu.. Aku mencoba berjalan untuk menghampiri ayahnya dan berbicara dengannya, namun sepertinya tidak berjalan lancar.. Ayahnya sangat amat keras kepala dan dia merasa kehadiran Talita hanya membuat nama baiknya tercoreng dan membuatnya malu. Bahkan ibunya pun seperti tidak memperdulikannya, dia membiarkan ayahnya berprilaku seperti ini pada anaknya sendiri..Apa sebenarnya yang ada dipikiran mereka sebagai orangtua? Ayah Talita semakin terlihat marah dengan berteriak, lalu mulai mengancam kepada kami.. Kak Reza yang tiba tiba datang dihadapanku dan menengahi antara aku dan ayah Talita yang terlihat kesal..


Semakin terlihat emosi, tak lama dia mengayunkan tongkat yang digunakannya dan mengarahkannya padaku.. Namun kak Reza menangkis dan menahannya, sontak membuat kami semua pun kaget atas perlakuan ayah Talita. Bukankah dia orang penting yang mempunyai kedudukan? Tapi kenapa prilakunya seperti ini? Tak lama ayah Talita menyerah dan berlalu pergi meninggalkan restaurant.. Kak Reza menghampiri, melihat, dan menanyakan kabarku.. Namun tiba tiba handphone nya berdering seperti panggilan penting yang mendesak hingga akhirnya kak Reza pun memohon pamit dan berlalu pergi. Saat suasana sudah mulai tenang, aku mengajak Talita untuk berbicara berdua dengannya. Dan akhirnya dia pun jujur dengan bercerita bahwa dia mendapatkan perlakuan keras dari orang tuanya. Dia merasa sakit dan ketakutan setiap kali melihat ayahnya, ibunya. Sosok ibu yang tidak pernah berada dirumah dan hanya diam saat melihat ayahnya memukuli Talita.. Talita yang menangis saat itu membuatku segera memeluk dan mencoba menenangkannya..


“ Kau sudah tenang?”


“ Sepertinya aku.. Sudah tidak pantas memanggilmu dengan sebutan tante lagi”


Talita yang terisak mengusap air matanya dan terduduk tegap


“ HAH!! Baru sadar??”


Almira yang memalingkan wajahnya merasa sedikit kesal


“ Apa aku boleh memanggilmu, seperti kak Andre?... Kakak?”


“ Tidak.”


“ Apa?”


“ Kubilang Tidak..”


Almira langsung menatap Talita dengan serius


“ Ba..Baiklah..”


Talita yang menundukkan kepalanya


“ Tidak, jika kau hanya akan pergi. Kau pikir aku tidak tahu niatmu selanjutnya? Kau akan pergi dari sini bukan karena takut pada ayahmu?”


“ Da.. Dari mana....”


Talita yang merasa terkejut langsung menadahkan kepalanya keatas menatap Almira


“ Kupikir, aku sekarang sudah cukup mengenalmu.. Dan tatapan kalian! Kau dan andre.. Kau pikir aku tidak mengerti perasaan yang kalian sembunyikan?”


“ Maafkan aku..”


“ Hmm..?? Kenapa kau meminta maaf? Karena sering usil padaku? Atau kau jatuh hati pada adikku?”


“ Semuanya..”


“ Lupakanlah. Rasa kesalku juga sudah tidak bisa kuluapkan! Perasaanku sendiri yang... Sudah biasa kuabaikan”


Almira menundukkan kepalanya menarik nafas dalam dalam


“ Kakak.. Sangat menyukai kak Serkan bukan?”


“ Sok pintar..!”


“ Seorang ahli psikolog yang tidak jujur pada dirinya sendiri.. Aneh!”


Talita yang mendorong tubuh Almira dengan expresi menyindir


“ Kau lama lama seperti Andre.. Menyebalkan!”


“ Dia sangat menyukaimu kak.. Dapat kulihat dari tatapannya serta cara dia memelukmu saat itu..”


Ucap Talita yang tersenyum, tiba tiba berdiri dan meninggalkan Almira kembali kedalam


Restu apa yang aku miliki saat ini untuk membayar kerugian waktu dan perasaan yang tidak tersampaikan ini disaat semua terlihat begitu buram dan tidak ada lagi cahaya.. Melihat dan mendengar akan kebahagiaan dirinya yang tidak bersamaku, jika kejujuran itu berdosa maka aku akan memilih untu berbohong.


....................


3 bulan sudah berlalu tak terasa kembali ke dalam rutinitasku dengan jadwal shift terbaru yang dibagikan kepada seluruh dokter diawal bulan ini untuk 2 bulan ke depan.. Membaca dengan berjalan menuju ruanganku yang tiba tiba terlihat indah. Entah mengapa kaki ini terpaku merasa kebingungan apakah aku berada ditempat yang benar?


“ Hey, apa ada yang meninggalkan bouquet bunga indah ini lagi? Ada didepan pintu ruanganku..”


Ucap Almira kepada semua rekan kerjanya

__ADS_1


“ Tidak ada dok.. Ciyeee, apa Dokter Mira ada pengagum rahasia lagi?”


Ucap salah seorang perawat


“ Sepertinya tiap bulan dia mendapatkan itu.. Tidak ada nama pengirim?”


Ucap Dokter Gilang yang menghampiri ruangan Almira


“ Tidak ada kak.. Kak gihan tidak melihat seseorang meletakkan ini?”


“ Aku baru selesai visit pasien.. Jadi tak tahu”


“ Lihatlah, ini bunga Tulip.. Katanya melambangkan permohonan maaf, pernyataan cinta, kepedulian, kemewahan, semangat tinggi, dan persahabatan. Tetapi secara umum, melambangkan cinta yang sempurna. Romantis sekali..”


Ucap salah seorang dokter wanita yang menghampiri ruangan Almira, tersenyum senyum sendiri


“ Aku baru tahu Dokter Desi seperti ini..”


“ Sepertinya pria yang mengirimkan bunga ini, sangat menyukaimu.. Tunggu, apa kalian ingat dulu saat kaki Dokter Mira sakit, Pria yang mengantarnya saat itu.. Saat melihatnya aku sampai tak berkedip dan tak sengaja menumpahkan kopi. Kupikir pria itu kekasihmu..”


Ucap Dokter Desi yang terlihat antusias sendiri


“ Ya betul Dok.. Dia seperti berkata, ini adalah daerah kekuasaanku. Dia wanitaku! Membayangkannya saja membuat hatiku bergetar.. ”


Ucap salah satu Perawat lainnya yang juga menghampiri ruangan Almira dan tertawa bersama sama


“ Imajinasi kalian semua sungguh luar biasa..”


Ucap Almira yang berlalu dengan mengambil bouquet bunga kedalam ruangannya


Siapa yang mengirimkan bouquet bunga ini? Sudah 3x aku menerima bunga ini.. Aku bertanya pada Sarah pun mengaku bukan dia yang mengirimkannya.. Apa kak Reza? Juga bukan! Tidak mungkin! Karena setidaknya dalam sebulan kami bertemu 2x dan dia bukan tipe pria seperti itu.. Lalu siapa?... Tidak mungkin... Serkan?? Kami bahkan sudah tidak menjalin kontak selama 6 bulan lebih, bahkan mungkin dia juga sudah memiliki seseorang disana.. Jadi berhenti mengkhayal tak jelas.. Aku akhirnya kembali kedalam menuju ruanganku.. Tak lama kak Reza mengirimku sebuah pesan memintaku untuk datang kesebuah restaurant saat selesai bekerja malam ini.. Karena kosong aku pun menyanggupi tawaranya untuk datang kesana..


Jam bekerja pun usai, melihat detik jam yang sudah mendekati waktu pertemuan pun akhirnya dengan tergesah gesah aku segera berkendara menuju Restaurant yang dituju. Sesampainya di restaurant yang kak Reza menghubungiku untuk dituntun menuju lantai 2 yang merupakan area VIP ruangan tertutup. Setiap ruangan di sini memiliki pintu tersendiri sehingga para pengunjung bisa terjamin privacy tanpa didengar pengunjung yang lainnya.. Pintu pun terbuka dan dengan terkejut, melihat suasana yang dipenuhi dengan lilin dan lantai dengan taburan bunga mawar membuatku bertanya...


“ Ada apa ini? Apa aku salah masuk ruangan?”


Ucap Almira kepada waiters yang mengantarkannya


“ Almira.. kau datang.. Kemarilah duduk disini..”


Ucap Reza yang baru kembali ke ruangan dan menarik salah satu kursi untuk Almira


“ Aku sudah memesankan makanan dan minuman.. Setelah selesai, baru aku akan mengatakan maksudku.. Oke?... Makanlah, aku memesan makanan kesukaanmu..”


“ Terima kasih kak..”


Ada apa dengan kak Reza hari ini? Apa benar dia adalah pria yang selalu mengirimkan bouquet bunga padaku? Makanan dan minuman ini.. Kak reza selalu seperti ini, tidak ada yang berubah darinya, dia masih sama seperti dulu.. Sambil menyantap makanan dan minuman, kak reza mengangkat topic pembicaraan yang sedang hangat kali ini.. Aku mendengarkannya bercerita, tentang bagaimana dia.. Pekerjaan nya di jakarta dan juga apa saja rencananya.. Jujur jika bisa dan tak menyinggungnya aku ingin pergi dari sini.. Pikiranku seperti terhenti dan seolah tak bisa mendengar suara kak Reza berbicara karena tiba tiba kenangan manis yang menyakitkan melintas dipikiranku saat makan malam bersama Serkan kala itu saat berada disebuah restaurant dekat dengan bosphorus yang indah..


Tak sadar garpu yang kupegang meleset saat mencoba menusuk 1 buah meatball yang terlempar kearah kak Reza dan mengenainya celananya.. Aku mencoba meminta maaf padanya, namun sepertinya dia sedikit kesal padaku dan berlalu keluar menuju toilet.. Melihat kak Reza yang seperti itu, aku pun langsung terdiam melihatnya.. Apa aku terbiasa dengan sikap bawaan Serkan yang selalu memperlakukanku dengan penuh hormat dan juga hangat? Kenapa kak Reza sangat berbeda dalam memperlakukanku? Atau apa hanya karena aku yang.....


“ Kau sudah selesai makan?”


Ucap Reza yang kembali terduduk selepas dari toilet


“ Aahh.. Ya kak.. Sekali lagi mohon maaf.. Aku tadi....”


“ Mira, aku tidak akan basa basi lagi denganmu.. Almira, aku ingin melamarmu secara formal di depan keluargamu”


“ Apa??”


“ Aku tahu dulu aku melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu. Memutuskanmu tanpa alasan yang jelas dan menghilang begitu saja. Aku saat itu masih muda dan pikiranku masih sangat kekanakan.. Maafkan aku.. Kau mau memaafkanku?”


“ Kak reza.. Aku..”


“ Kau membutuhkan waktu bukan? Kebetulan aku ada pekerjaan diluar kota kurang lebih selama seminggu.. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Dan aku harap saat kita bertemu nanti kau sudah memiliki jawaban untukku”


Tanpa berkata lagi kak Reza mengajakku untuk keluar dari restaurant dan kami pun berpisah saat diparkiran mobil. Dengan lamunan dan tiba tiba sedikit terasa sesak didada, aku bersandar pada ujung mobil dan mengangkat kepalaku keatas untuk melihat langit.. Mendung tak ada satu bintang pun terlihat.. Tentu saja saat ini adalah musim hujan, apa yang kau harapkan? Seperti musim hujan dan musim dingin, langit terbendungkan tak bercahaya. Aku menurunkan kepalaku hingga tertunduk dan menarik nafas panjang.. Apa sebenarnya yang kuinginkan? Bukankah segala impianku tercapai?? Aku sudah berhasil membantu mama, papa, andre.. Bahkan aku melihat mereka pun bahagia.. Tapi kenapa aku merasa kosong? Setiap senyuman yang kuberikan seolah tidak ada arti.. Seperti topeng yang dihias dengan senyuman.. Ada apa denganku sebenarnya..


......................


Hari libur datang kembali.. Entah mengapa dan sejak kapan, aku menjadi tidak begitu menyukai jika hari libur.. Karena aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan.. Aku selalu diusir oleh papa jika datang untuk membantu, terlebih karena Talita sudah berada disampingnya. Mama selalu memberikan kue dan menyuruhku hanya untuk duduk disofa pelanggan.. Studio Andre selalu tertutup rapat jika dia melihatku ingin masuk kedalam.. Apa karena aku tidak sengaja menjatuhkan lampu LED miliknya? Apa itu mahal? Kalau dipikir pikir, bukankah dia membeli itu juga dengan uangku? Lantas, kenapa dia yang marah?? AaaRrrghh!! Aku sangat merasa bosan sekali hari ini.. Seminggu.. Tak terasa 3 hari lagi kak Reza pulang.. Apa yang akan kukatakan padanya?? Memikirkan ini semakin membuatku tak jelas, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dengan menggunakan kendaraan online karena aku tidak ada mood untuk mengendarai mobilku..


*THE ASENA CAFE” Kenapa aku kemari? Saat melihat Flashdisk Serkan saat itu, aku membuka file tentang laporan pekerjaan dan rekan bisnis miliknya.. Dan cafe ini adalah salah satu rekan bisnis miliknya.. Terkadang aku tidak mengerti, bisnis apa saja yang dia kembangkan dan dia kerjakan.. Apa tidak cukup sebuah perusahaan besarnya yang berada di turki? Kenapa di indonesia dia juga.... Aaahh, Bu farrah.. Tante fira juga.. Kenapa aku melupakan bahwa Serkan juga memiliki keluarga di indonesia? Aku memesan sebuah minuman chocolate hangat dan sebuah dessert, ternyata baik minuman dan dessert disini sungguh lezat hingga tak terasa aku seperti sedang melakukan wisata kuliner saat memesan menu lainnya..


Merasa kenyang, aku ingin membakar sedikit kalori dengan berjalan kaki ditengah cuaca yang mendung ini.. Terlupa akan tempat saat berjalan, aku terhenti tepat didepan hotel dimana serkan akan menginap setiap dia datang ke kota ini.. Apa dia ada didalam?.... KONYOL!! Almira, ada apa denganmu? Aku mencoba berjalan kembali, namun malangnya cuaca saat ini tidak mendukung dengan turunnya rintikan hujan yang semakin lama semakin deras.. Aku mencoba berlari mencari tempat berteduh hingga tak melihat aku melewati jalur pintu masuk dan karena hujan sudah lebat dan disertai hembusan angin, ternyata ada sebuah mobil melaju kencang kearahku untuk masuk kedalam area hotel dan hampir menabrakku.. Aku terjatuh kebelakang mencoba menghindari mobil ini.. Terasa sakit, aku melihat lengan kananku yang sudah berdarah karena goresan aspal.. Kesialan apa lagi ini??!!! Apa aku tidak bisa menikmati hari tenangku? Mobil itu terhenti tepat dihadapanku, aku pun sudah pasrah dengan kondisiku yang basah kuyup.. Kenapa aku...


“ Nona.. tidak apa apa? Maafkan, aku tidak melihatmu, kau tiba tiba melin..... ALMIRA??”


“ SERKAN...??”

__ADS_1


Mataku dan matanya saling bertatapan.. Betulkah itu dia? Atau hanya ilusiku karena hembusan angin dan guyuran air hujan yang mengenai wajahku? Aku terus melihat pria berkacamata itu mencoba meyakinkan diriku apakah itu betul adalah dirinya.. Pria berkacamata itu menaruh payung dipundaknya dan melepaskan jas yang dikenakannya dan memberikannya padaku seolah menutupi tubuhku agar tak terlihat.. Dia membantuku untuk berdiri dan mambawaku masuk kedalam mobilnya.. Dia pun langsung melaju untuk masuk kedalam hotel dan begitu sampai seperti layaknya tamu VIP, baik mobil atau pun tas kopernya pun langsung dilayani dengan cepat oleh seorang pegawai hotel.. Serkan menggenggam tanganku masuk kedalam hotel dan Receptionist pun langsung memberikan kunci kamar dengan kepala tertunduk tanpa bertanya atau melihat kepada kami seolah mencoba menghargai privacy kami. Serkan langsung mengambil kunci dan membawaku ke lift untuk menuju kekamarnya..


“ Duduklah. Tunggu, aku akan mengambil kotak P3K”


Seperti yang Talita katakan, Presidential suite room.. Berapa harga kamar ini permalam? Gaya hidup Serkan memang sangat jauh berbeda denganku.. Tapi kenapa dia seolah terbiasa dengan sikap dan kelakuanku? Apakah selama ini dia memaksakan dirinya? Aku memutar kepalaku melihat isi ruangan yang tampak mewah ini.. Menurutku kamar ini tidak jauh berbeda dengan kamar timur serkan dirumahnya saat di istanbul.. Tersadar, begitu aku melihat tetesan darah mengenai lantai dan hampir terkena kursi sofa dari luka ditanganku.. Sontak aku berdiri dan mencoba mencari toilet atau wastafel.. Begitu melihat aku mencoba membersihkan tanganku yang berdarah walaupun terasa perih.. Kenapa tak terpikir olehku jika bajuku saat ini sangat basah? Bahkan dalaman bajuku pun sampai terlihat.. Memalukan sekali! Aku selalu terlihat seperti ini dihadapannya.....


“ Apa yang kau sedang lakukan?”


Serkan yang berdiri dengan di depan pintu toilet


“ Serkan maafkan aku.. Aku lupa tanganku berdarah, nanti aku bersihkan lantai dan sofa itu”


Almira yang telihat panik dengan mengambil handuk mencoba menutupi tubuhnya


“ Kemarilah”


Serkan menarik tangan Almira menuju ruangan tengah


“ Aapa? Sebentar aku bersihkan dulu lukaku...”


Almira terdiam menolak Serkan yang menarik tangannya


“ Almira kemari”


“ Yaa.. Sebentar.. Sayang jika terkena darah, akan sulit menghilangkan nodanya.. Nanti kau harus ganti ru...”


“ AKU TIDAK PERDULI. IKUT AKU!”


Serkan terlihat menakutkan dengan sedikit nada tinggi yang ditujukan padaku.. Bahkan dia pun sampai menarik tanganku kembali menuju ruangan tengah.. Terlihat darahku masih menetes dan mengenai lantai namun serkan seakan tidak perduli dengan hal itu.. Tunggu, disitu ada karpet berwarna putih, kenapa dia mengarah kesana? Aku menarik tanganku dan dia pun terhenti dan langsung menatapku..


“ Be, berikan saja kotak P3K itu, biar aku sendiri yang..”


“ Tidak. Mau beradu argument denganku saat ini?”


“ Tidak....”


Almira pun menundukkan kepalanya


“ Bagus. Duduk dan tenanglah”


“ Kapan kau datang? Untuk apa kau kemari, apa urusan bisnismu ada masalah lain?”


“ Aku sampai Jakarta kemarin. Bisnisku disini bisa kutangani dari jauh. Oke Selesai, jika perlu nanti kita ke apotek untuk beli obat luka dan perban.. Lalu ini, pakailah kemejaku agar kau tidak merasa dingin. Jangan menolak! Aku bisa melihat dalaman bajumu. Apa kau juga bermaksud memperlihatkannya pada pria lain? Gantilah”


Serkan berjalan pergi dengan menutup pintu kamarnya dan membiarkanku berganti pakaian. Dia terlihat kesal padaku.. Bukankah seharusnya aku yang marah padanya? Datang dan pergi seenaknya! Tidak mengabari atau pun memberikan kabar! Lalu tiba tiba datang, dan berharap aku memaklumi semuanya? Lupakan almira.. Lagipula apa kedudukanmu sampai kau harus merasa marah padanya? Tapi tetap saja aku merasa kesal padanya.. Jika hubungan kami hanya pertemanan, setidaknya dia tidak terlalu memperlakukanku seperti ini.. Lalu, ini... Kemeja serkan.. Apa aku saat ini memakai bajunya? Berapa ukuran tubuhnya, kenapa kemeja ini sangat besar ditubuhku? Sedikit tercium wangi aroma parfumnya.. Apa kemeja ini yang biasa dia gunakan? Selesai berganti pakaian aku pun keluar menuju ruangan tengah kembali, terlihat Serkan berdiri menghadap dinding kaca menatap pemandangan kota dengan rintikan hujan di sore ini..


“ Aku sudah selesai.. Terima kasih su...”


“ Cincin dijarimu. Kau sudah bertunangan? Dengan siapa?”


Ucap Serkan yang masih belum memandang Almira


“ Apa?”


“ Dengan siapa kau bertunangan? Apa dengan pria waktu itu? Reza?”


Serkan memalingkan tubuhnya menghadap Almira


“ Aa..Aku...”


“ Kau mencintainya?”


“ Aku harus pulang.. Kemejamu akan ku........”


Serkan tiba tiba sudah berada dihadapanku dengan tatapan mata tajam yang menjurus padaku.. Mata kami bertemu dan wajahnya semakin dekat kepadaku.. Tersadar aku langsung melangkah mundur dan membalikkan tubuhku untuk menghindarinya.. Namun serkan menarik tanganku secara tiba tiba dan menciumku. Detakan jantung yang tak berirama sudah sangat terasa hingga entah mengapa membuatku seperti terhanyut dan hanya terdiam merasakan kehangatan yang sebetulnya memang sangat kurindukan.. Munafik kah aku saat ini?


“ Kau, Tidak mencintainya.”


Ucap Serkan yang mendekatkan kepalanya kepada kepala Almira dengan menutup matanya


“ Ke.. Kenapa kau menciumku?"


" Salahkan jika kita ingin memiliki orang yang kita cintai dan sayangi?"


Ucap Serkan yang memeluk Almira dengan erat


" Ma, maaf aku harus pulang, kau tidak perlu mengantarku."


Almira langsung mendorong tubuh Serkan dengan setengah berlari meninggalkan ruangan kamar Serkan

__ADS_1


Terlihat Serkan terdiam dan tak berkata apa pun padaku dengan membiarkanku pergi begitu saja.. Ya, aku merasa sangat malu saat ini karena perasaan yang tidak jelas ini.  Memesan kendaraan online dan berlalu pergi, tanganku bergetar tak karuan.. Jantungku berdebar seperti ingin berlari pergi.. Seperti masih terasa hangat bibirnya di bibirku.. Bahkan air mataku menetes mengenai jariku tanpa kutahu.. Kenapa perasaan ini, sisa rasa ini, begitu menyiksaku..


__ADS_2