Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 26


__ADS_3

Handphone ku terus berdering dan berdering, siapakah yang memanggil di hari liburku seperti ini? Terlebih ini masih jam 6 pagi.. Setelah melihat ternyata itu adalah mama.. Mencoba menghubungi mama kembali karena takut akan terjadi masalah dengan papa, namun ternyata yang mama katakan adalah ingin berbicara denganku dan papa juga menyuruhku untuk datang kerumah sakit.. Ada apa ini? Sepertinya penting sekali mereka sampai memintaku untuk datang, sedangkan setiap kali aku menjenguk melihat kondisi papa selalu diusir oleh mereka.. Merasa panggilan darurat maka aku pun segera bersiap dan begitu akan pergi terlihat didepan teras rumah mobil Serkan terparkir menungguku..


“ Maaf aku tidak bermaksud mengganggumu, ibumu menghubungiku untuk menjemputmu”


Serkan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Almira


“ Mama?”


“ Apa terjadi sesuatu? Tadi pagi beliau menghubungiku dan..”


“ Baiklah.. Kita pergi sekarang?”


“ Jika kau sudah siap”


Sepanjang memulai perjalanan ini, aku dan Serkan masih sama sama merasa canggung.. Tidak adakah topik pembicaraan yang bisa menetralkan suasana saat ini? Saat aku mencoba menyalakan music, ternyata tangan Serkan pun mengarah ketempat yang sama.. Saat aku mencoba memberikan uang kepada penyanyi jalanan pun Serkan melakukan hal yang sama.. Ada apa dengan kami berdua? Kenapa aku dan dia seperti baru saling mengenal dengan keadaan canggung ini sangat tak nyaman..


“ Hampir terlupa, bisa kau lihat di handphone ku? Ibumu tadi mengirimkan sesuatu”


Serkan mengeluarkan Handphone dari balik jaketnya dan memberikan pada Almira


“ Handphone mu? Aku..?? ”


Almira yang menerima Handphone Serkan dengan penuh kebingungan


“ Ya, bukalah kodenya 241286”


 “ Ini... Daftar belanjaan?? Tapi, untuk apa dan siapa?”


Almira kembali menatap Serkan penuh kebingungan


“ Kupikir kau tahu”


Serkan yang melihat sekilas kepada Almira


“ Tidak sama sekali..


Tak lama kemudian mama mengirimkan sebuah pesan padaku, agar sebelum datang kemari membelikan semua kebutuhan yang dituliskan dalam note di handphone Serkan itu.. Kenapa harus dengannya? Aku bisa membeli semua ini sendirian.. Apa yang dipikirkan oleh mama dan papa sebenarnya? Aku menanyakan tentang kegiatan Serkan hari ini karena jika dia sibuk aku akan menggunakan kendaraan online, tapi Serkan menyanggupi untuk mengantarkanku.. Kami akhirnya pergi kesalah satu supermarket dan berbelanja sesuai yang mama papa butuhkan.. Seperti biasa, banyak mata memandang kepadanya kali ini.. Kemana dan dimana dia berdiri seolah menjadi titik tolak para mata memandang.. Terlebih para wanita yang sama sepertiku atau seusiaku. Namun kulihat Serkan sama sekali tidak menghiraukan mereka.


Dengan berbelanja seperti ini ternyata dapat membuat suasana tegang antara aku dengannya sedikit mencair, bahkan sesekali saat bingung membeli barang karena dalam 1 produk memiliki variant yang sama, kami berdebat seperti sepasang suami istri yang baru menikah.. Tak kala itu juga yang membuat kami tersenyum satu sama lain.. Hingga akhirnya di list terakhir mama meminta  makanan tradisional  yang tidak tersedia di supermarket modern seperti ini. Serkan yang merasa kebingungan saat membaca sepertinya dia mencoba membayangkan bagaimana bentuk rupa makanan itu yang membuatku tersenyum melihatnya..


Karena menjelang malam, Perut kami berdua pun berbunyi karena lapar,  akhirnya kami memutuskan untuk makan di warung makan tegal atau yang biasa dikenal dengan sebutan WARTEG yang juga kebetulan menyediakan olahan tradisional.. Serkan makan dengan lahap tanpa melihat dimana dan juga bagaimana dia dilayani saat makan.. Pikiran ku pun langsung membayangkan dimana saat kami makan di restaurant bintang 5 dengan chef ternama.. Bahkan dirumahnya sendiri pun dia dilayani dengan sangat baik.. Bukankah ini seperti jungkir balik? Namun pria ini sama sekali tidak masalah dengan itu.


“ Apa.. Kau memaksakan diri untuk makan disini?”


Ucap Almira kepada Serkan sembari memakan makanannya


“ Jangan membuat nafsu makanku hilang karena merasa kesal”


“ Ma.. Maaf..”


“ Ibuku bukan dari keluarga kaya seperti Ayahku. Lalu saat mereka menikah dan melahirkanku, Nenek beberapa kali mengajakku untuk makan ke tempat seperti ini”


Serkan menghentikan sesaat makanannya dengan meminum segelas air


“ Apa?”


“ Bahkan aku pernah ditinggal beberapa hari disebuah panti asuhan olehnya”


“ Benarkah?? Apa karena kau nakal, lalu....”


“ Pikiranmu ini..!! Ibuku tidak mau karena aku tumbuh dengan semua kelebihan yang Ayah berikan, aku menjadi... Intinya, mereka sangat keras mengajarkan padaku untuk hal seperti ini”


Ucap Serkan yang kembali menyantap makanannya


Ya, bu farrah sepertinya memang tipe wanita seperti itu.. Terlihat dari cara bicara dan perhatiannya pada Serkan dan juga Emre.. Entah mengapa aku merasa kagum kepada keluarga mereka.. Kupikir mereka seperti keluarga kalangan atas pada umumnya dan seperti yang aku bayangkan.. Namun mereka ternyata berbeda.. Sepertinya jika aku mempunyai anak nanti, aku juga ingin mengajarkan anakku seperti Bu Farrah namun dengan caraku sendiri.. Mataku mengarah pada Serkan yang saat ini sedang lahap menyantap makanan.. Bahkan orang orang yang berada disini sampai pemilik warteg pun melihat kepadanya.. Yaa dapat kupastikan apa yang ada dipikiran mereka semua.. Aku menikmati pemandangan ini, seperti menyenangkan melihatnya makan seperti ini hingga kami selesai menyantap makanan dan berlalu pergi..


Aku berkendara menggantikannya saat ini menuju rumah sakit karena tiba tiba Serkan merasa sakit pada perutnya.. Saat sampai dirumah sakit, terlihat Andre dan Talita pun mengunjungi Papa juga, lalu beberapa kali ini Serkan memohon ijin untuk pergi ke toilet.. Mereka semua melihat dengan penuh kebingungan pada Serkan namun yang kulakukan malah tersenyum didepan mereka semua.. Serkan keluar dengan terlihat sedikit pucat.. Sontak langsung membuat kami semua khawatir padanya.. Mama dan Andre mencoba mencari apa saja yang dapat menolongnya, Talita membuatkan teh manis hangat untuknya.. Setelah merasa lebih baik Serkan mohon diri untuk ke apotek lantai bawah untuk membeli obat. Awalnya aku ingin menemaninya tapi Andre tiba tiba merangkul dan membawa Serkan untuk berjalan keluar..


“ Apa nak serkan tidak apa apa?”


Ucap Ibu kepada Almira


“ Memang kakak dan kak Serkan makan apa?”


Talita yang membersihkan gelas dan mengambilkan minum untuk Almira


“ Dia... Penasaran ingin mencoba kerupuk dengan pedas level dewa.. Dan sepertinya dia tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas..”


“ APA?? Almira!! Kenapa kau membiarkannya?”


Ucap Ibu dengan memukul tangan Almira pelan


“ Mira tidak tahu Ma.. Lagian Papa juga aneh! Kenapa meminta dibelikan ini, itu.. Terlebih Mama juga kan yang menghubunginya? Jadi, apa maksud Mama dan Papa?”


Almira yang merasa sedikit kesal dengan menggerutu

__ADS_1


“ Kak.. Bisa bicara diluar? Ma, pa.. Sebentar yaa..”


Talita yang menarik tangan Almira menuju keluar kamar


“Kak, jangan marah ya.. Ini semua ide Kak andre, semalam sehabis aku dan kak Andre menjenguk Papa, kami ke lantai atas untuk mengajakmu pulang bersama.. Saat sampai ruangan tengah resepsionis, sudah sangat sepi, tapi tiba tiba kami mendengar suara seorang pria berteriak memanggil nama kakak. Merasa khawatir kami langsung berlari ke ruangan kakak.. Tapi kemudian kami berhenti saat...”


“ Kalian mendengarnya? Kak Reza dan Serkan yang...”


“ Ya kak..”


“ Ada apa ini?”


Tiba tiba ibu keluar dari kamar dan berdiri dihadapan Almira dan Talita


“ Talita.. Apa kamu dan Andre dibalik semua ini?”


“ Ya ma.. Maaf.. Tapi maksud kami....”


“ Minta maaflah kepada Serkan nanti


“ Yaa ma..”


Talita yang menunduk malu


“ Dan kau juga Almira..!! Gadis ini!! Sudah dewasa tapi masih saja..!!!”


Ibu tiba tiba memukul Tangan Almira dengan sedikit keras


“ Oow.. Mira? Apa salah Mira, Ma..??”


“ Kau jelas jelas mencintai pria itu! Perlu mama dan papa berteriak padamu agar kamu sadar?”


“ Apa yang mama...”


Almira yang tiba tiba terdiam bagai patung dan begitu terkejut


“ Papa dan mama dapat melihatnya dari pandanganmu padanya.. Apa yang menahanmu? Karena mama lihat Serkan juga sudah..”


“ Tidak ma. Almira.. Telalu berbeda untuknya, dan dia terasa jauh untuk Almira..”


Almira yang memotong ibunya berbicara dengan menatap sang ibu


“ Mama dan papa sudah tahu soal jurnal akademikmu.. Lilian dan kirey yang bercerita..”


“ Dengarkan Mama! Karena hanya akan 1x ini berbicara seperti ini padamu. Terapi penyembuhan terbesar adalah Persahabatan dan Cinta. Serkan terlihat mendapatkan itu semua darimu. Itu yang dilihat oleh Mama! Mama masuk dulu kedalam..”


Ucap Ibu kepada Almira dengan sedikit kesal dengan menggandeng Talita bersamanya


Persahabatan... Dan.. Cinta? Tanpa sasdar aku memulai persahabatan dengannya.. Aku mencoba menolongnya karena merasa seperti ada yang menarikku untuk berani berbicara banyak hal dengannya.. Yaa.. Itu adalah Persahabatan.. Lalu aku entah sejak kapak mulai merasa bertanggung jawab terhadapnya.. Merasa sedih untuknya bahkan menangis untuknya.. Bahkan merasa hampa saat tidak melihatnya.. Itu adalah cinta.. Aku memang menyukainya bahkan mencintainya jauh sebelum serkan merasa sama sepertiku saat ini..


“ Kak mira? Sedang apa diluar kamar sendirian?”


Ucap Ander yang baru datang kembali


“ Serkan? Kemana dan Bagaimana dia?”


“ Kak Serkan ternyata belum makan.. Tapi, apa dia tadi langsung menyantap makanan yang pedas ya? Sekarang sedang terduduk lemas di lobby bawah, sudah diberi obat juga.. Tapi sepertinya dia harus beristirahat. Jadi aku mau pamit kepada ibu untuk me..”


“ Andre tolong sampaikan pada Mama, Papa kondisi Serkan saat ini. Lalu aku akan mengantar Serkan kembali ke hotel dulu.”


Almira menarik tangan Andre untuk menghentikannya dan langsung berlalu pergi


Berlari menuju lobby lantai bawah, terlihat Serkan yang semakin terlihat pucat dan berkeringat dingin namun masih menatap layar handphone yang terlihat kepadatan data pekerjaannya yang mengharuskannya untuk tetap fokus dengan tidak memperdulikan bagaimana kondisinya saat ini. Perasaan makin merasa bersalah pun semakin menjadi di kala harus melihatnya dalam kondisi seperti ini. Mencoba untuk membantu memapahnya dengan tubuh yang terasa dingin dan kemejanya yang basah akan keringat, masih saja Serkan menolak untuk di periksa lebih lanjut oleh Dokter dan lebih memilih untuk beristirahat di hotel seorang diri.. Berkendara mnggantikannya kembali menuju hotel dan membantunya beristirahat di kamarnya seolah tidal memperdulikan para mata yang menatap kami saat melewati lobby utama hotel dan langsung menuju kamar.


“ Kemejamu basah sekali.. Kenapa kau sampai berkeringat begini.. Apa perutmu sakit sekali?”


Almira yang membantu Serkan untuk beristirahat di atas ranjang


“ Cukup beristirahat saja. Maaf bisakah kau..”


Serkan yang mengalihkan pandangannya kearah ruang ganti baju


“ Lemari yang mana?”


Almira yang mengerti dan langsung berjalan


“ Yang ada kaca, sebelah kanan dekat keranjang baju kotor”


Aku mengambil dan menyerahkan 1 stel baju kepada Serkan lalu berjalan keluar kamar agar dia merasa nyaman untuk berganti pakaian.. Tidak mungkin ada bahan makanan didalam kulkas itu dan tidak mungkin juga untukku memasak disini.. Akhirnya aku menghubungi bagian Room Service pada Restaurant untuk memesan beberapa makanan dan minuman untuknya mengingat beberapa kali dia keluar masuk kamar mandi.. Sambil menunggu makanan datang, aku sempatkan melihat kondisi Serkan dan dia masih berkeringat dingin saat tertidur.. Aku mencoba untuk mengusap keringat itu lalu tiba tiba kenangan saat aku menjaganya dulu seolah menjadi layar pandang penuh dihadapanku saat ini..


Di tengah pekerjaanmu yang menumpuk, kau sampai lupa jam makanmu, dan aku tahu sepertinya kau bukan orang yang seperti itu.. Apa kau terburu buru karena Mama menghubungimu untuk menjemputku, lalu takut aku sudah pergi duluan mengendarai mobilku? Kau sangat pintar dan berwawasan jauh, tapi kau juga ternyata bodoh.. Bagaimana jika aku seperti Berguzar dan memanfaatkanmu kembali? Apa kau tidak takut serkan?


“ PERMISI, ROOM SERVICE UNTUK TUAN SERKAN..”


Ucap seorang pegawai hotel

__ADS_1


“ Aahh yaa Tunggu sebentar.... Terima kasih..”


Almira yang berlari membuka pintu lalu mengambil trolly makanan itu menuju kamar Serkan


“ Almira, kau memesan makanan?”


“ Isilah kembali perutmu meski sedikit, bibirmu terlihat sangat pucat..”


Almira membuka tutup saji dan mengambil sedikit sedikit menu makanan


“ Kenapa kau mengkhawatirkanku? Aku mencoba menjaga jarak sesuai kemauanmu selama beberapa hari ini. Jika bukan karena ibumu yang..”


“ Kebaikan sesama umat manusia?”


Almira terduduk disebelah Serkan dan mencoba menyuapinya


“ Baiklah. Dan juga.. Kukira hutangku sudah lunas padamu”


“ Hutang??”


“ Aku berjanji mengijinkanmu untuk menyetir mobilku itu bukan?”


“ Serius, Kau sedang bercanda sekarang?! Kenapa kau sampai tidak makan?”


“ Aku memang sedang ada pekerjaan, lalu kupikir terjadi sesuatu dengan ayahmu.”


“ Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya? Seolah kau..”


“ Kepalaku jadi pusing mendengar ocehanmu saat ini.”


Serkan menghentikan menyantap makanannya dan tertidur dengan menutup tubuhnya menggunakan selimut


Aku terdiam dan berjalan menutup pintu kamarnya saat ini membiarkannya beristirahat.. Terduduk diruangan tengah mencoba menghubungi Andre untuk memberitahukan kondisi dan alasanku.. Namun seperti biasa, balasan dari anak itu sungguh menyebalkan sekali, ditambah dengan adanya Talita disampingnya suatu kombinasi yang lengkap untuk menyindirku. Suasana menjadi sangat hening sekali saat ini, berbeda sekali dengan suasana dirumahku yang setiap hari ada saja hal yang menjadikan suasana terasa Ramai..


Jika di pikir kembali, apa dia selalu seorang diri seperti ini? Bahkan saat masih dalam kondisi BPD pun dia masih mencoba menekan perasaan dan pikirannya. Betulkah kehadiranku bisa membantunya? Mengisi hari harinya? Sebenarnya yang jadi pertanyaan itu adalah untuk diriku sendiri.. Melihat posisi kedudukannya, lingkungan sosialnya, keluarganya, kebiasaannya, semua tentangnya.. Sangat berbeda jauh dengan ku. Apa aku siap? Apa aku bisa? Aku terus menerus memutar pertanyaan ini beberapa kali dalam pikiranku.. Hingga tak sadar saat mencoba melihat kondisi Serkan pada dini hari, aku tertidur disamping tempat tidurnya dengan masih membawa handuk kecil mencoba untuk mengusap keringat di dahi dan lehernya..


“ mira.. Almira. Bangunlah”


Ucap Serkan yang menggoyangkan tangan Almira


“ Apa...? Bagaimana kondisimu?... Tunggu, kenapa aku bisa tertidur di samp...”


Almira terbangun dan terduduk disamping Serkan


“ Almira..”


“ BU FARRAH..?! NENEK..?!”


Almira yang terkejut langsung berdiri dan menundukkan kepalanya


“ Kau.. Disini.. Semalaman? Dengan Serkan?”


Ucap Bu Farrah dengan pandangan menyudutkan


“Ma..Maafkan saya Bu.. Nenek, saya mohon jangan salah paham.. Serkan sakit jadi sa..”


Almira yang terlihat panik mencoba untuk menjelaskan


“ Kami tahu Serkan sakit, oleh karena itu kami kemari.. Tapi.. apa yang.. Kau semalaman disini? Bagaimana ini Farrah? Pegawai hotel pasti sudah tahu, bagaimana jika gosip tersebar kembali terlebih istri pemilik hotel ini adalah sahabatmu?”


Ucap sang Nenek yang terduduk di kursi merasa bingung dan khawatir


“ Mama, Nek.. Serkan mohon jangan mem..”


“ Almira.. Seperti kau tahu, Serkan sudah sering datang dan sebagai tamu VIP pasti memiliki bisnis juga.. Ibu takut ada berita yang tidak enak didengar seperti waktu dulu terulang kembali.. dan membuat Serkan....”


Ucap Bu Farrah yang menutup wajahnya menggunakan sapu tangan terlihat sedih dan gelisah


" Mama, HENTIKAN."


Ucap Serkan yang berdiri di hadapan Almira mencoba menutupinya


“ Aa..apa.. Lalu, apa yang... Bisa saya... lakukan?”


Ucap Almira sedikit ketakuta


“ ALMIRA!!”


Serkan membentak dengan menatap serius kepada Almira


“ Menikahlah dengan Serkan secepatnya.”


Ucap sang Nenek kepada Almira


Terdiam membatu dan tak bisa berkata.. Menikah? Pernikahan? Serkan yang berada dihadapanku terlihat sedikit kesal dengan menundukkan kepalanya dan mengacak ngacak rambutnya lalu pandangannya mengarah kepada jendela seolah mengomel tak jelas dimulutnya. Sedangkan aku, dengan tatapan Nenek dan Bu Farrah yang masih menatap padaku, entah expresi muka apa yang kuberikan pada mereka saat ini..

__ADS_1


__ADS_2