Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 19


__ADS_3

" Jadi kau serius, mira?”


Ucap Gilang yang merasa terkejut


“ Ya dok.. Mohon ijinkan saya melakukan terapi personal kepada pasien Atas nama Sarah.. Sebelumnya saya sudah berkomunikasi dengan orang tuanya dan mereka setuju.. Silahkan dokter pastikan sendiri”


“ Ya, mereka menghubungiku kemarin. Jika pihak keluarga sudah mengijinkan, sebenarnya pihak rumah sakit pun tidak bisa menolak.. Jika kau benar benar yakin, aku ijinkan.. Dengan syarat aku ikut bersama denganmu”


“ Ya dok! Terima kasih banyak..”


Tak menunggu waktu lama aku langsung membawa andre keluar dari ruangan dokter gilang dan menuju kamar pasien bernama sarah.. Saat sampai diruangan, sarah maupun orang tuanya sudah siap untuk berangkat pergi bersama kami, aku pun tanpa basa basi langsung segera mengajak mereka pergi ke lokasi yang sudah kupersiapkan.. Andre langsung menyiapkan peralatan cameranya ditempat yang kuperintahkan.. Jujur, saat ini pun aku masih merasa tegang.. Dengan tanganku yang terasa dingin seakan aliran darahku terhenti, detak jantung yang tak senada berharap semua akan baik baik saja.. Namun kembali aku mencoba menenangkan diriku karena saat ini akulah kunci dari semua ini.. Saat semua sudah siap, aku kembali berjalan menuju mobil..


“ Sarah.. Bisa lihat aku? Apa kau ingat, aku siapa..?”


“ Almira..”


“ Bagus sekali.. Boleh ulurkan tanganmu untuk turun dari mobil?”


“ TIDAK!! AKU AKAN MATI!!”


Sarah yang langsung histeris dengan menutup kepalanya dengan kedua tangannya


“Tenang.. Lihat padaku.. Bagaimana menurutmu aku saat ini?”


Almira mencoba secara perlahan membuka tangannya


“ Kau baik baik saja..”


“ Betul. Begitupun dirimu.. Coba untuk raih tanganku dan percaya padaku..”


“ Apa kau akan meninggalkanku juga sendirian?”


“ Tidak. Kau ingat, aku adalah temanmu bukan? Sekarang, ulurkan tanganmu”


Sarah sedikit demi sedikit meskipun ragu dia berusaha untuk meraih tanganku dan berusaha memaksakan dirinya untuk keluar dan turun dari mobil.. Sebagai psikiatris sebetulnya yang kulakukan hanya sekedar saran, namun melihatnya selalu menatap jendela tak bernyawa, menyanyikan lagu kesedihan yang sama disetiap senja, terlebih sebuah bingkai foto yang selalu di peluk olehnya membuatku berkaca pada diriku sendiri yang kurang lebih sama sepertinya.. Hati pun merasa gelisah disetiap malam yang tak kunjung menghilang. Sudah cukup bagiku, dan cukup baginya.. Usianya nya pun tak jauh berbeda denganku, aku yakin dia sendiri pun memiliki impian yang ingin di raihnya bukan?


Terlebih melihat reaksi sarah yang begitu koorperatif terhadapku, aku sudah tahu dia sebenarnya juga sangat ingin untuk normal dan kembali seperti dulu.. Aku menyuruhnya berjalan dan duduk diarea yang sudah andre persiapkan.. Sejauh ini semua berjalan lancar, bahkan kulihat dari expresi kak gihan pun yang sedang merekam kami merasa terkejut akan perkembangan sarah hari ini.. Aku menyuruhnya untuk menikmati kue serta minuman yang sudah disediakan, sarah pun merespon dengan sangat normal kembali.. Dan disinilah titik puncak dari hari ini..


“ Sarah.. Bisa kau lihat kearah camera?”


Almira yang menunjuk kearah Andre


“ Apa?”


“ Lihat kearah camera.. Dia akan....”


“KAU BOHONG!! DIA MATI KARENAKU!! AKU TIDAK MAU DIFOTO!”


Sarah kembali histeris dengan langsung berdiri dan seolah gusar dengan berjalan ke kanan dan kiri dengan menggigit kukunya


“ Kau terus menerus mengatakan dia, dia, dia.. Siapa dia itu?”


Almira yang mencoba menenangkan dengan memegang kedua tangan sarah dan tersenyum padanya


“ Dia... Diaa...”


“ Sarah, dengarkan aku.. Tarik nafas perlahan, Jangan melihat sekeliling mu.. Kali ini cobalah untuk menutup matamu seperti ini.. Kemudian tarik nafas pelan kembali... Bagus.. Lakukan lagi.. Bisa kutanyakan apa yang ada dipikiranmu saat ini?”


“ Dia tersenyum padaku..”


“ Oke.. Aku akan menggenggam tanganmu dan ceritakanlah padaku..”


Sarah pun menceritakan dia yang dimaksud adalah tunangannya yang meninggal saat mereka pergi berlibur bersama teman temannya.. Sarah meminta tunangannya untuk memfoto dia disalah satu area wisata yang tanpa diketahui saat itu terjadi gempa dan terjadi pergeseran tanah.. Tunangannya terjatuh kedalam jurang didepan matanya dengan meninggalkan sebuah camera yang terjatuh dari genggaman tangan pria itu tepat saat terjatuh.. Karena terbanting, camera tersebut rusak dan menyala otomatis dengan menyisakan foto terakhir yang sarah lihat sebagai perpisahan diantara mereka..


Saat sarah bercerita kali ini, kusuruh andre untuk mulai mengambil gambar dari sarah sebanyak mungkin dan memilih 8 foto yang memperlihatkan sarah seperti menahan sakit dan tangisannya.. Dan andre melakukan semua yang kuperintahkan dengan sangat baik. Tangisan sarah akhirnya bercucuran, dapat kulihat luka dihatinya yang begitu dalam. Semakin lama kubiarkan, semakin dalam dia menangis.. Teralihkan oleh rasa itu, aku mencoba untuk menenangkannya namun sarah tersungkur dan tersujud diatas pangkuanku. Dengan lembut aku membelai rambutnya dan kembali mencoba menenangkannya kembali.. Orang tuanya terlihat begitu khawatir hingga akhirnya aku meminta mereka untuk memeluk Sarah dan mereka pun menangis bersama. Bagitu sarah sudah mulai tenang, aku menyuruhnya untuk membuka matanya dan melihat sekelilingnya..


“ Kau sudah ingat dengan baik? Bukan kau yang mendorongnya kali itu.. Bahkan temanmu pun melihat kalian”


Almira menggenggam tangan Sarah untuk menenangkannya


“ Teman..??”


“ Ya.. Apa aku ingat mereka juga pergi bersama kalian kan..”


“  Ya.. Ya aku ingat sekarang.. Mita dan ari, lalu aca dan bian.. Aku merindukan mereka, mir..”


“ Apa kau ingin menemui mereka?”


“  Yaa..”


“ Bisa kau lihat siapa yang sedang berdiri disana?”


Almira yang menunjuk kearah kanan tempat Sarah terduduk


Ya, aku menghubungi mereka untuk datang kemari hari ini.. Kulepaskan tanganku yang menggenggamnya.. Para sahabatnya terlihat sudah menangis saat melihat sarah hari ini.. Tak lama sarah yang melihat mereka datang kerahnya pun akhirnya menangis.. Yaa.. Itulah yang dibutuhkan oleh sarah.. Sebuah tangisan yang amat sangat mendalam yang akan membantunya untuk mengeluarkan semua yang ada dihati dan pikirannya.. Aku berjalan meninggalkan mereka agar tidak mengganggu, kemudian mereka pun saling berpelukan dan menangis bersama.. Para sahabatnya mengulang kejadian hari itu dan mencoba meyakinkan sarah bahwa itu bukanlah salahnya.. Hingga sarah merasa tenang dan sudah bisa kami ajak untuk berbicara kembali..


“ Ini adalah 8 foto untukmu.. Bukankah kau terlihat cantik difoto ini? Lalu, kenapa aku memberimu 8 foto bukan 3 atau 6 atau 9?”


“ Karena itu adalah tanggal dan bulan hari pernikahanku..”


“ Ya.. Aku tidak akan munafik dengan menyuruhmu maju, melupakan dan lainnya.. Karena terkadang, mengingat moment indah meski menyedihkan juga sangat penting untuk kita. Karena dengan itu kita bisa tahu arti dari kehidupan. Aku yakin dan kau pun harus yakin pada dirimu sendiri”


“ Almira... terima ka...”


“ Jika kau bersungguh sungguh dengan ucapan itu, Buktikan! Kudengar kau memiliki toko bunga milikmu sendiri? Buka kembali dan buatkan aku 1 rangkaian bunga”


Almira dengan sedikit jahil tersenyum dengan menyilangkan kedua tangannya


“ Apa?... Baiklah,  akan aku buktikan padamu mir.. Aku janji.”

__ADS_1


“ Aku tunggu ya..”


Sarah langsung memelukku saat ini.. Begitupun orang tuanya yang sudah tidak berkata apa pun padaku dan hanya tangisan serta pelukan yang dapat mereka berikan untukku.. Setelah merasa tenang, aku biarkan mereka semua untuk bersantai sejenak diarea yang sudah kami persiapkan tadi.. Dapat kulihat kini senyuman diwajah sarah dan orang tuanya.. Lalu aku pun membalikkan tubuhku kearah belakang dan berjalan menuju andre yang sedang merapihkan semua peralatannya.. Aku pun membantunya.. Kulihat senyuman diwajah andre yang seolah menyanjungku tapi dengan sedikit kejahilan yang mengesalkan.. Tak lama kak gihan yang sudah selesai merekam semua kegiatan kami hari ini menghampiriku dan memberikan selamat untukku.. Terlihat juga kebanggaan diwajahnya, karena sebagai mentor dia berhasil mengajarkanku..


Saat semua ini selesai kami kembali ke rumah sakit dengan sarah serta orang tuanya kembali menuju kamar pasien.. Kak gihan pun memberikan kabar baik jika melihat kondisi Sarah yang semakin membaik maka akan menjadwalkan kapan waktu kepulangan mereka sehingga mereka pun terlihat bahagia.. Kak gihan kembali membuat laporan yang akan diberikan kepada kepala bagian dan juga menyuruhku untuk memberikan laporan hari ini kepadanya. Disaat aku dan andre sedang beristirahat diruangan kerjaku dan mengerjakan laporan.....


“ Asli kak.. TomYum ini enak banget!”


Andre yang begitu lahap karena merasa begitu lapar


“ Kau membuat ruanganku jadi bau masakan”


“ Tinggal semprot pengharummu saja nanti juga hilang siihhh.. Apa kakak tidak lapar?”


“ Belum lapar..”


“ Hmm kak.. Siapa pria tampan itu?”


“ Apa? Siapa?”


Almira sedikit terkejut dengan langsung terdiam seperti patung


“ Itu... Yang duduk sama kakak.. Aku tidak sengaja melihatnya saat tadi pagi menunggumu disini”


“ KAUUU...”


“ Bukan.. Tidak! Tidak! Mana berani aku menyentuh barang barang kakak.. Yahh.. Sedikit.. Aku berjalan kearah meja kakak dan tablet itu tersenggol olehku.. Eehh Layarnya menyala..”


“ Jika kau berani comel ke mama, papa...”


Almira yang berdiri menatap Andre dengan tajam


“ Mulutku tertutup rapat kak. Demi lensa camera.. Selanjutnya aku mau camera tipe lain kak..”


“ Cari uang sendiri!”


Ucap Almira yang kembali terduduk dan memeriksa pekerjaannya


“ Tapi siapa pria itu? Kau suka cowo bule yaa.. Ganteng kak.. Siapa namanya? Apa dia kaya?”


“ Berisik!”


“ Sejak kapan kalian pacaran?”


“ Dia bukan pacarku.”


Almira yang mengacuhkan Andre dengan terus mengerjakan pekerjaannya


“ HAH?? Terus?? Tapi, Sepertinya dia menyukaimu kak..”


“ SOK TAHU!!”


“ Aku ini juga pria kak! Aku bisa lihat dari tatapannya melihat padamu di foto itu! Herannn.. Kau master psikolog tapi tidak tau hal seperti ini. Pacaran lah kak sana..”


“ Apa kau bilang?!”


Almira yang merasa kesal meraih kotak kartu nama dan mencoba melemparkan pada Andre


“ Ampun kak.. Maaf, maaf.. Kak bahaya lempar lempar..”


“ Keluar dari sini!”


“ Ampun kak.. Sayang TomYum nya keburu dingin.. ehehehe...”


Entah mengapa sejujurnya saat ini begitu mengusikku. Naif atau Munafik? Ada dimana aku diantara keduanya? Jelas jelas aku menghindarinya dan tahu dia akan merasa tidak nyaman jika aku terus bersamanya. Aku sangat ingin melihat tabletku saat ini dan memastikan apakah yang dikatakan oleh andre benar? Tapi, jika aku melakukan itu dapat kubayangkan reaksi dan hebohnya kelakuan anak ini.. Apakah benar Serkan memandangku seperti itu? Kenapa aku merasa seperti apa yang diakatakan andre adalah benar. Ternyata akulah yang Munafik. Mengalihkan pikiranku saat ini, akhirnya aku membuat rencana kerja yang akan aku ajukan untuk sebulan kedepan hingga waktu tak terasa berlalu dan andre seperti anak kecil yang meminta untuk diantarkan pulang.. Kami pun akhirnya pulang dan berhenti disebuah toko bakmi langganan keluarga untuk mama papa.. Andre makan lagi dengan sangat lahap, entah terbuat dari apa perutnya itu.. Namun melihatnya makan dengan lahap, entah mengapa suatu kebahagiaan tersendiri untukku.


..........................


Sebulan berlalu dan aku sekarang sudah mempunyai jadwal kerjaku sendiri serta ruangan bekerjaku yang sudah siap untuk digunakan.. Rincian pembagian pasien pun sudah ada, yang kuperlukan sekarang adalah fokus pada pekerjaanku. Tak lama terdengar suara ketukan dipintuku dan ternyata itu adalah kak gihan yang memberitahu bahwa aku mendapatkan jatah libur selama 4 hari karena hasil pekerjaanku yang dinilai sangat baik untuk kepala bagian.. Jujur sebenarnya saat ini aku tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih jika libur dengan tidak ada kegiatan. Namun tiba tiba lilian dan kirey mengirimkan pesan padaku yang meminta untuk melakukan video call nanti malam dan aku pun menyetujuinya karena aku juga sangat merindukan mereka berdua.


“ Mira lihatlah.. Tebak kami ada dimana...”


“ Tunggu.. Apa kalian berada di.. BANDARA?? Apa itu tiket pesawat?”


“ Yup.. Kami ingin memberikan kejutan untukmu.. Perkiraan kami sampai jakarta jam 9 pagi..”


“ APA?? Kaliann yaaa.. Ngomong ngomong selamat atas buat kelulusannya..”


“ Terima kasih mir.. Kau jadi kan jemput kami di bandara dan kita berlibur dulu? Apa kau sudah melihat jadwalmu dirumah sakit??”


“ Entah kebetulan apa ini, tapi aku mendapatkan jatah libur 4 hari dari Kepala Bagian karena melihat hasil kerjaku selama sebulan kemarin..”


" APA?? YEAAAAH.. BERARTI KITA BISA BERMAIN BERSAMA DONGG"


“ Yaaa.. Melihat kau lembur sampai tengah malam, bahkan bawa kerjaan lagi kerumah! Kau pantas mendapatkan libur itu mir..”


“ Bicara soal pulang, bagaimana Emre dan Hammet? Kalian....”


“ Tenang mir.. Kami akan ceritakan ketika kita bertemu besok... Aarrgh! Sudah tidak sabar bertemu denganmu..”


“ Aku juga.. Semoga penerbanganmu lancar dan selamat sampai kemari..”


Kebetulan apakah ini? Kenapa aku merasa sangat beruntung sekali? Aku segera bersiap siap untuk pulang kerumah dan berkemas untuk liburan bersama mereka.. Tapi mau kemana kami nanti? Lupakan.. Yang penting kita harus bersenang senang sebelum siap bertempur kembali.. Saat sampai dirumah mama papa mengabari bahwa renovasi sudah selesai bahkan dari dekorasi, temap duduk, meja, dapur, dan lain sebagainya akan siap dalam 2hari.. Namun aku menjelaskan pada mereka rencanaku selama 4hari kedepan dan mereka pun sangat mendukungku untuk pergi berlibur.. Dengan tersenyum aku segera kembali kekamar dan segera membersihkan diri lalu dengan terburu buru menyiapkan keperluanku kedalam koper.. Entah mengapa aku seperti anak kecil yang sedang kegirangan.. Aku sangat merindukan mereka.. Aku sudah tak sabar menunggu hari besokk..


..................................


Aku menggunkan travel yang mengarah ke bandara soekarno hatta pada pagi hari ini, sesuai dengan perjanjian awal antara kami bertiga.. Kami berlibur seperti pertama kali kami datang ke istanbul.. Tidak merencanakan mau pergi kemana, tidak tahu apa yang akan kami makan, dan juga tidak merencanakan apa yang akan kami lakukan.. Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan mereka.. Bagaimana kabar mereka saat ini? Kuharap mereka baik baik saja.. Mobil pun melaju dengan cepat mengarah bandara, sehingga aku pun bisa melanjutkan dengan sedikit beristirahat kembali mengingat rasa antusias yang membuatku menjadi sulit untuk tertidur.. Tak sadar saat aku terbangun  ternyata mobil sudah memasuki wilayah bandara soekarno hatta.. Aku merapikan diriku agar terlihat rapih dihadapan mereka, sungguh tak sabar sekali bertemu dengan mereka.. Saat sampai ternyata aku lebih dulu yang tiba, sehingga aku pun menunggu mereka disebuah cafe kecil yang berada di dalam bandara.. Aku mencoba menikmati secangkir susu dan juga sebuah sandwich.. Hingga saat hidanganku habis, tiba tiba ada yang memanggil namaku dan aku pun langsung berlari..


“ ALMIRAAA..”Lilian dan Kirey yang langsung berlari menuju Almira untuk memeluknya

__ADS_1


“ LILIAN.. KIREY... Kalian tega sekali bohong padaku.. Ternyata saat itu kalian sedang ujian tesis kan?”


“ Ehehehe.. Maafkan kami mir.. Aaah hampir terlupa, ini untukmu..”


“ Apa ini? Kue??”


“ Yaa.. Buatan Kak Ozcan.. Pak Mete yang mengantarkan ini pada kami semalam.”


“ Kulihat kau sudah sarapan kan barusan, mir? Kita juga sudah tadi di pesawat..”


“ Yaa.. Lalu kita mau gimana dan kemana?”


“ Hmm mir.. Sebelumnya.. Kita mau bilang sesuatu..”


“ Hmm..?? Apa??”


“ Lihatlah kearah sana.. Dari situ jangan marah dulu, aku dan kirey akan menjelaskan..”


“ Memang ada ap....”


Kulihat 2 pria tampan berjalan bersamaan, dan yaa itu adalah Emre dan Hammet yang sudah berdiri di depanku serta dengan membawa sebuah koper yang berada ditangan mereka.. Mereka melambai tangan mereka dan dengan senyuman jahil diwajah mereka yang mengarah padaku.. Aku balikkan tubuhku kearah lilian dan kirey, dengan mataku yang sinis langsung mengarah tajam kepada lilian dan kirey saat ini.. Mereka yang sadar akan tatapanku ini mencoba menenangkanku dengan tersenyum jahil layaknya Emre dan Hammet. Lalu saat aku akan bertanya kepada mereka, kehadiran sosok seorang pria lainnya dibelakang yang menyusul Emre dan Hammet dari belakang mereka. Penampilannya lagi lagi dapat membuat siapa pun yang melihatnya tertegun hingga tak berkedip. Pria yang tanpa sadar kutaruh hati dan perasaan padanya yang tak terbalaskan. Sekarang ada di hadapanku, lagi?


“ Apa kabar almira?”


Ucap Serkan yang tersenyum


“ Ser.. Serkan??”


Almira yang terkejut dengan menatap serius kearah Serkan


“ Kau seperti melihat hantu”


“ Ke.. Kenapa kau bisa disini ju...”


“ Kau lupa? Nenekku ada diindonesia jadi aku juga punya rumah dan keluarga disini, bahkan aku juga ada usaha yang didirikan anne (ibu) disini yang kebetulan aku yang mengelola”


“ Apa?”


“ Kubilang...”


“ Lupakan Serkan! Pikirannya sedang tidak fokus karena kaget melihatmu”


Ucap Lilian sembari memeluk jahil kepada Almira


“ Oke.. Jadi gini mir.. Gimana kalau kita berenam berlibur bersama?”


Kirey yang mencoba menjelaskan dengan sedikit ketakutan dari wajahnya


“ APA?? ”


“ Tenang.. Jangan marah dulu, mir.. Kan kita juga belum tahu mau kemana, tidur dimana, lalu....”


Lilian yang terhenti berbicara melihat Almira yang menatapnya dengan penuh amarah


“ Bukankah kita berjanji akan seperti pertama kali saat berada di istanbul?”


Almira mencoba merendahkan suaranya seraya menahan emosinya


“ Yaaa..Yaa.. Tapi kan kondisi sekarang sudah berbeda mir..”


“ Apa yang berbeda? Kalian punya pasangan dan aku tidak? Lalu kalian asik pacaran dan aku melihat kalian bermesraan?”


" Kenapa kau jadi emosional seperti ini mir??... Apa kau marah??"


“ Jadi kedatangan Serkan tidak kau anggap mir..??”


“ Ap, apa??”


“ Maa..maksud ku adalah... Mir.. Mir.. Kau mau kemana? Dengerin dulu..”


“ MIRA!! Tunggu dulu Mira yang cantik, baik.. Si jenius yang....”


Ucap Lilian dan Kirey yang mencoba menghentikan Almira yang ingin berjalan meninggalkan mereka


“ Rayuan kalian ga bakal mempan. Apa yang kalian pikirkan? Jika kalian memang ingin berlibur bersama pasangan kalian, lalu untuk apa mengajakku?”


“ Mira iihh.. Coba pikirin nih ya..."


Aku mencoba mendengarkan lilian dan kirey saat ini.. Dengan penjelasan panjang lebar yang tidak ada titik koma, mataku teralihkan kepada tiga pria tampan yang berdiri berdampingan.. Semua mata tertuju kepada mereka bertiga.. Tampilan mereka saat ini benar benar mencolok untuk seorang turis terlebih rakyat jelata.. Apa mereka akan melakukan pemotretan? Lalu kulihat ada 2 orang wanita cantik yang mencoba mendekatinya, Ya seperti biasa.. Kehadiran Serkan seakan mampu membuat aura disekitarnya terdominasi olehnya.. Lalu tak sengaja mata kami bertemu, Serkan yang melihatku melihatnya langsung menolak wanita itu dan mengacuhkannya.. HaH!!! Pikirnya aku tertarik padanya? Kita lihat saja siapa yang akan kalah hari ini, karena almira yang sekarang sudah berbeda dengan almira yang dia kenal sebelumnya..Tak lama serkan, emre dan hammet berjalan kearah kami.. Aku yang melihat mereka mencoba memalingkan pandanganku dan kembali fokus mendengar lilian dan kirey berbicara.. Lalu serkan mengarahkan tangannya ke tengah seolah menengahi kami dan menyuruh lilian dan kirey untuk berhenti berbicara..


“ Begini saja.. Di handphone ku ada sebuah permainan yang kita semua bisa mainkan. Kami bertiga satu tim, begitu juga dengan kalian. Keputusannya jika yang maju ke babak final kalah, dan jika itu kami, maka kami akan pergi dan tidak mengganggu kalian. Tapi jika kami menang, kalian ikut kami”


Ucap Serkan dengan senyuman jahil dan penuh percaya diri


“ Apa? Bisa bisanya kau menentukan secara sepihak?”


“ Kenapa takut? Almira sekarang ternyata kau....”


“ DEAL. OKE”


Almira yang merasa tertantang


“ Deal? Kita mulai”


Serkan yang melayangkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Rania


“Oke..”


Rania pun membalas jabat tangan itu

__ADS_1


Kita lihat saja.. AKu tidak akan kalah bahkan dari sebuah permainan games di handphone.. Kami semua terlihat seperti orang bodoh yang asik dengan dunianya sendiri. Terlihat orang orang melihat kearah kami melihat kelakuan konyol kami yang tiada henti. Terlebih dengan sosok 3 orang pria keturunan luar negeri ini, bagaimana bisa tidak ada yang tidak melihat kearah kami.. Namun entah mengapa, aku begitu sangat merindukan moment ini, seolah terbuai dalam kenangan indah kembali membuatku tersenyum dan melihat kearahnya yang berada dihadapanku.


__ADS_2