Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 21


__ADS_3

Jujur kakiku memang terasa sakit, bahkan saat membereskan barang ini sampai melibatkan Lilian dan Kirey yang membantuku untuk berkemas.. Aku pun memohon maaf pada mereka karena memotong sisa 2 hari liburan bersama mereka. Lilian dan Kirey akhirnya menjelaskan bahwa akan membawa Emre dan Hammet untuk bertemu dengan orang tua mereka masing masing.. Mendengar itu aku pun terkejut namun bersyukur, aku jadi tidak merasa begitu bersalah kepada mereka.. Selesai berkemas Lilian dan Kirey membantuku untuk mengganti perban dikaki sebelum pulang kembali ke rumah.. Tak lama datang Emre dan Hammet menanyakan kabarku dan kembali aku pun meminta maaf kepada mereka berdua.. Reaksi mereka sepertinya sedikit berbeda, kuyakin karena mereka merasa gugup akan bertemu dengan orang tua Lilian dan Kirey.. Melihat mereka seperti ini sedikit menjadi moment lucu untukku hingga mereka semua pun marah dengan menegurku..


“ Ramai sekali, apa kau sudah siap?”


Ucap Serkan yang berjalan masuk ke dalam kamar


“ Hmm, sudah.. Lihatlah mereka, entah karena Gugup atau apa.. Muka mereka berdua memerah.."


Ucap Rania yang mengarahkan pandangannya pada Emre dan Hammet


“ Kak, aku.. Akan mengurus sisa pekerjaan, Lalu.. Kau tenanglah mengantar almira.. Lalu..Aku..”


Emre yang terlihat berdiri tegap namun merasa gugup


“ Kau perbaiki expresi dan moodmu. Lilian semakin gugup jika kau seperti ini”


Ucap Serkan yang menepuk bahu Emre dan melewatinya membantu membawakan koper tas Almira


“ Kulihat Hammet, dia lebih tenang darimu Emre..”


Ucap Almira dengan tersenyum


“Tenang? Mir, dia sudah buang air lebih dari 5X sore ini”


Kirey yang mengeluh sedikit khawatir


“Apa??”


“ Aku pergi dulu. Aku harap semoga semua berjalan dengan lancar."


Ucap Serkan kepada Hammet menggunakan bahasa Turki dengan membawa tas dan berpegangan tangan dengan Almira


“ Terima kasih.. Almira, semoga cepat sembuh"


Hammet membalas dengan bahasa turki


“Kamu juga hammet.. Lalu Emre! Semangat!!"


Sebelum pergi aku, Lilian, dan Kirey saling berpelukan.. Kami pun membuat janji kembali akan selalu memberi kabar satu sama lain dan semoga dalam waktu dekat dapat berkumpul bermain bersama kembali.. Dengan sedikit sedih aku melambaikan tanganku pada mereka dan mereka pun mengantarkan kami sampai depan gerbang pagar rumah Serkan.. Mencoba menenangkanku yang merasa sedih, Serkan memberikan sebuah kotak dessert untukku..


“ Kue muffin keju dan susu chocolate?”


“ Makanlah yang manis untuk mengisi tenagamu, perjalanan lumayan lama.. Kau istirahatlah”


“ Jadi.. Kau sungguh sungguh akan mengantarkanku sampai rumah? Kau tahu alamat rumahku?”


“ Lalu jika tidak? Kalau kau tertidur, aku akan gunakan Google Maps”


“Apa? Begini.. Dekat rumahku ada pangkalan motor, kau bisa menurunka....”


“Jangan membuatku marah padamu”


Serkan yang langsung memotong pembicaraan Almira sembari menyetir


“ Maaf, maksudku adalah.. Rumahku itu... Dan disana ada... Huff.. Bagaimana menjelaskan padamu...”


“Jangan pernah membandingkan rumahmu dan rumahku. Aku tahu, ayahmu Pak Agra Basera sudah pensiun dan tidak bekerja lagi, adikmu Andre basera sedang menempuh perkuliahan, dan ibumu Bu Alya  mempunyai toko kue rumahan. Kudengar kalian bahkan sudah mempunyai sebuah tempat usaha yang bagus sekarang. Lalu, ada apa dengan mereka?”


Serkan yang menjelaskan dengan jujur dan lurus


“ Wow.. Dari mana kau dapat informasi ini? Kau memata mataiku?”


Almira yang langsung merasa curiga dan keberatan


“ Kemana arah bicaram!. Saat kejadian waktu itu, aku ingin memberitahu orang tua mu untuk bertanggung jawab. Tapi Lilian dan Kirey melarangku untuk menceritakan kondisimu pada keluargamu”


“ Kau bilang.... Mau bertanggung jawab? Dalam hal?? Apa kau tahu saat kau berbicara hal itu kepada orang tua, pasti mereka berpikir kearah serius. Bagaimana jika orangtua ku seperti itu?”


“ Sepertinya dimatamu, aku lelaki cacat yang menurutmu tidak berguna. Yaa, aku juga tidak akan menyalahkanmu mengingat kaulah yang.....”


“ Aku tidak pernah menilaimu seperti itu Serkan.. Aku hanya takut semua menjadi salah paham dengan kedatanganmu ke rumahku..”


“ Aku siap memperkenalkan diriku secara formal.”


“ Formal?? Kau akan bilang apa pada orang tuaku? Lagipula kau tidak dalam kondisi.. Maksudku Berguzar. Bagiamana kau dan..”


“ Lagi lagi kau mengungkitnya! Aku dan dia tidak ada hubungan lagi. Dan Kau ingin aku menjadi apa?”


“ Berhenti bercanda. Orang tua ku saat ini sedang tidak bisa diajak bercanda..”


“ Aku tahu. Salah satu alasan kau mau bekerja dirumah sakit itu juga adalah karena ayahmu berobat secara intensif disana. Dokter jantung disana yang terbaik bukan?”


“ Sepertinya tidak ada yang bisa kututupi darimu. WAHH... Kenapa aku merasa seperti di film James Bond!"


Almira yang merasa terkejut


“ Kupikir aku lebih mirip Kenshin Himura (Samurai X)”


“ Kau berjanji padaku, kalau lain waktu aku boleh mengemudikan mobil ini.”


“ Hmm, Kau mengalihkan pembicaraan? Licik!”


Ucap Serkan yang tersenyum pada Almira


Serkan mengusap kepalaku dengan lembut dengan salah satu tangannya dan dengan senyuman diwajahnya.. Kupikir aku sudah tidak dapat lagi melihatnya seperti itu padaku.. Almira, tahan perasaan mu jangan terlalu terbawa perasaan!! Dia hanya terlalu baik untuk hanya sekedar menolongmu.. Jadi jangan melawati batasmu dan memperalatnya.. Dia sudah cukup sangat terluka.. Entah mengapa selesai menghabiskan kue dan susu, mataku terasa berat seolah jalan tol saat ini seperti menyanyikan nina bobo untukku.. Terlebih lagu lagu campuran jazz  blues yang didengarkan oleh kami saat ini benar benar membuat santai.. Apa aku akan tertidur?


Terjadi goncangan didalam mobil yang membangunkanku.. Apa aku akhirnya tertidur? Kenapa bisa aku tertidur? Apa serkan menyetir seorang diri dari tadi? Apa ini? Dia memberikan jas nya kepadaku? Aahh almira.. Kenapa kau selalu seperti ini!! Aku mencoba terbangun dengan sedikit membuka mataku dan melihat serkan masih serius mengendarai mobil ini.. Untuk kesekian kalinya aku terpana melihatnya.. Siapa wanita yang akan bersamamu kelak? Aku menutup mataku dan mencoba menghentikan pikiran yang ada dikepalaku.. Akhirnya aku melihat kearah jalan, sudah sampai mana kami? Apa masih dijalan tol? Atau..........


“ KENAPA SUDAH ADA DISEKITAR KOMPLEKS PERUMAHANKU??”


Almira yang terkejut langsung bangun dan terduduk tegap


“ Kau mengagetkanku! Sudah bangun?”


“ Kenapa tidak membangunkanku? Tidak perlu Serkan.. Turunkan saja aku disini!”


“ Apa? Aku tidak mendengarmu”

__ADS_1


“ Turunkan aku disini! Apa yang kau.. Berhenti! Kenapa kau belok?”


Almira yang semakin terlihat Panik


“ GoogleMaps yang menyuruhku”


Serkan yang memasang wajah polos dengan menunjuk kearah layar monitor didalam mobilnya


“Serkan!! Kenapa kau menurunkan jendela pintuku? TUTUP! Serkan!!”


“ Sepertinya kita sudah sampai.. Aahh.. Apa itu adik dan ayahmu?”


“ APAAA!! ”


Almira yang panik langsung membalikkan wajahnya


 " Kenapa kau berteriak? Mereka jadi melihat kemari"


Serkan yang tertawa seolah sengaja dengan turun dari dalam mobilnya


Bagai pencuri yang tertangkap basah oleh pemilik barang!! Kenapa bisa papa dan andre ada didepan garasi rumah? Terlebih melihatku seperti ini bahkan dengan jendela yang terbuka ini, mereka sangat amat jelas melihatku.. Terlihat mereka membawa beberapa kantung plastik yang terisi penuh, apa mereka selesai berbelanja? Tak lama serkan mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman.. Aku melihat padanya dan menarik salah satu tangannya agar jangan turun.. Namun entah mengapa tangannya seperti belut sehingga aku sama sekali tidak bisa memegangnya.. Serkan yang langsung turun dan mengelilingi mobil untuk membukakan pintu mobil untukku, membuat Papa dan andre semakin melihatku dengan penuh terkejut. Aku sekarang hanya bisa menundukkan kepalaku dihadapan mereka.. Keadaan semakin berat untukku saat Mama pun keluar dari dalam rumah dan melihat Serkan yang sedang memapahku turun dari mobil dan berjalan masuk..


“ ALMIRA??!!”


Ucap Ibu Almira yang terkejut melihat Almira


“ Maafkan saya datang pada malam hari seperti ini.. Ibu, bapak, dan.. adik? Perkenalkan saya Serkan..”


Serkan dengan lantang dan tegas serta sopan dengan menundukkan sedikit tubuhnya memperkenalkan diri


“WooW.. ORANG BULE!! Tangkapan bagus kak!!”


Ucap Andre yang mengacungkan jari jempolnya kepada Almira


“ ANDREEE!! Maafkan.. Adikku ini memang *LUCU SEKALI*!! AHA HA HA HA!!”


Almira yang langsung menarik Andre dan memitir kepalanya dengan rasa kesal yang tertahan


“Almira.. Siapa pria ini?”


Ucap Sang Ayah dengan serius


“ Pak, Saya..."


“ Serkan adalah... Dia... Rekan kerja Almira saat di istanbul. Yaa.. Rekan kerja. Kemudian dia dan teman temannya sedang berlibur di jakarta kemarin dan bertemu tidak sengaja dengan Almira..”


Ucap Almira yang langsung berdiri dihadapan Serkan untuk menutupi pandangan Ayahnya yang menatap Serkan


“REKAN KERJA?? Ahahaha.. Kakak pikir Mama, Papa bisa dibohongi?? Dari penampilannya saja sudah sangat terlihat, terlebih dengan mobil yang digunakannya itu! Rekan kerja dari mana kak?? Itu sa...”


Andre terdiam dan langsung menundukkan kepalanya saat melihat Almira yang melotot padanya


“ Terima kasih sudah mengantarkan anak saya.. Tadi namamu adalah?”


Ucap ibu Almira dengan nada halus


“ Serkan, Serkan Emuler bu..”


“ Maaf, tidak bermaksud menolak, tapi mungkin lain kali bu, pak.. Saya yakin Almira membutuhkan istirahat karena besok harus bekerja, dan ini juga sudah malam. Jadi saya permisi untuk pamit”


“Aku harus memanggil apa?? Kakak atau kakak ipar??”


Andre yang setengah berteriak pada Serkan yang tertawa padanya


“ ANDREE!!!”


Almira yang sedikit mencubit tangan Andre


“ Baiklah, Terima kasih dan hati hati dijalan. Mampirlah lain waktu kembali.”


Ucap Ayah almira dengan tersenyum


“ Baik pak. Saya mohon pamit.. Selamat malam”


Saat Serkan berlalu pergi, Andre langsung berlari masuk kedalam rumah karena takut padaku.. Sedangkan Mama dan Papa saat ini hanya memandangku tanpa berkata apa pun.. Saat aku akan menjelaskan pada mereka, mereka menyuruhku untuk masuk dan beristirahat.. Setelah aku memiliki waktu kosong dan waktu yang tepat mereka menyuruhku untuk menjelaskannya.. Akhirnya aku menuruti mereka dan menuju lantai atas.. Aku segera menyiapkan peralatan dan apa saja yang akan kubawa untuk besok bekerja, setelah selesai aku mencoba untuk menghubungi serkan namun dia tidak menjawab panggilan dariku.. Sepertinya dia sedang berkendara, aku pun memutuskan untuk pergi tidur dan bertanya padanya besok hari.. Terlebih aku sama sekali belum mengucapkan terima kasih padanya..


......................


Pagi menyambut dan kegiatan pun dimulai.. Sangat tidak mungkin bagiku untuk mengendarai mobil dengan kondisi kakiku yang seperti ini, apa andre bisa mengantarkanku? Aku berjalan keluar kamar dan menuju kamar andre.. Apa dia sudahpergi ke kampus? Lalu bagaimana denganku? Apa papa bisa mengantarkanku? Namun ternyata papa pun sudah pergi dengan mama menuju toko.. Kenapa disaat seperti ini selalu ada hal yang menimpaku? Dan almira, kenapa tidak tadi malam kau sampaikan pada mereka untuk mengantarkanmu? Kekonyolanku makin menjadi saat aku mencoba untuk duduk dikursi mobil dan memundurkan mobil.. Beruntungnya bagian belakang mobil tidak tertabrak pagar rumah karena kakiku masih merasa kesakitan saat memindahkan kakiku dari pedal gas ke pedal rem.. Aaahh almira.. Sungguh pintar sekali dirimu saat ini.. Sedang memarahi diri sendiri tiba tiba terdengar suara pintu garasi rumah tergeser seperti ada yang masuk.. Siapa tamu dipagi hari ini? Aku mencoba untuk turun tapi lagi lagi kakiku terasa sakit..


“ Almira? Apa yang sedang kau lakukan?”


Serkan yang langsung memapah Almira berdiri


“ Serkan..?? Kau belum pulang?? Oowwh..!!”


“ Kenapa kakimu sakit lagi? Apa kau mencoba untuk... Kemana pikiranmu!! Turunlah, aku akan parkirkan kembali mobilmu”


“ Maafkan aku menyusahkan mu.. Lagi..”


Almira yang menyerahkan kunci mobilnya pada Serkan dan berdiri di pintu pagar


“ Aku akan mengantarkanmu, masuklah kedalam mobilku”


Serkan yang langsung berjalan setelah memarkirkan kembali mobil Almira


“ Apa?”


Selesai serkan memarkirkan mobilku dengan benar, dia langsung membantu memapahku menuju mobilnya dan mengantarkanku menuju rumah sakit.. Selama perjalanan Serkan berbicara dengan seseorang menggunakan Headset Bluetooth dengan berbahasa turki.. Sepertinya pekerjaannya masih belum selesai, apa karena biasanya dia bekerja sama dengan Emre dan kali ini dia sendiri yang harus menyelesaikannya? Lalu kenapa dia masih disini dan mengantarkanku? Tidur dimana dia semalam, Hotel? Atau dia pulang kembali ke jakarta dan dini hari berkendara kembali kemari? Untuk apa dia seperti itu, Serkan tipe pria yang sangat tidak mau menghabiskan waktu secara tak jelas.. Dan itu membuatnya lelah.. Atau sepertinya dia ada urusan bisnis disini dan kebetulan aku pun di kota ini.. Yaa sepertinya begitu..


Serkan berusaha mengantarkanku tepat waktu, tapi begitu sampai, lahan parkir sangat penuh.. Bahkan area parkir dokter pun tidak ada yang tersisa.. Saat mengelilingi rumah sakit, tiba tiba terlihat sebuah mobil keluar dan kami pun menunggu hingga mobil itu keluar.. Tapi tiba tiba mobil dari arah berlawanan datang dan mengambil lahan parkir kami bahkan dia sampai membunyikan klakson dengan sangat keras berulang kali kepada kami.. Akhirnya seperti biasa aku pun merasa seperti gunung api yang meledak..


“ HEY! Ini rumah sakit! Kau sudah mendapatkan tempat parkir, jadi hentikan membunyikan klakson!


Almira yang langsung turun dari mobil dengan kesal


“ Almira..”

__ADS_1


Serkan yang juga langsung turun dari mobil dan menarik tangannya


“ Kenapa tante ini berisik sekali?! Menyingkirlah tan..”


Ucap Gadis itu dengan Jendela mobil yang terbuka


“ Apa kau bilang?”


“ Kubilang, tante menying... Siapa pria tampan ini?”


“ APA??”


“ Tidak mungkin dia kekasihmu bukan? Hey.. Namaku talita.. Kau siapa?”


“ Serkan.”


“ KAU MELADENINYA..??!!”


Almira yang kesal melihat kearah Serkan


“ Dia menanyakan namaku”


Serkan dengan wajah polos memberikan penjelasan


“ KAU!! Siapa? Kulihat sepertinya umurmu tidak jauh berbeda denganku! Apa kau berkuliah?”


“ Untuk apa menjelaskannya padamu? Jika bukan karena dosen wali!! Aku tidak akan sudi kemari”


“ Jadi betul kau mahasiswa. Umurmu sekitar 20an? Apa kau tahu umurku juga baru 26, dan aku bukan tante! Jaga sikapmu ini rumah sakit, dengan kau membunyikan klakson mobilmu seperti....”


“ YAA..YAA..YAA..!!! Kau sepertinya perawan tua yang hanya suka mengomel! Pria ini tidak mungkin akan betah  bersamamu!”


“ Apa kau bilang?”


“ Hey, Serkan bukan tadi namamu? Apa hari ini kau kosong? Mau bermain?”


“ Maaf, aku bersamanya”


Serkan yang langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Almira


“ APA?! Ciihh.. Sangat disayangkan.. Bye”


Ucap gadis itu turun dari mobil dan langsung berjalan berlalu pergi


“ Tunggu mau kemana? Hey!!!!”


“ Sudah almira, nanti kau telat bekerja”


Siapa gadis itu? Umurnya sepertinya tidak jauh berbeda dengan Andre.. Tapi kenapa kelakuannya seperti itu? Dan apa yang dilakukannya disini? Jika dia menjenguk keluarganya atau orang tuanya disini sepertinya tidak aneh jika terkena mereka terkena serangan jantung! Aku langsung menutup mulutku saat tersadar meskipun bergumam didalam hati.. Entah mengapa tiba tiba aku merasa kesal sekali saat ini.. Serkan kembali membantuku menuju lantai tempat ruangan konseling.. Terlihar kak gihan dan 2 orang dokter lainnya sedang menungguku.. Bahkan aku dikejutkan dengan kehadiran kak reza disini.. Serkan tiba tiba sedikit berubah saat melihat Kak Reza.. Mata mereka sempat teralihkan kepada serkan, namun aku langsung membalikkan tubuh serkan untuk berjalan menuju ruangan kerjaku.. Belum aku sampai, kak reza memanggilku..


“ Mira.. Kenapa kakimu? Kau tidak apa apa?”


Reza yang menghampiri Almira dan langsung milingkarkan tangannya pada bahu Almira


“Aku...”


“ Dia tidak apa apa.”


Serkan yang langsung melepaskan tangan Reza dan berdiri di samping Almira


“ Kau lagi? Sedang apa disini?”


“ Mengantarnya”


“ Dia sudah sampai, aku yang akan menjaganya. Kau pulanglah”


“ Akan kupastikan dia sampai ruangannya karena kakinya terluka 2x ditempat yang sama”


“ Aku baik baik saja. Terima kasih.. Kak reza, kita bertemu diruangan konseling dengan kak gihan ya”


Almira yang merasa serba salah dengan kelakuan Serkan dan Reza


Ada apa ini? Kenapa tiba tiba terasa mencekam sekali? Melihat wajah Serkan sedikit kesal, aku langsung menarik dan membawanya masuk kedalam ruanganku.. Dan lagi lagi, begitu masuk aku dikejutkan dengan 2 buah rangkaian bunga yang berada diatas mejaku.. Sontak aku melihat kearah Serkan dan seperti dugaanku, wajahnya terlihat lebih kesal saat ini. Aku menyuruh Serkan masuk dan menaruh tas, mengganti sepatu dan menggunakan jas putihku.. Serkan berjalan kearah meja dan membaca kertas note yang berada diatas rangkaian bunga itu.. Dia kemudian melihatku dengan serius, namun aku sama sekali tidak mengerti ada apa.. Tak lama Handphonenya kembali berdering dan Serkan mengatakan akan menjemputku saat pulang nanti lalu berjalan pergi tanpa aku berkata apa pun padanya.. Kemudian segera berjalan menuju ruangan konseling, namun sungguh mengejutkan kembali melihat siapa yang sedang berada didalam ruangan ini..


“ KAU??”


“ Jadi kau dokter disini? Tante perawan tua..?”


“ Maafkan saya.. Ada apa ini dok?”


Ucap Almira kepada Gilang dan 2 dokter lainnya


“ Maafkan mengganggu liburanmu Dokter Almira.. Namanya Talita Islan. Usianya 21 tahun. Dia kemari karena kasus kekerasan atau Bullying pada salah satu temannya, sehingga temannya sedang dilakukan perawatan disalah satu kamar disini”


Ucap salah satu dokter


“ Lalu, apa yang bisa saya lakukan?"


 “ Karena jadwal kami semua sudah penuh, hanya tinggal anda dan dokter desi yang tersisa 1 visit, namun beliau menolak karena talita mengacungkan pisau padanya pada sesi wawancara..”


“ Apa?”


Para dokter disini langsung seperti tertunduk takut kepada gadis ini sehingga tidak ada yang berani menangani kasusnya.. Apa ayahnya adalah orang yang berpengaruh dirumah sakit ini? Siapa gadis ini? Kenapa diusia produktifnya dia hanya membuang waktu yang tidak berguna bahkan berbahaya.. Apa dia bermasalah? Atau hanya mencari perhatian? Apa yang terjadi denganmu sampai berani berbuat seperti ini..


“ Baiklah. Saya akan menjadi psikologmu.. Talita? Bisa lihat mataku?”


Almira yang mencoba bertatapan dengannya


“ Untuk APA??”


Talita yang mengalihkan pandangannya ke kanan dan kiri


“ Lihat dan dengarkan aku!”


Almira langsung menyentuh wajahnya dengan kedua tangannya agar bisa melihat kearah mata Talita


“ Apa yang kau...”

__ADS_1


“ Mohon kerjasamanya dan semoga kita bersenang senang.. Oke?”


Pasien klient pertama ku ternyata melenceng sangat jauh dari jadwal yang rumah sakit berikan padaku.. Baiklah, kita lihat apa yang harus kita lakukan dalam hal ini..


__ADS_2