
Langkah kaki yang terhenti hingga terasa waktu pun ikut bersamanya.. Tertunduk dengan nafas yang masih terasa berat, pria tampan itu berdiri dengan kokoh dengan memberikan tatapannya yang begitu menusuk.. Tersadar akan sebuah botol obat yang tergeletak diantara kain gaun yang kukenakan, mencoba meraihnya pun terasa percuma disaat gerakannya lebih cepat dari gerakan tanganku.. Serkan yang melipat kedua kakinya hingga menjadi sejajar denganku, menatapku kembali sebelum melihat apa isi dan nama obat itu.
Mencoba mengambil dari tangannya, namun lagi lagi Serkan menangkis tanganku dan kali ini dia menggenggamnya dengan erat seperti terlihat kemarahan diwajahnya saat ini kepadaku. Tertunduk lemas tak berdaya, akhirnya kepasrahan ini pun datang menghampiri disaat Serkan mengambil Handphone dari dalam jas yang dikenakannya dan mencoba untuk mencaritahu tentang obat ini.
“ Apa yang sembunyikan dariku Almira? Kau yang beritahu, atau aku yang akan mencari tahu?”
Serkan mendekatkan wajahnya kepada Almira dan menatapnya tajam
“ Se.. Seharusnya kita tidak bertemu kembali.. Dari mana kau tahu aku disini?”
Ucap Almira dengan nafas tersenggah menahan sakit
“ Kau memutar pertanyaan. Haruskah aku membawamu ke rumah sakit dan menanyakan langsung tentang obat ini?”
Ucap Serkan yang memperlihatkan botol obat kepada almira
“ Berikan padaku. Ini.. Ini tidak ada hubungannya denganmu..”
“ Apa kau bilang? Tidak ada hubungannya denganku?”
Serkan yang semakin terlihat kesal dengan mendekatkan wajahnya kepada almira
“ Apa hubunganku denganmu?.... Bu, bukankah semua diantara kita sudah ti..”
“ Aku bertunangan dengan wanita yang tidak aku cintai hanya agar ibuku berhenti memintaku menikah dan menunggu hingga kau siap. Tapi, ini balasanmu padaku?”
“ Ap.. Apa maskudmu? Kau.. Mempermainkan perasaan seseorang wanita?”
“ Tidak juga. Dari awal aku sudah menjelaskan padanya tentang syarat jika ingin bertunangan denganku. Namun, akhirnya wanita itu menyerah dan mundur. Apa itu salahku?”
Serkan yang kembali berdiri dan berjalan membelakangi almira
“ Ad.. Ada apa denganmu? Kau bukanlah pria yang se..”
“ 2 TAHUN ALMIRA! 2 TAHUN KAU MENGHILANG DAN MENGHINDARIKU! SEMUA PANGGILAN BAHKAN PESAN PUN TIDAK PERNAH KAU BALAS SATU PUN! Kini kau bertanya, ada apa denganku?”
Serkan yang kesal kembali berjalan mendekati Almira dan menarik salah satu tangannya
“ Sa.. Sakit Serkan.. Lepaskan aku..”
“ Aku bahkan sempat berpikir jika aku memang harus melepaskanmu untuk menikah dengan pria yang bernama Reza itu. Namun ternyata sampai saat ini, kau pun masih belum menikah? Ada apa Almira? Kau sungguh membuatku kesulitan.”
“ Ka, kalau begitu.. Pergilah menjauh!”
Almira membalas Serkan dengan menatapnya dengan tajam
#BRAAAKKKK #TRAAAKKK
“ ALMIRA!!”
Serkan yang semakin kesal, melempar botol obat itu kearah dinding hingga terpecah dan obat obat itu pun berserakan
“ Apa yang kau lakukan?... SERKAN KAU SUDAH KETERLALUAN!”
Almira yang kesal membalas Serkan dengan berteriak
“ Katakan sekali lagi. Aku apa?”
Serkan semakin mendekatkan wajahnya kepada almira dengan kesal
“ Kau.. K E T E R L A L U A N. Puas? Sekarang ting.. Tunggu! Serkan apa yang kau lakukan? Serkan turunkan aku! SERKAN?! AARRGGHHH.....”
Almira yang kesakitan tidak dapat melakukan perlawanan disaat Serkan menggendongnya
“ Berhenti melakukan perlawanan, aku akan membawamu ke Rumah sakit terdekat.”
“ Tidak... Tidak. Tidak! TURUNKAN AKU!! SERKAN!!”
“ KAU KESAKITAN ALMIRA! APA KAU BEGITU SUKA MENYAKITIKI DIRIMU SENDIRI? APA SEKARANG KAU YANG KEHILANGAN AKAL MENGGANTIKANKU??”
Serkan meninggikan suaranya ditengah Lobby Hotel dengan mata yang memandang mereka berdua dengan tatapan terkejut mereka
Tidak lagi sudah untuk kesekian kalinya aku seperti ini. Lagi lagi tak berdaya dengan rasa sakit yang menerjang tubuh ini hingga tak sadar bahwa aku sempat tak sadarkan diri saat dalam perjalanan menuju Rumah sakit.. Serkan berteriak dan berteriak memanggil manggil namaku yang juga masih belum bisa memberikan respon kepadanya yang akhirnya mempercepat laju kendaraannya menuju Rumah sakit terbaik dikota yang indah ini.. Samar samar kudengar mereka semua seperti sudah mengenal Serkan mengingat Ayahnya serta dirinya sendiri pun dulu melakukan perawatan di rumah sakit ini dalam waktu yang lama.
Serkan kembali menggendongku dan dengan kesadaran terakhir kudengar suaranya begitu khawatir akan kondisiku yang terlihat pucat pasi.. Tak lama dokter dan perawat yang sedang bertugas diruangan ini pun terkejut dengan Botol obat yang ada ditangan Serkan saat dirinya memperlihatkan tentang kondisiku yang meminum obat ini.. Merasa kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana, Serkan yang melihatku dibawa menggunakan ranjang pasien menuju ruang ICU pun membuatnya menjadi sedikit histeris dengan mencoba untuk menghampiriku beberapa kali.. Serkan, kumohon pergilah dari sini....
. . . . . . . . . . . . . .
“ Bagaimana Dokter Jerfuz? Bagaimana kondisinya?”
Ucap Serkan yang langsung menanyakan kondisi Almira dengan bahasa turki
“ Sebelumnya, boleh kutahu hubunganmu dengan pasien ini Serkan?”
__ADS_1
Ucap Dokter tersebut
“ Kenapa? Ada apa hingga kau bertanya seperti itu padaku?”
“ Obat yang kau berikan padaku.. Apa kau tahu obat apa itu?”
Ucap Dokter itu kembali mencoba memastikan
“ Berhenti membuatku kebingingan dan jelaskan saja padaku.”
Ucap Serkan yang mulai hilang kesabarannya
“ Lamivudine.. Obat itu.. Untuk pasien penderita HIV atau Hepatitis B Akut.”
“ Apa?.. Tunggu, sepertinya aku salah dengar! Kau bilang, HIV? Hepatitis B? Apa kau bercanda denganku saat ini?.”
“ Aku sedang menunggu hasil rekam medis untuk mengetahui apakah wanita itu terkena HIV atau Hepatitis B. Akan aku beritahukan segera kepadamu. Namun Serkan, apa kau penyakit seperti apa HIV atau Hepatitis B itu?”
Ucap Dokter itu kembali dengan menepuk pundak Serkan
“. . . . . . . . . . .”
Serkan yang terdiam mendengar perkataan Dokter tersebut dengan wajah yang masih terkejut dan juga kebingungan merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar
“ Aku akan meninggalkanmu untuk menenangkan diri.. Datanglah keruanganku begitu kau sudah siap dan akan aku jelaskan keadaan wanita itu padamu..”
Ucap Dokter itu kembali dengan menepuk pundak Serkan dan berlalu pergi
“ Almira. Apa aku sedang bercanda denganku? Karena ini tidak lucu sama sekali.”
Serkan yang tertegun, masih merasa terkejut melihat almira dari balik kaca yang berada di ruangan ICU
Langit langit putih dengan seragam khas Rumah sakit.. Ternyata aku berakhir seperti ini? Lalu, apa kali ini dapat tertolong atau hanya kesempatan sesaat untuk bertahan hidup menuju ajal yang sedang berada diujung pintu mencoba untuk menghampiriku.. Terlihat ruangan tertutup begitu steril seolah aku adalah makhluk asing yang sangat berbahaya dengan mencoba bernafas dari tabung selang oksigen.. Bunyi detak jantung yang terdengar nyaring namun pelan, membuat tanganku tarasa dingin mencoba membayangkan kondisiku yang mungkin dalam kondisi kritis.
Tersadar akan diriku yang akhirnya membuka mata dan mencoba untuk terduduk, dengan sigap beberapa perawat datang menghampiriku dan mambantu semua yang kubutuhkan bahkan saat aku meminta untuk mengganti selang tabung oksigenku ini.. Sebuah kamar mewah yang berada dalam suatu Rumah sakit ternama yang sepertinya kala ini aku sedang berada di ruangan VVIP dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda dari Hotel berbintang 5, hanya berbeda fungsi.
Terduduk seorang diri, akhirnya aku mencoba untuk mengingat kejadian terakhir kali dimana aku dapat sampai kemari dan mendapatkan perawatan medis yang sangat baik. Memutar pandangan mata, akhirnya aku dapat melihat 2 wanita cantik yang selalu menemaniku dalam susah dan senang dalam perjuangan mencapai cita cita kami.. Lilian dan Kirey, mereka terlihat begitu kelelahan dengan tertidur di Sofa ruangan ini, tertutup dengan sebuah selimut berukuran pas dengan tubuh mereka..
“ Lilian! Kirey! Bangunlah... Lilian! Kirey! Bangunlah...”
Ucap Almira dengan sedikit meninggikan suaranya
“ Apa yang..? ALMIRA?? ALMIRA KAU SUDAH SADAR? BAGAIMANA? APA YANG KAU RASAKAN?”
Ucap Kirey yang berlari dan Lilian yang meningikan suaranya karena khawatir kepada Almira
“ Kenapa kau kemari? Kau sedang hamil.. Pulanglah Lilian..”
Almira yang menatap perut Lilian dengan sedih
“ Aku dan bayi ini tidak apa apa! Lagipula kau pikir dengan bernafas, penyakitmu tertular padaku? Hentikan membuat cerita palsu almira!
Ucap lilian yang merasa kesal
“ Kenapa, kau marah saat ini padaku?... Apa Kirey juga sama?”
Tanya almira dengan tatapan polosnya
“ Masih saja kau berkata seperti itu disaat kau memaksakan dirimu untuk bekerja! Aku sudah mendengar semua dari Turan, bahwa kau ditugaskan di Bangsal UGD dan juga Ruangan bedah! Belum lagi kau harus kembali untuk melakukan sesi terapi psikolog pada kelima pasienmu! Apa kau sudah gila? Kau mau mati cepat?”
Lilian yang sangat merasa marah, namun mencoba memutar pandangannya kearah lain agar Almira tidak melihatnya menangis
“ Dimana Turan sekarang? Berapa lama aku tidak sadarka diri?”
“ Turan sedang berbicara dengan Dokter yang berjalan menuju kemari untuk memeriksamu.. Kau tertidur selama 4 hari.. Kami begitu sangat mengkhawatirkanmu..”
Ucap Kirey yang baru masuk kembali kedalam ruangan
“ Sebulan lagi kau akan kembali ke indonesia bukan? Kudengar terjadi keributan di Rumah sakit tempatmu bekerja saat mendengar kau absent tidak hadir untuk bekerja dan mereka akhirnya.. Mengetahui penyakitmu..”
Lilian kembali menjelaskan dengan tatapan iba
“ Almira, kami tahu impian pun adalah menjadi sosok yang sekarang sedang kau jalani, tapi bisakah kau mempertimbangkan jika mereka memberhentikanmu untuk kembali bekerja?”
Ucap Kirey kepada almira
“ Maksud Kirey adalah, saat Turan dan pihak Rumah sakit disini memberitahukan tentang kondisimu. Bukan dengan pendapat dan pemikiran yang sama, kudengar dan lihat dengan mataku sendiri, dia membelamu dengan beberapa dokter dan perawat.”
Ucap lilian kembali yang mencoba menjelaskan
“ Ya Almira, bahkan Turan mengatakan jika kau ditolak untuk dinas kedokteran kembali di Rumah sakit di indonesia.. Maka Turan sudah mengajukan untuk menarik dirimu agar bekerja di Rumah sakit miliknya.. Dan kudengar semua Dokter dan perawat pun mendukungnya..”
“ Kirey, apa yang kau katakan ini benar?”
__ADS_1
“ Awalnya aku berpikir Turan adalah Pengusaha dan Direktur yang Bersilat Lidah. Namun semakin kami mengenalnya, ternyata dia bukan pria seperti itu..
Ucap Lilian kembali kepada almira
“ Bisakah aku berbicara dengan Turan terlebih dahulu saat ini? Bisakah kalian memanggilnya? Kumohon Lilian.. Kirey..”
“ Baiklah, aku akan memanggilnya kemari..”
Kirey kembali berjalan keluar ruangan dan tak lama Turan pun datang.. Lilian dan Kirey yang mengerti pun langsung meninggalkan ruangan dan membiarkan kami untuk berbincang agar merasa lebih leluasa.. Turan berjalan mendekatiku dengan tersenyum pada wajahnya, namun....
“ Turan?.. Ada apa dengan wajahmu? Apa kau terjatuh atau terhantuk, atau...”
Tanya almira begitu melihat Turan lebih dekat dari balik dinding plastik transparant menggunakan bahasa Turki
“ Aaahh, Luka ini? Aku mendapatkannya dari Serkan..”
Ucap Turan sembari memegang bibir dan pipinya yang terluka lalu duduk di sofa
“ APA?”
Almira yang bertanya dengan begitu terkejut
“ Saat aku mencoba menceritakan pada Dokter yang merawatmu alasan kau jatuh tumbang saat kondisimu menurun, Serkan secara tiba tiba menghampiriku dan memberikan pukulan ini..”
“ Apa yang dia pikirkan?! Maafkan aku..”
“ AHAHAHAA.. Kenapa kau meminta maaf? Justru akulah yang tidak tahu.. Almira, dari sekian lama aku melihat dan mengenal Serkan, baru kali ini aku melihatnya begitu marah.. Sepertinya dia sangat menyukaimu..”
Turan yang tertawa mencoba untuk menjelaskan
“ Apa yang kau katakan?! Aku dan dia, tidak memiliki hubungan apa pun..”
Almira berbicara dengan menundukkan kepalanya merasa malu
“ Dan karena alasan itu juga aku memilih untuk mundur darimu.. Karena aku tahu, dibandingkanku.. Serkan lebih baik untukmu..”
Ucap Turan sembari tersenyum
“ Berhentilah menyindirku.. dan Turan, maafkan aku untuk bertanya hal lain yang menggangguku.. Apa kau yang me..”
“ Aku meminta perpindahan alokasi dinas kerjamu. Kenapa? Ada yang salah dengan itu? Kulihat samapi saat ini, Rumah sakit tempatmu bekerja juga masih belum memberikan keputusannya apakah kau akan kembali atau tidak selepas ini.”
“ Kenapa kau melakukannya? Alasan iba? Kasihan? Dibalut dengan sedikit kata meragukan..?”
“ Apa? Tidak, tidak.. kau salah paham Almira.. Ini semua juga karena permintaan para Dokter dan Perawat.. Namun, tentu saja itu semua bukan atas ideku yang meminta mereka untuk melakukan pernyataan satu persatu melalui Video ini, yang aku kirimkan kepada kapala bagianmu..”
Turan kembali menjelaskan dengan memperlihatkan sebuah video Handphone dari dalam jasnya
“ Kau mengirimkan Video kepada kepala bagian rumah sakit?”
Almira yang bertanya dengan bingung dan mengambil Handphone dari tangan Turan
“ Lihatlah rekaman Video itu.. Kami semua menggunakan bahasa inggris, jadi mereka pasti mengerti”
Begitu kulihat rekaman dari Video ini, entah perasaan bahagia, sedih, atau apa pun itu yang harus aku berikan untuk mengungkapkan rasa terima kasih atau perasaan yang tak menyangka bahwa mereka semua akan melakukan ini padaku.. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri mereka dan menjelaskan tentang apa saja yang pernah aku lakukan untuk membantu mereka selama 2 bulan ini.. Terlepas dari kehadiranku yang kurang dari sebulan lagi di kota ini, mereka pun meminta jika pihak Rumah sakit tempatku bekerja tidak ingin melanjutkan masa baktiku, maka mereka meminta untuk mempertahanku.
Air mata yang tertumpah tak lepas dari rasa bersyukur, mencoba mengerti bagaimana bisa hubungan yang baru terjalin hanya dalam waktu 2 bulan bisa menjadi seperti ini? Bahkan kelima pasien yang menjadi tanggung jawabku, menjadi begitu dekat dan bahkan mereka pun memintaku untuk selalu bersama dengan mereka.. Tertunduk kepala ini semakin merendah disaat Turan memandangku dengan senyuman yang tidak akan pernah aku lupakan.
“ Sudah sore, aku harus segara kembali menuju Rumah sakit”
Turan berjalan kearah almira dan mengambil handphonenya kembali
“ Terima kasih.. Bisa kau sampaikan kepada mereka?”
“ Hmm, lebih baik kau sampaikan sendiri disaat kau sudah pulih nanti.. Segeralah pulih, oke?!”
Turan kembali tersenyum dan berlalu pergi
“ Kalian sudah selesai berbicara?”
Ucap Kirey dan Lilian yang masuk kembali kedalam ruangan
“ Ya.. Kalian juga pulanglah.. Jangan berlama lama berada disini..”
“ Suami kami memberikan ijinnya, kepada kau yang melarang kami?”
“ Lilian.. kau sedang hamil!”
“ Lalu? Berhenti dan diamlah! Saat ini baik aku dan Kirey sedang marah kepadamu!”
Lilian kembali terduduk di sofa dengan Kirey yang mengikutinya dari belakang
Rasa syukur apa yang kurang kukatakan saat ini saat menerima semua anugerah kebaikan dari mereka semua..? Namun, apakah mereka tidak tahu bagaimana penyakit ini dan apa akibat jika sampai tertular olehku? Kenapa mereka begitu keras kepala..
__ADS_1