Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 6


__ADS_3

Musim dingin kali ini memang mengharuskanku lebih banyak berada diluar ruangan.Sehingga membuatku terbangun dari tempat tidurku dan mencari obat yang ada, hanya untuk mengobati rasa pening dan menggigil yang tak kunjung berhenti. Namun tidak satu pun dapat kutemukan obat itu, mengharuskan ku untuk keluar membelinya. Begitu selesai membersihkan diri dan bersiap, tersadar akan sebuah jas yang menggantung membuatku merasa hangat.. Jika aku tahu hari itu perusahaan yang aku datangi adalah tempatnya bekerja, mungkin aku bisa langsung mengembalikannya.. Aku kemudian mencoba melipat jas itu serapi mungkin dan akan kukembalikan padanya saat aku bertemu dengannya.


Tak terasa sebuah buku note berukuran sedang berwarna merah coklat terjatuh dari dalam jas dan berada jelas di atas kedua kakiku. Merasa penasaran akan kepemilikan Note ini, aku mencoba membuka buku note tersebut dan begitu terkejut begitu melihat isi dari dalam buku note ini. Terdapat sebuah foto berukuran sedang dihalaman depan tepat saat aku membuka halaman pertama. Dalam foto itu Serkan tersenyum dengan bahagia dengan sesosok seorang wanita yang sangat cantik disebelahnya.. Rambut yang sedikit ikal panjang terurai dengan sedikit hiasan di rambut berwarna caramel, rona merah pada pipi serta bibirnya dan mata bulat yang membuat wanita ini begitu mempesona.. Dan mereka terlihat sangat sempurna satu sama lain, terlebih dengan Serkan yang berada disampingnya. Cincin yang melekat pada jari mereka pun terlihat sangat jelas. Siapa pun yang melihat foto ini pasti bisa langsung menebak hubungan seperti apa yang mereka miliki..


Rasa penasaran semakin membuatku membuka halaman demi halaman.. Aku sangat tahu bahwa yang aku lakukan saat ini sangat tidak terpuji, namun entah mengapa aku masih saja melihat kedalam isi dari buku note ini. Lalu pada bagian tengah terdapat kumpulan number Handphone beserta nama disampingnya. Awalnya kupikir itu pasti rekan kerjanya, namun setelah melihat halaman selanjutnya membuatku bertanya tanya. Bagaimana bisa ada daftar restaurant serta hotel beserta nama nama yang berbeda di setiap halaman? Semakin aku dibuat penasaran aku pun duduk di meja belajarku dan mencoba untuk membacanya dengan sangat serius kali ini.


“ Armagan hari senin, jam 7 malam di Garden Mezze.. Lalu Berk hari rabu jam 10 pagi pergi ke Balat, Emir di Cocos the club solto tanggal 23 sampai 25, Gulbahar di Artemis cave suites and spa di hari selasa minggu depan pukul 5 sore. . . . Apa ini??”


Ada apa dengan wanita ini? Ke empat nama pria ini yang paling sering menghubunginya bahkan tidak hanya dua kali mereka bertemu, seperti memang akan selalu bertemu dikemudian harinya.. Aku mencoba mencari tahu tempat atau lokasi seperti apa yang dimaksud dalam buku note ini, kupikir ini adalah tempat pertemuan bisnis formal atau tempat meeting yang bernuansa restaurant, namun  sepertinya tempat tempat ini terkhususkan bagi orang orang yang sudah memiliki kekasih dan pergi bersamanya untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi bukankah dia sudah bertunangan dengan serkan? Aku mencoba membuka halaman selanjutnya, halaman demi halaman lalu kulihat ada beberapa foto wanita ini dengan pria pria di lain waktu dan tempat tempat berbeda,  wanita ini terlihat sangat senang dan menikmati waktu bersama pria pria itu.. Ternyata ini adalah buku note milik wanita ini? Jadi bukan milik Serkan? Lantas kenapa bisa berada ditangannya? Apa dia selalu membawa kemana pun buku note ini? Lalu.. Setiap tanggal dengan angka 4 saat dia terduduk sendiri pun dia selalu melihat buku note ini? Apa yang ada dipikirannya? Sudah jelas membuatnya semakin terluka dan menyedihkan tapi tetap dia lakukan itu.. Aku yakin bukan hanya karena alasan ini dia dalam kondisi itu.. Apa sebenarnya yang terjadi padanya.


Kondisi tubuh yang sedang melakukan demonstrasi pun menyiksaku disaat suhu tubuhku meningkat namun aku harus pergi ke kampus setelah Pak Onur memberikan pesan singkat dan memanggilku beserta 3 temanku lainya yang lulus pada saat seminar perkuliahan kala itu. Pertemuan hari ini pada pukul 11 siang diruangannya, aku pun langsung pergi menuju kampus. Sesaat memasuki ruangan Pak Onur, diatas mejanya sudah terdapat 10 map yang berisikan data data yang tertulis tentang laporan psikologi seseorang. Pak Onur kemudian memberitahu kami untuk memilih 1 dari 10 contoh kasus yang sedang ia kerjakan sampai saat ini, lalu setelahnya kami harus membuat jurnal akademik. Mendengar itu para temanku terlihat begitu antusias, namun sepertinya tidak untukku. Karena, dengan diberikannya tugas jurnal ini, waktu ku untuk bekerja menjadi sempit, serta tambahan mata perkuliahan ku yang bertambah padat.. Tapi mau tidak mau, aku pun harus tetap memilih salah satu dari map ini. Sepertinya aku tidak akan punya waktu kosong untuk sebulan ini.


Semua map mempunyai warna berbeda dengan bertulis nama dari klient Pak Onur. Kulihat semua map serta nama yang tercantum diatasnya, namun seketika mataku terhenti pada map berwarna merah yang bertuliskan nama Serkan diatasnya. Aku pun langsung mengambilnya entah karena alasan apa aku mengambilnya. Apakah ini Serkan yang kukenal? Banyak sekali kemungkinan aku melakukan kesalahan.. Bukankah memang Serkan bertemu dengan Onur bey beberapa kali, tapi dia kemari sebenarnya untuk melakukan sesi terapi bukan untuk kepentingan bisnis? Sepertinya betul, bahkan Emre pun mengantarkannya dan seingatku Emre mengatakan, Serkan sedang melakukan SESInya. Aku lihat isi ringkasan awal dari riwayat klient tertulis - BPD (Borderline Personality Disorder)-.


Aku kembali membuka riwayat medis apa saja yang sudah dilakukan serta sudah berapa lama pengobatan ini berjalan.. Tertulis bahwa klient sudah melakukan terapi lebih dari setahun yang lalu.. Selama ini apa saja perkembangannya? Bagaimana kesehariannya? Aku ingin mencoba membacanya kembali, namun Pak Onur  tiba tiba mengambil map tersebut dari tanganku..


“ Almira, anda akan meninjau data ini? Jika bersedia, kirimkan Riset data ini kepada saya dalam 3 minggu ke depan. Bagaimana almira?"


Ucap Pak onur dengan bahasa turki sembari memegang Map untuk diserahkan padaku


“ Baik Pak onur"


Pak Onur kemudian mendata rincian kemahasiswaan bahwa dalam kasus ini, dan aku yang akan mengamati serta mengevaluasi pengobatan serta perkembangan apa saja yang diperlukan. Dihalaman selanjutnya tertulis disini saat sesi wawancara, aku pun bisa masuk hadir bersama Pak Onur dan klien (pasien) pun menandatangani persetujuan untuk kami secara bersama sama akan mencoba menangani kasus yang dipilih oleh kami masing masing. Mungkin lebih tepatnya aku akan sebagai assisten Pak Onur pada Sesi Terapi wawancara nanti. Jikalau begitu, aku sangat harus menyiapkan data serta kumpulan pembahasan terkait hal ini.. Entah diselimuti rasa penasaran dan lain sebagainya, aku berjalan dengan cepatnya menuju perpustakaan kampus dan mencari semua hal yang berkaitan dengan - BPD (Borderline Personality Disorder)-.


Tak terasa waktu yang kuhabiskan dalam perpustakaan membuatku hampir melupakan jam kerjaku di restaurant.. Aku langsung membereskan buku buku yang kubaca dan bergegas pergi menuju restaurant.. Sesampainya disana aku pun segera mengganti pakaianku dan melanjutkan untuk bekerja.. Apakah dia akan datang juga sore ini? Aku sudah membawa jas miliknya untuk diserahkan kembali padanya.. Restaurant saat ini lumayan cukup ramai, sehingga aku pun tidak fokus bahwa emre sudah terduduk dikursi yang biasa dia tempati untuk menunggu serkan.. Aku pun melihat kearahnya, terlihat emre mengalihkan pandanganku untuk melihat kearah serkan.. Dan seperti biasa ditengah cuaca dingin ini, dia masih duduk dikursi yang sama dengan aura kesedihan yang melekat padanya..


Emre dan Pak Mete pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya melihat serkan seperti itu, disetiap bulan ditanggal yang sama.. Entah mengapa tiba tiba aku dibuat penasaran tentang hubungan apa yang dimiliki oleh Mete Bay dan istrinya kepada serkan sehingga mereka bisa sedekat ini.. Karena setauku ozcan hanim adalah sepupu dari hazal.. Saat  Mete Bay dan ozcan hanim kembali melayani pelanggan, mereka menyuruh aku dan 2 orang rekan ku untuk beristirahat sejenak sembari menunggu para pelanggan menghabiskan makanan dan minuman yang mereka pesan.. Tak memerlukan waktu lama, aku memberanikan diri berjalan menuju emre untuk bertanya padanya..


“ Hey.. Apa kabarmu belakangan ini?”


Ucap almira yang duduk di kursi di hadapan Emre


“ Seperti biasa. Kau bagaimana mir?”


“ Seperi yang kau lihat.. Hmm, Emre jika tidak keberatan, ada yang ingin kutanyakan padamu”


“ Tentu. Apa itu?”


“ Bisa kau ceritakan bagaimana Pak Mete dan Kak Ozcan begitu mengenal Serkan? Apa bisa kutanyakan hal ini padamu?”


“ Mete dan aku tumbuh bersama dalam 1 lingkungan, dia seusia denganku dan dengan abi kami hanya terpaut 2 tahun lebih muda darinya. Saat aku bisa berkuliah dan lain sebagainya karena orang tua abi yang membiayaiku dan menganggapku sebagai salah satu anak mereka, mete menikah diusia muda dan memutuskan bekerja disalah satu restaurant. Lalu suatu hari, saat itu aku dan abi menjadi pelanggan ditempatnya bekerja, mete dituduh melakukan kesalahan yang menyebabkannya dipecat sedangkan kala itu istrinya sedang hamil dan akan melakukan persalinan dalam waktu dekat.. Awalnya abi tidak mengenal mete, namun karena aku mengenalkan padanya, mereka pun menjadi sangat dekat. Abi kemudian memberikan pekerjaan baru untuknya setelah kurang lebih 4 tahun, lihatlah dia sekarang. Restaurant ini juga merupakan salah satu support abi kepada Mete dan ozcan.. Bahkan biaya persalinan anaknya saat itu dibayarkan oleh abi, setahuku dulu terkadang abi pun memberi bantuan dana disetiap bulannya sebelum akhirnya Mete menjadi sukses seperti sekarang.”


Mendengar cerita Emre, aku pun seolah tertegun dibuatnya.. Kenapa bisa orang yang menurutku hampir sempurna, bisa sampai pada posisi seperti itu.. Kulihat kembali Emre kali ini, dia pun menatap Serkan dengan penuh rasa iba serta kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya. Begitu juga dengan Pak Mete dan Kak Ozcan, meskipun mereka juga sibuk membantu melayani tamu, namun sesekali dapat terlihat pandangan mereka menjurus kearah luar restaurant untuk memastikan dia baik baik saja seorang diri disana. Apa aku harus kesana dan kembali berbicara dengannya? Aku juga sebenarnya ingin mengembalikan jas miliknya.. Namun seketika aku mengingat buku note itu dan mencoba menanyakannya kembali pada Emre..


“ Aku sangat tahu, kau tidak mugnkin menjelaskannya dengan sangat detail.. Tapi setidaknya bisakah memberiku sedikit informasi tentang. . . . .Tunangannya??”


“ Aaa.. APA?? Dari mana kau....”


Ucap Emre yang begitu terkejut


“ Aku bukan dengan sengaja untuk mencari tahu, tapi aku menemukan buku note yang sepertinya milik tunangannya dalam saku Jas Serkan. Dan Maaf, karena rasa penasaran aku pun membacanya.”


Almira yang tertunduk malu akan sikapnya di hadapan Emre


“ Secara garis besar semua bermula karena wanita itu.. Jika aku tahu hari itu akan menyebabkan masalah pada kakak, pasti akan aku hentikan dia. Pastinya dia tidak akan menjadi seperti itu”


“ Jujur, aku takut berpikir dan berpendapat.. Tapi, apakah tunangannya adalah seorang........”


“ Ya. Kau melihat begitu banyak daftar Number handphone pria dan juga tempat mereka bertemu bukan? Bahkan mereka tersusun dengan sangat rapi. Metelah yang membantuku mengetahui jati diri dari wanita itu”


“ Apa? Berarti tebakanku benar?”


“ Jika kau tahu masalah lainnya yang lebih dalam. Kau mungkin tidak akan menyangka, dengan kejadian itu dia masih bisa bersikap normal seperti saat ini..”

__ADS_1


“ Berarti.. Dia betul melakukan konsultasi dan sesi terapi pada Pak Onur? Lalu, Serkan yang akan aku...... Adalah betul dirinya??”


“ Pak Onur sudah menghubungi kami, kau akan membuat jurnal akademik bukan? Kuharap kau dapat memberikan penilaian secara menyeluruh, serta bukan dari informasi yang tidak jelas. Beritahu aku jika kau butuh sesuatu.”


“ Apa maksudmu?”


Emre berhenti menjelaskannya padaku dan dapat kulihat expresi wajah Emre menjadi sangat serius melihat kearah Serkan. Kini aku tahu bagaimana hubungan dari mereka bertiga, sehingga mungkin akan lebih mudah bagiku untuk mengerjakan jurnal akademikku jika ada hal yang perlu kuketahui tentangnya.. Saat aku mencoba kembali ke pantry, Pak Mete dan Kak ozcan menghadangku dan  kembali membawakan jaket musim dingin milikku dan menyerahkannya padaku, memohon padaku untuk berbincang kembali padanya dengan wajah memelas.. Jujur sebenarnya aku merasa keberatan dengan permintaan mereka kali ini, namun mereka seperti sangat memohon padaku dan akhirnya aku pun menyetujuinya. Aku memakai jaketku dan berjalan kearahnya, seperti sudah bisa merasakan kehadiranku, Serkan menolehkan kepalanya sesaat sebelum aku duduk disebelahnya..


“ Apa kau kemari untuk bercerita hantu lagi padaku?”


Ucap serkan sembari melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di dalam jas


“ aahh, kau ternyata seperti ninja.. Padahal aku berusaha tidak membuat suara sedikit pun”


Almira pun terduduk disamping serkan dengan merapikan jaketnya


“ kali ini kau akan bercerita apa padaku?”


“ Kau tidak keberatan aku menemanimu?”


“ Keberatan. Karena aku ingin sendiri.”


“ Jadi, kenapa kau juga seolah ingin aku menemanimu?”


“ Itu juga pertanyaan yang aku pertanyakan pada diriku sendiri. Ada bagian dariku yang ingin kau disini, namun ada juga bagian dariku yang menginginkan kau untuk pergi.”


“ Serkan, Aapaaa... Kau sudah mendengar dari Pak Onur, bahwa aku akan......”


“ Almira, Kau mengambil study ini karena aku yang menjadi objeknya? Atau kau memang tertarik dengan penyakit yang kualami? Atau ada alasan yang lain?”


“ Tidak.. Dan juga Ya. Atau bisa dibilang keduanya adalah alasanku.. Aku tidak akan berbohong padamu hanya karena untuk menjaga perasaanmu. Dan aku tidak akan melakukanmu seperti seorang pasien! Kau harus tahu itu”


“ Hmmm.. Kupikir kau memang tipe wanita seperti itu. Hal itu juga yang menjadi daya tarikmu tanpa kau sadari”


Almira yang menatap Serkan dengan sangat serius seraya menjahilinya


“ Tertarik dan Menyukai itu hal yang berbeda.”


Ucap Serkan yang memalingkan wajahnya


“ Harga diri yang tinggi.. Dan kau malah tersenyum saat aku memberikan pertanyaan serius padamu.. Kalau begitu kutarik perkataanku, Kedepan bisa dibilang hubungan kita adalah dokter dan pasien?? Apa bisa disebut begitu??”


“ Kali ini sepertinya harus kulempar kembali perkataanmu barusan, Harga diri yang tinggi??”


Serkan yang tertunduk dan kembali menatap selat Bosphorus dengan senyuman di wajahnya


“ Kann.. kau tersenyum lagi disaat aku berbicara serius padamu. Serkan, bagaimana tanganmu? Apa luka waktu itu meninggalkan bekas?”


“ Luka? Aah, Jadi kau sudah mengingatnya?”


“ Maaf, saat itu kupikir kau seperti salah satu dari kami dan Emre adalah rekan bisnis Pak Onur. Karena, dalam ingatanku kau terlihat sangat berbeda.”


“ Aku tidak menyalahkanmu.”


“ Apa kau jadi begitu baik padaku karena luka dikepalaku, jadi kau merasa bersalah?”


“ Jujur ya. Tapi semakin aku mengenalmu, entah karena alasan apa itu semua berubah.”


“ Maksudmu..?”


Ucap Almira yang menatap Serkan dengan sangat serius


“ Lupakan. Anggap saja seperti perkataanmu, kebaikan antara sesama umat manusia.”

__ADS_1


“ Apa kau tidak merasa keberatan jika ada yang menanyakan prihal aku karena kejadian acara Pak ilker saat itu? Dengan posisimu saat ini, aku yakin pasti banyak cerita tersebar.. Apa tidak mempengaruhi pekerjaanmu? Dan juga, kau sendiri...?”


“ Kau mengkhawatirkanku? Atau kau takut jika diberitakan menjadi pacarku?”


“ Lupakan! Lupakan. Aku sebenarnya juga ingin menanyakan waktu luangmu.. Aku sudah berjanji akan membuat perutmu kenyang sehingga kau tidak terlihat menyeramkan..”


Ucap Almira sembari salah tingkah dengan merapikan jaketnya


“ Apa, aku semenyeramkan itu?”


“ Kalau dengan wajah dan penampilanmu yang seperti ini? Sepertinya, yang ada para wanita terpana ketika melihatmu..”


“ Apa kau mengakui aku tampan?”


Serkan tiba tiba menatap Almira dengan senyuman jahil diwajahnya


“ Apa yang?? AHaHaa... Hentikan! Kembali ke pertanyaanku, Kau belum menjawabnya..”


Ucap Almira yang kembali salah tingkah


“ Feriye.. Lokanta Feriye.”


“ Apa??”


“ Aku luang sabtu ini. Makan malam bagaimana?”


“ Oo.. Oke.. Sempurna.”


“ Aku akan melakukan reservasi, pastikan kau memakai pakaian yang benar kali ini saat aku menjemputmu.”


Ucap Serkan dengan pandangan sinis kearah Almira lalu tersenyum


“ Berhenti menyindirku.. Dan ini, aku juga ingin mengembalikan jas ini padamu.. Terima kasih..”


“ Apa kau pakai saat tidur juga?”


Ucap Serkan yang mengambil kantung tas dari tangan Almira


“ Apa?! Lihat sekarang, siapa yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi??”


“ Baiklah aku kalah. Almira, kau tidak mengantarkan kopi padaku? Apa kau keberatan jika membawakannya padaku sekarang?”


Tanpa berkata lagi, aku segera bangun dari tempat dudukku dan berjalan kembali ke restaurant.. Aku cukup mengerti maksud dari perkataannya saat ini dan pasti dia akan membuka buku note itu seorang diri pada saat ini.. Kenapa dia harus melakukan hal yang menyakiti dirinya sendiri seperti itu? Kapan dia akan merasa lebih baik jika dia terus melakukan hal seperti itu.. Bahkan sesi terapi atau mungkin obat pun hanya mampu untuk menghambat atau meringankan bebannya untuk sesaat tapi bukan untuk mengobatinya.. Aku berjalan kembali kedalam dan memberitahu Pak Mete bahwa serkan menginginkan kopi yang biasa dibuatkannya.. Seketika tanpa berkata Pak Mete langsung membuatkan kopi tersebut.. Sambil menunggu, aku mencoba berjalan kesamping restaurant karena entah mengapa kepalaku semakin terasa pusing dan badanku seolah terasa lemas.. Namun begitu aku bersandar pada salah satu dinding, kudengar ada 2 orang pegawai wanita sedang beristirahat dan berbincang..


“ Aku dengar pria itu yang menyebabkan kecelakaan itu"


Ucap salah satu pegawai wanita menggunakan bahasa turki


“ Benar.. Soalnya, kondisinya terlihat lebih buruk dari sebelumnya.


“ Aku merasa kasihan pada Pak Mete dan Bu Ozcan yang harus berurusan dengan masalah yang dibuat pria ini."


“ Meskipun dia tampan dan kaya, dia sebenarnya menakutkan bukan?"


Pria yang mereka bicarakan, Serkan? Apa yang mereka katakan itu, penyebab kecelakaan? Dengan sifat pembawaannya sepertinya tidak mungkin dia tipe orang yang seperti itu meskipun terkadang dia memang menjengkelkan tapi tetap sepertinya aku tidak setuju dengan pendapat mereka saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Haruskan kutanyakan emre saja, sekarang bukankah aku mempunyai alasan jelas sebagai bantuan dalam mengatasi masalah psikologis serkan? Baiklah aku akan berbicara dengan emre. Namun malangnya begitu aku mencoba berjalan untuk berbicara dengan Emre, aku jatuh terduduk dilantai karena merasa keseimbangan diriku mengambang pergi.. Aku mencoba untuk tersadar dan berdiri kembali untuk masuk ke dalam. Saat berjalan ingin menghampiri Emre, Pak Mete memanggil dan mengatakan Emre dan Serkan mendadak pergi karena ada urusan sangat mendesak di kantor yang harus segera di selesaikan.. Aku pun kembali bekerja..


Tak terasa waktu pun berlarut menuju malam dan restaurant pun tutup sesuai jadwal, entah mengapa aku menjadi seperti terbiasa memiliki pengingat untuk membawakan kopi yang biasa dipesan olehnya. Dan seingatku dia tadi memesan kopi namun belum sempat kuberikan. Saat dalam perjalanan pulang, aku pun menunggu ditempat biasa kami bertemu. Waktu tak terasa berjalan menit ke menit sehingga tak terasa hampir 1 jam aku berdiri disini bertahan dengan dinginnya cuaca malam ini.. Apa sebenarnya yang aku lakukan sekarang? Bukankah sudah jelas tadi Mete Bay memberitahuku dia kembali ke kantor. Kenapa aku seolah terhipnotis melakukan hal yang seharusnya tidak perlu kulakukan? Tersadar aku pun akhirnya membalikkan tubuhku untuk berjalan pulang, karena merasa tak sanggup dengan dinginnya cuaca malam ini. Kepalaku pun semakin terasa pusing saat ini..


Saat aku mulai melangkahkan kakiku, tiba tiba serkan muncul dengan nafas tersenggah seolah dia berlari kemari untuk menemuiku.. Dan seperti biasa penampilannya sudah berubah tidak seperti tadi sore. Serkan berjalan kearahku kemudian terhenti dihadapanku.. Terlihat hembusan kabut halus dingin keluar dari dalam mulutnya saat bernafas.. Hidungnya pun berwarna sedikit merah.. Apa dia benar benar berlari kemari untuk menemuiku?


“ Maaf.. Sepertinya kopi pesananmu sudah dingin..”


“ APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA MASIH DISINI! Apa kau tidak tahu berapa suhu pada malam ini?? Kenapa kau selalu membuatku khawatir? Tidak bisakah kau bersikap dewasa?!”

__ADS_1


Dia langsung memberikan syal yang dibawanya dan melingkarkannya dileherku.. Kopi dingin yang kubawa seketika terjatuh saat dia melepaskan sarung tangan yang dikenakannya untuk dipakaikan ditanganku, rambutku yang sedikit basah karena salju, dia usap dengan lembut menggunakan saputangannya. Tak lama dia menarikku, membawaku kedalam mobilnya.. Namun entah mengapa kepalaku sangat terasa pusing dan penglihatanku terasa berputar tak karuan.. Aku melepaskan genggaman tangan serkan dan terhenti sejenak mencoba agar tetap tersadar.. Serkan menghampiri dan melihat kearahku, dia seperti mengkhawatirkanku.. Almira, jangan sampai kau membuat masalah lagi untuknya.. Aku mencoba berjalan melewatinya namun dia menarik lenganku dengan lembut, hal terakhir yang kuingat adalah aku melihat butiran salju berjatuhan mengenaiku dan terlihat Serkan seperti memanggil namaku dengan wajah khawatirnya.. Atau apa dia mengatakan hal lain? Kenapa mataku terasa berat dan kepalaku terasa sangat pusing sekali..


__ADS_2