
“ KAK MIRA.. HALO KAK?”
Andre yang terlihat panik saat menghubungi Almira
“ Dre..? Ada apa? Kenapa kau berteriak?”
“ PAPA KAK! Saat tutup restaurant barusan, Polisi tiba tiba datang dan MENANGKAP PAPA kak..”
“ Apa katamu?”
Almira yang langsung berdiri dari kursi di ruangannya dan melepas jas kedokterannya
“ Ayah talita datang kemari dengan membawa surat pelaporan kehilangan anak karena talita tidak pulang. Tapi berubah menjadi kasus penculikan anak kak, talita menangis ketakutan tidak ingin pulang dan papa bermaksud melindunginya, tapi menjadi seperti perlawanan kepada polisi..”
“ Dimana kalian sekarang?”
“ Papa dibawa menggunakan mobil polisi. Aku dan mama mengikuti dengan mobil di belakang.. Kami menuju Kantor Polisi yang berada di pertigaan jalan utama kak..”
“ Kakak menuju ke sana sekarang.”
Ada apa lagi ini? Belum selesai kejutan yang kuhadapi hari ini, tapi kenapa ada kejutan lainnya yang menantiku? Papa.. Sekarang karena urusan pekerjaanku, papa jadi ikut terkena masalah.. Jantungnya, bagaimana kondisi jantungnya? Semoga.. Aku harap semoga papa tidak apa apa.. Airmataku semakin deras menitik hingga ujung jaripun sudah tidak bisa menahannya lagi.. Begitu sampai aku langsung diarahkan sebuah ruangan investigasi dan terlihat tangan papa terborgol rantai tangan.. Mama menangis di pelukan andre.. Ayah dan ibu talita yang terlihat sangat marah, serta talita sendiri yang ketakutan.. Terlihat dari gerakan tangan dan kakinya sama seperti saat wawancara saat itu.. Pikiranku kosong seperti tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Aku bisa apa?
Aku menghampiri papa lalu kembali ayah talita berteriak dengan menyebut akulah dalang dari semua ini.. Karena aku anak mereka tidak mau pulang bahkan dipaksa bekerja direstaurant papa.. Papa tidak terima dengan semua tuduhan darinya hingga papa berdiri dan seolah akan memukul ayah talita, melihat reaksi papa yang seperti ini semakin hanya akan memberatkan papa.. Akhirnya papa dibawa kedalam ruangan tertutup secara terpisah karena dianggap berbahaya.. Mama memohon agar papa di bebaskan, bahkan menyuruh papa untuk meminum obat jantungnya dulu tapi pihak polisi tidak bisa mengabulkannya karena seperti yang kita tahu ayah Talita adalah orang penting yang memiliki kedudukan.. Aku terdiam tak bisa berkata apa pun.. Kenapa aku menjadi seperti ini? Aku tertunduk mencoba mencari cara, apa yang bisa kulakukan..
“ Kak.. Maafkan aku..”
Andre menundukkan kepalanya menghampiri Almira yang sedang terduduk
“ Kenapa kau meminta maaf? Ada apa?”
“ Andre menghubungi pengacara yang waktu itu membantu kita.. Rekan kerja Kak Serkan.."
“ Kau.. Apa?”
Almira yang langsung berdiri menatap Andre
“ Maafkan aku kak. Mereka bisa mengijinkan kita jika kita punya Pengacara yang mendampingi.. Papa harus minum obat jantungnya kak..”
Otakku semakin tak karuan saat ini.. Baik hati dan pikiranku serasa habis terkuras tak tersisa.. Aku dan serkan tadi mengakhiri pembicaraan dengan tidak baik.. Lagipula, untuk apa dia kemari.. Kami bukanlah keluarganya bukan begitu? Yaa.. Almira tenanglah.. Serkan pasti tidak akan datang kemari.. Tapi.. Apa dia akan mengijinkan pengacara itu mendampingi kami? Aku sangat yakin saat ini pengacara itu pasti menghubungi Serkan.. Waktu berjalan tak terasa sudah hampir 1 jam kami disini.. Bagaimana ini? Aku mencoba menanyakan orang yang kukenal untuk membantuku tapi kenapa tanganku bergetar tiada henti? Sulit sekali menekan tombol handphone jika tanganmu bergetar seperti ini.. Bagaimana ini?? Papa......
“ Tenangkan dirimu.”
Serkan menggenggam tangan Almira yang terlihat bergetar
“ Ser..kan?? Ap, apa yang kau..”
“ Tunggu disini, biar aku dan Pak Hendra yang berbicara dengan mereka. Ibu, juga Andre.. Tenanglah.”
Serkan menundukkan sedikit kepalanya dan menepuk bahu Andre mencoba untuk menenangkannya kemudian berjalan masuk ke dalam Ruangan
Serkan dan Pengacara itu masuk kedalam dan berbicara dengan semua aparat yang terlibat.. Kulihat ayah talita marah marah bahkan memukul meja.. Tapi serkan dengan bawaannya yang tenang, meski terlihat serius diwajahnya, dia sama sekali tidak terpancing oleh prilaku ayah dan ibu Talita.. Kulihat tubuh Talita semakin bergetar dengan menahan tangisnya.. Bahkan dia sendiri pun ketakutan.. Apa yang akan terjadi pada kami? Tak lama Talita terlihat sedikit kehilangan kesadaran diri, entah mengapa aku berlari masuk ruangan untuk menolongnya tanpa berpikir panjang.
“ BERANI SEKALI KAU KEMARI!! LIHAT?? ANAKKU SEPERTI INI KARENAMU!!”
Ucap sang ayah kepada Almira dengan menunjuk nunjuk dan meninggikan suaranya
“ Anda salah pak.”
Almira yang memeluk Talita yang terlihat lemah
“ Apa? DOKTER MACAM APA KAU?”
“ Aku bukan lagi dokternya. Aku.. Kakak dari Talita”
“ Sudah gila sepertinya kau?! Sama seperti anakku itu.. Dia anak yang menyusahkan!!”
Sang Ayah yang memalingkan pandangannya dengan penuh kesal dengan memukul meja
“ Aku tahu anda suka melakukan kekerasan kepada Talita. Aku bahkan mempunyai foto luka ditubuh Talita bahkan kesaksian dari orang disekitarnya.”
“ BERANI SEKALI KAU!!”
Ayah Talita mengayunkan kembali tongkat kaki yang digunakannya mencoba memukul Almira
Karena kondisi Talita, aku pun hanya merasa pasrah dan menggunakan punggungku untuk menutupi Talita agar tidak terkena pukulan darinya. Namun lagi lagi, pelukan hangat yang melindungiku saat ini.. Pria berkaca mata ini merelakan pundaknya terpukul tongkat hanya demi melindungiku. Melihat itu, aku pun sungguh terkejut.. Serkan melepaskan pelukannya dariku dan langsung berdiri tegap kearah ayah Talita.. Pengacaranya pun terlihat seperti sangat siap untuk bertempur.. Serkan berjalan hingga didepan hadapan ayah Talita dan mengambil dengan paksa tongkat itu, lalu dia berbicara dengan sedikit berbisik kepada ayah dan ibu Talita sehingga tiba tiba expresi mereka berdua berubah.. Keangkuhan dan emosi, berubah menjadi kekhawatiran dan ketakutan sehingga ayah Talita secara tiba tiba mencabut tuntutan itu dan papa pun dibebaskan..
Aku yang memeluk Talita yang tidak sadarkan diri, menangis melihat Papa keluar dan tangannya pun sudah tidak terikat borgol rantai. Mama dan Andre memeluk Papa dan langsung menyuruhnya untuk meminum obat.. Tapi kejadian tak terduga kembali terjadi, tiba tiba saat akan meminum obat, Papa terkena serangan jantung dan dibawa kerumah sakit..
. . . . . . . . . . . . . .
“ Dokter almira..? Ada apa? Siapa yang sakit?”
Ucap sesama rekan Dokter yang berlari menghampiri Almira
“ Ayah saya.. Dokter Ethan, tolong segera siapkan ruangan dan mohon selamatkan ayah saya”
Almira menarik lengannya dan memberikan tatapan penuh keseriusan
“ Apa itu ayahmu? Tolong semua berikan ruang..”
Ucap seorang Dokter jaga lainnya yang menghampiri Almira
“ Dokter Arga, ijinkan aku ikut kedalam ruang tindakan.. Apa memungkinkan?”
“ Baiklah, ganti bajumu dan Sterilisasi.”
“ Terima kasih Dok”
Almira yang langsung berlari menuju ruangan khusus ganti dokter
Aku berganti pakaian dengan seragam yang tersedia lalu melakukan Sterilisasi, dan sebelum masuk ruangan kulihat Mama, Andre, dan Serkan pun menunggu diluar dengan penuh kecemasan.. Mataku tertuju pada Serkan yang secara tidak sengaja melakukan tatap mata denganku dan seolah dia mengerti apa yang ingin kukatakan, dia tersenyum dan menundukkan kepalanya kepadaku.. Aku pun masuk kedalam ruang tindakan untuk membantu sebisa mungkin dokter jaga dan perawat hari ini kekurangan orang karena kondisi ruang UGD dan ICU yang ramai..
“ Kenapa kakak dan papamu belum keluar? Sudah 2 jam mereka diruangan itu..”
Ucap ibu almira yang terus menangis
“ Tenang ma.. Mereka pasti mengupayakan yang terbaik, terlebih mama tau kakak seperti apa bukan?”
“ Ibu.. Tenanglah”
“ Nak serkan.. Terima kasih nak.. Ibu tidak tahu, jika hari ini kau tidak da...”
__ADS_1
Ibu Almira yang begitu terisak tangis dengan Andre yang mencoba memeluk dan menenangkanny
“ Sudahlah bu, Simpan tenaga ibu. Tenanglah, semua akan baik baik saja."
Serkan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan ibu almira dan menatapnya dengan serius
“ Maaf ibu ikut campur.. Tapi ada hubungan apa antara Nak Serkan dan anak ibu sebenarnya?”
“ Saya sebenarnya..”
“ PAPA KELUAR!! Kak Serkan lihatlah.. MAMA!!”
Teriak Andre yang terlihat histeris dengan langsung berlari diikuti ibunya dari belakang
“ Dokter.. Dok bagaimana kondisi suami saya?”
“ Masa krisis sudah lewat. Tenang bu.. Suami ibu sebentar lagi akan dibawa keruangan pasien.. Apa kalian sudah mengurus administrasi nya?”
“ Adminis.. Andre, kenapa ibu bisa lupa?? Kenapa ibu ini!!”
Sang ibu yang langsung panik yang mencoba mengeluarkan dompet dari tas nya
“ Ibu tenanglah, ini.. Lantai 5 kamar VIP 502”
Serkan menghentikan tangan ibu almira, dan menyerahkan secarik kertas padanya
“ VIP... ?? Nak serkan?? Apa kau yang..??”
“ Maaf kelancangan saya. Saya lihat ibu dan andre sudah begitu panik untuk mengurus ini semua, jadi saya membantu sebisa saya”
“ Kak Serkan... Terima kasih kak!! Segera menikahlah dengan kak mira...”
Andre yang tanpa sadar memeluk Serkan
“ ANDREEE!!!”
Sang ibu memukul punggung Andre dan menarik Andre
“ Maaf, bicara soal Dokter Mira.. Sepertinya sedikit shock saat pasien menyemburkan darah saat mencoba menahan tubuhnya dan mengenainya wajahnya.. Kurasa seseorang perlu melihat kondisinya. Dia berada di taman penyembuhan dilantai ke 9. Saya permisi kalau bagitu”
Ucap Dokter Ethan yang tersenyum dan berlalu pergi
“ Te, terima kasih banyak dok..”
“ Lalu kak mira?? Tidak mungkin, jika aku kesana yang ada dia pasti marah marah padaku.. Dan Talita masih belum sadarkan diri.. Mama harus menjaga papa.. Lalu....”
Andre yang langsung memberikan tatapan kepada Serkan
“ Baiklah, aku yang akan me..”
“ Akhirnya.. Aku serahkan kak mira padamu kak..!! Ayoo ma..”
Andre menjabat tangan Serkan dan mencoba menarik tangan ibunya
“ Nak serkan.. Terima kasih banyak.."
Ibu almira menggenggam tangan Serkan sembari sedikit menundukkan kepalanya
Serkan membalas genggaman tangannya dan tersenyum saat melihatnya dan Andre berlalu pergi
.........................
Ternyata bagian Dokter Bedah sungguh tidak cocok untukku.. Beruntungnya impianku bukan menjadi seorang Ahli Bedah.. Kini aku mengerti kenapa biaya operasi itu begitu mahal harganya.. Jika kau salah gerak sedikit saja, bisa melukai organ yang lain bahkan berakibat fatal.. Kakiku terasa mati rasa karena berdiri lama dengan posisi yang mangharuskan konsisten disatu tempat.. Tangan dan pundakku apa lagi.. Leher dan.... Darah papa.. Terasa sangat hangat saat mengenai wajahku.. Aku pikir akan kehilangan papa saat itu, tapi dokter arga dengan sigap bertindak cepat.. Papa.. Kumohon jangan sampai kejadian hari ini terulang kembali.. Hari ini entah mengapa tenaga ku terkuras habis.. Hati dan pikiran seolah tiada henti kupaksakan untuk mengikuti hasratku yang tidak jelas.. Kenapa aku jadi lemah seperti ini?
“ Mau sampai kapan kau seperti itu? Menyalahkan dirimu sendiri lagi?”
“ Serkan?”
“ Minumlah.. Aku yakin kau haus”
Serkan memberikan sebotol minuman dingin yang manis dan duduk disamping Almira
“ Serkan... Terima ka..”
“ Aku sudah bosan mendengar ucapan itu hari ini. Terlebih tidak darimu”
Ucap Serkan yang memalingkan pandangannya dengan meminum secangkir kopi
“ Maaf, saat itu aku.. Menamparmu..”
Almira yang tertunduk dengan memegang botol minuman di tangannya
“ Salahku. Akulah yang lepas kontrol saat itu.”
“ Kali ini kau akan pergi.. Maksudku, kapan kau akan pulang kem..”
“ Maaf aku tidak mengabarimu saat itu. Ayahku, kondisi tubuhnya menurun dan berada diruang ICU selama hampir sebulan. Para Direksi lainnya meminta pengganti hingga beberapa investor mengundurkan diri. Omset perusahaan tiba tiba kembali menurun bahkan tanpa ijinku, salah satu Direktur memecat sebagian karyawan hingga melakukan demonstrasi yang radikal.. 3 orang karyawanku dirawat dan 1 meninggal.. 2 induk cabang pun hampir tutup.”
“ Apa? Maafkan, disaat seperti itu aku mencoba menghubungimu beberapa kali.. Aku tidak tahu ka..”
“ Akulah yang harus meminta maaf karena selalu terlupa untuk menghubungimu kembali begitu sampai dirumah”
Serkan yang memotong Almira berbicara dengan menatapnya
“ Ti, tidak apa apa. Kau pasti kelelahan.. Lalu ayahmu, bagaimana sekarang? Perusahaan?”
“ Dalam waktu 5 bulan kemarin kondisinya membaik.. Dan apa kau meragukan kemampuanku?”
“ Ti..Tidak.. Tentu saja tidak.. Kau mampu membuat siapa pun terkagum melihatmu..”
“ Tapi tidak untukmu”
“ Apa?”
“ Kapan dia melamarmu? Keluargamu dan keluarganya apa mereka sudah..”
“ Belum. Kak reza melamarku seminggu yang lalu. Lalu cincin ini pemberian ibuku yang diberikan oleh nenek.. Jadi bisa dibilang warisan turun temurun..”
Almira yang menunjukkan cincin ditangannya kepada Serkan
“ Maaf aku sudah salah paham. Lalu, kenapa kau tidak memberitahu ayah dan ibumu dia melamarmu?”
__ADS_1
“ Aku.. masih...”
Almira menundukkan kepalanya kembali dan dengan gugup memutar mutar botol minuman di tangannya
“ Almira. Apa masih ada kesempatan untukku?”
“ Aa...Apa?”
Almira yang terkejut hingga tak sadar menjatuhkan botol minumannya dan menatap Serkan
“ DOKTER MIRA!! TANGKAP ANAK JAHIL ITU..”
Ucap seorang perawat yang terlihat kewalahan berlari menghampiri Almira
“ Suster ida? Ada apa?”
“ Abrisam!! Anak itu bilang ingin buang air kecil, saat aku membantunya tiba tiba dia belari karena melihatmu melewati kamar.. Ibunya sedang kelantai bawah menebus biaya obat.. Lihat? Dia tidak memakai celananya!! ABRISAMM!! Sini...”
“ Siapa abrisam?”
Tanya Serkan kepada Almira sembari melihat suster ida yang kembali berlari
“ Dia berumur 5 tahun dan terkena kanker di kepalanya.. Aku sering melakukan sesi psikolog dan bermain bersamanya..
“ Apa?”
“ Mau membantu menangkapnya? Jujur aku kelelahan, dan suster ida sudah tua.. Jadi..”
Seperti dugaanku, serkan tidak merasa canggung dan menyukai anak kecil.. Dia juga langsung berjalan dengan setengah berlari mencari anak itu.. Mengelilingi taman bunga beberapa kali, melewati ayunan pohon, akhirnya abrisam pun tertangkap oleh serkan saat mencoba menghindari suster ida.. Dia juga tidak merasa risih dengan memakaikan celana abrisam.. Tak lama ibu abrisam pun datang dan meminta maaf pada serkan dan suster ida.. Dengan nafas tersenggah sehabis mengejar abrisam, pria berkacamata itu melihat dan tersenyum padaku.. Dimalam hari ini, dengan semua kejadian yang terjadi, bahkan langit malam pun terlihat mendung tanpa ada sinar bintang menerangi, ada 1 hal yang masih dapat membuatku tersenyum.. Dan itu adalah dirimu..
...................
Pagi hari menyambut.. Papa masih berada dirumah sakit ditemani mama, meski andre yang dibantu talita memantau restaurant dan toko kue.. Aku masih merasa tidak tenang, akhirnya sebelum menuju rumah sakit, aku berniat untuk melihat kesana.. Malangnya saat akan pergi, ban mobilku kempes bahkan ban cadangan pun masih belum di pompa oleh andre yang kala itu meminjam mobilku.. Ingin kuberkata kasar pada anak itu jika ada dihadapanku saat ini!! Karena terburu waktu, akhirnya aku memesan kendaraan online yang berujung harus memutar mutar jalan karena ada penutupan di beberapa ruas jalan saat ini..
Tak lama handphone ku berbunyi dan Kak Gihan meminta bantuanku untuk menggantikannya visit pasien karena anaknya tiba tiba sakit.. Aku pun akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit.. Saat sampai aku menyempatkan untuk melihat keadaan papa dan tidak lama langsung melakukan visit pasien.. Begitu mencoba untuk beristirahat sejenak diruanganku, tiba tiba pasa perawat seolah terlihat histeris dan salah tingkah saat melihat ke dalam ruanganku, dan ternyata benar dugaanku..
" Sedang apa para suster tercinta berdiri tepat di depan ruanganku?"
Ucap Almira dengan penuh nada menyindir dan senyuman jahil
Kulihat para suster langsung berlalu pergi meninggalkanku, bahkan Dokter Eli dan Dokter Desi langsung berjalan menuju pintu keluar.. Dengan perlahan aku membalikkan tubuhku kearahnya, dan yaa.. Dia menatapku dengan tatapan dan mata bagai senapan seorang sniper.. Merasa malu tanpa berkata aku menundukkan kepalaku padanya dan berjalan menuju ruanganku dan dia pun mengikutiku dari belakang.. Begitu sampai dan menutup pintu ruangan, Serkan langsung duduk di sofa dengan posisi siap mendengarkan penjelasanku.. Saat aku mencoba mendekatinya, tak sadar kaki kananku terjepit ganjalan sofa bawah membuatku tersungkur kedepan, tersadar akan kepalaku yang tertidur diatas paha serkan.. Aku mencoba berdiri namun rambutku terlilit disalah satu kancing jas milik Serkan..
“ Apa kau sengaja melakukan ini?”
“ Kau tidak lihat aku tadi tersandung? Dan bukan keinginanku jika rambutku terlilit kancing jasmu.. Lagipula apa harus memakai setelan suit jas setiap hari? Kau tidak panas?”
Almira yang berbicara sembari mencoba melepaskan rambutnya
“ Sudah menjadi kebiasaan bagiku berpakaian seperti ini. Menurutmu tidak bagus?”
“ Tidak, aku tidak mengatakan itu. Hanya saja banyak mata memandangmu...”
“ Kau tidak suka?”
“ Maksudku.. Di istanbul terlihat wajar jika kau berpakaian seperti ini. Tapi di indonesia yang hanya ada musim panas dan musim hujan..... Yaa begitulah! Artikan sendiri maksudku!"
Almira yang merasa kesal karena rambutnya tidak mau terlepas
“ Semakin kau tarik tak berarah, semakin terlilit rambutmu”
“ Apa?”
“ Lihat? Lakukan dengan perlahan dan..”
Serkan memegang tangan almira dan mencoba membantu melepaskan rambutnya
“ ALMIRA!!”
Ucap Reza yang langsung membuka pintu ruangan almira
“ Kak reza..??”
“ Apa yang kalian lakukan? Apa yang kau lakukan?”
Reza yang terlihat marah dan menjurus kepada Serkan
“ Kak.. Kami..”
Almira mencoba menjelaskan namun masih terhalang rambut yang masih terlilit pada jas Serkan
“Kau tidak perlu membentaknya. Kami tak melakukan apa pun.”
Ucap Serkan dengan datar mencoba membantu almira kembali
“ Aku memberimu waktu, tapi seperti ini kelakuanmu saat aku pergi? Almira, apa kau seperti ini sekarang?”
“ Kurasa kau tak harus berbicara seperti itu padanya.”
Serkan menghentikan tangannya untuk membantu Almira dan menatap Reza dengan serius
“ DIAM! DIA ADALAH CALON TUNANGANKU! Dan kau almira! Ikut aku pulang sekarang juga”
Reza yang langsung menarik tangan Almira
“ Oow kak sakit...”
Almira yang kembali terduduk karena merasa sakit
“ Kau menyakitinya.”
“ Almira, kenapa kau jadi seperti ini? Apa kau menyukainya? Kenapa kau jadi berubah seperti ini? Dulu kau sangat menurut padaku, kenapa kau jadi..”
“ Aku menyukai Almira.”
“ Apa kau bilang?”
Reza yang tersulut emosi dengan menarik kerah kemeja Serkan
“ Aku menyukainya. Aku juga menyayangi. Mencintai Almira. Apa lagi yang ingin kau dengar?”
“ Almira? Kenapa kau diam? Katakan sesuatu!”
__ADS_1
Sudah cukup bagiku untuk semua ini. Kalian sama sama meninggalkanku tanpa penjelasan sedikit pun padaku.. Lalu datang seolah tak ada yang terjadi.. Apa aku seperti mainan bagi kalian berdua?