Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 33


__ADS_3

Terdiam tak bersuara, debaran jantung seolah terhenti disaat melihat apa yang ada dihadapanku.. Tertunduk kepala ini dengan membayangkan apa yang semestinya terjadi, ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang akan aku hadapi. Tatapan mata pun mengarah kepadaku dengan pikiran pendapat mereka masing masing tanpa perlu dikatakan. Kali ini, apa yang harus kukatakan?


“ Baiklah kita mulai. Siapa yang merasa keberatan dengan kehadiran Dokter Almira disini dan Siapa yang setuju jika Dokter Almira masih melanjutkan masa dinasnya di sini. Kita mulai dengan siapa yang keberatan atas kehadiran Dokter Almira, silahkan tegakkan tangan kalian..”


Ucap Turan yang berbahasa turki dengan berdiri dari tempat duduknya dan menatap para Dokter dan juga Perawat


“. . . . . . . . .”


Terdiamnya semua orang yang berada diruangan


“ Ada apa? Kenapa semua terdiam dan tidak ada yang menegakkan tangannya?”


Ucap Turan kembali dengan tersenyum


“ Dokter Almira.. Meskipun dia tidak langsung membantuku, namun dia bekerja dengan sangat baik dengan membantuku untuk menenangkan keluarga pasien sesaat dan sesudah operasi..”


“ Ya.. Begitu pun saat berada di Ruangan Gawat Darurat seperti yang kalian semua dengar.. Jika Dokter Almira tidak memberitahu kondisi pasien tersebut, mungkin aku sudah salah memberikan penanganan padanya. Kukira pasien seperti itu akibat dampak dari kepalanya yang terluka, namun bagi Dokter Almira dapat dengan mudah memberitahuku walau dia melihat dari kejauhan..”


Ucap Beberapa Dokter menjelaskan


“ Baiklah, jika begitu aku lanjutkan dengan pertanyaan siapa yang tidak keberatan atas Dokter Almira dalam melanjutkan masa dinasnya hingga selesai, silahkan tegakkan tangan kalian.”


Ucap Turan kembali dengan dirinya sendiri yang mengangkat tangannya


“ AKU AKU AKU TENTU SAJA. AKU JUGA # BETUL, KAMI SEMUA..”


Ucap Semua Dokter dan juga Perawat yang mengangkat tangan mereka tanda persetujuan


“ Sungguh diluar perkiraan.. Dokter Almira, kukira aku harus terpaksa memulangkanmu.. Tapi ter.. Dokter Almira? Anda tidak apa apa?”


Ucap Turan khawatir melihat Almira yang menundukkan kepalanya dengan tubuh bergetar


“ Dokter Almira? Apa kau sedang menangis?”


Ucap Filiz kepada almira


“ Ti.. Tidak.. Ada debu yang hinggap dan membuat mataku perih.. En.. Entah mengapa.. Membuatku.. Jadi... Menangis... Maaf... Maafkan aku...”


Almira yang gugup saat berbicara karena sudah tidak mampu menyembunyikan tangisannya


“ Sepertinya kita berhutang untuk mengajak Dokter Almira makan malam karena sudah membuatnya menangis..”


Turan yang tersenyum dengan penuh kejahilan diwajahnya


“ Apa?.. Tidak, tidak.. Aku baik baik saja.. Tidak perlu, terima kasih banyak..”


Almira yang menundukkan kepalanya sembari menahan tangisnya


“ Baiklah, sudah diputuskan kita akan makan malam di Restaurant Saray Asiten malam nanti. Aku akan mentraktir kalian semua.. Dokter Almira, selamat bekerja kembali..”


Ucap Turan kembali dengan tersenyum


Tawa dan ucapan permohonan maaf dan pelukan pun mereka berikan padaku seolah merasa tidak ada yang salah dengan diriku dan melupakan tindakan penolakan mereka padaku beberapa waktu lalu. Aku yang yang masih berdiri dengan menahan rasa tangis ini pun akhirnya terhenti disaat mereka semua melakukan percakapan penuh canda yang membuat satu sama lain tersenyum bahkan tertawa lepas.. Syukurlah.. Syukurlah aku masih diberi kesempatan untuk bekerja dalam bidang ini meski pun dengan kondisiku ini..


Tak lama kami semua pun keluar dari ruangan pertemuan dan kembali kepada aktivitas kami masing masing.. Begitu selesai dengan kelima pasienku, aku membantu salah satu Dokter yang tidak bisa melakukan Visit Pasien dikarenakan anaknya yang tiba tiba jatuh sakit. Dengan kesibukan ini, aku kembali melupakan jam makan siangku dan hanya fokus untuk bekerja.. Saat ini seolah menjadi kebiasaan bagiku, semenjak Turan memintaku untuk bertugas pada Unit Bedah dan Unit Gawat Darurat, aku pun datang dan melihat kondisi setelah aku melakukan Visit Pasien hari ini..


Tak terasa waktu pun berlalu hingga senja pun mulai terlihat menutupi cahay yang berganti kegelapan malam dengan taburan cahaya bintang yang juga terhalang awan kelabu diawal musim dingin ini.. Mengambil tas dan menggantung jubah putih kedokteranku, tiba tiba entah mengapa tubuhku terasa sedikit demam dengan terasa nyeri diseluruh tubuhku disertai sedikit pusing seolah tiba tiba dunia berputar tepat dihadapan mataku dalam beberapa saat.


#TOOKK TOOKK TOOOK


“ Dokter Almira? Apa kau sudah siap? Kita pergi sekarang?”


Ucap Salah satu rekan Dokter yang mengetuk pintu ruangan dan berbicara kepada Almira


“ Tentu.. Kita pergi sekarang..”


Almira yang tersenyum masih merasa pusing dengan memaksakan diri untuk berjalan


Tidak! Penyakitku tidak boleh kambuh saat ini juga! Almira.. Kau baik baik saja! Ingatlah, pikiran mempengaruhi isi hatimu. Jadi kuatkan pikiranmu maka kau akan baik baik saja.. Berjalan bersama dengan para Dokter dan Perawat, saat diparkiran mobil entah karena alasan apa Turan tiba tiba menghentikan mobilnya tepat dihadapanku lalu turun dan menyuruhku untuk masuk kedalam mobil.. Sontak seketika menimbulkan kehebohan yang tidak diperlukan hingga aku merasa malu dan menundukkan kepalaku.. Niatku untuk menolak sepertinya tidak akan berhasil ketika mereka mendorong tubuhku untuk masuk kedalam Turan dan dengan berat hati aku pun berkendara berdua bersamanya..


“ Jadi, apa kau sudah memikirkan perkataanku kemarin?”


Ucap Turan berbahasa turki kepada almira

__ADS_1


“ Pak Turan.. Berhentilah bercanda denganku..”


“ Aku sedang tidak bercanda. Aku serius padamu.”


“ Jika begitu, mohon maaf aku harus menolakmu..”


Almira menundukkan kepalanya karena merasa pusing


“ Secepat itu? Kau menolakku?”


“ Aku sedang dalam kondisi tidak ingin.. Bukan, aku tidak pantas mendapatkan pasangan. Jadi, jangan mengungkit hal ini kembali padaku Pak..”


“ Kenapa kau berkata seperti ini? Bukankah sudah kubilang aku bisa menerima kondisimu?”


“ Bagaimana dengan keluargamu? Dan masa depanmu yang mungkin tidak akan memiliki keturunan.. Pikirkan beribu ribu kali lipat sebelum anda berkata seperti ini padaku..”


Almira yang tersenyum kepada Turan sembari menahan rasa sakitnya


“ Baiklah, namun kau sudah berjanji akan menjadi pasanganku besok hari untuk menghadiri suatu acara.”


“ Kapan aku menyetujui hal itu?”


“ Saat kau terdiam mendengarku berbicara. Besok akan aku jemput pukul 5 sore karena acara tersebut berada di pertengahan kota istanbul.”


Terdiam dan tak membalas perkataannya, Turan pun ikut terdiam hingga kami pun sampai pada tempat tujuan. Semua sangat ramai dan begitu menyenangkan dengan makanan dan minuman yang sangat lezat. Namun Saat ini aku sangat ingin acara ini cepat berakhir dan aku dapat mengistirahatkan tubuh ini.. Entah bagaimana reaksi Turan saat ini karena aku sama sekali tidak memperhatikannya karena Rasa nyeri pada area dadaku dan terasa pusing sekali kepala ini..


Perasaan ku saja atau memang saat ini mereka berputar putar? Aaakkhh kepala ini! Sadarlah almira, kau sedang berada ditengah acara.. Dengan terdiam dan meminum obatku kembali, akhirnya dapat sedikit mengurangi rasa sakit pada dadaku dan sakit kepalaku pun sedikit berkurang hingga aku dapat bertahan hingga akhir acara.. Dan kembali saat menuju perjalanan pulang, Turan menawarkan dirinya kembali untuk mengantarku dan saat ini aku memang membutuhkan bantuannya untuk segera sampai ke penginapan secepatnya..


. . . . . . . . . . . .


#BEEP BEEP BEEP BEEP


#KRRIINGG #KRRING #KRIINGG


“ Ya? Hallo?”


Ucap Almira yang mematikan alarm di Handphonenya dan menjawab panggilan


“ Almira, hari ini.. Hari ini ulang tahun ke 20 tahun Perusahaan berdiri.. Jika kami mengundangmu, apa kau bisa datang?”


“ Maafkan aku Lilian, tapi hari ini aku sudah ada janji dengan Direktur Rumah sakit untuk menemaninya..”


“ Apa? Dengan yang bernama Turan itu?? Sejak kapan kau menjadi dekat dengannya?”


“ Panjang ceritanya Li.. Nanti akan aku ceritakan jika bertemu denganmu..”


“ Baiklah jika begitu.. Kita bertemu lain waktu.”


“ Oke, akan aku kabari kembali padamu..”


Ulang tahun perusahaan? Bukankah dengan begitu sudah jelas pasti Serkan sebagai CEO akan tepat berada disana? Sungguh tidak mungkin bagiku untuk datang dan hadir disana.. Apa yang dipikirkan oleh mereka semua? Apa mereka akan menyembunyikanku layaknya saputangan yang bisa dilipat sesuka hati dan dimasukkan kedalam kantung baju? Namun aku juga tahu dengan jelas maksud dari mereka mengundangku saat ini. Jadi yang mereka lakukan pun serba salah baik itu mengundang atau pun tidak mengundangku.


Terbangun dari tempat tidurku, tiba tiba kembali dadaku terasa begitu nyeri bahkan terkadang membuatku sulit untuk bernafas.. Kuku tanganku terlihat mulai menguning yang membuatku langsung berlari melihat kaca untuk melihat Bola mataku apakah juga berwarna kuning.. Syukurlah ketakutanku tidak terjadi, namun melihat reaksi dan tanda tanda ini, tak urung membuat kaki ini untuk segera berlari dan langsung menuju Rumah sakit untuk memeriksakan kondisiku pada salah satu Dokter disana..


“ Dokter Almira, sudah lebih baik?”


Ucap Dokter Filiz berbahasa turki yang memeriksa Almira dengan wajah khawatir


“ Ya, meskipun masih terasa sakit namun tidak seperti tadi.. Terima kasih Dokter Filiz..”


“ Dokter Almira, jika keadaanmu semakin memburuk.. Mohon maaf, aku menyarankan kau melakukan Transplantasi Hati..”


“ Apa? Apaa.. Kondisiku.. Seburuk itu?”


“ Dokter Almira, seperti kau tahu obat antivirus tidak dapat menghilangkan infeksi Hepatitis B. Tetapi hanya mencegah perkembangan virus.. Bila hepatitis B sudah mengakibatkan kerusakan hati hingga fungsi organ hati terganggu secara permanen, Transplantasi Hati harus kau lakukan.”


“ Tidak mungkin.. Aku selalu rutin meminum obatku dan juga perawatan selama 2 tahun terakhir ini kondisiku baik baik saja.. Tidak mungkin..”


Almira yang mulai merasa panik ketika mendengar Vonis atas dirinya


“ Dokter Almira, penyakitmu bisa tiba tiba kambuh tanpa kau sadari.. Karena itu jagalah kondisi kesehatanmu..”


Berjalan keluar ruangan dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, sudah tidak kuhiraukan lagi bagaimana retaknya hati ini. Mencoba bertahan dengan tenaga yang tersisa dengan meruntuhkan Ego, sungguh membuatku bertanya pada diri sendiri mengapa aku bertahan menerima keadaan yang tidak baik baik saja sehingga segalanya hancur berkeping tak tersisa. Tertunduk dengan memegang erat jubah putih ditanganku, terlintas dalam ingatan ini bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan jubah putih yang terkesan suci ini.. Kembali terduduk merasa tidak ada yang tersisa, namun hati dan pikiran tak mau menyerah pada keadaan.

__ADS_1


Ketegaran hati dengan dinding batu pun kubangun hanya untuk agar aku dapat bertahan hidup dan dapat merasakan kebahagiaan yang entah sampai kapan aku bisa merasakannya.. Dengan kehadiran Rekan Kerja dan beberapa Perawat, akhirnya aku dapat menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan sangat baik merski hati ini masih terasa berat untuk tersenyum.


Tersadar akan janji dengan Turan, aku segera berganti pakaian dengan Gaun yang terakhir Serkan berikan padaku pada hari pertunangannya dan saat aku mengalami kecelakaan mobil. Berhias dengan dibantu beberapa Perawat yang mahir merias, ternyata dapat mengubahku dari itik buruk rupa menjadi angsa emas yang cantik.. Turan yang melihatku pun begitu terkesima dan memuji penampilanku malam ini, lalu kami pun pergi menuju acara yang Turan maksud..


“ Pak Turan, sepertinya acara ini begitu mewah dan terkesan formal..”


Ucap Almira yang melihat para tamu undangan di sisi kanan dan kirinya


“ Tentu saja.. Apa kau bersedia menggandeng tanganmu pada lenganku?”


Ucap Turan yang tersenyum dan mengulurkan tangannya


Berjalan masuk dan melihat semua para tamu undangan yang berpakaian begitu mewah setidaknya membuatku merasa tidak berlebihan dengan memakai Gaun ini. Turan berjalan begitu gagah dengan aku yang sedang dalam kondisi tubuh yang menurun namun aku mencoba untuk memaksakan diriku karena Turan selalu bersikap baik kepadaku sejak awal pertemuan kami.. Jadi, aku akan menganggap ini sebagai balas budiku saja padanya..


“ A L M I R A . . . .??”


“ Li.. LILIAN..? EMRE?... Tunggu, ada dimana aku saat ini? Turan, acara apa ini?”


Almira yang terkejut melepaskan tangannya dari lengan Turan


“ Maaf aku tidak menjelaskan padamu sebelumnya. Acara ini adalah untuk me..”


“ Jangan katakan ini adalah acara.... Serkan?!”


Almira melayangkan pikirannya dan tiba tiba teringat dengan wajah penuh kepanikan menatap Turan dengan sedikit kesal


“ Almira.. Aku..”


“ LEPASKAN!”


Almira yang menarik tangannya dengan sangat marah kepada Turan yang mencoba menjelaskan


“ Ada apa Almira? Kenapa kau marah? Apa aku melakukan suatu kesalahan? Bukankah sudah kubilang kita akan menghadiri sebuah Aca... Almira? Kau mau kemana? ALMIRA TUNGGU!!”


Turan yang mencoba mengejar Almira yang mencoba untuk berlari menuju pintu Lift


#BRAAAKKK #PRAAANGGG


“ No..Nona? Apa Kau tidak apa apa?”


Ucap seorang pegawai hotel yang membawa nampan berisi gelas yang tertabrak oleh Almira hingga terjatuh dan terpecah


Tidak.. Tidak.. Kenapa dada ini terasa sesak kembali bahkan kali ini kepalaku terasa pusing sekali melihat mereka yang berputar putar dihadapanku.. Sakit sekali sehingga sulit untuk bernafas.. Obat! Aku harus segera meminum obat..


“ Almira? Kau kenapa? Apa kau mencari sesuatu? Ikut aku!”


Turan menarik tangan almira saat terlihat panik mencari sesuatu didalam tasnya untuk masuk ke sebuah ruangan diikuti Lilian dan Emre dibelakangnya


“ Almira, apa yang kau cari?”


Ucap Lilian yang langsung berlari menghampiri Almira yang tiba tiba tersujud diatas lantai


“ Ob.. Obat.. Obatku... Aku... Harus me.. Meminumnya.. Obatku..”


“ Tahan Almira, ini minumlah.. Almira, minumlah obatmu..”


Lilian yang langsung mendapatkan obatnya dengan Emre yang membawakan segelas air minum kepada Almira


“ Sedang apa kalian berkumpul disini? Al, mira? Apa yang....”


Ucap Serkan yang terkejut melihat kondisi almira yang terduduk dilantai


“. . . . . . . . . “


Semua orang yang terdiam dengan Almira yang mencoba mengatur nafasnya dan menahan rasa sakitnya


“ Tinggalkan aku berdua dengannya. SEKARANG!”


Serkan yang merasa kesal saat Lilian dan Turan mencoba untuk menjelaskan


“ Ayo, kita keluar dahulu.”


Emre menarik tangan Lilian dan membawa Turan keluar ruangan

__ADS_1


Udara dingin yang dikeluarkan dari pendingin ruangan begitu terasa menusuk kulitku.. Namun pandangan Serkan kali ini jauh lebih menusuk kedalam hatiku, dimana aku tidak dapat melarikan diri lagi dengan peluh dan rasa sakit yang terasa ini begitu sangat menyiksaku.. Langkah kakinya yang semakin mendekat kearahku membuat nafasku semakin tidak teratur hingga aku berkeringat lebih walau tubuhku terasa dingin. Serkan, tidak bisakah kau meninggalkanku seorang diri saat ini? Kumohon jangan melihatku seperti ini...


__ADS_2