Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 39


__ADS_3

Air mata atau tangisan terkadang memiliki berbagai macam alasan atau pengungkapan.. Tak kala tangisan itu pun bisa menutupi topeng kebohongan yang sedang kau lakukan atau sebaliknya mengisyaratkan akan adanya ketulusan kasih sayang dan cita kasih.. Seperti hal itu juga yang saat ini kulihat dari wajahnya yang sengaja memalingkan pandangannya dariku, mencoba menutupi amarah kekesalan bercambur kekhawatiran dengan ketidakberdayaan untuk membantu atau melakukan sesuatu hanya sekedar untuk meringankan beban sakit oleh orang yang berada dihadapannya saat ini, yang tidak lain adalah diriku sendiri..


Pandanganku teralihkan kembali kepada keluargaku yang saat ini sedang berada tepat diruangan ini bersamaku.. Kapan mereka sampai kemari? Aku sangat yakin Serkanlah yang mengurus semua keperluan mereka dari pergi dan saat kepulangan mereka nanti.. Memikirkan itu, aku semakin merasa tidak nyaman dengan perlakuannya yang menempatkanku di ruangan khusus VVIP dimana aku tahu biaya yang dikeluarkan untuk berada semalam disini tidak kalah sama besarnya dengan menginap di Hotel Berbintang, bahkan Filiz pun sampai diijinkan untuk melakukan tindakan operasi padaku di Rumah sakit yang bukan merupakan tempat dinasnya untuk bekerja..


“ Un.. Untuk apa.. Kau lakukan semua ini untukku Serkan?”


Tanya Almira dengan nafas yang masih tersenggah


“ Tidak perlu berbicara, pulihkan dulu kondisimu baru kita bicara kembali. Haruskah aku meninggalkanmu agar kau tidak melihatku?”


Ucap Serkan dengan penuh ketakutan


“ Nak, untuk apa kau bertanya seperti itu?”


Tanya Ibu Almira kepada Serkan


“ Maafkan bu, saya tidak bermaksud apa pun. Hanya saja dengan adanya kehadiranku disini, aku yakin saat ini kau pasti sangat ingin mengomel memarahiku, bukan begitu Almira?”


Ucap Serkan kembali menatap Almira lembut dengan sedikit menundukkan kepalanya


 “Jika kau ingin marah atau memukulku, segeralah pulih dan bangun dari tempat tidur ini. Maaf, semuanya ada pekerjaan mendesak yang harus ditangani. Aku kemari hanya ingin melihat dan memastikan kondisimu. Aku pergi dulu.”


Ucap Serkan kembali dengan merapikan kembali Dasi dan Jasnya, lalu mencium kening Almira dan berlalu pergi


“ Se.. Serkan! Ma.. Maafkan anak itu.. Ibu.. bapak.. Anak itu biasanya dia sangat... Kenapa hari ini dia.. Saya.. Me..”


Ucap Bu Farrah yang merasa malu dihadapan Orang tua dan keluarga Almira dengan tingkah laku Serkan yang terkesan tak sopan dengan sedikit menundukkan kepalanya


“ Tidak apa apa bu, saya sangat mengerti.. Dari awal kami sudah mengerti apa maksud Nak Serkan kepada anak kami Almira.. Hanya saja, anak kami memang sedikit keras hati.. Aahahaha..”


“ Ahahahaaa.. Baiklah bu jika begitu, Syukurlah jika anda dan suami bersedia menerima Serkan.. Karena sejak awal pun, baik saya dan suami sudah jatuh hati kepada anak ibu dan bapak..”


Ucap Bu Farrah kembali sembari menutupi mulut dengan tangannya merasa malu tertawa bersama sama ibu dan ayah Almira


“ Mir.. Jika kau tidak segera pulih, sepertinya kau akan menikah dengan Serkan di Rumah sakit ini dalam waktu dekat..”


Ucap Lilian dengan sedikit memalingkan pandangan penuh kejahilan kepada Almira


 “ Jangan lupa kau harus membayar karena membuat kami khawatir seperti ini! Apa kau tahu bagaimana paniknya kami saat mendengar kau me..”


“ Aku tahu.. Kirey, aku tahu.. Akan, aku bayar nanti..”


Ucap Almira tersenyum kembali dengan nafas tersenggahnya


“ Baiklah, sudah cukup.. Kita biarkan Almira untuk beristirahat kembali..”


Ucap Emre sembari menarik Lilian untuk meninggalkan ruangan


 “ Almira, ibu pulang dulu.. Nanti kami akan menjengukmu kembali..”


“ Terima.. Kasih.. Banyak.. Bu, Farrah.. Terima kasih..”


Ucap Almira dengan tersenyum saat Bu Farrah menggenggam tangannya dan berlalu pergi


#BEEPPP #BEEEPPP #SYUHUTTT #BBEEEPP #BEEPPP #SYUHUTTT


Suara pembaca detak jantung dan bunyi tabung oksigen ditubuh Almira


Seketika suasana menjadi senyap dan hanya bunyi alat alat yang menempel ditubuhkulah yang terdengar lantang.. Nafasku masih terasa berat dengan rasa sakit yang mulai semakin menyebar diseluruh tubuhku, namun belaian lembut dan hangat dari orang yang kucintai dengan berdiri tepat disamping kanan dan kiriku.. Seperti memberikan semangat baru bagiku untuk menahan semua rasa sakit ini, terlebih ingin sekali setidaknya aku memukul tangan Andre yang sejak tadi menjahiliku tiada henti.. Ditengah canda tawa kehangatan yang mereka berikan, entah sejak kapan mata ini mulai terasa berat kembali dan sepertinya aku akan tertidur cukup lama hingga saat terbangun nanti aku akan memiliki cukup tenaga untuk segera pulih kembali..


. . . . . . . . . . . .


Tak terasa waktu kembali berjalan hingga terhitung olehku hari ini merupakan hari ke lima aku berada disini.. Seperti perkataannya padaku, demi menjaga emosi dalam kesembuhanku.. Dia memutuskan untuk tidak menemuiku terlebih dahulu sampai aku terlihat pulih walau pun masih membutuhkan pengobatan dan perawatan medis lainnya.. Saat ini aku sudah mulai terbiasa untuk duduk tegap meski dibantu dengan bantal dan Ranjang rawat inap, namun alat pembaca detak jantung sudah tidak lagi menempel padaku dan selang tabung oksigen pun sudah diganti dengan selang yang lebih kecil sehingga lebih memudahkanku untuk bergerak..


Hari ini seperti perkataan Filiz yang menghubungi kemarin lusa, dia akan datang untuk mengunjungiku dan memberitahukan bagaimana kondisiku saat ini. Tidak hanya aku, tapi Mama, Papa, Andre, dan Talita pun terlihat begitu khawatir akan kondisiku. Meski jujur merasa gugup dan ketakutan, tapi aku tidak ingin terhanyut dalam perasaan itu dan terkubur membusuk tak berdaya menyesali tidak ada satu pun hal yang bisa kulakukan..


#TOOKKK #TOOKKK #TOOKKK


Suara ketukan pintu ruangan almira


“ Siang Dokter Almira.. Bagaimana kondisimu hari ini?”


Ucap Filiz sembari berjalan masuk kedalam ruangan ditemani Turan dibelakangnya


“ Almira, bagaimana kondisimu? Jauh lebih baik?”


Ucap Turan dengan tersenyum


“ Lebih baik.. Suatu kehormatan Direktur Rumah sakit mengunjungiku di Rumah sakit lain..”


Balas Almira dengan tersenyum kembali kepada Turan


“ Aku jadi harus bersikap baik selama berada disini karena kau! Demi menjaga image ku..”


Bisik Turan dengan tersenyum jahil pada Almira


#BRAAKKK


“ Mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin membawanya ke Rumah sakitmu yang berjarak 1 jam dari Istanbul. Jadi, salahkan saja aku.”

__ADS_1


Ucap Serkan yang membuka pintu, berjalan melewati Turan  dan menghampiri Orang tua Almira untuk memberikan salam


 “ Baiklah, aku tidak akan menyalahkan siapa pun.. Jadi.. Apa benar hari ini hasil test itu keluar? Bagaimana dengan Rekam medisku sebelumnya? Boleh aku melihatnya?”


“ Tentu saja Almira.. Map ini adalah Rekam Medismu sebelumnya dan yang satu ini Rekam medismu yang baru yaitu hasil test pasca operasi..”


Ucap Filiz sembari memperlihatkan dua Map ditangan kiri dan kanannya


Serkan menatap tajam kepadaku dari ujung Sofa dengan berjalan semakin mendekat kearahku.. Mama, Papa, dan semua yang berada diruangan ini pun menungguku untuk membaca hasil test rekam medis yang dilakukan oleh Filiz beberapa hari lalu.. Dengan setengah berat hati aku membaca dan membandingkan hasil test sebelum dan sesudah melakukan operasi.. Namun, yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah mengapa Filiz melakukan test sebanyak 2X sesudah aku melakukan operasi ini? Apa... Kondisiku saat ini memburuk separah itukah?


Kembali dengan seteguh hati membuka test pertama dengan hasil rekam medis sebelum dan sesudah melakukan operasi.. Membaca dengan teliti bahkan aku melingkari dibeberapa hasil test, aku dikejutkan dengan hasil yang benar benar jauh dari apa pun yang akan dipikirkan saat ini.. Aku mencoba untuk memeriksanya kembali dan mengulang kembali namun seketika tangan ini terdiam dan mata pun menatap lurus kepada Filiz dan Turan yang sedang tersenyum padaku. Tangan dan mata mereka pun menyuruhku untuk memastikan kembali dengan membuka hasil test rekam medis keduaku yang dilakukan oleh Filiz beberapa hari lalu, hingga akhirnya aku benar benar terkelut lemas seolah benar benar hilang kesadaran merasa tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini..


“ Ada apa Almira? Ada apa ini, katakan padaku!”


Ucap Serkan berbahasa Turki merasa khawatir begitu melihat Almira terdiam seperti patung, mengambil lalu memberikan lembaran hasil test itu kepada Filiz dan Turan


“ Serkan... Almira, dia...”


Balas Turan dengan sedikit menundukkan kepalanya


 “ Turan, katakan. Bagaimana kondisi Almira?!”


Serkan berjalan mendekati Turan dengan mulai sedikit kesal berbicara dengan bahasa Turki


“ Serkan, lihatlah ini.. Dan bandingkan hasilnya dengan yang ini.. Apa yang kau lihat?”


Balas Filiz berbahsa Turki kepada Serkan sembari memberikan lembaran rekam medis


“ Angka? Ini adalah Jumlah angka. Lalu, apa maksud dari baris ini dengan garis garis dan mengatakan positive dan Negative pada lembar yang berbeda?”


Ucap Serkan yang kebingungan kepada Filiz


“ Baik, dengarlah.. Lembaran ditangan kiriku adalah hasil Test Almira sebelum melakukan operasi dimana persentasi penyakitnya sudah meradang mendekati stadium akut atau parah.. Lalu, ditangan kananku ini adalah hasil test Almira sesudah dia melakukan operasi..”


Ucap Filiz mencoba menjelaskan


“ . . . . . . . Maksud kalian adalah. . . Almira, dia..??”


Serkan yang sempat terdiam untuk berpikir dan mencoba untuk menebak perkataan dari Filiz


“ Ya kau benar Serkan.. Entah keajaiban apa yang diberikan kepada Almira.. Penyakit Hepatitis B yang diderita Almira menghilang, dengan begitu dia sudah sembuh dari penyakit ini..”


Ucap Filiz kepada serkan dengan tersenyum


“ Katakan, sekali lagi.”


Ucap Turan sembari menepuk nepuk pundak Serkan dengan tersenyum dan kepada semua orang diruangan memberitahukan kabar baik ini


“ Nak, Serkan.. Apa yang mereka katakan? Bagaimana kondisi Anak ibu?”


Tanya sang ibu yang khawatir dengan menarik salah satu tangan Serkan dan menatapnya


“ Almira, sembuh bu. Hepatitis B yang diderita Almira hilang setelah melakukan operasi kemarin.”


Serkan mencoba untuk menjelaskan dengan membalas menggenggam tangan ibu almira


“ Ap, apa? Jadi... Anakku.. Dia... Dapat.. Hidup? Dia, bisa memiliki anak? Dia, betul sudah.. Sembuh?”


Ucap Sang ibu kembali merasa tidak percaya dengan menangis dan berbicara secara terbata bata


“ Ya, bu.”


“ SYUKURLAH . . . . ALMIRA. . . . ANAKKU!!. . . . SYUKURLAH NAK. . .”


Ucap sang ibu yang langsung berbalik kearah almira dan langsung memeluk Almira dengan tangisan yang sudah tidak dapat lagi tertahankan


“ Terima kasih Dokter.. Terima kasih!!”


Ucap Ayah Almira dengan menundukkan tubuhnya berkali kali kepada Turan terlebih kepada Filiz


“ Serkan, beritahu padanya untuk berhenti menundukkan tubuhnya seperti itu.. Kami merasa tidak nyaman, kami sudah menerima ucapan terima kasih dari seluruh keluarganya..”


Ucap Filiz yang serba salah kepada ayah Almira dengan menatap kepada Serkan


“ Pak, sudah cukup. Mereka mengerti dan menerima ucapan maksud hati tanda terima kasih dari semua yang berada diruangan ini.”


Ucap Serkan dengan menadahkan tubuh ayah almira kembali agar berdiri tegap dan menatapnya


“ Betulkah? Syukurlah, karena sungguh keajaiban apa ini yang diberikan kepada putriku setelah 2 tahun lebih dia menderita karena penyakitnya itu. Terima kasih, terima kasih..”


“ Menurut kalian, kemungkinan apa yang menyebabkan penyakit itu bisa hilang?”


Tanya Serkan berbahasa Turki kepada Filiz dan Turan, sembari menopang tubuh Ayah almira yang terlihat lemas


“ Seperti yang kau tahu, almira mendapat luka diarea kepala, perut, dan kakinya.. Terlebih pada area perutnya. Jadi menurutku saat itu, semua darah yang didalam tubuhnya memang benar benar habis terbuang. Kau pun melihat bukan beberapa perawat mengambil 2 tabung darah sebanyak 2X dari Bank darah dan itu pun kami masih kewalahan mencoba agar Almira mau menerima Transfusi darah yang kami lakukan padanya.”


Balas Filiz yang mencoba untuk menjelaskan


“ Filiz, apa pada saat itu aku.. Benar benar kehabisan banyak darah?”

__ADS_1


Tanya Almira berbahasa Turki setelah sang ibu melepaskan pelukannya berjalan menuju ayah almira untuk duduk bersama di Sofa karena merasa lemas mendengar kabar baik ini


“ Ya, almira.. Aku sempat berpikir kau tidak akan bertahan melihat tekanan darahmu yang semakin turun dan turun..”


“ Filiz, apa yang harus aku lakukan untuk mengucapkan Rasa Terima kasihku padamu?”


“ Hmmm.. Dengan kau pindah kemari dan bekerja di Rumah sakit bersama denganku? "


Ucap Filiz dengan tertawa jahil kepada Almira yang mulai terlihat menitikkan air matanya


#BRAAKKKK


“ A L M I R A.. APA YANG KAMI LEWATKAN?? DOKTER KATAKAN?!”


Ucap Lilian berbahasa Turki yang mendobrak masuk kedalam Ruangan dan langsung menarik tangan Filiz memintanya untuk menjelaskan diikuti Kirey, Bu, farrah, dan semua dibelakangnya


“ Penyakit Hepatitis B yang diderita Almira, menghilang..”


Balas Filiz yang menjelaskan dengan tersenyum kepada mereka semua


“ Apa yang kau katakan benar Dok?”


Tanya Kirey kembali berbahasa Turki karena merasa terkejut


“ KYAAAAAA” “ APA AKU BILANG” “ TIDAK AKU YANG BILANG” “KYAAAA ALMIRAA..”


Teriak Lilian dan Kirey kegirangan sembari melompat lompat seperti anak kecil


“ Lilian! Kau sedang hamil nak.. Emre, kenapa kau diam saja!”


Ucap Bu Farrah dengan sedikit meninggikan suaranya kepada lilian dan emra yang tersenyum jahil karena khawatir


“ Baiklah, karena semua orang berada disini dan hari ini merupakan hari bahagia..”


Serkan tiba tiba menundukkan tubuhnya dihadapan almira


“ Serkan?. . . . Apa yang kau se..”


“ Menikahlah denganku Almira.”


“. . . . . . . . . .”


Almira yang terdiam diikuti semua orang yang berada didalam ruangan karena merasa terkejut


“ Cincin ini milik ibuku untuk calon istriku nantinya. Aku mendesain ulang cincin ini, itu pun atas persetujuannya dan ayahku saat meminta ijin untuk melamarmu. Almira, menikahlah denganku.”


Serkan menatap Almira dengan sangat serius


“ Kau.. Benar benar sudah memikirkan ini dengan matang?”


Tanya Almira dengan penuh keraguan


“ Kak Mira, ayolah.. Apa yang kurang dari Kakak ipar?? Dia bahkan bisa memenuhi kebutuhan dengan anak 3 sekaligus jika kau bersedia tanpa kau harus bekerja! Kakak ipar juga Tampan, pintar, ditambah kami semua menyukainya! Kurang apa la.. gi.... Yang . . . . . . .”


Andre terdiam dengan menundukkan kepalanya melihat Almira menatapnya dengan penuh aura kemurkaan


“ Mama dan Papa menyetujuinya. Almira, menikahlah dengannya nak..”


Ucap Sang ayah kepada Almira


“ Almira, kami akan sangat bahagia jika kau masuk kedalam anggota keluarga Emuler.”


Ucap Ayah Serkan dengan tersenyum kepada Almira


“ Lihat? Alasan apa lagi yang kau butuhkan agar kau setuju menikah denganku?. Terkecuali, apa kau tidak menyu..”


“ Aku menyukaimu Serkan.. Mencintai dan menyayangimu sejak lama.”


“ Kita menikah?”


“ Ya, tentu..”


Cincin pun melingkar indah disalah satu jari yang masih terlihat pucat dan kurus.. Namun kecupan lembut ditanganku yang dilakukannya seolah tidak memandang bagaimana bentuk penampilanku saat ini, dan selalu bersedia menemaniku dalam proses penyembuhan dengan dukungan dan juga kesabaran yang dia berikan.. Ucapan doa dan rangkulan kasih sayang dari para orang terkasih pun begitu terasa membahagiakan semakin membuat semangat untuk upaya kesembuhanku.. Tak terasa waktu berlalu kembali, dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah dengan melakukan mutasi penempatan tempat kerja dimana mereka semua menyambutku dengan sangat baik yang juga selalu setia mememinta agar akulah yang menjadi dokter pribadi mereka..


Tak kala Serkan tetap mengupayakan reputasiku dengan tetap mendirikan sebuah fasiltas dengan donasi atas namaku agar tidak ada seorang pun yang memandang rendah kepadaku.. Keadaan Berguzar yang semakin membaik dengan perpisahannya dengan Damien yang saat ini sedang mempertanggung jawabkan tindakannya dibalik jeruji besi pun, akhirnya memberikan doa serta senyuman padaku dengan berlalu pergi bersama keluarga dengan bayi yang ada dalam kandungannya.. Usia kandungan Lilian yang semakin terlihat serta Kirey yang juga baru mendapat kabar bahagia selanjutnya menyusul Lilian, ternyata Kabar akan Andre dan talita yang juga bertunangan, semakin membuat keadaan menjadi lebih bahagia dari hari kehari dan aku harap semua akan tetap seperti ini..


“ Almira, apa kau semakin gemuk? Kenapa cincin ini tidak, muat?”


Ucap Serkan sembari tersenyum jahil dihadapan semua orang saat memasangkan cincin pernikahan dijari Almira


“ Serkan, kau.. Menyebalkan sekali!! Tapi, Aku mencintaimu..”


Ucap almira berbisik pelan dengan muka masam dan senyumannya


“ Sepertinya aku yang seharusnya mengucapkan itu.”


Seperti kata kata ungkapanpuisi yang pernah terdengar olehku, Cinta sejati bukan tanpa masalah, ia memiliki banyak rintangan, cinta sejati mampu melalui semuanya dan tampil bahagia dengan seseorang di sisi lain. Hubungan yang benar adalah dua orang yang tidak sempurna yang menolak untuk menyerah satu sama lain. Serta aku tidak tahu di mana aku berdiri denganmu. Dan aku tidak tahu apa maksudku bagimu. Yang aku tahu adalah setiap kali aku memikirkan dirimu, aku ingin bersamamu.


-SELESAI-

__ADS_1


__ADS_2