Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 35


__ADS_3

Menunggu keputusan yang diberikan padaku, tak kala membuat hati ini gelisah.. Meski pun kondisiku saat ini sudah kembali normal dan dapat beraktivitas seperti biasa, keberadaanku dikota indah ini yang hanya tersisa 3 minggu, menjadi terlihat buram akan masa depan yang entah bagaimana untuk menjelaskannya.. Kembali terduduk pada halaman Rumah Sakit selepas bekerja dengan sebuah minuman hangat, masih tidak dapat membuat hati ini merasa tenang untuk beristirahat sejenak. Apa yang akan terjadi padaku atau bagaimana aku dapat bertahan hidup ke depannya, terlebih dengan kondisiku yang aku sendiri pun tidak tahu kapan akan memburuk kembali.


Merasa tak tenang, aku kembali berjalan menuju lobby utama selepas menghubungi Mama, Papa, serta Andre dan Talita.. Mereka semua pun tersenyum padaku bahkan disela waktu bercanda gurau dengan topik pembicaraan konyol yang dapat membuat siapa pun tertawa.. Terlintas sejenak, apakah harus aku memikirkan tawaran yang diberikan Turan padaku? Namun, pertanyaan lainnya adalah.. Jika aku bekerja disini, bagaimana dengan mereka para orang terkasih yang meminta dengan tulus serta memohon agar aku tetap dekat bersama mereka, mengingat kondisiku saat ini..


“ Dokter Almira, apa yang kau lamunkan?”


Ucap salah seorang Perawat perempuan berbahasa Turki


“ Tidak ada, hanya beberapa hari ini pikiranku terasa kosong tak dapat berpikir..”


Balas Almira dengan tersenyum berbahasa Turki


“ DOKTER ALMIRA!! Dok, ada seorang pasien wanita yang datang bersama seorang ibunya dengan kondisi seperti Luka diseluruh tubuhnya.. Lalu....”


Ucap Perawat lainnya dengan sedikit terbata bata berbahasa Turki


“ Lalu, apa? Katakan...”


“ Sepertinya wanita itu korban kekerasan rumah tangga Dok.. Semenjak kedatangannya, Pasien selalu mencoba melakukan tindakan bunuh diri sehingga membuat kami kesulitan menghadapinya..”


“ Apa Pasien itu diruang Unit Gawat Darurat?”


“ Tidak Dok.. Pasien sekarang menuju Ruangan Pasien dilantai 7 dan menempati salah satu Ruangan intensive khusus Pasien Psikolog Traumatis yang akan Dokter tangani, karena Dokter Habgur tiba tiba mengambil cuti hamil dan Dokter Jamal sudah penuh.”


“ Bukankah aku sudah tidak bisa menerima Pasien tambahan menurut peraturan Rumah sakit? Kalian yakin?”


“ Ya Dokter Almira, baik Kepala Bagian terlebih Direktur Rumah sakit pun tidak keberatan bahkan memberikan kewenangan pada Anda.. Ini Rujukan Surat Pernyataan serta Data Pasien..”


Ucap Perawat itu sembari memberikan sebuah Map kepada Almira


Dengan sedikit merasa bingung, aku mengambil Map itu dengan mempertanyakan akan posisiku saat ini yang menurut peraturan, tidak diperbolehkan menerima Pasien tambahan karena kondisiku ini dan sebelum ada keputusan pihak Rumah Sakit awal tempatku bekerja. Namun, seolah terlihat penting, akhirnya aku memberanikan diriku untuk membuka Map tersebut dan membacanya dengan sangat teliti. Bahkan Turan begitu sangat paham dengan membuat Salinan Surat Pernyataan yang akan menjadi Arsip dokumen tambahan lainnya jika terjadi masalah untukku kedepannya..


Terlepas dari itu semua, akhirnya aku menerima Pasien tambahan dan memeriksa Data yang diberikan Perawat padaku. Namun lagi lagi seolah semua begitu terasa terikat dalam hubungan tak jelas, aku segera berlari dan tidak berbicara banyak hal, menuju Ruangan tempat Pasien itu berada. Pikiran pun penuh pertanyaan yang tidak jelas akan kehadirannya saat ini dengan berada di Rumah Sakit ini.. Tak lama dari jauh samar samar kudengar beberapa teriakan seorang wanita yang terdengar sangat marah bahkan mencoba untuk keluar dari ruangan saat pintu ruangan sedang  terbuka.


Seorang wanita yang tidak pernah aku bayangkan akan bertemu lagi dengannya, dengan keadaan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.. Seorang wanita yang membuatku begitu membencinya mengingat hal hal yang pernah dia lakukan padaku. Namun kali ini, seorang wanita itu terlihat begitu lemah tak berdaya penuh luka disepanjang tubuhnya.. Tubuhnya merespon rasa Traum yang begitu dalam, sehingga menyiksanya dan menutupi wajah cantiknya.


“ Berguzar.. Maukah melihat padaku? Dan apa kau mengingatku?”


Ucap Almira berbahasa Turki saat mendekati Berguzar yang tertelungkup diujung ruangan


“ . . . . . . . . . .”


Berguzar yang terdiam dengan wajah penuh terkejut saat melihat Almira


“ Apa yang terjadi padamu?”


Almira menundukkan tubuhnya dan melipat kakinya agar sejajar dengan Berguzar dengan melihat dan memeriksa seluruh luka di tubuhnya


“ Kau.. Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu!”


Ucap Berguzar dengan nada kesal dan wajah amarahnya


“ . . . . . . . Perlihatkan Luka disekujur tubuhmu”


Almira mengulurkan salah tangannya kepada Berguzar


#PLAAAKKK


“ APA YANG KAU LAKUKAN?!”


Ucap salah seorang Perawat melihat Berguzar menampar Almira yang tidak melakukan perlawanan


“ PERGI..!! KAU PASTI TERTAWA DALAM HATIMU MELIHATKU SEPERTI INI BUKAN? TERTAWALAH ALMIRA!! AKU MUAK MELIHATMU HIDUP DENGAN BAIK SEPERTI INI!”


Berguzar berdiri dengan Tegap dengan berteriak teriak serta menunjuk nunjuk pada Almira


“ Aku..? Hidup dengan baik..?”


Almira menadahkan kepalanya keatas melihat kearah Berguzar dengan menahan sakit pada salah satu pipinya yang terlihat merah


“ Kau sudah bertunangan dengannya bukan? Aku sudah mendengarnya!”


“ Serkan... Bertunangan bukan denganku. Aku bertanya barusan, apa yang terjadi padamu? Jawab aku!”

__ADS_1


Almira berdiri dan menatap Berguzar tajam


#AARRRGGGHH!!! #PRAANGGGG #PRAANGGG


“ KAU PIKIR AKU PERCAYA?! WANITA MURAHAN! KAU MERUSAK PERTUNANGAN ORANG LAIN!”


Berguzar yang marah kembali memecahkan gelas minum dengan melemparnya ke tembok


“ HENTIKAN! Dan juga Perjelas ucapanmu itu. Jangan sampai mereka salah paham dengan apa yang kau katakan ini. Kau yang meninggalkannnya dan kembali tanpa muka dan rasa malu! Lalu, apa kau lupa apa saja yang telah kau lakukan padaku?”


Almira yang tersulut emosi menarik dan menggenggam erat tangan kanan Berguzar hingga terlihat kesakitan


“ . . . . . . . . . .”


Berguzar yang hanya terdiam dan memandang Almira


“ Karenamu hidupku hampir berakhir. Semua hal yang terjadi padaku, Kau harus ingat itu! Seharusnya memang aku tolak berkas untuk menjadi Dokter Psikologmu!”


Almira melepaskan tangan Berguzar dengan sedikit mendorongnya


“ Bukankah impas?”


“ Apa maksudmu Berguzar?”


“ Tidakkah kau lihat saat ini kondisiku? Tidak jauh berbeda denganmu saat itu bukan? Terlihat begitu Hina dan penuh rasa iba yang melihatnya.. Bukankah kau menarik Serkan dengan cara murahan seperti ini?”


Berguzar mendekatkan wajahnya pada Almira dengan berbicara berbisik


“ Jika saat ini kau bukan Pasien, akan aku pastikan kau benar benar membayar semua hal yang telah kau lakukan padaku hingga tak bersisa sedikit pun.”


 “ . . . . . . . . . .”


Berguzar yang kembali terdiam mendengar perkataan Almira


Pandangan mata kami bertemu dengan begitu sangat dalam namun Berguzar langsung memalingkan pandangannya untuk menghindariku. Kini terlihat jelas bahwa dirinyalah yang bermasalah dan merasa melakukan pembelaan diri dengan pertahanan terakhirnya, dia menyerang dengan memutar semua kejadian dan peristiwa seolah dialah korban saat ini. Berpaling dan meninggalkan ruangannya, aku memberanikan diri menuju ruangan Turan akhirnya aku menyerahkan kembali Map Berkas Pasien yang diberikannya padaku..


“ Katakan apa alasanmu Almira? Kenapa kau menolak Pasien ini?”


Ucap Turan berbahasa Turki kepada Almira


“. . . . . . . . . .”


Turan terdiam melihat expresi wajah Almira dan perkataannya


“ Apa kau, tidak Profesional dan membawa permasalahan pribadi dalam hal ini?”


“ Maaf?”


“ Aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dan Pasien ini. Tapi kau sudah tahu tugasmu apa dan juga kendalikan dirimu, terlebih saat ini kau dalam pengawasan para Direksi Rumah sakit. Kau tahu itu dengan baik. Kau seorang Dokter! Kau harus melepaskan Perasaan itu dan menyelematkan hidup Pasien itu. Terlepas dari ada masalah apa diantara kalian. Salah satu sumpahmu dahulu, bukankah seperti itu?”


“ Ya Pak..”


Almira menundukkan kepalanya dan tersadar hingga merasa Malu dihadapan Turan


“ Akan aku anggap kehadiranmu siang ini menghadapku hanya berbicara mengenai pembagian kerja dan lupakan kau melakukan hal ini!”


Turan mengalihkan pandangannya dari Almira dengan fokus kepada Laptop dihadapannya kembali


“ Terima kasih Pak..”


Berjalan meninggalkan ruangan Turan, sungguh sebuah cambuk dan juga tamparan terhebat bagiku. Bagaimana bisa aku terbawa emosi seperti ini? Memalukan sekali! Ada apa denganmu Almira? Kenapa aku bisa membawa perasaan pribadiku saat ini.. Tertunduk malu, aku berjalan menuju ruanganku dimana Dokter Filiz dan Suaminya Dokter Gulzen sudah terduduk dengan sebuah kertas putih ditangannya.. Tersadar akan keputusan pihak Rumah sakit tempatku bekerja, aku pun hanya terdiam dan berjalan masuk seolah tidak terjadi apa pun mencoba menerima nasibku saat ini.


Terduduk dihadapan mereka berdua yang juga sama sepertiku terlihat gelisah dan penuh kegundahan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengulurkan tanganku dan meminta kertas putih ditangan mereka untuk diserahkan padaku. Dengan tersenyum, Dokter Filiz menyerahkannya dan seolah memberikan semangat padaku Gulzen mengatakan kata kata motivasi yang begitu dalam. Tersenyum membalas perhatian yang mereka berikan padaku, akhirnya aku membuka amplop kertas ini dan membacanya dengan penuh teliti dan terkejut dengan apa isi dari surat ini.


“ Ba, bagaimana bisa..? Ini... Ini...”


Almira yang terlihat terkejut berbahasa Turki bertanya kepada Filiz dan Gulzen


“ Seperti yang kita tahu, bahwa Perusahaan itu adalah 5 terbaik dalam hubungan kerja sama dengan berbagai negara. Aku tidak menyangka, kau mengenal CEO pemiliki Perusahaan itu..”


Ucap Filiz kepada Almira


“ Sumbangan alat medis, juga membangun fasilitas dengan peralatan medis yang lebih modern, semua atas namamu.. Namun, terlihat CEO itu menghargaimu dengan memberikan pilihan dimana kau yang menentukan itu semua.”

__ADS_1


Ucap Gulzen mencoba menjelaskan


“ Apa, maksudmu?. . . . Jelaskan padaku..”


“ Almira, kau belum mengerti juga? Dengan kau seperti ini, mereka tidak akan memandang rendah dirimu! Bahkan aku yakin kepala bagian di Rumah sakit tempat kau bekerja, dia akan merasa malu..”


“ Ya, namun CEO itu tidak bermaksud dengan memberikan ini semua, seolah menjadi sogokan atau manupulasi agar kau diterima kembali bekerja disana.. CEO itu hanya bermaksud kau tidak dipandang sebelah mata dan tidak akan ada rekan kerjamu yang akan memojokkanmu Almira.. Karena itu, semua pilihan itu kembali kepadamu. Jadi, sekarang.. Apa kau akan tetap memberikan sumbangan itu atau menolaknya, semua terserah padamu..”


Ucap Gulzen kembali menjelaskan kepada Almira


“ Dia.. Ada di indonesia, saat.. Ini?”


Almira melayangkan pandangannya


“ Dia? Siapa dia? Maksudmu CEO itu?”


Tanya Filiz kepada Almira


“ Surat ini, kapan kau menerimanya Filiz?”


“ Sekitar 2 hari lalu.. Ada apa Almira?”


“ Maaf, aku harus pergi dahulu.. Ada hal yang harus kulakukan..”


Almira menundukkan sedikit kepalanya dan langsung melepaskan jubah dokternya mengambil tas dan berlalu pergi meninggalkan ruangannya


Aku tidak tahu lagi mana yang benar atau mana yang salah. Entah ini Rasa sayang ataukah hanya Rasa bersalah. Berlari begitu aku menyelesaikan jam kerjaku menuju mobil kendaraan sebagai fasilitas yang dapat aku gunakan, aku segera berkendara menuju kediaman Lilian dan Emre yang ternyata Kirey dan Hammet pun sudah berada disana menungguku. Terbayang dengan apa yang ada dipikiran mereka saat ini, aku semakin tidak sabar untuk mempercepat laju kendaraanku hingga akhirnya aku sampai dan terlihat 2 mobil lainnya yang sudah terparkir sempurna.. Merasa tidak ingin ambil pusing mengenai mobil siapakah itu, aku berlari menuju lantai atas tempat mereka semua menunggu kedatanganku.


“ Jelaskan padaku Emre.. Apa maksudnya!”


Almira menaruh Amplop dengan kertas diatas meja


“ Kau tahu jelas, aku tidak dapat menghentikan kakak..”


Ucap Emre dengan menundukkan kepalanya


“ Apa kau tahu jumlah uang yang dikeluarkannya? Apa dia menggunakan Uang pribadinya?”


“ Ya. Maaf Almira, aku tidak dapat menjelaskan lebih padamu saat ini. Kumohon jangan paksa aku.”


Emre yang semakin menundukkan kepalanya


“ Almira percayalah, kita semua pun terkejut dengan apa yang dilakukan Serkan..”


Ucap Lilian dengan menggenggam tangan Emre


“ Sudah berapa lama dia di indonesia?”


“ Sepekan. Saat kau tersadar dan mendengar kondisimu baik baik saja, tak memerlukan waktu lama baginya untuk segera pergi.”


Ucap Emre kembali


Merasa kesal. Sungguh saat ini aku merasa kesal sekali dengan apa yang dilakukan Serkan saat ini. Aku sangat tidak ingin dia melakukan hal yang tidak perlu dia lakukan dan seperti membuang buang waktu karena aku tahu dengan jelas urusan yang harus dia selesaikan bukanlah sedikit! Tapi, kenapa Serkan?! Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan jika kau terus bersikap seperti ini padaku..


2 Miliar Rupiah.. Apa dia sudah gila?! Atau aku yang memang sudah kehilangan akal sehatku saat ini? Bahkan jika aku harus mengganti Uang itu, tidak akan cukup waktu bagiku untuk segera melunasinya! Menghubunginya beberapa kali dengan berakhir Panggilan dialihkan, kini semakin membuatku merasa kesal padanya. Inilah yang tidak aku inginkan terjadi jika Serkan mengetahui apa yang terjadi padaku.. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


“ Almira, tenanglah.. Aku yakin Serkan melakukan ini semua untuk kebaikanmu..”


Ucap Kirey dengan mengusap lembut pundak Almira


“ Tapi Kirey, aku.. Aku tidak ingin dia... AARGGHH SERKAN!!”


Almira mengacak ngacak rambutnya merasa kesal


“ Tidak bisakah kau mempertimbangkan perasaanmu kembali dan menerima Serkan, Almira?”


Ucap Hammet kepada Almira


“ Hammet, kumohon jangan katakan hal itu padaku. Karena, sangat berat bagiku.. Emre, apa... Nenek... Bu Farrah... Keluarga Emuler, Tahu akan hal ini?”


Almira terduduk dengan menadahkan kedua tangannya untuk menopang kepalanya


“ Tentu saja kami tahu akan hal ini Almira.. Apa kabarmu nak?”

__ADS_1


Ucap Bu Farrah yang tiba tiba keluar dari suatu ruangan dan berjalan kearah Almira


Kehadiran seorang ibu yang sangat mencintai anaknya bukanlah hal yang patut aku tanyakan kembali.. Hanya tertunduk malu dengan kepasrahan akan diriku yang tidak pantas untuk hadir dan berdiri disini, semakin membuatku ingin melarikan diri dari semua yang terasa tidak normal dan akan adanya pengorbanan hati yang terluka kembali mengukir kisah lama yang kelam. Dan itu semua terjadi, kali ini adalah karenaku yang berdiri tidak pada tempatnya..


__ADS_2