Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 29


__ADS_3

Berjalan menyusuri jalan yang belum pernah kulewati sebelah selatan di kota yang indah ini, pemandangan saat ini terlihat jauh berbeda dimana Selat Bosphorus tidak dapat kulihat kembali dan berganti menjadi dataran pasir tanah yang sedikit berada di perbukitan. Memerlukan waktu beberapa jam jika aku ingin melihat kembali kampus tercinda dengan Selat Bosphorus yang begitu kurindukan. Namun pemandangan kota ini tidak jauh berbeda meski pun dalam tahap pembangunan kembali dan terlihat orang orang melakukan aktivitas seperti biasanya.


Kaki kembali melangkah pada sebuah pertokoan yang menjual berbagai kebutuhan sehari hari dimana tampak tidak terlalu banyak keramaian orang orang yang berbelanja disana. Tersadar akan kebutuhan yang belum sempat kusiapkan sebelumnya, akhirnya aku memutuskan untuk berbelanja di toko tersebut dan berkenalan dengan penduduk setempat mengingat masa baktiku yang kurang lebih 3 bulan akan kuhabiskan selama berada disini..


Seperti biasa, keramahan penduduk sekitar dengan budaya yang membuatku terkesan selalu membuat hati ini tertarik dan merasa rindu untuk datang kembali. Namun hanya karena keadaan dan merasa lelah akan sesuatu yang tak bisa kuterima, aku memutuskan untuk melarikan diri disaat semua menarik tanganku mencoba untuk menyadarkanku terdiam menunggu hasil yang mungkin bisa membuatku tersenyum.


“ Siang.. Apa kau pendatang baru? Aku baru melihatmu disini..”


Ucap salah seorang wanita Penjaga toko pada Almira menggunakan bahasa turki


“ Aahh Ya, kenalkan saya Almira.. Saya berasal dari indonesia dan akan bekerja di Rumah sakit Mektup Isik kurang lebih 3 bulan..”


Almira yang tersenyum sembari berjabat tangan dengan wanita itu menggunakan bahasa turki


“ Jadi kau seorang Dokter? Kenalkan aku Burcu dan itu adalah suamiku Canam. Kami penduduk asli disini, jadi jika kau butuh bantuan kami katakan saja..”


“ Terima kasih banyak.. Sebenarnya aku sedang membutuhkan semacam pemandu wisata yang bisa mengenalkanku tempat ini.. Apa kau mengenal seseorang yang mungkin bisa untuk..”


“ Tentu saja, Turan! Kemarilah sebentar..”


Ucap Burcu pada seorang pria


“ Turan, kenalkan dia adalah seorang Dokter yang akan bekerja di Rumah sakit milikmu.. Namanya Almira, dia berasal dari indonesia..”


“ Tunggu, Rumah sakit.. Milikmu?.. Maafkan, apa anda adalah...”


Almira yang terkejut dengan menunjuk kepada Turan


“ Kenalkan saya adalah Turan Madarik. Aku baru menggantikan posisi ayahku selaku Direktur disana.. Bisa di bilang aku pun baru disini, namun kota ini adalah kampung halamanku.”


Ucap Turan yang tersenyum berjabat tangan dengan Almira mencoba untuk menjelaskan dalam bahasa turki


“ Wah, sungguh di luar dugaan.. Seharusnya besok hari secara formal saya memperkenalkan diri kepada anda di Rumah sakit. Namun tidak disangka bertemu anda di sini..”


Ucap Almira yang juga tersenyum dengan membalas jabat tangan Turan


Senyuman pria ini terasa meneduhkan bagi hati yang terasa lelah.. Dengan menundukkan kepalaku, aku pun memohon pamit untuk melanjutkan berbelanja kembali dan dia pun kembali melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan tadi. Merasa tidak ada urusan kembali, aku pun pamit dan berjalan kembali menuju tempat penginapanku yang sepertinya aku melupakan apakah berbelok ke kanan atau ke kiri di perempatan jalan raya yang luas ini.. Mencoba untuk menghubungi Filiz, tiba tiba terhenti melihat Turan yang seolah berlari kearahku dan berhenti tepat dihadapanku..


“ Aa.. Ada apa? Apa aku kurang membayar tadi?”


Ucap Almira yang sedikit ketakutan menggunakan bahasa turki


“ Kau lucu sekali. Tidak, bukan itu alasanku mengejarmu.”


Ucap Turan dengan nafas yang tersenggah mengejar Almira


“ Baiklah, lalu ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?”


“ Kudengar justru kaulah yang memerlukan bantuan?”


Ucap Turan yang memberikan tatapan menyindir kepada Almira


“ Aaahh.. Apa aku benar benar terlihat seperti anak hilang yang lupa jalan pulang?”


Almira yang memberikan wajah polos dengan senyuman jahil


“ Aahahaha... Kau pasti menuju Penginapan khusus milik Rumah sakit bukan? Baiklah, aku akan antarkan kau kesana, karena kebetulan aku pun sedang berjalan kearah sana.”


“ Benarkah? Terima kasih banyak..”


Almira yang sedikit menundukkan kepalanya kepada Turan


“ Jalanan di sini memang banyak belokan, jadi pastikan kau mengingatnya selama berada di sini jika tidak ingin tersesat.”


“ Akan aku ingat itu..”


Berjalan dengan senyuman diwajah kami, entah mengapa walau hanya baru bertemu beberapa detik yang lalu, topik pembicaraan kami tidak berhenti dan sesekali dia pun tertawa mendengar bahasa turki ku yang masih memerlukan perbaikan dan tidak sedikit pun dia mencoba mengguruiku, yang Turan lakukan seolah menjadi teman berdebat yang sungguh menyenangkan.. Sepanjang perjalanan pun Turan memperkenalkan beberapa tempat yang bisa kudatangi dan menjadi rekomendasi untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas nanti.. Kami berbincang hingga tak terasa kami pun sampai di penginapan yang dimaksud.. Dengan menundukkan kepala dan tersenyum satu sama lain, kami pun berpisah dengan lambaian tangan layaknya seorang sahabat.


Waktu tak terasa menuju malam.. Pemandangan Selat Bosphorus yang kurindukan saat ini berganti menjadi hamparan bukit hijau dengan suara kicauan burung merdu yang seolah tidak lelah untuk bernyanyi tiap waktu.. Namun hembusan angin sama sekali tidak berubah, tetap terasa kencang dengan udara dingin yang terasa.  Selesai menyiapkan semua keperluan untuk besok memulai hari untukku bekerja pada hari pertama, aku mencoba untuk bersandar pada sebuah kursi di balkon penginapan yang berasa di lantai 5 gedung ini. Hingga akhirnya Lilian menghubungiku bahwa dia sudah sampai di depan gerbang pintu dan memintaku untuk membukakannya..


“ Kau menghindari pesta pernikahanku setahun yang lalu, namun kini kau akan  berada di sini selama 3 bulan?... Almira, kau terlewat tak berperasaan padaku!”


Ucap Lilian yang mengerungkan dahinya dan sediki merasa kesal


“ Masuklah.. Aku tidak ingin ada yang mendengar dan menjadi salah paham..”


Almira menarik tangan Lilian untuk masuk kedalam

__ADS_1


“ AKU MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA! SIAPA YANG AKAN MENGERTI?!”


Lilian yang kesal pada Almira, semakin meninggikan suaranya


“ Ssst, Ssst.. Oke, oke.. Maafkan aku.. Kenapa kau berteriak?!”


Almira yang menundukkan kepalanya berkali kali dan kembali menarik tangan Lilian untuk masuk kedalam


“ Penginapanmu tidak jauh berbeda dengan Apartment kita saat itu..”


Lilian yang berjalan dan terduduk di sofa


“ Ya, fasilitas di sini juga sangat bagus dan lengkap.. Mau minum apa? Dingin atau panas?”


Almira berjalan menuju dapur dan menyiapkan beberapa cemilan dan minuman


“ Aku hamil.”


#PRAANNNGGG


Almira yang terkejut hingga tak sadar menjatuhkan cangkir dari tangannya


“ Seperti biasa.. Kau selalu seperti ini jika terkejut.. Jadi, dimana ucapan selamat untukku?”


Lilian yang bangun dari sofa dan berjalan menuju kearah Almira di dapur


“ Kau apa..?? Ha, hamil?”


“ Ya, baru minggu kelima.. Saat ini aku selalu merasa mual dan pusing..”


“ KYAAAAA!! LILIAN!! AKU AKAN MENJADI TANTE??”


Almira yang berteriak bahagia dan langsung memeluk Lilian


“ Hentikan, hentikan kau membuatku pusing.. Bisa bisa aku muntah...”


“ Ma.. Maafkan aku, maafkan.. Kau baik baik saja?”


Almira yang terlihat khawatir dan langsung membawa Lilian terduduk kembali ke sofa


Kami berbincang hingga lupa waktu tak terasa menunjukkan pukul 22.00 malam. Merasa tidak nyaman dengan Emre, aku pun meminta Lilian untuk pulang.. Namun Lilian menolak dan memperlihatkan isi tas yang dibawa olehnya berupa 1 stel baju tidur dan baju salin untuk dia kenakan besok hari.. Dengan kembali tertawa bahagia bersama, kami pun melakukan panggilan video kepada Kirey yang saat ini sedang bersama Hammet yang sedang berada di indonesia. Kirey pun berjanji dalam waktu tidak lama, akan kembali ke istanbul bersama Hammet dan mewajibkan kami untuk berkumpul bertiga kembali..


“ Kabarnya baik baik saja.”


Ucap Lilian sembari menarik selimutnya dan tertidur disamping Almira


“ Bagaimana dengan Yashinta? Apa hubungan dengan tunangannya lancar? Kapan.. Dia akan menikah dengannya?”


“ Aku tidak tahu soal itu, karena Serkan sangat menutup diri soal itu. Namun, aku sama sekali belum pernah melihat Yashinta datang ke istanbul sekali pun..”


“ Dengan alasan?”


Almira yang tiba tiba terduduk disamping Lilian merasa penasaran


“ Serkan seperti orang gila yang hanya memperdulikan pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan! Bahkan sampai saat ini pun dia masih saja seperti itu, membuat kami semua mengkhawatirkannya..”


Ucap Lilian yang juga terduduk


“ Jadi.. Dia kembali seperti dulu. Apa dia kembali duduk termenung seorang diri di..”


“ Ya kau benar.. Namun kali ini Serkan sudah bisa mengendalikan dirinya. Meskipun dia seperti itu, tapi dia masih tenang dan berpikir rasional..”


“ Syukurlah..”


“ Apa kau... Tidak berniat untuk, me..”


“ Sudah malam.. Selamat tidur..”


Almira yang memotong pembicaraan tiba tiba tertidur dengan menarik selimut menutupi dirinya


“ Almira.. Kenapa kau melarikan diri seperti ini..”


Lilian yang melihat sedih kepada Almira dan membaringkan dirinya kembali untuk tertidur


Ya, kau benar Lilian. Mengapa aku melarikan diri seperti ini? Alasan apa yang membuatku menjadi seperti ini disaat aku sendiri pun sebenarnya sangat ingin berlari kearahnya?


. . . . . . . . . . . .

__ADS_1


Detak jarum jam pun bergerak dan sudah waktunya bagi kami untuk kembali kepada kegiatan kami masing masing. Dengan melihat kepergian Lilian dengan sebuah mobil mewahnya, terlihat mobil lainnya yang berbelok dan berhenti dihadapanku yang tak lain Dokter Gulzen dan Dokter Filiz. Sesampainya kami di rumah sakit, aku dan beberapa Rekan Dokter lainnya yang datang melakukan perkenalan diri dan kami pun diberikan pemantauan bagaimana kondisi Rumah sakit saat ini dan juga apa saja yang akan kami lakukan selama berada di sini.


Selesainya memperkenalkan setiap bagian dari Rumah sakit, aku pun sempat terpana melihat fasilitas Rumah sakit yang juga begitu Modern dengan mengikuti perkembangan ilmu medis yang membuat kami sebagai para Dokter merasa sangat terbantu dan juga sebagai wadah menambah wawasan yang lebih luas kepada kami. Waktu kembali berputar dan akhirnya kami bertemu dengan para petinggi Rumah sakit, dan seperti apa yang dikatakannya padaku saat kemarin...


“ Karena posisi ini baru kuterima tidak kurang dari sebulan, maka dari itu aku pun meminta kerja sama dari kalian semua.”


Ucap Turan yang memperkenalkan diri sebagai Direktur menggunakan bahasa turki


“ Baiklah, semua Dokter diharapkan menuju Ruanganya masing masing, kecuali Dokter Almira, Dokter Jessy, dan Dokter Lee young yang akan melakukan sesi terapis konsultasi di ruangan ini..”


Ucap Seorang perawat senior kepada seluruh orang di ruangan dengan bahasa turki


“ Semoga lancar.”


Bisik Turan kepada Almira sembari melewatinya menggunakan bahasa turki


Menundukkan kepala padanya seraya menghormatinya, tak lama aku dan beberapa Dokter lainnya yang berdiri terdiam dikejutkan dengan kedatangan beberapa Dewasa dan Anak anak yang dalam kondisi Disabilitas. Kursi roda dan bantuan sebuah tongkat pun menghiasi tubuh mereka yang masih merasa sulit untuk berjalan karena penyesuaian yang harus mereka lakukan.. Di ujung pertemuan, seorang suster berjalan kearahku dan Dokter lainnya dengan menyerahkan secarik kertas tentang detail pembagian tugas yang akan menjadi Dokter dari para pasien pasien ini..


Tersadar akan 3 anak kecil dan 2 orang dewasa yang menjadi pasienku, sebelum bertemu dan menyapa mereka, aku pun melihat dengan jarak yang sedikit menjauh tentang bagaimana kondisi mereka saat ini. Mencoba untuk menanyakan bagaimana bisa keadaan mereka bisa sampai seperti ini pun terlihat percuma melihat rasa terpukul dan trauma yang begitu terlihat dari wajah mereka saat ini yang sedang mencari tahu siapakah Dokter pendamping yang akan mengisi hari hari mereka selama 3 bulan ke depan.


“ Selamat pagi.. Perkenalkan saya Dokter Almira yang akan menjadi Terapis kalian dalam 3 bulan ke depan.. Apa ada hal yang ingin dikatakan padaku diawal pertemuan ini?”


Ucap Almira menggunakan bahasa turki kepada kelima pasien itu dengan tersenyum menggunakan bahasa turki mencoba untuk menundukkan tubuhnya


“ Hanya 1 pertanyaan kami padamu..”


Ucap salah satu pasien kepada almira


“ Katakan, apa itu?”


“ Kenapa kau ingin membantu kami disaat kami sendiri sudah merasa lelah dengan kenyataan hidup bagi diri kami masing masing?!”


“ Hmm anda.. Saudari Elif usia 24 tahun.. Lalu anda saudara Derya usia 19 tahun, lalu ada adik kecil yang tampan bernama Kismet dan Harka yang sama sama berusia 12 tahun.. Terakhir tuan puteri kami bernama Emine berusia 8 tahun.. Apa ada yang terlewat olehku?”


Ucap Almira yang tersenyum kepada para pasien


“. . . . . . . . . . . . .”


Para Pasien yang terdiam mendengar Almira yang berbicara


“ Aku bukan seorang terapis yang bijak seperti Dokter Psikolog lainnya. Jadi dengan berat hati aku mengatakan, kalian akan sulit untuk bertahan hidup.”


“ Apa?.. Apa yang dia katakan? Apa kau menyuruh kami untuk mati? Apa kami benar benar sudah tidak bisa tertolong?”


Ucap beberapa pasien kepada Almira dengan tatapan penuh tanya dan ketakutan


“ Kalian tahu aku bisa membantu kalian, tapi kalian tidak membuka diri kalian padaku.. Jadi, bagaimana aku bisa membantu?”


“ Tidak kah kau lihat kondisi kami saat ini?”


“ Kebohongan besar jika aku katakan kalian akan baik baik saja. Tapi, satu hal yang bisa aku katakan.. Kenyataan hidup ke depan, akan lebih sulit dari yang kalian bayangkan. Kalian bertahan hingga saat pasti karena suatu alasan, dan karena itu aku disini untuk mencoba membantu kalian semua..”


“ Tapi, anggota tubuh kami sudah...”


“ Akan aku ajarkan apa arti dari kesanggupan diri. Jadi, maukah bekerja sama denganku?”


Almira yang kembali tersenyum mengulurkan tangan kepada para pasien yang disambut dengan baik


. . . . . . . . . . . . .


Waktu pun berlalu, tak terasa 2 pekan sudah aku lewati di kota indah ini. Kedekatan kami mulai terikat namun aku masih sedikit mengalami kesulitan saat mencoba sesi terapis kepada Emina yang selalu melakukan perlawanan dengan melemparkan barang barang padaku. Kondisi Disabilitas yang Emina alami memang sedikit lebih sulit dibanding yang lain karena akibat kecelakaan yang dialaminya di usianya yang terbilang muda, dia sudah kehilangan pendengarannya dan salah satu kakinya mengalami kelumpuhan yang hingga kini masih belum diketahui apakah bisa disembuhkan atau tidak karena Emina selalu melakukan penolakan dengan perlawanan saat akan dilakukan pemeriksaan.


Ditengah siang hari pada musim gugur saat ini, terduduk di area taman rumah sakit dengan melahap sebungkus Roti daging dengan secangkir berukuran sedang susu hangat, pikiranku pun melayang tentang apa yang harus aku lakukan kepada Emina yang masih saja selalu melemparkan barang barang, yang membuatku khawatir akan kondisi keselamatan dirinya sendiri.. Awalnya ku kira itu adalah ketakutanku saja, namun ternyata itu semua benar benar terjadi...


“ DOKTER ALMIRA! DOKTER!”


Seorang perawat yang berlarian mencoba mencari Almira di halaman taman menggunakan bahasa turki


“ Aku disini! Ada apa suster Hande?”


“ Emina! Dokter, entah bagaimana dia berhasil mengunci diri di ruangan konsultasi. Dan berdasarkan rekaman CCTV, Emina selalu melihat kearah luar jendela yang sedang terbuka lebar!”


Tidak lagi mendengar penjelasan yang Suster Hande katakan, aku sudah tidak memperhatikan lagi jadwal makan siangku yang berantakan dengan berlari menuju lantai 10 tempat Emina berada. Dengan nafas yang tersenggah, terlihat semua orang disini sedang berusaha membuka pintu dan beberapa pasien yang terlihat ketakutan melihat kondisi saat ini.


“ APA YANG KALIAN LAKUKAN? BAWA MEREKA SEMUA KEMBALI KE KAMAR MASING MASING! DAN KAU, SEGERA MENUJU KEPALA BAGIAN UNTUK MEMINTA KUNCI KADANGAN!”


Ucap Almira yang menunjuk para perawat untuk membawa pergi para pasien dan menyuruh seorang bagian keamanan untuk segera pergi menuju kepala bagian menggunakan bahasa turki

__ADS_1


Hari terberatku.. Apa akan terulang kembali di kota yang indah ini?


__ADS_2