Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 23


__ADS_3

Malam ini pikiranku betul betul teralihkan.. Aku bahkan tidak bisa sama sekali untuk fokus saat membaca data mengenai Talita dan juga temannya. Meskipun aku mencoba untuk tetap berkonsentrasi, namun itu tetap saja gagal. Aku berdiri dan menyalakan tablet untuk menyusun ulang jadwal dan data pasien, tapi yang kulakukan hanya melihat foto wallpaper ini yang terdiam tak bergeming merasa bodoh pada diri sendiri.. Kita bisa melihat jika orang itu menyukai kita dari tatapannya.. Setidaknya itu yang mereka katakan padaku. Saat melihat difoto ini, Serkan memang melihat kearahku dengan senyuman diwajahnya.. Ya, disini aku memang cerewet dengan perkataan konyol untuk menghiburnya, kupikir dia tersenyum hanya karena kelakuan konyolku padanya. Tapi betulkah tatapan itu karena dia..


“ Kak mira, sudah tidur?”


Ucap Andre yang mengetuk kamar Almira yang terbuka


“ Masuklah.. Ada apa dre? ”


“ Aku lupa, Flashdisk ini terjatuh saat Kak Serkan membuka jasnya untuk mengobati tangannya yang terluka saat itu.. Untungnya aku yang melihat dan mengambilnya..”


“ Kenapa kau tidak langsung menyerahkannya langsung?”


Almira yang mengambil Flashdisk itu dari tangan Andre menatapnya kebingungan


“ Saat Mama panik? Kakak jelas tahu seperti apa mama jika sedang panik. Dari situ ada yang datang ke studioku, dan aku terlupa “


“ Baiklah.. Terima kasih..”


“ Kak.. Aku tahu, tidak baik mencampuri urusanmu. Tapi, mungkin sudah saatnya kakak melihat niat Kak Serkan yang menurutku  serius padamu. Aku juga putus dengan Husna.. Dia mengatakan aku dan dia sangat berbeda, tidak ada kecocokan”


Andre yang tertunduk lemas dan duduk di atas ranjang Almira


“ Apa? Bukankah kalian baru sekitar... 5 bulan menjalin hubungan?”


“ Aku ingin mendinginkan kepalaku, tapi uang hasil studio aku pakai untuk membeli obat papa.. Kau tahu harga obat papa berapa harganya kan? Tapi papa menolaknya dan memarahiku.. Akhirnya mama yang memarahi papa dan mengambil obat itu untuk diminum papa”


“ Kau.. Lakukan itu? ”


" Jangan menyindirku lebih jauh lagi.. Tunggu... Kak, apa dia pasien kakak?”


Andre yang melihat Foto profil Talita di layar Laptop Almira


“ Kau, mengenal gadis ini?”


“ Dia sekampus denganku, 1 angkatan dibawahku.. Dia memang cantik tapi karena kaya raya, banyak yang seperti memanfaatkannya..”


“ Maksudmu?”


“ Saat itu aku dan temanku berada disalah satu tempat makan area kampus, dia datang bersama teman temannya. Saat sepertinya sedang ke toilet dan bill tagihan datang, teman temannya pergi dan menyuruh pelayan menyampaikan padanya tiba tiba ada kelas tambahan, tapi kulihat mereka pergi kearah yang berlawanan dari kampus dan menyuruhnya membayar tagihan itu. Bahkan ada kabar yang beredar bahwa dia gadis yang tidak baik baik. Karenanya suka terlihat luka lebam di tangannya..”


Pendapatku soal talita semakin meyakinkan.. Sepertinya dirumah pun dia mendapat perlakuan kasar.. Tapi oleh siapa? Apa orang tuanya? Pikiranku langsung mengarah pada data keluarga dan  langsung mencoba mencari data mengenai ayahnya yang ternyata adalah seorang wakil bupati dan ibunya adalah seorang wanita karier yang memiliki boutique yang sudah ternama.. Lingkungan tempat tinggalnya pun dikawasan elit.. Aku mencoba mencari data mengenai temannya yang terluka dan seperti yang dikatakan Talita, keluarganya sama seperti Talita dan bahkan mereka tinggal dalam satu kawasan yang sama.. Aku mencoba mencocokkan kejadian, waktu, dan apa saja yang pernah talita katakan dan temannya katakan.. Hingga akhirnya aku mengerti apa yang terjadi padanya..


....................


Hari ini hari liburku, sejujurnya aku belum mempunyai acara hari ini.. Bicara soal acara bagaimana kabar Lilian dan Kirey setelah Emre dan Hammet bertemu dengan orang tua mereka belum terdengar sema sekali olehku hingga sedikit membuatku khawatir.. Kenapa mereka tidak mengabariku, atau jangan jangan terjadi sesuatu dengan mereka? Aku mencoba menghubungi Lilian, tapi dia sama sekali tidak menjawab panggilanku.. Akhirnya aku mencoba menghubungi Kirey, dia juga tidak menjawab panggilan dariku.. Namun diakhir kirey mengirimkanku sebuah pesan akan menghubungiku kembali.. Ada apa dengan mereka?


Tersadar akan kasus Talita kembali, aku mencoba mencari referensi untuk kasus yang di alami oleh Talita, serta bagaimana penyelesaian yang mereka lakukan. Terdiam melihat terlukanya para korban bahkan lebih memilih untuk terdiam karena terlukanya hati yang sangat dalam pun terlihat jelas dari rekaman video yang kudapatkan sebagai Referensiku. Entah hanya iba atau karena profesiku, melihat ini membuat darahku mendidih dan ingin sekali kulakukan sesuatu untuk menolong Korban seperti ini.. Tak lama berlalu, handphone tiba tiba berdering..


“ Halo, apa anda wali dari saudari Talita?”


Ucap seorang Pria


“ WALI? TALITA??.... Maaf, apa yang terjadi padanya?”


Almira yang terkejut namun mencoba meredam emosinya


“ Dia tertangkap tangan mencuri ditoko kami. Bisa anda datang kemari?”


“ APA??”


Tak menunggu waktu lama kembali aku segera berganti pakaian untuk datang ke lokasi toko yang dimaksud.. Aku meminta Andre untuk mengantarku karena kondisi kakiku yang masih terasa sakit.. Saat sampai, terlihat sedikit ramai orang orang berkumpul dan aku pun segera masuk kedalam untuk melihat kondisi Talita. Sindiran mata tajam yang menusuk serta hinaan pun terdengar sangat jelas olehku yang mereka lakukan dan ditujukan kepada Talita. Terdiam melihatnya berdiri di ujung lorong dengan kepala mendongkak keatas dengan angkuhnya yang membuat orang disekitarnya hanya semakin merasa kesal padanya..


Menghembuskan nafas panjang, akhirnya aku pun menghampirinya dan salah satu pegawai memperlihatkan sebuah tas yang berisi sekotak susu bayi, beberapa cemilan dan mie instan.. Aku melihat kearah talita dan akhirnya Talita pun menundukkan wajahnya. Mereka menjelaskan ada seorang wanita berteriak dan mencoba menahan Talita yang mencoba melarikan diri. Begitu mereka menghampiri terlihat ditangan Talita memegang tas yang penuh berisi semua barang barang itu. Akhirnya aku  meminta rekaman CCTV, namun sayangnya CCTV di area itu sepertinya rusak karena camera yang bermasalah.. Sedikit merasa bingung Andre menawarkan diri dan memohon mengajukan dirinya untuk melihat kondisi camera dan memeriksa rekaman CCTV. Andre masuk ke dalam ruangan internal dan ternyata membutuhkan waktu sedikit lama, namun kami semua pun menunggunya.. Talita masih tidak berani menatapku dan seolah menghindariku.


“ Jujurlah, Apa kau sudah melahirkan seorang anak??”


“ APA...??!! Jaga bicaramu tante!!”

__ADS_1


Ucap Talita dengan penuh kesal pada Almira dengan memalingkan wajahnya


“ Aku mengerti. Lalu, berikan kartu tanda mahasiswa dan identitasmu tanpa bertanya apa pun. SEKARANG!”


Almira yang berbisik kepada Almira dengan sedikit meninggikan nadanya


“ Kak.. Rekaman CCTV sudah ada, lihatlah..”


Andre yang tiba tiba membuka pintu dan menyuruh masuk untuk melihat rekaman itu


Dari rekaman tersebut terlihat seorang wanita sedang berada dilorong khusus persediaan bayi dan memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.. Lalu talita datang dan sepertinya melihat tindakan dari wanita itu.. Terlihat talita dan wanita itu seperti beradu argument hingga berakhir talita mengambil tas yang berada ditangan wanita itu dan wantita itu berteriak memanggil petugas seolah dia yang mencuri semua barang itu.. Karena para petugas terlalu fokus kepada Talita yang berusaha menolak dan melakukan perlawanan, wanita itu berlari pergi meninggalkan toko tanpa ada yang menyadari..


Begitu melihat rekaman CCTV itu semua pegawai langsung terdiam, dan aku langsung meminta mereka menjelaskan kepada semua pembeli yang berada dan melihat kejadian ini agar tidak salah paham.. Para pegawai itu pun akhirnya klarifikasi kepada semua pembeli dan akhirnya keadaan kembali tenang dan sebagian pembeli berlalu pergi.. Aku menegur pegawai itu dan memperlihatkan kartu mahasiswa milik Talita kepada mereka untuk membuat mereka lebih percaya.. Mereka semua pun menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Talita.. Kami pun keluar dari toko dan berniat mengantarkan talita kembali ke hotel.. Selama perjalanan aku berbincang kepadanya..


“ Lain kali lebih baik memberitahu kepada pegawai dari pada kau langsung bertindak langsung.”


Ucap Almira dengan tidak memandang Talita


“ Berisik! Tunggu, kau.. Kakak angkatan ku bukan? Cowo ceroboh yang menjatuhkan pamflet?”


Talita yang tiba tiba maju ke depan dan bereda ditengah tengah Andre dan Almira


“Ya..”


“ Bukankah kau harus mengucapkan sesuatu padanya?”


Ucap Almira yang mencoba menegur Talita


“ Berapa jumlah uang yang kau mau karena telah membantuku?”


“ TALITA!! ”


Almira langsung melihat Talita dengan begitu marah


“ Te.. Terima kasih telah menolongku..Oiya, Aku tadinya berniat mengajak kakak tampan itu keluar untuk bermain bersamaku, tapi ternyata dia sudah check out dari hotel”


“ Apa? Serkan pergi?”


 “ Yaa.. Kata pegawai itu sekitar pukul 3 dini hari dia tiba tiba Check Out dengan tergesah gesah.. Sepertinya ada masalah yang menimpanya. Lalu karena dia tamu VIP  pegawai hotel menjelaskan Kakak itu membiarkanku tetap berada di hotel lalu kirimkan rincian bill tagihan padanya melalui email..”


Aku memberanikan diri untuk mencoba menghubungi handphone Serkan beberapa kali namun tidak satu pun dari panggilanku dijawab olehnya.. Apa dia benar benar marah kepadaku? Apa dia kembali pulang ke Istanbul? Apa dia akan kembali berkunjung kemari? Kepalaku dipenuhi beberapa pertanyaan yang tidak ada jawabnya.. Melihat aku sedikit resah, Andre mengalihkanku dengan bertanya kemana kami harus pergi? Aku mencoba berpikir sejenak dan melihat kearah Talita.. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke toko dan restaurant dimana papa dan mama sedang bekerja.


Saat sampai Andre langsung menuju ke studio foto miliknya, sepertinya toko kue mama dilantai atas hari ini tidak begitu ramai oleh pembeli hingga akhirnya aku membawa Talita menuju restaurant untuk membantu papa. Terlihat sangat ramai dan gaduh sekali hari ini karena halaman belakang sedang di sewa dan banyak tamu yang datang menghadiri acara ulang tahun ini.  Aku menarik tangan Talita menuju ruangan pegawai dan memakaikannya standar perlengkapan pelayan di restaurant papa.. Tanpa berkata apa pun, Papa hanya tersenyum padaku dan mencoba untuk mengerti apa yang sedang kulakukan saat ini.. Selesai bersiap aku membawa Talita berkeliling ke pantry, dapur bersih dan dapur kotor serta menjelaskan padanya tugas dan apa saja yang dilakukan disini..


“ Kurasa kau sudah cukup mengerti..”


Ucap Almira sembari memeriksa layar Handphonenya


“ Tanteee... Apa yang kau lakukan padaku saat ini? Kenapa aku harus berada di sini?”


“ Bekerja..”


Almira yang menatap Talita dengan serius


“ APA?? Kau menyuruhku bekerja?? Sebagai PELAYAN??”


“ Ya.. Tidakkah kau lihat, aku juga sama seperti mu.. Aahh kau jangan heran jika ada pelanggan membawa makanan atau minumannya ke studio foto disamping.. Mereka tidak bermaksud lari atau kabur tidak membayar, itu karena mereka sudah memiliki janji pemotretan di studio milik Andre..”


“ Jadi studio itu milik kakak angkatan?”


Talita yang mencoba mencuri pandang dengan menunjuk kearah studio Andre


“ Milikku! Karena aku lah investor utama. Ikuti aku! kau bantu aku karena kakiku masih sangat sakit untuk berjalan cepat!”


“Apa?? Tunggu dulu......”


Seperti dugaanku, gadis ini hanya merasa kesepian.. Dia menahan emosi dirinya sendiri sehingga melakukan suatu perlawanan.. Talita cepat belajar dan dia pun tidak sungkan atau bahkan menyingkirkan jati dirinya yang merupakan anak dari orang kaya raya yang memiliki kedudukan.. Bahkan mungkin tidak pernah sama sekali pun dia lakukan hal ini di kesehariannya.. Namun hari ini dia terlihat senang, bahkan senyuman pun terlihat diwajahnya meskipun dia berkeringat karena kelelahan.. Saat istirahat siang dan berganti shift kerja dengan yang lain, aku mengajaknya berkenalan dengan para pelayan dan karyawan lainnya.. Jujur awalnya aku tidak menyangka talita akan beradaptasi dengan cepat, namun ternyata dia gadis yang ceria.. Andre tiba tiba datang karena merasa lapar setelah bekerja tanpa henti karena ramai pengunjung berdatangan kestudionya.. Bahkan dia sampai lupa untuk menaruh cameranya dan membawanya kemana pun dia pergi.. Talita melihat kearah andre menundukkan kepalanya dan mereka pun saling tersenyum satu sama lain..

__ADS_1


Saat selesai menyantap makanan dan minumannya, mataku terus mengarah kepada andre dan talita. Tanpa disadari andre terus menatap pada talita saat ini.. Memang talita merupakan wanita cantik, tak heran jika para pria melihat kepadanya.. Lalu andre mengambil cameranya dan mengatur posisi, mengarahkan cameranya kepada talita dan mengambil gambar talita lalu tersenyum saat melihat hasil foto yang dia ambil.. Aku membiarkan mereka dan berlalu pergi keluar dari restaurant.. Kali ini pun aku memberanikan diriku untuk menghubunginya, namun masih saja tidak ada jawaban atau balasan darinya.. Apa hubungan kami akan berakhir dengan cara seperti ini?


.........................


Malam menjelang selesai mengantarkan Talita kembali ke hotel dan kami kembali ke rumah, aku kembali memeriksa luka dikakiku yang sepertinya masih memerlukan balutan perban. Bahkan terasa sedikit bengkak karena aku memaksakan diri membantu Papa bersama Talita hari ini.. Kembali aku memakai plester kompress yang diberikan Serkan untukku, kembali memeriksa handphoneku dan ternyata dia masih tidak membalas panggilanku bahkan satu pesan pun tidak dia kirimkan. Apa hubungan kami akan berakhir seperti ini? Tidak bisakah setidaknya, aku menjadi teman layaknya Lilian dan Kirey? Tak lama handphone ku berbunyi kupikir itu adalah Serkan, namun ternyata itu adalah Kirey ingin melakukan videocall denganku..


“ Mira.. Maaf.. Hammet baru kembali ke istanbul tadi sore, jadi saat kau menghubungiku...”


Ucap Kirey yang terlihat sibuk membereskan kamarnya


“ Aah, aku mengerti.. Lalu bagaimana pertemuan kalian? Lancar?”


“ MIRAAAA....”


Kirey yang langsung terduduk di depan layar handphonenya memberikan expresi gelisah


“ Kenapa? Ada apa? Jangan membuatku takut..!”


“ Hammet berkata akan serius kepadaku dan memohon ijin kepada orang tua untuk memberikannya waktu untuk membawa keluarganya datang berkunjung kemari..”


“ Syukurlah.. Kau membuatku takut!! Jadi kau akan menjadi nyonya besar juga seperti Lilian? Dia mengirimkan sebuah foto padaku”


“ Biar kutebak, Sebuah cincin ditangannya?”


“ Yaa...”


“ Dasar anak itu!! Dia juga sama mengirimkannya padaku. Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana Serkan selama berada disana?”


“ Dia pulang tanpa memberitahu padaku”


“ Apa? Kenapa?”


“ Terakhir kami tidak sengaja bertemu kembali dengan Kak Reza dan Serkan kembali terlihat sangat kesal. Diakhir aku..... Mengungkit soal berguzar padanya...”


“ APA?? Aahh.. Kami lupa memberitahukanmu!!”


Kirey yang menepuk kepalanya sedikit merasa kesal


“ Kenapa? Ada apa?”


“ Serkan akhirnya mengetahui bahwa Berguzar yang berada dibalik peristiwa pada malam itu.. Bu farrah yang memberitahukannya. Serkan langsung menemui Berguzar dan memutuskan semua hal mengenainya lagi.”


“ Apa?”


“Awalnya aku dan Lilian berpikiran sama denganmu, tapi begitu melihat Serkan begitu emosi saat mengetahui kebenaran itu, dia seperti hilang akal dengan mengancam saat datang kerumah dimana orang tua dan Berguzar kebetulan sedang bersama. Berguzar terlihat beberapa kali memohon maaf, bahkan kulihat sendiri dia datang ke restaurant Pak Mete untuk memohon bertemu dengannya. Namun Serkan sudah sangat muak kepadanya.”


Mendengar Kirey menceritakan semua padaku, serasa aku ditampar berkali kali dalam pikiranku.. Terlambat sudah bagiku? Bahkan Serkan sampai seperti ini padaku tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya sedangkan semua orang disekitarku dapat melihat itu? Apa rasa takutku yang menghalangiku? Sebenarnya akulah yang membutuhkan pertolongan bukan? Aku gagal sebagai seorang psikolog jika aku sendiri tidak bisa mengerti apa yang terjadi dan aku rasakan.. Saat sedang merenung, Andre kembali mengetuk pintu kamarku.. Dan meminta maaf padaku karena melihat isi dari flashdisk milik Serkan.. Tapi karena tahu aku tidak akan pernah melihat isi flashdisk itu, andre merasa harus memberitahuku tentang isi dari flashdisk itu.. Akhirnya aku pun melihat isi dari flashdisk itu..


Kata sandi dalam file tersebut ternyata adalah tanggal ualng tahunku.. Lagi lagi pikiranku melayang akan Rasa yang tak menentu ini kepada Serkan.. Saat aku mencoba ternyata file itu terbuka.. Sungguh membuatku tak bisa berkata, bahkan andre pun terdiam melihat kearahku.. Aku mencoba membuka file itu ternyata berisi foto bahkan video, dan itu semua adalah diriku.. Apa maksud semua ini?


“ Ingat saat kau baru saja kembali dan meminta melakukan renovasi kembali untuk toko dan restaurant mama papa? Lalu pagi pagi sekali mama, papa, dan aku pergi dihari kau wawancara di rumah sakit?”


Ucap Andre yang menunjuk salah satu foto di layar laptop Almira


“ Ada apa dengan itu?”


“ Kami mendapat kabar bahwa uang Papa dibawa lari oleh rekan kerjanya sehingga menunggak melakukan pembayaran sebelumnya”


“ APA?? Kenapa kalian...”


“ Intinya saat itu akhirnya mama dan papa memutuskan untuk menghentikan pembangunan karena dana sudah tidak ada lagi. Tapi tiba tiba seorang pria muncul dengan memberikan kartu nama dan pria itu adalah seorang pengacara. Pria itu membantu bernegosisasi dan akhirnya masalah selesai dan ternyata beban biaya ditanggung oleh pria itu.. Saat mama dan papa bertanya, pengacara itu menolak dengan tegas bahwa dia hanya disuruh oleh atasannya.. Dan coba kakak lihat di file berkas ini, ini adalah rekan bisnis Kak Serkan.. Lalu aku mencoba mencari firma hukum pengacara itu ternyata dia adalah rekan bisnis Kak Serkan.. Lihatlah kak dan ini kartu nama pengacara itu..”


“ Apa maksud semua ini?”


“ Awalnya aku pikir kak serkan memata mataimu, apa dia pria mesum atau pria aneh? Tapi menurutku dia hanya ingin tahu kabar tentang keseharianmu saja.. Karena dari semua foto dan video ini terlihat saat sedang kau berada diluar dan tidak ada yang aneh dari foto ini”


Aku terdiam tak berkata apa pun. Andre yang melihatku seperti ini mengerti dan berjalan keluar dari kamarku.. Jika benar yang dikatakan Andre saat ini.. Lalu penjelasan Kirey tadi.. Berarti aku melakukan kesalahan besar dalam hal ini. Apa aku yang salah?  Hubunganku dan dia memang sudah tidak terdapat kejelasan sejak awal kami bertemu.. Jodoh apakah ini? Apa takdir mempermainkan kami? Namun sepertinya ini sudah sangat terlambat bukan? Serkan... Apa kau juga berpikir kita sudah terlambat?

__ADS_1


__ADS_2