
Angin hangat kini berubah menjadi sedikit terasa lebih panas.. Sepertinya musim kembali merubah arah anginnya menjadi musim panas.. Saat perkuliahan selesai rekan rekan sekampus mengajakku untuk pergi berlibur selama 2 hari untuk pergi ke pantai, namun hazal dan ozge memperingatkanku akan jurnal akademik ku yang masih juga belum selesai.. Ya betul, almira lupakanlah untuk pergi berlibur, kau juga sudah tahu itu kan.. Hazal dan ozge tertawa seolah menyindirku kali ini.. Tahu aku merasa sedikit kesal, mereka akhirnya mengajakku ke cafe yang terletak dekat dengan bosphorus.. Kami pun berbincang sedikit lebih lama dari biasanya sehingga tak terasa waktu pun berlalu menjelang senja.. Selesai bersantap dan bercanda, ozge menawarkan untuk mengantarkanku namun aku menolaknya, entah mengapa senja kali ini terlihat begitu indah hingga aku ingin berjalan jalan dahulu sebelum pulang..
Aku berpindah tempat sedikit kearah selatan, sepertinya aku baru melewati jalan ini namun bosphorus terlihat sangat indah selama menyusuri sepanjang jalan ini.. Aku terus berjalan hingga sampai pada pertigaan jalan utama, Jujur aku sedikit bingung kemana arah tujuanku saat ini.. Tapi sangat sayang jika aku melewatkan senja yang indah kali ini dengan hanya berdiam diri di apartment.. Akhirnya aku memilih belokan yang lebih mengarah pada arah taman bosphorus, meski pun aku tidak tahu kemana akhir jalan ini setidaknya aku masih berada di titik yang sama dan tidak melenceng begitu jauh seperti waktu itu.. Aku kembali berjalan dan merasa kagum dengan pemandangan kali ini, sampai kembali pada pilihan jalan utama antara belokan kanan atau kiri, aku kembali memilih belokan yang menjurus pada bosphorus.
Kembali berjalan tiba tiba aku merasa mengenali arah jalan ini.. Aku mencoba mengingatnya hingga akhirnya sampai pada sedikit jalan yang sedikit menikung.. Kenapa aku bisa sampai disini? Bukankah ini menuju restaurant Pak Mete dan Kak Ozcan? Akhirnya aku memutuskan menuju kearah sebaliknya dan menuju taman.. Saat sampai aku mencari tempat duduk yang terlihat kosong.. Aku berjalan dan berjalan dengan menikmati senja kali ini.. Tapi aku tidak menyadari ternyata langkah kakiku ini mengarah kepadanya yang kembali duduk termenung seorang diri di tempat duduk yang biasa dia tempati.. Aku melihat handphone ku ternyata ini adalah tanggal 24. Dia masih saja melakukan hal ini.. Sudah 2X pertemuan sesi terapi yang tidak aku hadiri, dengan berbagai alasan kepada Pak Onur agar aku tidak bertemu dengan pria ini. Namun yang terjadi hari ini tanpa disengaja membuatku harus melihatnya lagi.. Apa masih tidak ada perkembangan untuknya?
Aku memutar tubuhku dan duduk sedikit menjauh darinya namun masih terlihat jelas jika aku menoleh kearahnya.. Aku duduk dengan melihat bosphorus yang indah, lamunanku melayang dan aku kembali mencoba mencerna perkataan terakhir kali dari Kak ozcan.. Terakhir kali dengan sangat memohon padaku untuk terus membantu Serkan mengingat kejadian yang dia lupakan.. Mereka semua khawatir dengan adanya Berguzar disampingnya. Lamunanku kembali melayang saat mengingat Kak ozcan berkata, Serkan mencoba menerima kondisi Berguzar dan jika memang Berguzar akan melahirkan anak dalam kandungannya, dia akan bantu untuk mengurusnya. Hati seperti apa yang dimiliki pria itu? Tak lama Serkan mengatakan itu, Berguzar bertemu dengan pria yang menurut Pak Mete dan Kak Ozcan adalah ayah dari anak dalam kandungannya.. Mereka memang terlihat sangat mesra. Kak Ozcan pun menjelaskan merasa bersalah karena mengirimkan video itu kepada Emre dan terlihat oleh Serkan hingga membuat Serkan merasa marah hingga terjadi perkelahian antara Serkan dan pria itu. Diawal Serkan mencoba untuk menahan emosi tapi pria itu berdiri dan tiba tiba memukul wajahnya. Setelah perkelahian hingga mengakibatkan kecelakaan dan kejadian lainnya.
Waktu tak terasa membuat langit menjadi gelap namun cahaya bintang tak kalah menawan untuk disaksikan.. Waktu menunjukan pukul 10 malam, apa aku sudah selama ini berada disini? Kulihat tiba tiba Serkan berdiri dan berjalan menuju keluar taman. Dari jauh kulihat sebuah mobil dan Emre keluar dari mobil itu dengan membawa segelas cup coffe ditangannya. Serkan mengambil dan meminumnya kemudian mereka berlalu pergi.. Apa sebenarnya yang kau lakukan saat ini almira? Apa kau sedang menunggunya? Hati dan pikiranku betul betul kacau seperti sulit untuk mengontrolnya. Sadarlah almira.. Itu bukan tempatmu.
.............................
“ Rey... Kirey.. Apa kau melihat almira? Pagi begini kemana dia pergi? Lusa kemarin Dia memintaku untuk menemaninya hari ini entah kemana”
Ucap Lilian yang mencoba membangunkan Kirey
“ Haah?? Dia tadi pergi pagi buta dengan terburu buru”
“ Apa??”
“ Dia berpakaian formal. . . . Sepertinya dia kembali untuk sesi terapinya..”
Ucap Kirey yang terbangun dan terduduk diranjangnya
“ Anak itu..!! Sepertinya dia sudah mulai menyadari apa yang ada di hatinya.”
“ Tapi sepertinya juga, dia lebih memilih untuk mundur..”
“ Apa yang harus kita lakukan pada anak itu..”
“ Ya, Aku merasa kasihan padanya. Terlebih jika dia menangis secara diam diam.”
“ Ya kau betul. Kau sudah lihat kamarnya? Berantakan! Dengan kertas dimana mana, aku berani bertaruh semalam dia bergadang untuk mencari data.”
“ Ya, dengan 8 buku tebal dengan laptop yang masih menyala..”
“ Kali ini sepertinya almira benar benar serius”
“ Ya..”
............................
“ Selamat pagi Pak Onur"
Ucap Almira menggunakan bahasa turki, menyapa dengan mengetuk pintu masuk
" Almira? Saya pikir Anda tidak akan datang ke sini kali ini juga.."
“ Ya, Maafkan saya pak onur"
“ Duduklah, kita akan mulai setengah jam lagi"
“ Maaf Pak, sebelum kita mulai... Bisakah saya berbicara dengan Anda?"
Almira berdiri di depan meja Pak Onur dan menatapnya dengan serius
“ Tentu saja. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Aku meminta ijin untuk mengambil alih dalam sesi terapi kali ini. Aku ingin ini menjadi yang terakhir bagiku untuk terlibat dengannya. Sudah cukup lama aku terlalu sering berada disekitarnya.. Pak Onur kemudian memanggil Serkan ketika ia datang dan mempersilahkanku untuk mengambil alih selanjutnya..
“ Serkan.. Maaf, duduklah.. Aku minta kali ini kau tidak perlu duduk secara terlentang dan kau juga tidak perlu melepaskan kacamata mu”
“ Apa?”
“ Dengarkan saja aku.. Aku juga sudah mendapatkan ijin dari Pak Onur”
“ Baiklah. Lalu apa yang harus...”
“ Lihat dan fokuskan matamu untuk melihat kepadaku”
“ Melihatmu?”
“ Ya. Buka matamu jangan kau tutup, lihat dengan sangat fokus kepadaku.. Dengarkan dan jawablah semua pertanyaanku tanpa ada jeda waktu.”
“ Baiklah”
Aku mulai sesi terakhir terapiku bersamanya.. Pak Onur memperhatikanku dari arah mejanya, emre juga sudah siap berada disampingku. Aku menggapai kedua tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.. Aku dekatkan sedikit wajahku kepadanya dan dia pun merespon dengan baik kepadaku. Saat ini aku memutar balik pertanyaan yang selalu onur bay berikan padanya.. Tidak langsung pada kenangan inti darinya tapi kenangan akan masa kecilnya.. Masa remaja.. Dan juga bagaimana tentang keluarga dan bagaimana dia dibesarkan.. Sejauh ini serkan merespon dengan sangat baik, kemudian berlanjut ketahap selanjutnya berupa pertanyaan tentang bagaimana hubungan sosialnya, pribadinya, dan kegiatannya.. Serkan masih sangat positive disini, lalu aku memintanya memberikan saran padaku..
“ Aku tersakiti oleh seorang pria yang kusayangi karena tidak bisa bersamanya. Pria itu menutup hati dan pikirannya. Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kulakukan?”
“ Kau sangat mencintainya? Jika ya, buatlah dia mengerti dan tidak mundur”
“ Bagaimana caranya? Apa kau tahu bagaimana rasanya jika ditolak saat kau mencintai seseorang? Mencoba bertahan seperti pohon yang lapuk. Tidak perduli dengan sekitar dan saat tersadar semua terlambat hingga kau menyesal?”
“ Ya. Aku tahu.”
“ Kau tahu?? Katakanlah padaku agar aku bisa mengerti apa yang harus kulakukan”
__ADS_1
“ Aku pun sebenarnya.... Aarrgghh!!!”
“ Aku tahu kau merasa pusing.. Serkan jangan tutup matamu dan lihat aku!”
“ Tidak bisa. Kepalaku....”
“ Bisa. Kau bisa. Lihat aku dan cobalah mengingat.. Serkan.. Lihat aku!!”
“ Almira.. tubuhnya kembali bergetar. Apa yang harus kulakukan?”
Ucap Emre yang terlihat Panik
“ Emre, pegang pundaknya bantu dia untuk tetap duduk tegap namun jangan menahannya dengan tenagamu. Lakukan secara perlahan.”
“Baiklah”
“ Serkan? Tarik nafasmu dan hembuskan.. Lemaskan kedua tanganmu..”
“ Kepalaku.. Terasa sakit almira”
“Aku tahu.. Perlahan buka matamu.. Kumohon.. Serkan??”
“ Aaarrghh!!”
“ Buka matamu.. Serkan.. Lihat aku..”
Membutuhkan waktu sedikit lama untuk Serkan yang mencoba menenangkan diri dan mengingat semua. Meski pun dia terlihat seperti sangat kesakitan, jujur berat hati ini melihatnya seperti itu. Namun aku mencoba untuk bersikap profesional dan membiarkannya dengan memberi waktu untuknya.. Tak lama Serkan menundukkan tubuhnya seperti suatu kenangan datang menghantam ingatannya. Dengan terjatuhnya kaca mata yang dikenakannya, aku mencoba untuk mengambilnya dan terlihat di bola matanya yang indah berwarna hijau, Serkan terlihat menahan linangan air matanya. Emre mencoba untuk menahan diri untuk tidak membantu dan juga merasa sedih di hadapannya. Tak lama Serkan kembali menegakkan tubuhnya dan menatapku tajam.
“ . . . . . . Almira, aku melihatmu”
“ Katakan.. Apa yang terjadi padamu Serkan?”
“ Wanita yang kucintai menghianatiku dan karenanya juga aku membunuh adikku”
“ Membunuh? Itu yang kau pikirkan? Lalu setelahnya? Apa yang terjadi?”
“ Aku.... Aku….”
“ Lihat aku.. Kubilang kau jangan menutup matamu.. Serkan? Lihat aku! Kau kenapa serkan? Bukankah banyak yang menyayangimu? Kenapa kau menutup hati dan pikiranmu?”
Ucap Almira yang memegang kedua tangan Serkan mencoba untuk menenangkannya
“ Aku takut, takut untuk menjadi seorang pengecut”
“ Kau tahu tidak semuanya adalah salahmu? Bahkan kau mungkin tidak bersalah”
“ Apa..? Apa kau mengingat semuanya?”
“ . . . Aku. . . .Ya. . . Aku ingat sekarang. Aku ingat"
Ucap Serkan yang menegakkan kepalanya melihat kearah Almira dan Emre
“ KAK?? "
Ucap Emre terkejut dan menahan rasa tangisnya
“ Aku ingat sekarang.... Apa yang terjadi.. Malam itu, perkelahian itu, Safiye datang dan...”
Tiba tiba Serkan mencoba menutup wajahnya agar tidak terlihat siapa pun bahwa sedang menangis
“Bagus.. Tenang, tarik nafasmu secara perlahan.. Biarkan ingatanmu mengalir..”
Ucap Almira yang kembali menggenggam kedua tangan Serkan
“ Mobilku... Rumah sakit… Janjiku... Emre, Ibu dan, AYAH??”
“ Mereka baik baik saja kak, kau sudah mengingat semuanya?”
Ucap Emre yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa tangisnya
“ Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku.....”
Serkan akhirnya tersadar dan dengan seolah mencoba rasa tangisnya yang tak terbantahkan
Aku melepaskan tanganku darinya dan kubiarkan Emre yang menangis mengambil posisi tempat dudukku untuk memeluk kakak yang sangat dia sayangi.. Terlihat Pak onur merasa terkejut dan dengan cepat menghampiri Serkan dan melihat kondisinya saat ini.. Memang seperti biasa Serkan mengeluarkan banyak keringat dan terlihat sedikit pucat, namun kali ini dia berhasil.. Dia berhasil menemukan dirinya sendiri.. Entah mengapa tanpa sadar, aku menitikkan airmataku.. Kenapa aku sama seperti Emre yang menangis kali ini? Emre bahkan terlihat bisa menyembunyikan tangisannya, namun kenapa tidak denganku? Begitu selesai, Pak Onur tidak lagi memberikan selembar kertas padaku tapi beliau seperti memberikan kertas yang beirisi pengakuan 2 sertifikat pengesahan untuk gelar Master's Degree terbaik.. Serta Sertifikat kedua berisi perijinan untukku dalam bidang pekerjaan. Apa akhirnya aku bisa bekerja di rumah sakit? Atau klinik ku sendiri? Aku langsung menatap Pak Onur..
“ Anda layak mendapatkan 2 sertifikat ini. Kerja bagus almira..)
“ Pak onur. . . . ."
Tanpa sadar Almira menangis di depannya
“ Jangan menangis.. aku takut jika seseorang melihatmu mereka akan salah paham denganmu)
“ Terima kasih banyak pak onur"
“ Anda layak mendapatkannya. Semoga beruntung"
__ADS_1
Aku berjalan menuju pintu keluar, seperti terlupa akan adanya serkan dan emre.. Aku pun terdiam ketika melihat mereka diluar ruangan masih menungguku.. Melihat lembaran sertifikat ditanganku, emre mengacungkan jari padaku seperti bangga dan memberikan selamat padaku.. Aku pun tersenyum padanya.. Lalu pandanganku mengarah pada serkan. Dengan kondisi seperti itu, dia berusaha menahan dirinya agar tetap tersadar.. Dia melangkah perlahan kearahku dan menaruh salah satu tangannya diatas kepalaku.. Dia mengusapnya dengan lembut lalu tersenyum padaku tanpa berkata apa pun.. Aku menggapai tangannya yang terasa panas dan menggenggamnya.. Seperti biasa dia berkeringat begitu banyak dengan nafas yang tersenggah..
Ingin kuberkata apakah kau baik baik saja? Segeralah membaik.. Aku merasa sedih melihatmu setiap kali kau seperti ini.. Namun sepertinya serkan mengerti tatapanku tanpa aku berkata banyak. Dia hanya membalas genggaman tanganku dan mendekatkan wajahnya lalu mengetukkan dahinya ke dahiku.. Terasa hawa panas darinya, nafasnya semakin tersenggah.. Dia pun mengangkat kembali kepalanya, tiba tiba seperti kehilangan keseimbangan emre langsung menghampiri dan memapah serkan menuju mobil.. Saat aku mencoba mengikuti mereka, serkan tiba tiba membalikkan tubuhnya dan menatapku.. Kemudian dengan kedua tangannya yang terasa panas dipundakku, mendorongku untuk mundur.. Terlihat dari tatapannya bahwa kali ini aku tidak usah menjaganya semalaman.. Tanpa berkata lagi dia membalikkan tubuhnya dan emre langsung membawanya masuk kedalam mobil dan mereka berlalu pergi. Saat melihatnya pergi, tiba tiba ada yang menghampiri dan memelukku..
“ ALMIRAAAA.. SELAMAT!! Kami tahu kau akan berhasil dalam waktu singkat”
Ucap Hazal dan Ozge menggunakan bahasa turki yang berlari dan memeluk Almira
“ Terima kasih Hazal... Ozge...”
“ Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya”
“ Hanya fokus hingga hari kelulusan. Kebetulan Tesis ku pun sudah selesai”
“ Ternyata kau lulus duluan dari pada kami. Kami akan sangat merindukanmu mir..”
“ Heyyy.. Bukan berarti aku kembali ke indonesia besok kan?”
“ Kita harus merayakannya.. AYO!!”
" Kemana?"
Mereka ternyata membawaku ke restaurant milik Pak Mete dan Kak Ozcan. Begitu kami sampai dan mencoba mencari tempat duduk, Kak ozcan tiba tiba dengan setengah berlari kearahku dan memelukku dengan erat.. Pak Mete pun tersenyum bahagia melihatku.. Lalu hazal memberitahu mereka tentang prestasi apa yang aku dapatkan hari ini, mereka juga terlihat sangat bahagia dan juga merasa bangga untukku.. Lalu Pak Mete menyiapkan meja diteras belakang dan mengatakan tidak usah membayar makanan dan minuman yang akan kami pesan. Seolah mengerti aku akan merasa keberatan mete bay menutu telinganya dan ozcan hanim sedikit mencubit tanganku..
Tiba tiba aku teringat akan serkan dan sepertinya emre belum memberitahukan pada mereka.. Apa dia seorang diri dirumah sekarang? aku pun memberitahukan kondisi serkan saat ini pada mereka, tapi mereka memberikan expresi yang berbeda.. Mereka terlihat terkejut dengan tatapan kosong, tiba tiba Pak Mete mengangkat kepalanya keatas seolah mencoba menahan airmatanya, sedangkan Kak Ozcan sudah menangis tak tertahankan.. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan mereka, aku pun mengingatkan kembali akan kondisi serkan yang kembali demam.. Mereka langsung bersiap siap, mengambil kunci mobil dan berlalu pergi.. Aku kembali dan duduk dibangku yang sudah dipersiapkan oleh Pak Mete, Hazal dan Ozge terlihat sangat puas dalam memesan makanan saat ini, aku pun hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil..
..............................
Waktu berjalan sedikit terasa lama kali ini.. Apa karena aku sedang tidak ada kerjaan? Apa aku harus kembali bekerja saja disana? Kak Ozcan pun masih menawarkanku pekerjaan.. Lumayan untuk tabunganku selama kurang lebih 3 bulan lagi aku akan berada disini.. Baiklah, akan kutanyakan diwaktu yang tepat.. Aku mencoba mencari aktivitas saat ini, mulai dari menyapu, lap lantai sampai yang berdebu pun aku bersihkan semua.. Setelah selesai, aku membersihkan diriku dan bersiap untuk pergi mencari makan malam. Saat sedang bersiap, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka, ternyata lilian dan kirey baru pulang dari kampus..
“ Selamat mir.. Kita bangga banget loh”
“ Hmm..? Apa kalian akan mentraktirku makan?”
“ Mir.. Apa kau akan pulang lebih cepat dari aku dan lilian?”
“ Kalian tahu mata kuliahku sudah terpenuhi.. Jurnal akademikku selesai dan tesis ku hanya tinggal tinjauan akhir”
“ Kenapa tiba tiba aku merasa sangat sedih saat ini?”
“ Ya.. Jadi teringat saat pertama kali kita datang kesini”
“ Ayolahh.. Kalian masih bisa datang ke sini sesuka hati kalian kan”
“ Maksudmu mir?”
“ Kirey kau punya hammet, Lilian kau punya emre”
“ Almira..!!”
“ Jika kalian berkunjung kembali untuk bernostalgia, belikan aku tiket pesawat juga ya.. Calon suami kalian itu kaya.. Jadi sepertinya tidak akan ada masalah kan..”
“ MIRAAA..!!”
“ Ehehehe.. Tapi, serius aku bertanya. Kalian akan hubungan jarak jauh? Sudah dibicarakan dengan matang? Bagaimana keluarga kalian?”
“ Seperti kau tahu saat orang tuaku kemari bulan lalu, Hammet pergi menemui mereka.. Kami membicarakan banyak hal”
“ Baguslah.. Dan kau lilian?”
“ Bukankah Emre juga mempunyai keluarga di indonesia karena serkan? Dia bilang paling tidak setahun sekali dia berkunjung ke indonesia, jadi jika aku nanti menikah dengannya aku tidak akan harus mengkhawatirkan itu. Keluarga ku pun sudah melihatnya melalui panggilan video dia memperkenalkan diri”
“ Baguslah..Tunggu.. apa itu berarti selepas ini kau langsung bekerja disini?”
“ Serkan sempat menawarkanku bekerja, namun aku bimbang..”
“ Kenapa?”
“ Aku ingin berusaha sendiri.. Meskipun serkan berkata proses recruitment perusahaan mereka tidaklah mudah”
“ Sangat seperti dirinya!!”
“ Ya kau betul sekali. Menyebalkan bukan?”
“ Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, aku rasa wajar dia seperti itu”
“ WOWWOOW... Ada yang membelanyaa.. Ciyeee”
“ Sebagai seorang pemimpin.... Pemimpin di hatinya.. ahahaha..”
“ Apa? Bukan! maksudku adalah...”
“ Yaa Yaaa.. Kau minta di traktir makan kan? Ayo kita pergi makan malam.. Kebetulan aku lapar”
“ Enaknya kita makan dimana ya?”
“ kudengar tempat makan yang baru buka itu enak..”
__ADS_1
“ Apa kalian mengalihkan pembicaraan??!! Heyyy.. Lilian.. Kirey... Tunggu aku!!”