
Jatuh hati pada seseorang yang berharga hingga mampu mengorbankan hal yang penting pun terdengar masuk akal bagi semua orang.. Kehadirannya, kata katanya, tatapan, senyuman, bahkan tangisannya mampu berubah hati kita seakan berubah menjadi terbalik seperti musim penghujan atau musim kemarau. Terduduk terdiam tak dapat melakukan apa pun yang hanya mengandalkan datangnya kabar baik dan bukanlah kabar buruk, menjadi suatu anugerah terbaik yang menjadi hadiah terbaik saat ini. Tak kala semua hal yang tidak masuk akal menjadi masuk akal disaat emosi menguasi pikiran dan hati karena kegundahan dan rasa pilu yang datang semakin menusuk tak berbentuk.
Apa kabarnya dan bagaimana dia akan bertahan? Tidak adakah sesuatu yang bisa aku lakukan untuknya, atau haruskan aku mengorbankan sesuatu yang seharusnya aku lakukan sejak lama untuknya.. Tak ingin penyesalan datang untuk kesekian kalinya yang hanya akan menyiksa naluri yang sangat ingin berada disampingnya, walau hanya melihatnya tersenyum dari kejauhan.. Tapi, sesudah kejadian ini, dapatkah melihatnya kembali seperti semula?
“ 4 jam sudah, haruskah kita bertanya kepada Dokter yang lain?”
Ucap Lilian penuh khawatir kepada Emre dengan sedikit berbisik
“ Kurasa bukan ide yang bagus meninggalkan Serkan seorang diri seperti itu.”
Ucap Hammet dengan sedikit mengarahkan pandangannya pada Serkan yang berdiri terdiam seperti patung selama beberapa jam
“ Mama juga sedang dalam perjalanan kemari, bersabarlah..”
Emre memeluk Lilian mencoba untuk menenangkannya
“ Kenapa wanita sebaik dirinya harus mengalami hal hal buruk seperti ini? Tidak cukupkah dahulu dia mengalami hal yang sama seperti ini?”
Kirey menadahkan kepalanya keatas mencoba untuk menahan airmatanya
“ Semua karenaku. Akulah yang menyebabkan Almira menjadi seperti ini.”
Serkan memukul pelan ke dinding kaca dengan tangannya kemudian menundukkan kepalanya
“ Hentikan, kita semua tahu bahkan Almira pun tahu, kau bu..”
“ EMRE?! Bagaimana kondisinya? Nak, bagaimana Almira? Bagaimana bisa hal ini bisa terjadi?”
Ucap Bu Farrah yang baru datang bersama suaminya dengan penuh gelisah bertanya kepada Emre dan Serkan
“. . . . Damien. Dia berniat untuk menabrakku, namun Almira menghalangi mobilnya yang sedang berbelok di tikungan pintu masuk parkiran kantor.”
Serkan menjelaskan dengan menundukkan kepalanya
“ Apa?. . . Da.. Damien?? Ba, bagaimana bisa dia...”
“ Ma, Pa.. Beberapa hari lalu Berguzar menjadi Pasien di Rumah sakit ini dan menjadi Pasien yang ditangani oleh Almira.. Ternyata selama ini, Berguzar menikah dengannya dan sedang mengandung anaknya..”
Emre mencoba menjelaskan dengan perlahan sembari duduk bersama Bu Farrah
“ Damien melihatku membela Almira tempo hari saat memaksa membawa Berguzar pergi dari Rumah sakit ini. Sepertinya karenakulah.. Semua ini..”
Serkan kembali menjelaskan dengan tertunduk dan mengepalkan tangannya
“ Suatu Kebetulan apa ini? Kenapa harus Almira yang menanggungnya? Apa salahnya?”
Bu Farrah melayangkan pikirannya dengan raut wajah kosong
“ Karenaku Ma. Semua karena Almira, mengenalku.”
“ Nak.. Serkan, kau..”
“ Tidak Pa! Akulah yang menjadi sumber masalah sejak awal bagi Almira. Apa yang harus aku lakukan Pa? Kenapa dia masih saja belum keluar dari ruangan itu?”
“ Tabahlah nak!”
Ucap Sang ayah memeluk erat Serkan yang mencoba menahan rasa sakit hatinya
“ Tidakkah Papa lihat darah di Jas ku ini? Ini adalah Darah Almira. Dia me..”
“ Papa tahu! Serkan, percayalah dia akan baik baik saja! Kau, tabahlah!”
Ucap sang ayah kembali dengan menepuk pundak Serkan dan menatap serius pada serkan
Detik kembali berdetak berganti menit, menit pun tak terasa berjalan menjadi detakan jam.. Hati yang semakin merasa gelisah pun sudah tidak lagi mampu untuk bertahan. Kasih sayang dari mereka yang menantikan kabar baik pun terasa pupus disaat melihat beberapa perawat berlalu lalang penuh kesibukan tanpa bisa kami bertanya walau hanya sedetik. Kaki pun kembali bergetar dengan mulut yang terbata bata, begitu melihat beberapa tabung darah yang dibawa kembali oleh perawat itu untuk kedua kalinya.. Tatapan mata yang menatap satu sama lain pun semakin menundukkan kepalanya akan ketidakmampuan menahan rintihan suara hati yang semakin menangis pilu..
“ Dokter Filiz? Bagaimana?”
Serkan tiba tiba berlari melihat Filiz yang berjalan melalui pintu samping ruang bedah
“ Aku saat ini belum dapat me..”
“ Apa dia membutuhkannya saat ini juga? Seperti yang kau tahu, hasil test ku semua baik dan kecocokan untuk melakukan Transplantasi Hati 85%. Aku siap jika sa..”
“ Tidak Serkan. Maafkan aku..”
Ucap Filiz yang membuang pandangannya kearah lain mencoba menghindari tatap muka dengan Serkan yang menatapnya tajam
“ Apa maksudmu? Dokter Filiz, bukankah dari awal aku me..”
“ Memang benar.. Namun, aku tidak bisa melakukannya, karena..”
“ Apa dia tahu? Apa Almira tahu, aku akan...”
“ Ya, dan dia sudah menolaknya. Maafkan aku.”
Ucap Filiz kembali dengan menundukkan kepalanya
“ Tidak bisa. TIDAK BISA!! NYAWANYA DALAM BAHAYA SAAT INI DAN KAU MENOLAK?”
Serkan yang kehilangan akal berteriak kepada Filiz
__ADS_1
“ Kak, ada apa? Pelankan suaramu!”
“ Aku tidak bisa melakukan operasi Transplantasi Hati pada Almira saat ini, karena dia sudah menolak pendonor siapa pun itu yang mencoba untuk me..”
“ Dan kau masih mendengarkannya?”
Ucap Serkan kembali dengan menahan emosinya
“ Ini adalah permintaan Pasien. Dan aku menghargainya. Maafkan aku, meski pun aku juga sangat ingin menyelamatkannya, aku tidak bisa jika dia sendiri meng..”
“ Bagaimana kau akan menyelamatkannya disaat dia mengeluarkan darah sebanyak itu? SEGERA LAKUKAN TRANSPLANTASI HATI!! Aku yang setuju! AKU YANG AKAN MENDONORKANNYA!!”
“ HENTIKAN KAK!! TENANGKAN DIRIMU!! Almira pun mengatakannya padaku..”
Ucap Emre yang menarik tangan serkan dan menatapnya
“ Apa kau bilang?”
“ Kedatangan Almira hari ini ke kantor adalah untuk bertemu denganmu karena dia menolak pendonoran yang kau lakukan.. Kumohon kak..”
“ Kau, kau pun setuju?”
“ Ya, maafkan aku kak.. Almira memohon padaku agar.. Aku menyetujui surat pernyataan penolakan dan menandatanganinya..”
“ Kenapa kau lakukan ini padaku? Emre, kau tahu jelas bagaimana aku..”
“ Maafkan aku kak! Maafkan aku..”
Emre menundukkan kepalanya berkali kali kepada Serkan hingga berakhir Bu Farrah datang menghampiri dan memeluk Emre
“ Bukan salahmu.. Serkan, mama mohon tenanglah.. Almira akan baik baik saja.”
Ucap Bu Farrah yang memeluk Emre dan menggenggam erat tangan Serkan
. . . . . . . . . . . . .
#BEEPPP #BEEEPPP #SYUHUTTT #BBEEEPP #BEEPPP #SYUHUTTT
Suara pembaca detak jantung dan bunyi tabung oksigen
“ Denyut nadi normal, tekanan normal, semua stabil Dok..”
Ucap seorang perawat berbahasa Turki kepada Dokter Filiz
“ Syukurlah...”
Balas Filiz tertunduk lemas setelah melakukan operasi yang memakan waktu lebih dari 7 jam
Ucap seorang Perawat lainnya sembari membereskan peralatan medis
“ Ya kau benar.. Meski beberapa kali aku sempat dibuat kewalahan olehnya, namun dia dapat bertahan hingga akhir.”
“ Tapi, Dokter Filiz, apa tidak akan terjadi masalah nantinya? Bukankah kita jug bisa melakukan operasi Transplantasi Hati pada Dokter Almira?”
“ Memang betul, tapi Dokter Almira menolak siapa pun pendonor yang mencoba untuk..”
Filiz terdiam tak melanjutkan pembicaraannya kembali
“ Apa? Lalu, apa Dokter Almira akan terus se..”
“ Sejauh yang aku lihat, dia masih dapat bertahan dengan kondisinya saat ini. Dengan beberapa Luka dalam ditubuhnya saat ini, aku hanya berharap dia akan bertahan dan segera membuka matanya untuk memberitahuku langkah selanjutnya yang harus kulakukan untuk membantunya..”
“ Ya Dok, kau harus menolongnya.. Meski hanya beberapa bulan disini, namun entah mengapa kehadiran Dokter Almira betul betul berkesan bagi kami..”
“ Kau betul, aku berharap Dokter Almira akan segera pulih dan dapat berkumpul bersenda gurau dengan kita kembali..”
“ Almira, apa kau mendengar itu? Segeralah bangun!”
Ucap Filiz sembari bersiap siap keluar dari ruangan operasi untuk memberitahukan kondisi Almira
Ada kalanya doa doa yang kita ucapkan sering kali tidak terwujud bahkan membuahkan kekecewaan. Tak lain pada tangan yang memohon dengan mulut yang selalu berucap tulus, doa itu pun sesekali terwujud menjadi sebuah kabar berita yang mengharukan meski pun terlihat bahagia dan senang senang saat mendengarnya.. Panggilan telepon dan video pada orang terkasih yang terpisah jarak pun akhirnya membuahkan tangisan yang tak terbendung disaat mendengar kabar yang membahagiakan ini.. Pelukan dan dekapan kembali dilakukan dengan selebrasi memberikan dukungan satu sama lain, terlebih pada mereka yang sedang mencintai setulus hati.
“ Terima kasih Dok. Terima kasih..”
Ucap Serkan berbahasa Turki yang tersujud lemas dihadapan Filiz
“ Apa yang kau lakukan? Berdirilah..”
Balas Filiz yang dibantu Emre dan Hammet untuk menegakkan Serkan Berdiri tegap kembali
“ Jadi, masa krisis sudah terlewati? Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”
Tanya Bu Farrah kepada Dokter Filiz dengan penuh Haru
“ Saya akan terus memantau perkembangan Dokter Almira, untuk saat ini kita tunggu sampai pulih.. Namun, sepanjang kami berjuang bersama diruang operasi, Dokter Almira menunjukkan perkembangan yang baik dan semangat juang untuk dapat melihat kalian semua kembali sepertinya menjadi motivasi baginya..”
“ Be,benarkah?. . . Syukurlah Almira... Lihat saja! Jika dia sudah bangun nanti akan aku buat menyesal sudah membuatku dan Kirey mengkhawatirkannya seperti ini!”
Ucap Lilian sembari menangis bersama Kirey dengan Emet dan Hammet yang tersenyum dibelakang mereka
“ Apa ada hal lainnya yang harus kami ketahui?”
__ADS_1
Tanya Serkan kembali dengan wajah seriusnya
“ Jika maksudmu... Mengenai penyakitnya yang lain, saya masih belum dapat memastikannya dan memberitahukan lebih jauh. Oleh sebab itu saya hanya dapat mengatakan akan terus memantau kesehatannya dan memberitahukan kepada anda semua..”
“ Hubungi kapan pun! Maksudku, entah itu malam, sore, atau kapan pun jika ada kabar terbaru mengenainya, segeralah menghubungiku..”
“ Baiklah.. Dokter Almira akan dipindahkan keruangan Pasien sebentar lagi, kalian bisa melihatnya langsung di kamarnya nanti..”
“ Terima kasih, terima kasih banyak. Serta maafkan aku tadi berteriak padamu, aku..”
“ Tenang Tuan Serkan, saya sangat mengerti.. Kalau begitu saya permisi lebih dahulu, selamat pagi semuanya..”
Ucap Filiz dengan sedikit menundukkan kepalanya dan berlalu pergi
“ Nak, bersihkanlah dirimu dan ganti pakaianmu dahulu. Mama mu sudah membawakan pakaian salin untukmu.”
Ucap Sang ayah kepada Serkan
“ Baiklah, aku pergi dulu. Kabari jika ada kabar apa pun.”
“ Tenanglah, ada kami disini.. Pergilah dan ganti pakaianmu!”
Ucap Bu Farrah kepada Serkan yang berlalu pergi
. . . . . . . . . . . .
( Seminggu Kemudian )
Aliran darah yang terasa terhenti, kini dapat kurasa mengalir memberikan kehangatan pada jari jemari yang mendingin. Suhu tubuh yang mulai terasa hangat dengan bibir yang tetap terlihat kering dan pucat.. Aroma Disinfectant ynag tercium begitu menyengat, terlintas jelas pada ingatan keseharian yang selalu dijalani. Hembusan nafas mulai yang terasa berat namun juga terasa sejuk dan ringan akan adanya selang oksigen diantara setengah wajah untuk membantu pernafasan kembali dirasakan untuk kesekian kalinya..
Sebelum membuka mata, Luka luka ini pun mulai terasa begitu sakit akibat obat bius yang sudah menghilang hingga tak sadar sesekali mengerungkan alis hanya untuk menahan rasa sakit yang datang.. Terdengar suara suara disekitarku saat ini, suara yang dikenali sebagai sosok yang sangat dirindukan dan dicintai untuk terus berada disampingnya hingga ujung nafas berakhir.. Merasa sudah tak sabar untuk melihat mereka, mata ini pun terbuka secara perlahan dengan penglihatan buram yang lama kelamaan menghilang dan akhirnya mereka pun dapat terlihat jelas olehku saat ini..
“ Ma.. Mama? Pa, papa?. . . . “
“ Nak, nak.. Kau sudah sadar? SUSTER!! Tunggu, aku akan memanggil mereka..”
“ Ya, pergilah..”
Ucap Ayah almira yang menyuruh Istrinya untuk memanggil Dokter jaga dan mereka semua yang sedang berada diluar ruangan
“Andre? Talita?. . . Kalian disini?”
“ Kami disini kak.. Ini kami..”
Ucap Andre dan Talita yang menggenggam erat tangan Almira
#BRAAKKKK
“ A L M I R A”
Suara pintu ruangan yang terbanting terbuka oleh Lilian dan Kirey yang berlari masuk
“ Kau tidak apa apa? Sakit sekali?” , “ Apa yang kau rasakan sekarang?”
Ucap Kirey dan Lilian yang berbicara berbarengan
“ Baiklah, berikan ruang untukku agar bisa memeriksanya..”
Ucap Filiz dan beberapa Perawat yang berjalan masuk diikuti Bu Farrah dibelakangnya
Seperti biasa, jika sudah menyangkut soal kepanikan Lilian dan Kirey, aku sungguh tidak dapat membalas perkatan mereka jika mereka sudah terlihat seperti itu.. Dengan Tersenyum, Filiz dan beberapa Perawat berjalan menghampiriku dan memeriksa kondisiku.. Wajah mereka begitu serius begitu juga saat melihat jahitan operasi ditubuhku sebelum akhirnya mereka tersenyum yang sepertinya saat ini aku memberikan hasil perkembangan yang baik melihat reaksi yang mereka berikan padaku saat ini.. Hasil laporan pun mereka catat dengan kembali berdiskusi tentang pemeriksaan selanjutnya yang harus kulakukan.
Tersadar akan kondisiku yang melakukan tindakan operasi besar, aku menghentikan Filiz dengan menarik pelan tangannya agar mata kami dapat bertemu.. Dengan tidak berkata dan nafas tersenggah tertutup tabung oksigen yang berkabut, Filiz seolah mengerti apa yang ingin kutanyakan padanya dan menundukkan kepalanya seolah memberitahuku bahwa dia tidak melakukan Transplantasi Hati padaku.. Melihat expresinya, aku pun tenang dan akhirnya Filiz dan beberapa perawat pun meninggalkanku untuk meluangkan waktu bersama orang orang yang kucintai..
“ Aku baik baik saja, tenanglah..”
Ucap Almira dengan meminta tolong kepada Talita untuk sedikit meninggikan sudut kasurnya
“ Kau baik baik saja nak? Apa yang kau rasakan?”
Ucap Sang ibu kepada almira dengan mengusap lembut kepala Almira
“ Almira.. Baik, baik saja mama.. Papa.. Tenanglah..”
“ Nak, beritahukan kami dan jangan berbohong mengenai kondisimu saat ini..”
Ucap Bu Farrah yang menggenggam erat tangan Almira
“ Bu Farrah.. Untuk apa anda sampai datang kemari? Maafkan aku membuat kalian semua kha..”
“ Tidak, tidak nak.. Justru kamilah yang harus memohon maaf dan berterima kasih padamu..”
Bu Farrah menundukkan kepalanya dan mulai menitikkan air matanya
“ Bu, almira mohon.. Jangan me..”
“ A L M I R A?”
Ucap Serkan yang datang dengan terburu buru dengan nafas tersenggah berdiri dibelakang Bu Farrah
“ Serkan..”
__ADS_1
Terlihat jelas bagaimana dia berlari dan berkendara dengan mobilnya menuju kemari dengan kecepatan yang tidak dapat aku bayangkan.. Dahi dan lehernya yang berkeringat namun tertutup kemeja dengan setelan jas mahalnya, terlihat berantakan karena Dasi yang dikenakannya sudah tidak terikat sempurna.. Berjalan semakin dekat kearahku, Bu Farrah melepaskan genggaman tangannya dariku seolah membiarkan Serkan untuk berdiri tepat dihadapanku.. Mata kami pun bertemu hingga akhirnya Serkan menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dengan sedikit terlihat mengusap secara cepat air mata yang tak sengaja menitik dimatanya.. Apa yang aku lakukan sampai membuat pria sepertinya menahan tangis seperti ini?