
Setelah aku foto pengumuman itu, aku terduduk lemas dilobby utama ruang tunggu.. Helsaid? Aku diterima bekerja disini? Rumah sakit terbaik yang menjadi doaku dan impianku. Bagaimana tidak, disini dilengkapi alat-alat medis berteknologi modern, Helipad untuk evakuasi medis dan ada taman penyembuhan.. Juga dokter dan staf terbaik dengan layanan internasional.. Apa aku akan menjadi salah satu dari mereka? Sejujurnya aku masih belum percaya dengan apa yang kulihat dikertas pengumuman tadi.. Tak lama salah satu petugas memanggil masuk kembali bersama dua orang lainnya yang berhasil lulus seleksi.. Kami mendapat informasi tentang bagaimana cara kerja, semua hal yang berkaitan dengan rumah sakit terlebih bagian penandatangan kontrak kerja.. Aku memakai pulpen pemberian Mete bey dan Ozcan hanim padaku.. Seandainya mereka bisa melihatku saat ini, menggunakan pulpen pemberian mereka setelah berhasil meraih impianku..
Selesai penandatanganan kontrak, kembali kami disuruh untuk menunggu.. Selagi menunggu kami dibagikan sebuah buku dan hal hal lainnya untuk kami pahami. Membaca lembaran demi lembaran, pintu utama ruangan terbuka kembali kamudian masuk beberapa dokter senior. Kulihat satu per satu dokter yang hadir, benar benar seperti mimpi bisa berada disini saat ini.. Tak lama aku melihat pada seorang dokter pria yang juga sedang melihat kearahku dan seolah tersenyum padaku.. Aku seperti mengenalnya.. Tunggu apa dia senior ku dulu dikampus saat menempuh jenjang S1? Apa itu... KAK GIHAN? Betul itu dirinya? Tak lama Para dokter senior pun memperkenalkan diri, nama, dan unit apa mereka bekerja.. Tapi kenapa nama kak gihan berbeda? Selesai memperkenalkan diri akhirnya kepala bagian memperkenalkan 3 dokter senior yang akan menjadi mentor sementara kami selama sebulan, dan kak gihan ternyata adalah dokter mentorku..
“ Hey almira...”
“ Kak Gihan?? Kakak bekerja disini juga? Bukankah disebuah klinik terapi psikolog?”
Ucap Almira yang begitu sangat terkejut
“ Ya, aku juga bekerja disana..”
“ Aaahh double income.. Jenius..”
“ Ahahaa.. kau masih seperti dulu.. Oh ya, selamat atas Gelarmu.. Aku tahu kau pasti akan sukses”
“ Terima kasih kak.. Oiya kak, maaf setahuku dokter mentorku bernama Dr.Gilang.. Dan kau.....”
“ Ya, gihan hanya nama pangilanku semenjak kecil”
“ Kuharap kau tidak akan terlalu galak dan memberikan penilaian jelek pada kepala bagian..”
“ Ahahaha.. Kita lihat saja.. Jadi, apa kau sudah menghubungi kawanmu yang lain?”
“ Tentu saja ka.. Mereka mengajakku bertemu malam ini”
“ Siap mulai bekerja lusa?”
“ Tentu saja.. Bukankah cita citaku untuk bisa bekerja disini?”
“ Baguslah. Sampai bertemu lusa”
“ Terima kasih kak..”
Kak gihan yang akan menjadi mentorku?? Keberuntungan apakah ini?? Dengan wajah penuh senyuman aku berjalan keluar dan menuju mobilku.. Saat dalam mobil, aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar ini pada mereka semua.. Mama, papa, dan andre langsung melakukan panggilan video padaku.. Dan seperti biasa mereka sangat terharu dan menangis.. Tak lepas doa doa mereka kembali berikan padaku.. Selesai menghubungi mereka, aku pun melihat jam, saat ini pukul 5 sore.. Jadi di sana masih jam 1 siang, sepertinya kirey dan lilian baru selesai istirahat siang mereka.. Aku mencoba menghubungi lewat panggilan video pada mereka dan memberitahukan kabar ini.. Tanpa sadar mereka berteriak lalu menutup mulut mereka karena merasa malu dengan banyak mata memandang kearah mereka yang masih berada dilingkungan kampus.. Akhirnya kami memutuskan untuk berbincang kembali saat malam nanti.. Selesai berbicara, aku kembali berkendara dan menuju sebuah tempat makan dimana temanku yang lainnya kebetulan mangadakan acara reuni sekolah..
Acara sangat ramai dan kami pun saling melepas rindu, bahkan ada beberapa dari kami sudah menikah dan memiliki anak.. Sedikit menggangguku adalah saat mereka semua sudah memiliki pasangan dan bertanya kepadaku pertanyaan yang aku sendiri pun tidak mempunyai jawabannya apa.. Hingga tak terasa waktu berlalu dan sudah menunjukan waktu pukul 9 malam.. Aku segera menuju rumah mengingat janjiku pada kirey dan lilian akan melakukan panggilan video.. Sesampainya di rumah mama, papa, dan andre memberikanku sebuah hadiah yang berisi tas kerja.. Dengan terharu aku memeluk mereka semua, andre yang merasa risih dengan pelukanku mendorongku menuju kamar mandi dengan beralasan bau tubuhku.. Setelah kami berdebat sedikit dengan tawa, aku segera membersihkan diri dan menunggu panggilan dari mereka..
“ MIRAAA... SELAMAT!! KITA TAHU KAU TIDAK AKAN LAMA MENDAPAT PEKERJAAN..”
Ucap Lilian dan Kirey berbarengan
“ Tidak perlu berteriak..”
“ Apa saat ini kau sedang berada didalam kamarmu?”
“ Yaa..”
“ Woow.. Kau benar benar menyukai warna merah muda.. Kupikir dengan jiwa maskulinmu itu sangat berbanding terbalik mir...”
“ HMMMM..!!!”
“ Mir.. Dr. Gilang Handira itu siapa? Kulihat tadi disebelah namamu, dia....”
Ucap Kirey yang penasaran
“ Kak Gihan.. Dia senior ku saat mengambil S1.. Tampan bukan? Dan lihat, ini saat kelompokku foto bersamanya saat KKN dulu.. Aku menyimpannya”
“ Jujur mir?? Menurutku tidak tampan”
Ucap Lilian dengan mengalihkan pandangannya
“ Level kamu sekarang udah patokan cowo turki!! Ditambah pacar kamu Emre yang seorang General Manager.. Ya iyalah Liliaannn.. Turunin dikit levelnya..”
Almira yang menyindir dengan senyuman diwajahnya
“Jauh bgt yaa klo dibanding Serkan.. Lalu Hubungan mu dan Dokter itu apa?”
Ucap Kirey dengan polos
“ Kenapa kau tiba tiba membahasnya? Kalau patokanmu jg Hammet, yaa tentu saja Kirey!! Dia akan menjadi dokter mentorku selama sebulan kedepan..”
“ Oya? Berarti dokter itu akan menempel padamu dong..”
“ Sepertinya lebih tepat aku yang akan menempel padanya, karena secara tidak langsung aku menjadi assistennya”
“ Kau... Apa menyukainya?”
“ Kenapa tatapan kalian begitu padaku?? Lupakan tentangku, bagaimana tesis kalian??”
“ Bulan depan mir.. Doakan yaa”
“ OYAA?? Syukurlah.. PASTI!! Aku yakin kalian akan mendapat nilai yang memuaskan..”
__ADS_1
“ Ingat yaa kita janjian dulu dijakarta sebelum pulang ke kota masing masing”
“ Aku pasti akan ke jakarta.. Melihat kalian sekarang, aku jadi merindukan apartment dan kamarku..”
“ Kau mau membuat kami menangis lagi, mir??”
“ Ahahha.. Sorry sorry..”
Kami berbincang hingga tak terasa seperti biasa sampai kami tertidur.. Keesokan hari menjelang, aku menyiapkan persiapan untukku bekerja besok hari.. Tas kerja yang diberikan mama, papa, andre, pun langsung kugunakan.. Lalu, laptop..... Apa aku bisa menggunakan semua barang pemberiannya? Kembali aku membongkar barang bawaanku dan mengambil untuk melihatnya secara rinci tentang bagaimana penggunaan dan lain sebagainya.. Laptop dan jam betul betul membuatku terkagum.. Serkan betul betul memahami barang apa saja yang aku butuhkan.. Lalu terakhir, tablet.. Aku mencoba menggunakannya.. Dan saat menyalakannya aku dikejutkan oleh tampilan wallpaper tablet.. Ini adalah fotoku dan Serkan saat kami duduk berdampingan saat melihat pemandangan bosphorus..
Dari penampilannya sepertinya foto ini diambil saat aku bercerita hantu padanya.. Apa Emre yang mengambil gambar kami? Difoto ini aku dan Serkan terlihat bahagia, karena kami tersenyum satu sama lain.. Tak sadar tanganku mengarah kepada layar tablet dan menyentuh wajah Serkan. Bagaimana kabarmu saat ini? Apa kau sudah bahagia? Terhenti pada wajahnya, aku menarik tanganku dan mengepalnya. Apa yang kulakukan ini? Tiba tiba semua kenangan seperti petir yang menyambarku.. Hingga entah mengapa aku merasa sesak kembali.. Kenapa dia memilih foto ini sebagai layar wallpaper tablet ini? Tahukah bahwa ini membuatku merasa berat karena merindukannya namun tidak bisa sama sekali berada disampingnya.
......................
“ Pagi Dokter Gihan.. Maaf, maksudku Dokter Gilang..”
“ Panggil saja aku dengan nama yang biasa kau gunakan. Dan almira, kemarilah.. Aku akan menjelaskan apa saja yang akan kita lakukan hari ini.. Lalu melihat beberapa pasien dan juga diakhir kita akan melakukan diskusi tentang progress hari ini. Kurang lebih selama sebulan ini kita akan seperti ini, jadi aku harap kau memiliki file data perkembangan yang akan aku periksa nanti”
“ Baik Dokter Gilang..”
“ Kau siap? Apa kau membawa laptop atau...”
“ Ya saya membawa..”
“ Bagus.. Baca ini dan tulis jadwal kerjamu dan tentu harus kau ingat itu jangan sampai ada kesalahan. Dan di flashdisk ini berisikan laporan perkembangan pasien.. Aku minta kau data kembali lalu kita pergi melihat kondisi pasien.. Setelahnya aku memintamu untuk melakukan hasil penelitian lalu kita akan berdiskusi “
“ Baik dokter..”
“ Lalu kedua, akan ada sesi terapi dari 2 keluarga berbeda untuk besok.. Kau akan ikut bersamaku dan berikan laporannya kembali padaku.”
“ Baik..”
“ Terakhir lihat dijadwal akan ada pembagian kerja diluar.. Kita akan ke salah satu perusahaan yang meminta untuk datang dan memberikan asesmen untuk para pegawainya”
“ Akan almira pastikan semua berjalan lancar”
“ Aku tahu itu. Lalu Ruanganmu hanya melewati 2 dari ruanganku.. Kerjakan yang kuminta, jika kau sudah siap, kemari dan kita akan lihat kondisi pasien”
“ Baik, saya permisi dok..”
Aku segera keluar dengan membawa data ditanganku.. Lalu berjalan menuju arah ruanganku, begitu sampai didepan pintu aku tiba tiba merasa terharu melihat papan yang bertulisakan nama dan gelarku.. Inikah ruanganku? Aku membuka pintunya dan benar benar membuatku serasa ingin menangis.. Setelah penantian dan usahaku selama 5tahun.. Semua ini terbayar sempurna.. Teringat aku segera menyadarkan diriku akan pekerjaan yang sedang menungguku dan mengerjakannya sebaik mungkin.. Data kubuat serapi dan serinci mungkin sehingga mudah memberikan penilaian saat ada perkembangan.. Begitu selesai aku berjalan menuju ruangan dokter gilang dan kami pun pergi mengunjungi kamar pasien satu per satu..
Banyak hal yang kupelajari hari ini.. Kak gihan juga sangat serius mengajariku.. Terkadang apa yang kita pelajari, tapi saat berada dilapangan itu semua terasa berbalik.. Data awal pasien yang bisa berubah dalam hitungan menit.. Membuatku berpikir tidak hanya wawasan yang kita butuhkan, melainkan juga perasaan dan pemikiran pun harus bisa saling bekerja sama dalam memutuskan sesuatu.. Perbedaan waktu yang walau dibilang hanya hitungan detik, namun bila didunia kedokteran itu adalah hal yang fatal jika kita melakukan sedikit kesalahan terlebih jika itu saat emmbuat kesimpulan.. Inilah dunia yang kupilih, inilah keinginanku, jadi aku harus benar benar fokus dalam hal ini..
Ucap Gilang yang memuji Almira
“ Terima kasih kak”
“ Oke, aku pulang duluan.. Laporannya taruh diatas meja saja.. Berhati hatilah saat pulang”
“Oke.. Terima kasih kak..”
Membuat laporan ternyata memakan waktu lebih lama dari biasanya.. aku ingin sekali sepat pulang dan meluruskan kaki dan pinggangku.. Mencoba untuk berkonsentrasi penuh hingga akhirnya selesai mengerjakan laporan, aku langsung terburu buru untuk pulang karena merasa lelah sekali hari ini.. Sepertinya tubuhku masih butuh penyesuaian.. Saat sampai rumah pun tanpa membersihkan diri, aku langsung tertidur lelap..
.....................
Pagi menjelang kembali, tak terasa ini merupakan minggu ketigaku.. Aku lupa memasang alarm bahwa akan ada kunjungan kepala bagian pukul 9 pagi.. Bangun dan bersiap dengan terburu buru akhirnya aku sampai dirumah sakit tepat waktu.. Kepala bagian menyapa dan menanyakan bagaimana kesan dihari pertama kami bekerja dan tanggapan kami bertiga ternyata sama.. Kepala bagian tertawa mendengar alasan yang sama dari kami bertiga.. Begitu selesai kami kembali ke tugas masing masing, untukku dan dokter gilang adalah saatnya kunjungan pasien.. Lantai 8 ruangan 801, pasien bernama Rifat, umur 42 tahun.. Post-traumatic stress disorder (PTSD). Dokter gilang menanyakan kabar dan bagaimana perkembangannya sampai akhirnya seorang suster melewati kamar dengan membawa setumpuk kertas, lalu kejadian tak terduga pun terjadi..
Waktu tak terasa menjelang senja.. Aku menghabiskan chicken sandwich dan sebuah susu kotak karena tidak sempat makan siang.. Perasaanku saja atau sandwich ini terasa sangat lezat? Pundak dan betisku seperti mati rasa setelah pasien bernama Rifat tiba tiba berlari keluar ruangan dengan jarum infus ditangannya, setiap kali melihat lembaran kertas apalagi jika tertumpuk seperti tadi siang.. Aku mencoba menghentikannya dengan beberapa dokter lainnya, berlarian sepanjang lantai 8 ke lantai 6.. Seharusnya kubiarkan saja pihak keamanan yang mengejarnya karena pasien itu adalah seorang pria.. Tapi entah kenapa aku berlari dan terus berlari kearah pasien itu.. Jika dipikir pikir, tindakanku saat melompat kearah pasien tadi merupakan tindakan yang berbahaya.. Untunglah tak terjadi apa pun..
Aku menikmati angin yang berhembus saat senja ini.. Entah mengapa aku menjadi seperti terbiasa membawa tablet ini kemana pun aku pergi, selain untuk pekerjaan alasan utamaku hanyalah ingin sekedar melihat wajahnya walau hanya beberapa detik.. Saat dadaku mulai terasa sesak, aku kembali mematikan layar tablet dan menolehkan kepalaku melihat langit untuk menahan airmataku.. Tak lama seperti terdengar suara sepatu berjalan kearahku..
“ Karena namanya taman penyembuhan.. Lantas kau datang kemari setelah bekerja?”
“ Dokter gilang? Sore Dok..”
Almira yang menundukkan kepalanya hingga Rambutnya berantakan
“ Sedang apa kau ini! Kita sudah diluar jam kerja.. Bersikap biasalah.. Jadi Almira, bagaimana hari ini?"
Ucap Gilang sembari meminum Cup Coffe dari tangannya
“ Kalau boleh berkata jujur, seperti naik Rollercoaster..”
“ Ahahaaha.. Bagian terbaik hari ini adalah saat kau melompat dan menindihnya.. Ahahaha..”
“ Serius iih ka.. Kau malah tertawa!”
Almira yang tertunduk merasa malu
“ Sorry.. Sorry.. Tapi jujur, kau mengagumkan. Bahkan kepala bagian memuji tindakanmu hari ini.. Karena jika terlambat mungkin pasien itu bisa lebih menyakiti dirinya sendiri..”
“ Apa gajiku akan dinaikkan?”
__ADS_1
Almira yang tiba tiba terlihat Antusias
“ HHmmm?? Tapi perlu kau ingat juga, tindakan kau tadi juga berbahaya. Berpikirlah dua kali”
Gilang yang menyentil pelan dari Almira
“ Ya, kau benar juga kak..”
Almira kembali menundukkan kepalanya
“ Lalu.. Siapa pria tampan itu?”
“ Apa..??”
“ Aku mengenalmu bukan hanya setahun, dua tahun mir.. Kau sudah seperti adikku.. Jika sampai menahan nangis, kau pasti sangat menyayanginya”
“ Tidak..”
Almira mencoba mengalihkan pandangannya
“ Kau mencoba berbohong pada Dokter Senior? Luar biasaa Almira...”
Gilang yang kembali menghabiskan minuman ditangannya
“ Tidak ada tempat untukku.. Tempat itu terlalu jauh untukku kak”
“ Aku membaca jurnalmu.. Menarik. Pria di foto itu BPD, betul?”
“ Ya...”
“ Jadi seperti kisah Dokter yang memendam cinta kepada pasien..”
“ Tidak! Bukan seperti itu kak.. Aku dan dia....”
“ Yaa..Yaa.. Katakanlah sesukamu mir.. Kau masih mau disini?”
Gilang yang sudah selesai menghabiskan minumannya dan berdiri
“ Ya.. Pulanglah sana! kuyakin Kak Dinar menunggumu..”
“ Mainlah kapan kapan kerumah.. Jangan lupa, kau belum membeli kado untuk anakku!”
“ Giliran kado ajaaa.. Dasar, oke saat main kesana akan kubawa kado itu. Salam untuk Kak Dinar yaa”
Saat aku masuk keruangannya tadi pagi, terpajang bingkai foto yang memperlihatkan kebahagiaan mereka.. Kak dinar juga.. Dulu sempat memohon bantuanku agar kak gihan mau berkenalan dengannya, ternyata mereka berujung dalam pernikahan.. Baguslah.. Setidaknya kak gihan mendapatkan wanita baik baik, tidak seperti pacar sebelumnya waktu dulu.. Pikiranku kembali melayang ke atas awan yang terlihat warna yang menawan, jingga kekuningan.. Apa dia masih duduk sendirian? Sepertinya sudah musim gugur disana.. Cuaca pun terasa dingin.. Apa dia memesan kopi kepada mete bay lagi? Ozcan hanim.. Aku merindukan sosok kakak sepertimu.. Bisakah aku bertemu dengan kalian lagi suatu hari?
Sesampainya dirumah entah mengapa kakiku terasa sakit.. Saat selesai membersihkan diri kulihat tenyata sedikit merah didekat mata kaki.. Apa aku terkilir? Aku mencoba mencari plester kompresan kaki yang ada dirumah tapi tidak menemukannya.. Saat kembali kekamar untuk mengambil sweater dan dompetku, tak sengaja aku menjatuhkan tas yang berisi pemberian dari Serkan.. Beruntungnya semua barang sudah kugunakan hanya tertinggal box kotak barangnya saja.. Tapi aku baru menyadari terdapat semua tas kecil didalamnya.. Tas siapa ini? Sejak kapan ada disini? Aku mencoba membuka isi tas itu ternyata itu berisi perlengkapan obat saat aku berada dirumah serkan saat itu.. Mulai dari perban, obat luka, dan ternyata ada 3 plester kompres didalamnya.. Lalu ada sebuah note yang berisikan tulisan tangannya..
#Mungkin bisa berguna saat kau butuhkan, mengingat sifatmu itu. Sehatlah selalu almira#
Airmataku tiba tiba keluar tanpa kuperintahkan.. Hati ini benar benar sudah terasa sakit bukan hanya sesak.. Bagaimana ini.. Apa yang harus kulakukan? Kenapa hati dan perasaan ini terasa begitu membebaniku? Apa yang kau lakukan padaku serkan! Kenapa membuatku seperti ini.. Tangisan tak beralasan akan perasaan yang hanyalah ilusi belaka.. Waktu menunjukkan segalanya, hal yang dapat menjadi milikmu dan yang bukan menjadi milikmu. Namun, waktu.. Bisakah membantuku untuk memulihkan perasaanku ini?
......................................
“ Kak mira.. Kak.. Bangun! Apa kau tertidur dilantai kamarmu semalaman?”
Andre yang membangunkan dan membantu Rania terduduk
“ Aa...apa?”
“ Disebelahmu ini ada ranjang kak! Tapi, kau malah tidur dilantai.. Dan kenapa kakimu kak?”
Andre yang merasa khawatir melihat kaki sang kakak memakai plester kompres
“ Terkilir.. Jam berapa sekarang?”
“ Jam 8.. Mama mamanggilmu untuk sarapan.. Perlu kubantu?”
“ Kakiku sudah lebih baik.. Dre, hari ini kau bisa membantuku?”
“ Untukmu?? Tentu saja kakak sayangg..”
“ Mau apa lagi kau saat ini?”
“ Tidak ada.. Hanya lensa camera yang dibeli kemarin ternyata ada yang kurang.. Boleh?”
“ Asal yang kuminta kau kerjakan dan hasilnya memuaskan”
“ Ohhh tentu! Akan aku kerjakan sebaik mungkin! Dengan otakku ini...”
“ Pergi sarapan!”
Almira yang langsung berjalan meninggalkan kamar tanpa mendengarkan Andre
__ADS_1
Tentu saja. Hari berlalu tanpa memandang siapa yang sedang merintih. Aku yang terjatuh pun harus tetap tegap berdiri kembali menata hidup. Mencoba untuk memalingkan pikiranku darinya, aku berniat membawa andre menemui salah satu pasien hari ini.. Semoga pihak rumah sakit mengijinkan, begitu juga kak gihan.. Dengan begini aku merasa hutangku bisa terbayarkan.. Kadang kita harus belajar untuk berani mengambil keputusan disaat yang lain menutup tangan. Aku cukup yakin bahwa pasien ini masih bisa sembuh dan dirinya sendiri pun ingin sembuh.. Semoga penilaian dan firasatku benar kali ini..