
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah seminggu semenjak terakhir aku bertemu dengannya.. Bagaimana kondisinya saat ini? Apa yang dia lakukan? Aku sangat ingin menanyakannya pada Emre, tapi kembali terurung kembali niatku ini. Akhirnya dengan tenggang waktu yang terlihat kosong dan menjenuhkan, aku memutuskan untuk kembali bekerja di 3 bulan terakhirku untuk berada dikota indah ini. Kak Ozcan menyambutku dan seperti sudah bisa membaca maksud hati kedatanganku ke sana tanpa perlu berkata banyak padanya. Tak lama Pak Mete datang dan memberikan peringatan untukku agar jangan sampai aku mengundurkan diriku kembali, semua sangat menyambutku dengan hangat.
Melihat semua ini, hati pun terasa berat untuk meninggalkan kota ini karena akan sangat merindukan mereka semua. Tertunduk malu dan tanpa berkata lagi segera menuju ruang pegawai untuk mengganti pakaian, semua rekan kerjaku masih menyambutku dengan sangat ramah, betapa beruntungnya aku dikelilingi orang orang baik seperti mereka.Restaurant yang terlihat ramai pada hari ini, seperti biasa karena mengetahui bahasa turki ku masih belum terlalu lancar, Mete bey pun menyuruhku untuk melakukan pemeriksaan stock gudang dan membenahi perlengkapan yang kurang, hingga tak sadar akan seseorang yang menghampiriku..
“ Hari ini libur, tapi kau bekerja?”
“ EMRE?? Kau mengagetkanku!!”
Almira yang merasa terkejut dengan hampir menjatuhkan barang
" Kau melamunkan apa? Sepertinya suara sepatuku cukup keras terdengar diatas lantai kayu ini.."
" Tidak ada. Hanya terlalu fokus bekerja..Bagaimana kabarmu?"
Almira kembali merapikan barang barang
“ Kabarku? Kupikir kau cukup sering mendengarnya dari Lilian..”
“ Hhmm.. Kau benar juga.. Apa bu farah sudah menyetujui hubungan kalian?”
“ Mama? Ketika mereka bertemu, entah apa yang bicarakan.. Tak lama mereka langsung pergi kesalah satu salon kecantikan”
“ Baguslah.. Kau jelas tahu Lilian itu sangat menjaga tubuhnya bukan? Jadi tenang saja, Bu farah berada di tangan yang tepat. Hanya bersiaplah, kau harus menyiapkan dana lebih untuknya..”
Almira yang memberikan senyuman jahil kepada Emre
“ Tenang saja almira, aku akan berusaha yang terbaik dariku. Aku tidak akan menyakiti sahabatmu”
“ Tentu saja!! Kapan aku pernah berkata meragukan kemampuanmu?”
“ Sanjungan yang bagus.. Tapi di lain topik, apakah kau tidak ingin menanyakan kabarnya?”
Emre mengalihkan pembicaraan sembari merapikan bajunya dan bersandar ke dinding
“ Apa?”
“ Kau jelas tahu maksudku”
“ Aku... Tidak apa apa.. Lebih baik sepertinya aku dan dia memang seperti ini.. Lagipula aku juga sudah selesai melakukan pekerjaan penting untuknya kan..”
“ Pekerjaan? Jujur baik aku atau semua di sini tidak melihat.... Lupakanlah! Anne selalu menyuruhku untuk mengatur waktu agar bisa menemuimu.. Namun, sesuai permintaanmu, aku tidak melakukan itu”
“ Terima kasih.. Aku tidak ingin bu farah seperti menaruh rasa terima kasih hingga membebaninya”
“ Sama seperti yang dikatakan Lilian. Kini aku mengerti apa maksud dari perkataannya mengenaimu.. Mungkin sebab itu juga yang membuat abi seperti menjaga jarak juga denganmu.. Seperti yang kau lakukan, betul?”
“ Apa urusannya dengan Berguzar sudah selesai?”
Almira mencoba mengalihkan pembicaraan
“ Wanita itu selalu datang.. Entah ke rumah bahkan waktu itu ke kantor. Kakak selalu menolaknya. Kau tahu bahkan waktu itu dia sampai menunggu didepan rumahnya semalaman”
“ Saat ini pasti dia sangat terluka..”
“ Ya.. Tapi dia sudah bisa untuk kontrol perasaan dan dirinya sendiri.. Kelakuannya pun sudah kembali normal tidak seperti dulu.. Dia lebih bisa mengatur emosinya dan tidak terpengaruh akan kenangannya..”
“ Syukurlah jika begitu..”
“ Kau tidak ingin menemuinya, walau hanya sekali?”
“Apa? Dia ada disini? Bukankah hari ini bukan tanggal...”
“ Dia masih suka datang dan duduk menyendiri seperti biasa, namun kali ini dia datang jika hanya jika merasa sedikit tertekan”
“ Jadi dia ada di...”
“ Ya.. Kau mau menemuinya? Berbicaralah dengannya”
". . . . . . . . . . ."
" Apa yang kau tunggu? Pergilah.. Aku yakin, abi pun sebenarnya sedang menunggumu"
Tanpa sadar aku memberikan sekantung gula besar kepada Emre tanpa melihat apakah dia siap memegangnya atau membiarkan gula itu terjatuh ke lantai.. Berlari keluar menuju teras belakang dengan semua mata yang memandangku pun sudah tidak ku hiraukan.. Entah siapa yang melihatku kali ini aku sudah tidak perduli, aku hanya mengikuti kata hatiku saat ini yang mencoba untuk melihatnya. Begitu sampai diteras, dapat kulihat kembali dia terduduk seorang diri dengan lamunannya.. Namun kali ini kulihat tatapannya sudah tidak lagi kosong, bahkan gerakan tubuhnya pun sama sekali berbeda, terduduk secara tegap seolah memperlihatkan dia siap akan apa pun. Penampilannya sudah kembali seperti yang biasanya kulihat.. Aku melihatnya hingga hatiku merasa puas dan merasa tenang, namun aku tetap tidak berani melangkahkan kakiku kearahnya.. Saat termenung melihat kearahnya, tiba tiba salah seorang pelanggan memanggilku dan aku pun kembali bekerja kembali dan mengurungkan niatku untuk bertemu dengannya.
Restaurant kali ini tutup lebih malam dikarenakan para pelanggan sangat ramai sekali. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 23.30 malam saat aku menyelesaikan pekerjaanku.. Mete bey dan ozcan hanim yang menawarkan diri untuk mengantarkanku karena bis sudah tidak lagi beroperasi pada jam ini.. Namun aku menolaknya melihat kondisi Aagha yang saat ini sedikit demam dan memilih memesan taxi atau kendaraan online.. Saat semua sudah pulang ternyata tidak ada taxi atau kendaraan online yang menerima permintaan penjemputanku.. Apa malam ini sangat ramai, sehingga layanan driver penuh? Merasa sendiri, akhirnya aku memberanikan diri untuk berjalan melewati jalan utama dan kembali memesan driver online..
Waktu kali ini sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih, bagaimana ini? Apa aku harus berjalan saja menuju apartment? Aku memutuskan untuk berjalan sambil memperhatikan handphone jika tiba tiba pesanan driver milikku ada yang mengambil, Namun kejadian tak terduga menimpaku. Terlalu fokus melihat handphone, aku berjalan menuju sekumpulan pemuda yang sepertinya terlihat sedikit mabuk. Melihat itu, aku langsung berhenti dan membalikkan tubuhku untuk menghindari mereka. Tiba tiba salah satu dari mereka seolah memanggil, akhirnya aku berlari entah kemana hanya untuk menghindari mereka. Suara mereka semakin terdengar dekat ditelingaku, aku mencoba semakin cepat untuk berlari namun tiba tiba ada yang menarik bajuku dari belakang.
“ LEPASKAN!!"Almira yang mencoba untuk menarik bajunya menggunakan bahasa turki
“ Gadis cantik.. kemana kau lari? Apakah kau ingin kami mengantarkanmu?"
Ucap salah satu pria
“ Biarkan aku pergi"
Almira yang mulai merasa ketakutan
“ Tidakkah kau ingin bersenang-senang dulu?"
Salah satu dari empat pria ini datang menghampiriku, aku menendak perutnya hingga dia terjatuh kejalan. Temannya yang memegang kerah bajuku saat ini merasa marah dan dengan kasar menarik rambutku.. Lalu datang kembali yang satunya mencoba untuk mencekikku, mencoba melawan aku mencoba untuk memukul namun tanganku dipegang dengan sangat kuat, terasa sangat sakit sekali genggaman pria itu.. Secara perlahan mereka menundukkanku dan bajuku ditarik hingga beberapa kancing bajuku terlepas. Aku mencoba menutup tubuhku tapi pria yang kutendang membalas memukul wajahku hingga aku terpanting dan terjatuh dijalan. Mulut mengeluarkan darah dan pipiku terasa sangat sakit namun mencoba untuk berdiri, namun salah satu dari mereka menendang kakiku hingga tersadar akan kaki kiriku yang terkilir sehingga sulit untukku berdiri dan berlari. Aku berusaha meminta tolong namun tidak ada yang menolongku. Melihat aku kesulitan mereka menghampiriku dengan senyuman gila di wajah mereka.. Melihat mereka, aku pun menangis.. Salah seorang pria menarik kembali rambutku dan mencoba untuk menciumku namun aku menolaknya, merasa marah tanganku kembali ditarik dengan kuat kearah belakang.. Kali ini aku sudah tidak bisa melawan mereka dan seolah tenagaku habis..
“ Lepaskan tanganmu dari wanita itu"
__ADS_1
Ucap Serkan menggunakan bahasa turki yang berjalan dengan aura kemarahan
“ Siapa kau? Apakah kau datang dan bersenang-senang dengan kami?"
“ Wanita ini terlihat kesepian dan sepertinya dia sendirian bukan milik siapa pun"
Salah seorang pria yang menarik tangan Almira secara kasar
“ Apa yang kau katakan?"
Serkan menatap Pria itu semakin tajam
“ Aku mengatakan bukan milik siapa pun!!"
“ MILIKKU BR#NGS#K!!"
Serkan yang berlari dan melayangkan pukulan
Apa itu serkan? Serkan datang? Dia menolongku? Aku mencoba untuk tetap tersadar untuk melihat apa yang terjadi.. Dan syukurlah itu adalah dia.. Serkan berlari melepaskan tangan pria yang menarik rambutku dan memukulnya.. Serkan melawan ke empat pria itu, namun sama sekali dia tidak memerlukan bantuan siapa pun. Merasa aku harus melarikan diri, aku mencoba untuk bergerak namun saat ketiga pria itu melawan serkan, salah seorang pria menghampiriku dan menendang perutku hingga aku merasa kesulitan untuk bernafas lalu menarikku. Sakit yang mendera begitu menyiksaku, terseret di jalanan dengan penuh tanah dan darah yang keluar dari mulutku.. Aku mencoba memanggil Serkan, namun entah mengapa suaraku tidak bisa keluar sama sekali. Saat aku merasa pasrah dan mulai menutup mataku, terasa seseorang mencoba menahan tubuhku dan membaringkanku dengan perlahan.. Lalu terdengar suara suara gaduh serta perkataan memohon ampun dan maaf.. Setelahnya ini apa yang akan terjadi padaku? Serkan......
.............................
“ MIR.. MIRAA?? BANGUNLAH..!!”
“ Mira..? Aku dan Lilian disini bersamamu..”
Ucap Kirey dan lilian yang mengkhawatirkan kondisi Almira
“ Emre, kenapa almira masih belum bangun?! Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?”
“ Tenanglah lilian.. Semalam kau lihat sendiri, dokter pribadi sudah datang kemari dan mengobati almira.. Kita tunggu dulu”
“ Kenapa lukanya sampai seperti ini? Kenapa hal ini harus terjadi pada orang sebaiknya?”
“ Maaf aku terlambat. Aku baru mencarinya setelah kalian menghubungiku semalam saat menanyakannya”
Serkan yang menundukkan kepalanya meminta maaf
“ Tidak.. Jangan salah paham.. Maksud kami adalah bersyukur kau datang”
“ Ya, Terima kasih sudah menyelamatkan Almira..”
“ ALMIRA!! Serkan, Bagaimana dengan dia? Kenapa kau diam? SERKAN!!"
“ Bagaimana dia bisa seperti ini? Ini semua salah kami karena tidak mengantarkannya"
Ucap Mete dan Ozcan yang merasa bersalah dan penuh kekhawatiran menggunakan bahasa turki
“ Lalu, kenapa dia masih tidak sadarkan diri?"
“ Mari kita lihat dan tunggu dulu.. bersabarlah"
.........................
Ada dimana aku saat ini? Bagaimana kondisiku? Kenapa tubuhku terasa sakit sekali hingga sulit bagiku untuk membuka mataku.. Tidak hanya tangan dan kaki, perut ku terasa lebih sakit bahkan jika hanya untuk bernafas. Lalu, ada siapa saja disini? Kenapa terdengar sangat ramai?
“ Mira..? Kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku?”
“ Mira?? Syukurlah.. Apa kau tahu, kami sangat mengkhawatirkanmu?!”
Lilian dan Kirey yang membantu Almira seolah ingin bangun dari tempat tidur dan terduduk
" Aaarrghh..."
Almira memegang perutnya
" APA YANG KAU LAKUKAN?? DIAM DAN BERBARINGLAH!!"
“ Maafkan aku.. Apa yang terjadi? Dimana aku?”
“ Kau dibawa kerumah Serkan untuk diobati, semalaman kami menunggumu tersadar..”
“ Kami?? Rumah... Serkan?”
Almira merasa terkejut dan melihat sekelilingnya
“ Ya.. Serkan juga memanggil dokter pribadi milik keluarganya untuk datang kemari mengobatimu.. Kami datang kemari setelah Emre menjemput.. Tak lama Mete bay dan Ozcan hanim pun datang.. Tapi menjelang pagi anaknya sepertinya juga sedang sakit, jadi mereka pulang dulu”
“ Sepertinya aku merepotkan banyak orang.. Lalu, Serkan, dimana dia?”
“ Ada rapat penting yang mengharuskan mereka untuk datang, jika sudah selesai mereka akan segera kembali ke sini”
“ Mir, kenapa kau tidak menghubungi salah satu dari kami? Apa kau tidak mempertimbangkannya?”
Ucap Lilian dengan rasa kesal
“ Aku tidak mau merepotkan kalian.. Dan juga karena kalian pasti akan meminta bantuan pada Hammet atau Emre untuk menjemputku”
“ YA!! TENTU SAJA!! Itulah gunanya keluarga.. Kau sendiri yang bilang itu!”
“ Maafkan aku... Aku pun merasa takut.. Maafkan aku...”
Lilian dan kirey memelukku dengan erat.. Kami bertiga menangis bersama hingga akhirnya merasa lelah sendiri.. Mulai merasa tenang, lilian dan kirey kembali memeriksa kondisiku, aku memohon pada mereka untuk mengambilkanku sebuah kaca, mengingat kondisiku saat ini serta cairan infus yang masih berada di tanganku, tidak memungkinkanku untuk berdiri dan berjalan. Setelah memohon pada lilian dan kirey, akhirnya mereka mengabulkan permintaanku.. Saat pandanganku mengarah pada cermin di hadapanku, aku pun terkejut melihat kondisiku saat ini.. Muka ku terlihat menyeramkan, daerah mata kiriku terluka, terlihat sedikit memar namun yang lebih parah adalah pipiku yang juga memar namun tertutup oleh perban, bibirku terobek hingga terlihat warna ungu dan biru menghiasi, tangan kananku terlihat bekas genggaman para pria itu dengan bahu yang terkilir. Saat aku bergerak perutku terasa sangat sakit, saat aku membuka bagian bawah baju ternyata bagian perutku pun ada yang berwarna biru keunguan, Kaki kiri pun terbalut perban.. Apa yang terjadi padamu almira?
__ADS_1
Melihat reaksiku saat ini, kirey langsung mengambil cermin ditanganku dan membawanya pergi.. Lilian mencoba mengalihkan pikirankuu dengan menawarkanmakan siang.. Emre sengaja meninggalkan mobilnya untuk digunakan lilian sehingga memudahkan untuknya atau Kirey jika ingin pergi atau membutuhkan sesuatu. Kemudian kirey menjelaskan bahwa dia memiliki jadwal perkuliahan pada pukul 13.00 siang ini.. Mendengarnya aku meminta lilian mengantarkan kirey menuju kampus, lalu membelikanku makan siang.. Setelah mereka pergi, tubuhku masih terasa sakit dan lemas hingga aku membaringkan lagi tubuhku secara perlahan, namun lama kelamaan mataku merasa mengantuk dan aku pun tertidur..
............................
“ Mira.. Almira..”
“ Lilian? Kau sudah. . . . . . SERKAN??”
Almira yang terkejut mencoba untuk bangun
“ Tenang, jangan banyak bergerak. Bagaimana kondisimu?”
Serkan mencoba menahan tubuh Almira
“ JANGAN MELIHATKU!! Saat ini aku terlihat sangat kacau..”
Almira menarik selimut bedcover untuk menutupi seluruh tubuhnya
“ Almira, turunkan selimut itu. Biarkan aku melihat kondisimu”
“ Tidak. Aku sudah membaik.. Terima kasih”
“ Turuti perkataanku. Turunkan selimut itu”
“ Almira”
" KUBILANG TIDAK! WAJAHKU SANGAT MENYERAMKAN!!"
" Omong kosong apa yang kau bicarakan? Biarkan aku melihatmu almira!!"
Serkan menarik dengan paksa selimut yang kugunakan untuk menutupiku.. Merasa masih terasa lemas, aku tak mempunyai tenaga lebih untuk menahan selimut itu hingga akhirnya terbuka.. Dengan cepat aku menutupi mukaku dengan kedua tanganku, Serkan kembali memegang kedua tanganku dan membukanya agar dia bisa melihatku.. Merasa kalah, akhirnya aku pun terdiam melihatnya dihadapanku.. Dengan wajah sempurnanya, Serkan menatapku dengan serius dan memeriksa dengan teliti wajah, tangan dan kakiku.. Jujur aku merasa malu dan canggung sekali dengannya saat ini, tapi sungguh menguras tenagaku jika aku menolaknya..
“ Bagaimana dengan perutmu? Bukalah biar aku melihatnya”
Serkan kembali menarik selimut
“ APA??”
“ Jangan berpikiran aneh aneh, aku hanya ingin melihat memar diperutmu”
“ Tidak perlu.. Aku baik baik saja”
Almira menarik kembali selimutnya
“ Oya? Sekarang cobalah untuk duduk secara cepat”
“ Tentu sa....AARRGGHH!!!.”
Almira yang kesakitan langsung memegang perutnya
“ Sakit? Kenapa kau susah sekali mendengarkanku? Biarkan aku lihat memar itu”
“ . . . . . Serkan.. Ada yang mau ku...”
“ Diamlah, aku sedang melihat memar di perutmu. Sepertinya sedikit membaik dibanding semalam. Bagi wanita perut adalah bagian terpenting. Kau tahu itu kan? Kita lihat hasil dari dokter nanti malam”
“ Malam?? Tapi aku...”
“ Kau mau pulang dengan kondisimu seperti ini?”
“ Mungkin ada alternatif lain yang...”
“ Tidak ada”
“ Tapi ini kamarmu.. Lalu dimana kau nanti tidur? Atau aku pindah...”
“ Aku ada pekerjaan yang kubawa pulang. Jadi, sepertinya malam ini aku akan menyelesaikan perkejaan yang tertunda. Kau tidurlah disini”
“ Aku tahu sangat banyak hal yang harus kau lakukan, kenapa kau....”
“ Tidak ada maksud apa pun. Kau juga tidak perlu menjaga jarak denganku”
“ Kau menyadarinya?”
“ Aku hanya ingin bertanya, Kau.... Apa sangat tidak nyaman karenaku?”
Saat akan menjelaskan padanya, Lilian ternyata pulang dengan membawakanku makan siang berupa soup dan roti yang tercium sangat wangi.. Lilian berdiri diam dan terlihat merasa canggung karena hadir diwaktu yang salah.. Serkan yang melihat Lilian membawa makanan untukku, langsung berdiri dan berjalan keluar kamar dengan mengatakan akan membawa perlengkapan makan untukku.. Lilian pun berjalan kearahku..
“ Aku pasti datang diwaktu yang salah. Maafkan aku mir, jujur aku tidak tahu Serkan sudah pulang”
“ Mobilnya tidak terparkir didepan?”
“ Tidak.. Aku tidak melihatnya”
“ Lalu, dengan apa dia kemari? Apa Emre tadi mengantarkannya?”
“ Emre sedang rapat di perusahaan lain menggantikan Serkan saat inii”
Saat sedang berpikir dengan apa pria ini pulang, kenapa tidak menunggu Emre untuk mengantarkannya? Apa dia terburu buru datang kemari? Bahkan sampai membawa pekerjaan kantor untuk dikerjakan.. Tak lama Serkan masuk membawa perlengkapan makan dengan aura yang menawan.. Bahkan Lilian pun terpana melihat penampilan dari pria ini.. Jas yang dikenakannya sudah terlepas sehingga kemeja berwarna biru langit yang dikenakannya membuatnya terlihat mempesona.. Lengan kemeja yang terlipat membuat kami dapat melihat lapisan otot tangannya, kancing bajunya yang sedikit terbuka pun mampu membuat kami membayangkan hal yang bukan bukan.. Menyadari tentang pikiranku saat ini, sungguh memalukan sekali! Aku pun langsung membalikkan wajahku namun Lilian masih melihat serkan dengan begitu terpana..
Serkan duduk disebelahku dengan mengulurkan tangannya kearah Lilian untuk mengambil soup dan roti itu, Lilian pun akhirnya tersadar dan memberikannya pada Serkan. Melihatnya menyiapkan makanan dengan sangat rapi untukku, mengambil sendok dan mengaduk soup karena masih terasa panas agar cepat dingin.. Kemudian soup itu ditumpahkan sedikit demi sedikit di atas roti lalu mengulurkan tangannya untuk menyuapiku.. Dengan kondisi bibirku yang terluka membuatku sedikit kesusahan untuk membuka mulut, Serkan kembali dengan sigap membagi lagi roti itu menjadi potongan potongan kecil yang dengan mudah ku santap. Melihat ku lahap menyantap makanan, dia pun tersenyum lalu meninggalkanku dengan Lilian agar lebih leluasa untuk menyantap makanan ini..
Kenapa jadi seperti ini? Disaat aku sudah tidak ingin terlibat dengannya, yang terjadi malah sebaliknya.. Aku menjadi semakin dekat dengannya dan orang orang didekatnya. Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku saat ini? Sedangkan aku tahu, ini bukan tempat untukku..
__ADS_1