
“ Tante perawan tua! Mau berapa lama kita di ruangan ini?”
Ucap Talita dengan wajah menyindir dan memalingkan wajahnya
“ Kau pikir aku mau berlama lama disini denganmu? Jadi, Bagaimana? Ada yang mau kau...”
Ucap Almira dengan tidak menatap Talita dan mengetik diatas laptopnya
“ Tidak ada”
Talita yang langsung memotong Almira berbicara
“ Oke, kita nikmati waktu ini bersama sampai jam kerjaku selesai..”
Almira yang kembali berwajah dingin dengan mengacuhkan Talita
“ APA? ”
“ Kau dengar yang kukatakan barusan kan? Kau tahu, aku juga mempunyai adik seumuran denganmu.. Jadi jangan harap aku memaklumi rasa bosanmu itu”
“ Apa kau tidak tahu peran ayahku dirumah sakit ini?”
“ HaH.. KLISE!”
Almira yang tersenyum sinis
“ Apa kau bilang?? Atau begini, kulihat kakimu terluka, bagaimana jika kau kuberikan uang untuk berobat hingga sembuh dan anggap semua ini selesai”
Ucap Talita yang mendekatkan wajahnya pada Almira
“ Tentu saja bisa untukku”
“ Bagus. Berapa jumlah uang yang har...”
“ Tapi tidak untuk temanmu yang terbaring di kamar itu. Kau sudah melihatnya?”
Almira yang menutup layar laptopnya dan menatap Talita
“ Ciih, cewe lemah seperti itu? Mengandalkan senyuman kepada semua orang! Geli aku melihatnya”
Ucap Talita yang kembali berwajah masam
“ Itu menurutmu?”
“ Kedudukan keluarga dia dan aku tak jauh berbeda. Dia hanya mencari perhatian!”
“ Oke akan kita bahas itu nanti.. Maaf, dari tadi aku terganggu melihat kau terus menerus memegang lengan kirimu dengan sedikit bergetar. Lalu kaki kananmu pun kau tekuk ke belakang seperti menutupi sesuatu, kau juga tidak bergerak sedikit pun. Apa ada sakit atau luka, yang...”
“ TIDAK ADA!! ”
Talita yang ketakutan dengan meninggikan suaranya
“ Benarkah? Maaf, aku ingin melihatnya”
Almira yang langsung menunduk meraih kaki dan tangan Talita
“ Apa yang kau lakukan? . . . . Hentikan. . . KUBILANG HENTIKAN!!”
Talita yang menarik tangan dan kakinya
“. . . . . Siapa yang lakukan ini padamu?”
Almira yang menatap serius kepada Talita
Apa ini? Kulihat lengan tangannya terdapat 2 lebam yang persis sama denganku seperti saat kejadian waktu itu.. Kakinya terlihat sedikit bengkak seperti dipukul oleh benda tumpul.. Tubuhnya pun sedikit berkeringat.. Apa dia menahan sakit dari tadi? Aku mencoba menyentuh keningnya dan tubuhnya terasa sedikit panas dari tubuhku.. Apa dia juga sebenarnya terluka? Tanpa pikir panjang aku berdiri dan menghubungi bagian IGD untuk datang ke ruanganku dan membawanya untuk melakukan pemeriksaan.. Aku menunggu di ruangan dokter untuk melihat hasil dari pemeriksaan.. Saat rekam medis miliknya keluar dan dokter menjelaskan keadaanya padaku, sungguh tak terbayangkan olehku apa yang sebenarnya sedang dia alami..
Dengan sedikit kesimpulan yang berada dibenakku saat ini, akhirnya untuk memastikan aku berjalan menuju kamar pasien dan melihat bagaimana kondisi dari temannya itu.. Saat masuk kulihat gadis itu masih tertidur dengan hanya ada seorang perempuan seperti assisten rumah tangga yang sedang menemaninya, aku pun menjelaskan maksud dari kedatanganku saat ini.. Aku mencoba memahami dan melihat ada apa sebenarnya.. Setelah melihat kondisi gadis ini, aku seperti mendapatkan sebuah kesimpulan awal.. Tapi aku harus memastikan bahwa kesimpulanku ini benar.. Kembali keluar dan berjalan kembali menuju ruangan kerjaku dan tak lama ada yang mengetuk pintu..
“ Masuklah..”
“ Bagaimana harimu? Kemana gadis itu? Sudah pulang?”
“ Kak reza..? Ya, dengan sedikit cerita panjang gadis itu sekarang berada diruang IGD..”
Ucap Almira yang menghampiri Reza dan duduk bersama di sofa tamu diruangannya
“ Apa? Tapi aku tidak akan menanyakan itu padamu, bagaimana pun aku juga seorang dokter jadi mengerti jika tidak kau ceritakan.. Maksudku kemari adalah apa sehabis ini kau kosong?”
“ Maafkan aku kak, sepertinya aku...”
“ Almira.”
Ucap Serkan yang berdiri didepan pintu ruangan Almira yang terbuka
“ Serkan..? Kau datang.. Kak Reza, maaf mungkin lain kali, karena...”
Almira yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Serkan
“ Aku mengerti. Baiklah aku pergi dulu, dan semoga kakimu cepat sembuh..”
“ Aahh.. Luka ini mungkin lusa juga sudah tidak perlu diperban”
“Baguslah.. Bye”
“Bye kak..”
Entah hanya perasaanku saja atau saat serkan dan kak reza berpapasan barusan terlihat seperti tegang, dan ada apa dengan expresi mereka berdua.. Mencoba mengalihkan serkan, aku memberitahukan untuk masuk dan menunggu sebentar, namun tiba tiba pintu masukku terbuka dan talita masuk kembali ke ruanganku dengan wajah pucatnya.. Aku dan serkan sangat terkejut melihatnya, saat akan bertanya padanya, talita berjalan kearahku dengan melingkarkan tangannya seolah ingin memelukku, namun tiba tiba pingsan menimpaku.. Sungguh sial sekali dengan kondisi kakiku yang juga terluka, aku tidak bisa menahan beban tubuhnya hingga tanpa sadar kami berdua pun terjatuh. Tapi... Kenapa aku tidak merasa sakit? Saat tersadar ternyata serkan sudah berada tepat dibelakangku mencoba menahan aku dan talita.. Aku mencoba untuk menahan berat badanku hingga terduduk sehingga serkan dapat mengulurkan tangannya untuk meraih talita agar tidak menimpaku dan mencoba menidurkannya di kursi sofa ruanganku..
Serkan kembali untuk membantuku berdiri dengan menyuruhku melingkarkan kedua tanganku dipundaknya, namun tak sadar saat aku sudah berdiri tegap tubuhku seolah terdorong kedepan sehingga memeluk serkan.. Aku tau saat ini seharusnya aku langsung melepaskan tanganku, namun entah mengapa aku tidak ingin melakukannya.. Hangat dan nyaman sekali terasa, seperti inikah rasanya saat kau memeluk seseorang yang kau sukai? Wangi parfum aroma tubuhnya, tercium sangat wangi saat aku memeluknya seperti ini, membuatku semakin tidak ingin melepaskan tanganku. Tak lama dapat kurasa tangan Serkan pun bergerak seolah membalas pelukanku saat ini, dia melingkarkan salah satu tangannya di pinggangku dan satunya mengusap kepalaku dengan lembut.. Baik aku dan Serkan sama sekali tidak berkata apa pun, bisakah kuhentikan waktu pada saat ini? Kenapa aku merasa sangat nyaman berada dipelukannya? Namun tiba tiba terdengar suara gaduh dari arah luar dan ternyata itu adalah seorang suster yang mencari dan mengejar Talita lalu berlari masuk begitu saja ke ruanganku.. Aku pun segera melepaskan tanganku dari Serkan..
“ Maaf Dokter.. Saat cairan infus habis, pasien berlari kemari saat kami meminta untuk menghubungi salah satu keluarganya, dia menolak dengan alasan yang tidak jelas”
“ Oya? Apa alasannya?”
Almira yang melihat kearah Talita dengan tatapan penuh tanya dan dingin
“ Pasien bilang, aku punya mobil diluar jadi bisa pulang sendiri..”
“ Baiklah. Bagaimana kondisinya saat ini? Apa sudah bisa pulang?”
“ Ya dok.. Karenanya aku meminta untuk menghubungi keluarganya, juga untuk mengurus administrasi ini dok..”
“ Baik, Serahkan saja padaku.. Akan aku berikan kepada bagian administrasi saat pulang nanti. Terima kasih banyak, maaf merepotkan..”
__ADS_1
“Baik, sama sama dok.. Selamat sore..”
“Sore..”
Sebelum aku mengisi laporan ini, aku membuka rekam medis miliknya dan membacanya.. Semua sesuai dugaanku bahwa Talita sendiri pun mengalami tindak kekerasan. Aku kembali memeriksa laporan yang diberikan oleh kepala bagian dan Kak Gihan, tentang keluarganya dan lain sebagainya.. Sepertinya ada yang harus aku ketahui dalam hal ini untuk mengetahui apa penyebab dan kenapa dia seperti ini? Tersadar aku melamun cukup jauh, Serkan menyentuh tanganku dengan tatapan matanya seolah menanyakan apa aku baik baik saja serta melayangkan pandangannya pada Talita yang terduduk di kursi sofa tamu.. Aku yang tersenyum padanya dan membalas genggaman tangannya lalu berjalan dan terduduk di depan Talita diikuti Serkan yang terduduk di seberangnya dengan memainkan Handphone di tangannya.
“ Jangan menyuruhku untuk pulang kerumah.. Aku mohon..”
Ucap Talita dengan tangan menjulur keatas di depan Almira
“ Kenapa, aku ingin tahu alasannya”
“ Aku hanya tidak ingin melihat kedua orang tuaku. Terlebih jika mereka tahu hari ini aku....”
Talita yang langsung memeluk dirinya sendiri dengan pandangan tak terarah terlihat ketakutan
“ Oke baik. Lalu kau mau kemana?”
“ Biarkan saja aku mengendarai mobilku.. Aku juga sudah tidak apa apa..”
Talita langsung berdiri dari sofa dan berniat meninggalkan ruangan
“ Tunggu! Kau... Tidur dimana pun dengan menggunakan mobilmu? Lalu fungsi hotel atau penginapan?”
Almira yang ikut berdiri dan berjalan menuju pintu keluar seolah menghadang Talita pergi
“ Ji, Jika ayahku tahu aku menggunakan uang kesana, maka...”
Talita yang tertunduk kembali terlihat ketakutan
“ Teman? Sahabat? Aku yakin pasti ad...
“Aku tidak memerlukan hal itu. Bagiku mereka menyusahkan!”
Ucap Talita yang terlihat kesal dengan memalingkan wajahnya
“ Bagaimana jika dia aku pesankan sebuah kamar di hotel tempatku menginap sekarang? Aku yang akan membayar tagihannya nanti. ”
Ucap Serkan yang berdiri dan memasukkan handphonenya kedalam Jas
“ Aku denganmu? TENTU SAJA AKU MAU KAK.. Boleh aku memanggilmu kakak kan? Di hotel mana kak? Apa kita pergi sekarang juga?”
Talita langsung berubah expresi dan seperti bahagia atas tawaran Serkan
“ SERKAN?? "
Almira melihat Serkan dengan penuh tanya dan marah. Lalu berjalan mengambil Tasnya dan berlalu pergi
“Bukan, bukan. Almira maksudku adalah... Almira.. Almira tunggu, Apa kakimu sudah sembuh? Kenapa kau berjalan cepat sekali? Almira.. Tunggu!”
Serkan yang mencoba mengejar Almira dengan Talita yang mengikuti mereka dari belakang
Entah mengapa dan dengan alasan apa aku merasa kesal?! Selesai memberikan lembaran ke ruang administrasi, aku berniat memesan sebuah kendaraan online namun Serkan dengan sigap langsung mengambil handphoneku dan tidak mengembalikannya. Dia langsung menggenggam tanganku dan menarikku menuju mobilnya untuk berkendara. Talita terlihat sangat senang dengan bersenandung didalam mobil Serkan saat duduk dibangku kursi belakang. Aku yang melihatnya dari depan merasa sedikit kesal padanya.. Mobil melaju entah kemana Serkan membawa kami, aku pun tak menanyakan kemana dia akan membawaku.. Tak lama suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara musik, ternyata Talita tertidur kembali saat ini.. Menyadari aku menghindari untuk menatapnya, terasa sebuah tangan yang hangat dan lembut menggenggam tanganku saat ini untuk mencoba menenangkan rasa tidak masuk akal ini kepadanya.. Serkan menggenggam tanganku sembari berkendara hingga kami pun sampai pada tujuan..
“ Maafkan Pak Serkan, hanya tertinggal tipe deluxe room karena hotel saat ini sedang penuh. Bagaimana?”
Ucap perugas Resepsionis kepada Serkan
“ Itupun tidak masalah”
“ Bukan saya tapi untuknya”
“ Ini KTP ku.. CiiHH!! Padahal aku yakin Presidential suite kakak pasti sangat nyaman!”
Talita yang menyerahkan Kartunya dengan sedikit menggerutu
“ Apa kau.. BILANG??”
Almira yang kembali terlihat begitu kesal pada Talita
“ Kubilang pasti sangat NYAMAN jika aku sekamar dengan kakak tampan itu!”
Talita yang dengan sengaja menjahili Almira dengan senyuman peniuh kejahilan
“ KAU...”
“ Bagaimana jika kita makan malam dulu? Makanan dan minuman disini sangat lezat”
Serkan yang mencoba menengahi dan memisahkan Almira dan Talita dengan berjalan menuju Restaurant
“ Mau berapa lama kau menginap disini?"
" Selama ada kak Serkan, aku tidak keberatan berada di sini.."
“ Kau..! Setelah aku membayar biaya pengobatanmu dan dia juga membantumu, tapi masih saja...”
Almira yang menarik tangan Talita dan menunjuk kearah Serkan
“ Dia? Kau memanggilnya dia? Berarti kau bukan kekasihnya?”
“ Apa?”
“ Lahir di era tahun 80? Atau 90? Kalau kalangan muda, panggilan sayang itu penting tantee..”
“ Menyebalkan sekali kau ini!”
“ Lihat kita sudah sampai! Restaurant ini...”
Serkan yang kembali menengahi Almira dan Talita
“ KIta duduk disini aja yaa kak..”
Talita yang tiba tiba terduduk dengan melambai pada Serkan
“ Kau buta? Ini Cuma 2 kursi!”
Ucap Almira yang masih merasa kesal
“ Memang.. Tante carilah kursi kosong yang lain!”
“ KAU..!!!”
“ Disini. Kita duduk disini.. Kursi untuk 4 orang. Oke? Kita pesan makanan..”
__ADS_1
Serkan yang langsung terduduk di deretan meja panjang di seberang Talita
“ Aku duduk disamping kakak ya.. Tante kau duduk diseberang!”
Aarggh..!! Anak ini sungguh menyebalkan sekali! Dan dengan santai dia bersandar dilengan serkan?? Apa dia tidak malu dilihat waiters saat ini? Bahkan dengan wajah kegirangan seperti itu.. Ingin rasanya ku - ROBEK ROBEK MUKAMU - saat ini juga.. Apa aku boleh mengatakan itu? Untuk apa aku bergumam seperti ini? Bukankah serkan juga memang bukan kekasihku? Lantas kenapa aku merasa kesal pada gadis ini? Lupakan almira.. Tenanglah.. Kau itu sekarang dokter psikolog! Jangan lepas kendali dan berkelakuan seperti anak kecil. Tarik nafas dan buang nafas.. Tapi.. Jujur, setiap melihatnya bersandar seperti itu pada Serkan.. Meskipun aku mencoba mengalihkan pandanganku, aku tetap merasa kesal!
Makanan dan minuman pun datang.. Lagi lagi Talita mencoba bersikap romantis dengan menyuapkan sebuah daging steak kepada Serkan. Aku yang melihat kearahnya dengan pandangan gunung berapi membuat Serkan tersedak hingga minumannya tak sengaja tertumpah dan mengenai ujung celananya. Serkan kemudian memohon ijin untuk pergi ke toilet , hingga tertinggal aku dan talita saat ini.. Saat ingin mencoba berbicara dengannya, tiba tiba...
“ Almira? Dan nona kecil.. Apa, kau masih bekerja mir?”
“ Kak reza..?? Tidak, aku hanya mengajaknya makan malam dan berbincang sedikit.. Kakak sendiri?”
“ Aku baru selesai menemui rekan kerjaku. Kursi disebelahmu kosong kan? Boleh ikut bergabung?”
Reza yang langsung terduduk disebelah Almira
“ Apa..?”
“ Jadi nona kecil.. Bagaimana harimu dengan almira?”
Ucap Reza mencoba mengalihkan pembicaraan
“ Tante ini selalu menggangguku. Dia bahkan tidak mengijinkanku untuk mengendarai mobilku.. Dokter tahu? Bahkan dia meninggalkanku diruangan IGD!”
Yaa.. Bicaralah sesukamu, lama lama aku terbiasa dengan sifat dan kelakuanmu itu.. Aku akan anggap seperti sedang bersama dengan andre.. Saat sedang mendengar mereka berbincang, terlihat di lorong dinding Serkan sudah kembali dan terhenti melihat kearahku dengan pandangan yang begitu serius.. Lagi lagi dia seperti ini jika melihat Kak Reza.. Kupikir Kak Reza baik dan sopan, semua orang pun menyukainya.. Tapi kenapa Serkan begitu ketus kepadanya? Aku mencoba mengabaikannya dengan menyantap makanan dan minuman ku kembali.. Serkan kemudian kembali dan duduk disebelah Talita.
“ Kau lagi? Serkan.. Itu namamu kan?”
“ Ya”
Serkan yang dengan dingin menyantap kembali makanannya
“ Kau ada keperluan disini? Kau bekerja dibagian apa?”
“ Aku juga tidak tahu karena aku mengunjungi setiap bagian di perusahaan”
“ Kau.. Bagian keamanan?”
“ PUFF..!! UHUKK.. UHUKKK!! Maafkan.. Aku tersedak tiba tiba..”
Almira yang tersedak mendengar perkataan Reza
“ Kau tidak apa apa mir? Minumlah secara perlahan.. Lihat, ada butiran kentang di...”
Reza mengulurkan tangannya mencoba mengambil butiran kentang di samping bibie Almira
“ Jangan menyentuhnya.”
“ Apa?”
“ Kubilang, jangan menyentuhnya.”
Serkan yang memberikan pandangan sinis pada Reza
“ Mira bisa sendiri kak.. Terima kasih..”
Almira yang langsung mengusap mulutnya menggunakan lap tangan
" Oya, bicara soal pekerjaan apa kau sudah memikirkan tawaranku untuk bekerja di klinik bersamaku? Bukankah itu salah satu impianmu, bekerja disebuah klinik psikolog? Pekerjaanku dijakarta berakhir 3 bulan lagi, jadi kita akan lebih sering bertemu dan mungkin kita bisa...”
-TRAANNNGGG –
Kami semua terkejut saat ini, sepertinya Serkan sengaja memukulkan pisau dan garpu steak miliknya ke piring hidangannya. Raut wajahnya pun benar benar berubah saat ini. Bahkan baru kali ini kulihat dia begitu kesal dan kehilangan nafsu makannya.. Sepertinya kehadiran Kak Reza saat ini benar benar membuatnya tidak nyaman.. Aku akhirnya mengajak Kak Reza keluar dan berbicara dengannya di pintu keluar restaurant.. Mencoba untuk memperpendek percakapan karena serkan masih menungguku didalam.. Kak Reza pun akhirnya mengakhiri percakapan dengan janji aku akan menghubunginya kembali, setelahnya aku kembali masuk kedalam dan sesuai dugaanku.. Serkan masih terlihat kesal, bahkan talita yang berada disampingnya menjadi terdiam.. Aku kembali ketempat dudukku dan mencoba menghabiskan makanan dan minuman namun serkan masih tidak mau memandangku..
Selesai dengan makan malam, aku memberikan 1 stel pakaian untuk Talita yang biasa aku simpan diruangan kerjaku untuk baju salin selama dirumah sakit.. Setelahnya Talita tak lagi berkata kata bahkan langsung menuju kamarnya. Serkan langsung berbalik dan berjalan menuju keluar pintu lobby utama dan terlihat mobilnya sudah terparkir kembali.. Seperti biasa dia membantuku untuk naik kedalam mobil dan dia pun mengantarkanku.. Selama setengah perjalanan Serkan tak berkata apa pun padaku, hingga akhirnya aku sedikit merasa tak nyaman dan akhirnya memulai percakapan.
“ Aku..”
“ Kau akan bekerja di klinik bersamanya?”
“ Apa?. . . . Aku masih memikirkannya”
“ Sepertinya pria itu begitu mengenalmu”
“ Aku dan kak reza memang dulu... Tapi hubungan kami tidak berjalan lancar”
“ Karena?”
“ Dia diterima disalah satu universitas ternama untuk S2 nya, saat itu aku masih di pertengahan semester untuk S1. Kupikir kami tidak masalah jika menjalin hubungan jarak jauh. Tapi tak lama dia memutuskan hubungan kami dengan alasan yang aku tidak tahu”
“ Kau masih memiliki perasaan padanya?”
“ A...apa? Serkan maaf, aku ingin bertanya.. Apa kau tidak bekerja? Sebenarnya mau berapa lama kau akan berada di kota ini?”
“ Kau mengusirku?”
“ Bukan.. Maksudku kau pasti memiliki banyak pekerjaan, dan juga...”
“Juga??”
“Juga mungkin berguzar menunggumu di...”
- CKITTT.. TIIINNNN.. TIINNN.. TIINNNN –
Suara Rem mobil yang berdecit karena berhenti mendadak dan suara klakson mobil yang bersahutan
“Apa yang kau lakukan? Serkan? Kenapa kau berhenti secara mendadak? Menepilah, semua orang marah padamu.. Kau tidak mendengarku? MENEPILAH ATAU MAJU!!"
Almira yang menjadi sedikit kesal
Serkan langsung melajukan mobilnya kembali tanpa menepi. Dia terlihat benar benar sangat marah padaku saat ini.. Apa ada perkataanku yang salah? Meskipun dia terlihat sangat kesal, namun cara dia mengemudikan mobil ini masih sangat terkontrol tidak seperti pria pada umumnya.. Apa karena masa lalunya? Lagi lagi serkan tidak melihat dan berbicara lagi denganku.. Dia hanya fokus melihat kearah depan hingga akhirnya kami pun sampai dirumahku.. Saat dia membantuku turun, dia langsung berbalik dan berjalan memutar untuk kembali kedalam mobil. Aku mencoba menghentikannya dengan menarik tangannya, namun serkan melepaskan tanganku dan langsung berlalu pergi. Kenapa aku merasa sakit saat ini?? Saat masuk kedalam rumah, tiba tiba Andre berlari arahku dan menarikku masuk kedalam kamarku..
“ Kak mira.. Apa kakak betul betul tidak tahu???”
“ Apa maksudmu dre?”
“ Kakak bule tampan.. Maksudku, Kak Serkan.. Hari ini dia datang ke toko dan melihat studioku..”
“APA?”
“ Ya.. Bahkan kakak tau, hari ini Blender di dapur restaurant rusak.. Kak Serkan membantu mencoba membetulkannya, dia sepertinya bisa dalam segala hal kak.. Begitu menyala sayangnya dia sedikit telat bergerak hingga tangannya terluka..”
“ Apa?. . . Sebentar, apa maksudmu 2 Hansaplast yang ditangannya gara gara...”
__ADS_1
“ Iya kak.. Darahnya cukup banyak bahkan mama dan papa sempat merasa panik, tapi Kak Serkan menenangkan mereka.. Kalau aku jadi Kak Serkan sepertinya memilih memakai perban, tapi dia memilih memakai Hansaplast.. Dia menjemputmu kan? Kulihat tadi dia mengantarkanmu..”
Untuk apa dia datang ke toko mama dan ke studio Andre? Bahkan membantu papa di restaurant.. Jika dia melakukan ini hanya karena rasa terima kasihnya, kupikir dia sudah bertindak sangat jauh.. Kenapa dia sampai seperti ini padaku? Apa aku harus memastikan apa maksud dari perlakuannya selama ini padaku? Kenapa aku terlalu takut untuk menanyakan itu padanya? Ya.. Akulah yang salah.. Aku terlalu takut untuk tersakiti lagi.. Aku takut dia akan menolakku.. Aku takut mendengar alasannya.. Aku takut.... Dia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.. Aku yang terlalu takut selama ini..