Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 8


__ADS_3

Cuaca mulai menghangat, musim dingin yang akan segera berakhir terlewat, bersiap memasuki awal musim semi. Awan Langit sudah lagi tak sekelabu biasanya, hingga jaket tebal pun bisa mulai terganti dengan Cardigan hangat. Memulai Selama 4 hari ini fokus untuk mengerjakan jurnal akademik. Tersadar mencari semua data apa saja yang terkait atau bahkan mungkin bisa membantuku. Tiba tiba pengingat di handphone ku berbunyi dan tertulis Lokanta Feriye, Dinner. Tunggu, apa ini hari sabtu? Kenapa aku bisa sampai lupa hari seperti ini? Dan apa yang harus kenakan? Apa aku kembali memakai gaun yang diberikan Serkan saat itu? Tapi sepertinya gaun itu terlihat sangat mewah bila hanya untuk makan malam.. Aku mencoba melihat isi lemariku dan sepertinya tidak ada satu baju gaun yang bisa kugunakan, dan sangat tidak mungkin bagiku untuk mencari dan membeli gaun yang baru. Akhirnya seperti biasa, aku menggunakan kartu terakhirku..


“ Hey sist.. Lii.. Rey.. Apa kau punya gaun yang bisa digunakan untuk makan malam di restaurant?”


Almira yang menghampiri Lilian dan Kirey yang sedangmenonton TV di ruang tengah


“ APA..??!!”


Ucap Lilian dan Kirey yang merasa terkejut


“ Baju gaun untuk kupakai.. Apa aku bisa meminjamnya?"


" Kau mau kemana mir? Dengan siapa?. . .  Apa dengan. . . ."


" Serkan mengajakku dinner, Aahh salah aku yang mengajaknya untuk membalas budiku padanya. Lalu dia yang menentukan tempatnya.”


“ Ciyeee... Akhirnya. Dimana mir??”


“ Lokanta Feriye..”


“ Serius? Kau harus membawa uang banyak mir kalau kesana..”


“ Memang.. Seperti apa tempatnya?”


“ Aku cukup yakin Serkan pasti sudah melakukan reservasi kan? Tempat itu bagus mir.. Cocok untuk makan malam kalian berdua.”


“ Sepertinya Kirey sudah pergi kesana nih.. Dengan siapa sist?”


“ Himmet..”


“ Tunggu.. Himmet Yafuz?? Keluarganya memiliki usaha sparepart kendaraan mobil dan motor? kudengar sudah ada cabang besar dikota. Bahkan dia sendiri pun sudah mulai mengembangkan usaha keluarganya itu. Kirey, Apa kau....”


“ Ya.. Saat kau tidak sengaja mengenalkannya padaku.. Dari situ kami tidak sengaja bertemu kembali saat aku ada acara dengan jurusan seni disebuah gallery, kemudian belanjut hingga sekarang..”


" Apa aku melewatkan sesuatu disini?"


Ucap Almira yang kebingungan mendengar Lilian dan Kirey berbicara


“ Nanti mir, panjang ceritanya.. Kau harus ceritakan pada kami nanti, Rey.. Oke?! Tapi, sebelumnya kita harus membuat Almira bagai Ratu malam ini..”


Lilian dan Kirey yang mendorong Almira masuk kedalam kamar Lilian


“ Apa? Serius? Aku hanya ingin meminjam..”


“ Berisik!! Ikut kami sini”


Entah hanya perasaanku saja, atau lilian dan kirey terlihat begitu semangat? Mereka mengeluarkan semua gaun, tas clutch, dan beruntungnya ukuran kaki kami pun sama. Dari gaun satu ke gaun lainnya, mereka coba pakaikan padaku.. Sampai akhirnya mereka memilihkan gaun berwarna cream dengan hiasan mutiara dengan balutan kain satin berwarna putih gading.. Sepatu dan tas yang senada, membuatku terlihat begitu berbeda.. Mereka juga meriasku, bahkan rambut panjangku mereka ubah dengan bentuk menawan dengan berakhir diberikan hiasan mutiara. Saat selesai meriasku, mereka pun menyuruhku melihat kearah cermin.. Sungguh diluar dugaan, aku ternyata bisa tampil seperti ini lagi.. Mereka sendiripun tampak terkejut setelah melihat hasil akhir padaku.. Tak lama Serkan melakukan panggilan dan mengatakan bahwa dia sudah menunggu di lobby bawah.. Lilian dan kirey terlihat menyemangati namun juga menjahiliku saat ini. Dengan tersenyum aku pun melangkah pergi..


Menuju keluar pintu lobby, terlihat Serkan pun berbeda dari biasanya.. Jas suit terpadu dengan kemeja berwarna hitam, rambutnya pun tertata rapi sehingga semakin membuatnya terlihat gagah dan tampan. Dari Kacamata, jam tangan, serta sepatu yang digunakannya pun seolah terpadu sempurna.. Tersadar aku pun melihat kearah tatapannya saat ini yang melihat kearahku, seolah terkejut melihatku bisa berpenampilan seperti ini.. Senyumannya saat melangkah berjalan kearahku dan memberikan uluran tangan untuk membantuku menuruni anak tangga, terasa bagai seorang putri raja. Pintu mobil yang sengaja terbuka untukku, jujur aku sempat merasa salah tingkah dengan perlakuannya saat ini. Berada di dalam mobil yang sama, tiba tiba dia tersenyum kembali padaku dan aku pun tak kuasa untuk tidak membalas senyumannya dan  kami berlalu pergi melibas kepadatan kota di senja menuju malam.


Malam hari terlihat berbeda dengan lampu yang menyala. Tersampai didepan pintu masuk restaurant, pintu mobilku dibuka oleh seorang waiters dan Serkan memberikan kunci mobil padanya, kemudian kembali mengulurkan tangannya  padaku dan aku pun melingkarkan tanganku pada lengannya. Seolah kami benar benar seperti pasangan kekasih, terlihat beberapa orang pun melihat kearah kami.. Tak heran dengan penampilan Serkan malam ini, pasti banyak mata yang akan memandangnya. Kami berjalan menuju tempat yang sudah dipersiapkan, dan lagi lagi aku dibuat kagum olehnya.. Tempat makan outdoor dengan kursi di tengah sehingga terlihat jelas pemandangan selat bosphorus serta jembatan penghubungnya dimana lampu lampu menyala terlihat sangat indah.. Disertai hembusan angin dan juga rindang pohon, membuat nya terasa menyejukkan.. Area dinner yang khusus terdiri hanya 8 meja yang berjauhan dengan lilin dan bunga yang terletak diatas meja.. Serkan mempersilahkan aku duduk dan mengaturnya kembali layaknya seorang putri.


“ Apa yang ingin kau makan?”


“ Hmm.. Sejujurnya aku baru pertama kali datang ketempat seperti ini, jadi aku kurang mengerti..”


“ Kau ingin aku yang memesan hidangan kita berdua?”


“ Yaa..”


" Apa kau ada alergi makanan laut, atau yang lain?"


" Tidak ada.."


“ Baiklah, semoga cocok dengan seleramu”


Benar benar Retaurant berbintang 5, belum lama Serkan memesan makanan dan minuman,  datang 2 orang pria yang masuk kearea makan kami dan berjalan ketengah area kemudian berdiri dibawah pohon yang berhias lampu dan bunga. Dengan membawa biola dan saxophone mereka memainkan nada yang sangat indah.. Terlihat para tamu undangan yang lain pun begitu menikmati alunan lagu yang dibawakannya.. Tak sadar aku pun seolah terhanyut dengan suasana saat ini membuat tubuhku bergerak ke kanan dan kiri bahkan aku menutup mataku menikmati lagu yang dibawakan.. Tersadar aku langsung membuka mataku dan menghentikan gerakanku.. Ternyata Serkan sedang melihat kepadaku, sontak aku pun merasa malu sehingga menundukkan kepalaku.. Serkan yang tertawa melihatku sungguh membuatku sangat malu.


“ Jika kau menyukainya, kenapa berhenti?”


“ Apa? Tidak.. Aku hanya seperti terhanyut oleh alunan nada musik saat ini..”


“ Bukankah itu sama saja?”


“ Hey tuan kacamata.. Sepertinya kau sangat ahli dalam memperlakukan wanita.. Kau juga pasti pernah kemari bukan? Jujurlah..”


“ Ya”


Expresi Serkan langsung terlihat berbeda saat ini, aku pun langsung bisa menebak dengan siapa dia datang kemari. Jujur, kenapa aku merasa sedikit kesal? Jika aku tahu kau pernah kemari, aku pasti akan menolak untuk datang kemari.. Tapi tunggu dulu, kenapa aku harus merasa kesal? Bukankah ini hanya karena aku ingin membalas kebaikannya padaku? Lagipula aku dan dia tidak ada hubungan sama sekali.. Merasa tidak memiliki hak tanya, hanya terdiam dan kembali mendengarkan alunan nada musik yang dapat menenangkanku. Saat aku bergumam dalam hati, makanan dan minuman pun datang bergantian.. Aku lihat semua makanan yang datang, entah mengapa jadi membuatku merasa sayang untuk memakannya.. Semua tersaji dengan sangat indah, ternyata makanan bisa dibentuk dengan sangat indah seperti ini.. Lalu datang kembali makanan dan makanan silih berganti hingga meja terlihat penuh.. Jika ada yang melihat expresiku saat ini sepertinya sudah tidak memiliki bentuk yang jelas, pikiranku seperti sempat keluar melayang entah kemana.. Aku pun melihat kearah serkan yang seolah seperti sedang menahan tawanya..


“ Jujurlah.. Apa kau mencoba merampokku malam ini? Ingin membuat tabunganku kosong?”


“ Kau bilang tadi aku yang memesan makanan kita berdua. Salah?”


“ Tapi…!! Apa kau perut karet? Makanan inti kau pesan 2 macam.. Lalu soup ini juga.. Bahkan minuman pun kau juga pesan 2 macam. Dan kudengar tadi kau juga memesan dessert?”


“ Ya.. Cobalah.. Kuharap kau menyukainya”


“ Kau benar benar membuat isi dompetku seperti sarang laba laba..”


“ Hentikan omelanmu dan cobalah..”

__ADS_1


Saat serkan menawarkan daging steak yang sudah terpotong sempurna, jujur aku merasa ingin menangis saat melihat semua makanan ini mengingat jatah makanku untuk sebulan kedepan terpakai hanya dalam satu hari.. Dengan sedikit penyesalan aku menyuapkan makanan ini kedalam mulutku, namun anehnya seketika aku seperti terlupa akan bebanku sebulan kedepan karena lezatnya makanan ini.. Tak terasa 2 hidangan kusantap dengan lahap, soup pun bahkan aku habiskan.. Aku melihat kearah serkan, dia seperti sengaja memalingkan pandangannya agar aku merasa nyaman saat menyantap makanan dan minuman ini.. Tak lama datang dessert berupa chocolate Cheese Cake dan Waffle yang berhias buah diatasnya.. Aku pun langsung menyantapnya kembali.. Saat semua makanan milikku habis, aku baru tersadar akan banyaknya makanan dan minuman yang kuhabiskan saat ini dengan mata yang terbuka lebar.. Dengan wajah penuh malu, kudengar Serkan tertawa kembali


“ Entah siapa yang mengatakan bahwa aku, adalah Perut Karet??”


“ Kenapa aku bisa makan sebanyak ini??”


" Di depanku kau tidak perlu merasa sungkan. Aku senang jika kau menyukai masakan ini"


" Percayalah, Benar benar bisa melupakan beban kehidupanku untuk sebulan ke depan"


“ Ahahaha, Lalu apa kau mau mencoba dessert milikku? Ini tidak begitu manis.. Cobalah”


“ Tidak, Tidak, terima kasih"


" Aku yakin kau juga akan menyukainya, Cobalah"


" Tapi.. Bukankah sendok itu kau yang pakai? Pindahkan saja ke sendok ku”


“ Almira, tanganku mulai terasa pegal”


Mendengarnya berkata seperti itu aku pun menyuapkan kue yang berada ditangan serkan kali ini dan dia pun tersenyum.. Dia melanjutkan memakan dessert miliknya, sedangkan aku menghabiskan minumanku.. Saat kami sedang menikmati suasana malam ini, tiba tiba lagu yang dimainkan berubah berpindah menjadi alunan bernuansa romantis.. Kulihat banyak pasangan yang tiba tiba berdiri dan berdansa bersama.. Entah mengapa aku merasa malu, aku mencoba membalikkan pandanganku kearah samping kiriku, namun yang kulihat justru sebaliknya dari yang kubayangkan.. Serkan ternyata sudah berdiri disamping meja dengan tangan yang mengarah padaku..


“ Serkan?? Apa yang kau.... Jangan bilang...”


“ Maukah berdansa denganku?”


“ AKU?? Tidak, Tidak. Kau harus tahu aku tidak bisa berdansa. Kau bisa malu jika aku terjatuh nanti..”


“ Aku akan memelukmu agar kau tidak terjatuh”


“ Apa?”


" Maukah berdansa denganku Miss Almira?"


" Serkan..."


" Hanya cukup menggapai tanganku, sisanya serahkan padaku."


Melihatnya kembali seperti ini aku tidak mempunyai pilihan lain.. Aku pun menggenggam tangannya dan dia pun sedikit menarikku sehingga membuatku bersandar padanya.. Dia pun melingkarkan tangannya dipinggangku dengan erat, seolah betul betul meyakinkanku bahwa aku tidak akan terjatuh.. Tangan yang satunya pun begitu erat menggenggamku, kemudian dia pun mulai melangkahkan kakinya dan aku pun mencoba mengikuti gerakannya.. Tak lama aku semakin terbiasa dengan gerakannya, aku pun mengangkat kepalaku sedikit keatas untuk melihat wajahnya, terlihat senyuman diwajah tampannya saat ini.. Mata kami pun bertemu dan entah mengapa saat aku melihat matanya dan dia melihatku, expresi kami berubah menjadi sangat serius.. Kemudian dapat terasa olehku tangannya yang melingkar dipinggangku menjadi semakin erat membuatku menjadi sangat dekat dengannya.. Wajahnya pun menjadi semakin dekat dengan wajahku, menundukkan sedikit wajahnya terasa sebuah ciuman hangat dan lembut pada leherku. Sontak perasaan terkejut menghampiri, namun tiba tiba...


“Serkan? Kau disini juga?"


Ucap seorang wanita di belakangku menggunakan bahasa Turki


Serkan melihat kearah wanita yang memanggil namanya dan langsung terhenti tak bergerak, kulihat dia juga tampak terkejut melihat sosok wanita yang berada dibelakangku.. Dibuat penasaran aku pun membalikkan tubuhku untuk melihat wanita yang memanggilnya tadi.. Seketika tubuhku pun ikut terdiam ketika melihatnya dan entah mengapa aku berjalan mundur saat wanita itu berjalan selangkah demi selangkah ke arah Serkan..


“Berguzar”


“ Apa yang kau lakukan?”


“ Te, tentu saja membayar tagihan.. Bukankah kita sudah selesai makan? Kau masih merasa lapar?”


“ Almira...”


“ Aku cukup mengerti Serkan. Jadi pergilah kepadanya dan berbicaralah..”


“ Kau.. darimana...”


“ Jujur.. Maaf, aku melihat isi buku note milikmu.. Jadi ya, aku mengenal siapa wanita itu”


“ Aku akan mengantarmu”


“ Tidak perlu.. Tunggu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau yang membayar tagihan ini? Hey, serkan..? SERKAN!!”


“Diamlah.”


“ Berhentilah bersikap seperti ini, aku tahu kau sangat ingin berbicara dengannya.. Emre. Jika kau khawatir, aku akan menghubungi Emre untuk mengantarku pulang”


“ Kau!! Almira, kenapa kau....”


“ Halo Emre? Apa kau mendapat pesan dariku?... Ya, Maafkan aku tapi bisakah kau menjemput dan mengantarkanku pulang? Serkan, Kebetulan bertemu dengan rekan bisnisnya dan aku tidak mau mengganggunya”


“ Hentikan. Tutup panggilan ini.”


" Kembalikan handphoneku"


" Kenapa kau tiba tiba.."


“ Aku akan menunggu Emre disini, kau masuklah kedalam”


“ ALMIRA!!”


" Jika aku mengatakan kau tidak perlu bertemu dengannya, apa kau akan menurutiku? Bukankah aneh, seolah aku tidak tahu dimana posisi dan juga apa kewenanganku untuk berkata seperti itu"


" Almira, aku akan mengantarkanmu pulang. Kumohon jangan..."


Aku langsung membalikkan tubuhku mencoba menghindari berdebat dengannya.. Saat aku melihat ke lorong ruangan, ternyata Berguzar mengikuti kami dan melihat pertunjukan drama yang dilakukan olehku dan Serkan. Terlihat kebingungan dia pun berdiri terdiam dan seolah menunggu Serkan untuk menghampirinya.. Namun Serkan saat ini masih terlihat kesal dan berdiri disampingku dengan menatapku.. Aku mencoba menjaga jarak dengan sedikit menjauhinya, Serkan yang menyadari tindakanku saat ini terlihat semakin kesal kepadaku.. Jujur entah mengapa aku berkelakuan seperti ini? Berguzar kemudian berjalan kerah kami dan bertanya dari jauh, apa yang sedang terjadi? Ada apa ini? Siapa wanita ini? Apa hubunganmu dengannya? Aku yang hanya bisa memalingkan wajahku agar tidak melihatnya, tanpa berkata Serkan langsung menghampiri dan berbincang dengan Berguzar. Tangan yang bergetar pun terkepal menahan dengan menarik Gaun yang kukenakan. Berjalan menghindari mereka dan berdiri seorang diri menunggu kedatangan Emre di luar pintu restaurant, bersyukur tak memakan waktu lama Emre pun datang..


“ Almira?? Wow.. kau tampak sangat berbeda..”


Ucap Emre yang turun dari mobil dan mencoba membuka pintu samping mobil untuk Almira

__ADS_1


“ Terima kasih..”


“ Tapi kenapa kau berdiri seorang diri disini? Dimana kakak? Untunglah aku sedang berada diluar, jadi bisa langsung kemari.. Siapa rekan bisnis yang di bicarakan itu?”


“ Itu... Sebenarnya.. Dia...”


“ Almira, bicara yang jelas.. Siapa yang..........”


Tiba tiba Emre terdiam dan expresinya langsung berubah karena melihat seseorang yang berada dibelakang almira


“ Emre.. Tenanglah..”


“ Kenapa WANITA itu bisa ada disini?”


Emre yang menatap Almira dengan penuh kemarahan


“ Emre, Pertimbangkan kondisi Serkan saat ini. Tahan emosimu..”


Almira yang memegang lengan Emre mencoba untuk menenangkannya


“ Pertimbangkan? Setelah apa yang dilakukan wanita itu?? ALMIRA, KEMANA PIKIRANMU??”


“ Kita pergi dari sini.. Ayo Emre.. Ayo"


Almira yang mendorong Emre untuk masuk ke dalam mobil


“ KAK SERKAN..!!!”Ucap Emre menggunakan bahasa turki


“ Emre..!! HENTIKAN!! Kumohon dengarkan aku, kita pergi dari sini sekarang.. Kita akan berbicara setelah ini”


Almira yang mendorong Emre hingga berhasil masuk ke dalam mobil


Saat Emre memanggil Serkan, dia pun melolehkan kepalanya dan langsung berjalan menuju kearah kami.. Namun aku dengan sigap menyuruh Emre kembali ke bangku kemudi dan kami pun berlalu pergi. Terlihat dari kaca spion mobil, Serkan berusaha mengejar kami namun terlambat. Aku pun hanya terdiam selama perjalanan menuju apartment, karena saat ini emre terlihat begitu kesal.. Begitu sampai, aku mengundang emre untuk datang dan berbicara di apartment.. Begitu sampai, terlihat lilian dan kirey terkejut melihatku datang bersama dengan Emre. Lilian menghampiriku dan bertanya, namun aku berlalu pergi masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaianku dan membersihkan riasanku.. Terdengar Emre mencoba menjelaskan kepada lilian dan kirey saat ini.. Begitu selesai aku pun keluar dan berbincang dengan mereka..


" ALMIRA, APA YANG KAU PIKIRKAN?? KAU MENINGGALKAN ABI DENGAN WANITA ITU!!"


“ Emre.. Tenanglah. Aku yakin Almira pun merasa tidak nyaman saat ini.."


Lilian yang mencoba menengahi dengan menyentuh tangan Emre


" Lagi.. Emre, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadamu sudah mengantarkanku.."


“ Kak Serkan salah memperlakukanmu seperti ini!! Atas namanya, aku memohon maaf.”


“ Malam ini aku yang salah. Jangan salahkan dia.. Akulah yang menghindarinya”


Ucap Almira yang terduduk di kursi makan mencoba melepas sepatu HighHeelsnya


“ Kenapa Berguzar hadir kembali?”


"Aku tahu kau sangat kesal, tapi jika tadi kau menekan emosinya, aku takut kejadian di depan ruangan Pak Onur kembali terulang terlebih di hadapan banyak orang.. Dan itu hanya akan memperburuk keadaannya..”


“ Sedang apa wanita itu disana!! Setelah sekian lama dia pergi?!”


Emre merasa kesal namun mencoba menahan emosinya


“ Emre percayalah, bahkan Serkan sendiri pun sangat terkejut ketika melihatnya.. Emre, lusa adalah sesi wawancara pertama ku dengan Serkan langsung.. Kita lihat bagaimana perkembangannya, tapi untuk saat ini.. Kau tenanglah..”


"BAGAIMANA BISA TENANG DENGAN SEMUA YANG TERJADI?!"


Emre kembali emosi dengan memukul meja makan


"Emre.. Tenanglah, dengarkan apa kata Almira.. Tidak baik untuk kondisi psikis Serkan bukan? Kita harus bersabar dalam hal ini. Jangan mendorong terlalu jauh.."


Ucap Lilian yang mengambil tangan Emre yang mengepal kembali mencoba untuk menenangkannya


" AARRRGGHHH!!!! Wanita ini Membuatku GILA!! AKU MERASA KESAL SEKALI".


" Tenanglah, Tenang..."


Terlihat Emre mencoba menahan emosinya saat ini, tiba tiba handphone nya berbunyi ternyata Serkan yang melakukan panggilan.. Emre pun seolah merasa kesal padanya, namun Lilian meyakinkannya untuk melakukan seperti apa yang aku perintahkan. Akhirnya Emre pun menurunkan nada bicaranya dan memberitahukan bahwa dia sudah mengantarkan ku kembali ke apartment dengan selamat kemudian menutup panggilan itu. Sesudahnya Emre pun pamit untuk pulang dan Lilian mengantarkannya. Saat kembali ke kamar, aku terduduk termenung kemudian berdiri berjalan berkeliling kamar seolah tak tahu apa yang sedang kulakukan.. Kirey yang melihatku, datang menghampiri kamarku..


“ Lilian masih dibawah, sepertinya masih berbincang dengan Emre..”


“ Yaa..”


“ Kau baik baik saja?”


“ Apa? Tentu saja.. Atau.. Tidak sama sekali.. Kirey, aku merasa bingung.”


“ Mira.. Apa kau tau bagaimana perasaanmu sebenarnya kepada Serkan?”


“ Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“ Berkacalah dan lihat bagaimana kau saat ini..”


“ Aku baik baik saja”


“ Baiklah.. Kau orang yang baik mir, Ingat itu.. Oke? ”


Kirey meninggalkan ruanganku dengan senyuman diwajahnya.. Aku sangat mengerti apa maksud yang dia katakan saat ini, tapi aku terlalu takut untuk bercermin.

__ADS_1


__ADS_2