Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 28


__ADS_3

Kaki yang melangkah dengan terhenti tepat dihadapannya, membuatku terdiam dan semua kata kata atau pertanyaan yang ada dipikiranku yang sangat ingin ku kaatakan padanya pun seperti terhapus dengan sendirinya membuatku terlihat seperti Badut yang tidak tahu dan mengerti sedang apa dan mengapa aku berada disini. Serkan menatapku dengan wajahnya yang selalu menawan hati ini untuk melihatnya.. Penampilannya dapat membuat wanita mana pun tak kuasa untuk menolaknya. Tapi ada apa denganku yang masih saja tidak bisa menerima penuh kehadirannya yang sebenarnya juga sangat kuinginkan?


“ Seperti dugaanku, kau akan terlihat cantik mengenakan gaun itu.”


Serkan yang memulai pembicaraan dan menatap Almira dengan lembut


“ Kenapa? Maksudku, untuk apa kau menyiapkan ini semua?”


“ Hari ini keluarga besarku datang. Dan kau pasti tidak mempersiapkan apa pun. Aku hanya men..”


“ Mencoba agar aku tidak terlihat mempermalukan diriku sendiri?”


Almira yang menatap Serkan dengan tersenyum


“ Maafkan, apa aku menyinggungmu?”


“ Tidak.. Tidak sama sekali.. Aku memang tidak membawa gaun.. Mungkin lebih tepatnya, aku tidak mempunyai gaun indah seperti ini..”


Almira mengibaskan gaun yang dikenakannya dihadapan Serkan


“ Syukurlah jika kau menyukainya.”


“ Serkan.. Kau... Apa yang kau jelaskan pada keluargamu? Ini solusi dari masalah kita? Kau.. akan....”


“ Ya dan tidak. Aku masih mempertimbangkannya. Tapi, menurutku inilah solusi terbaik untuk masalah ini.”


“ Lalu.. Untukku? Hanya untukku, tidak untukmu.. Apa kau mencintai gadis itu?”


" . . . . . . . ."


Serkan yang terdiam mendengar pertanyaan Almira dan hanya menatapnya


" Kenapa kau terdiam? Maaf, apa aku sa.."


“ Sampai detik ini hanya ada 1 perempuan yang kusukai dan itu berada tepat dihadapanku. Namun, ibuku memberitahu bahwa cinta tidak akan bisa bahagia jika aku memaksakan kehendakku padanya."


Ucap Serkan yang memotong pembicaraan Almira


" Apa? Kau.. Bilang apa?"


" Entah sejak kapan dan karena apa, tapi semenjak awal melihatmu ketika pertama kali kita bertemu di ruangan Pak Onur. Saati itu aku seolah memikirkanmu dan perasaan itu terus tumbuh tanpa aku sadari."


Serkan yang mengutarakan isi hatinya dengan menatap Almira begitu dalam


" Kenapa baru saat ini kau katakan padaku?"


" Hanya alasan pria pada umumnya.”


" Seperti takut menyakitiku atau aku yang kehilangan cita citaku karena harus menyesuaikan gaya hidup dan lingkungan sosialmu.. Serta keluargamu.. Bukan begitu Serkan?"


“ Aku bisa dengan mudah menolak semua ini. Tapi seperti kau tahu, aku sudah banyak menyebabkan masalah terutama untuk keluargaku dalam waktu lama. Jadi..”


“ Jadi... kita akan berpisah seperti ini?”


Almira yang langsung memotong Serkan berbicara dan menatapnya tajam


“ Meski berat, aku selalu berdoa untuk kebahagianmu. Almira, aku..”


# TOK TOK TOK


Suara pintu kamar yang terketuk


“ Serkan? Kau sudah siap? Cucuku tampan sekali.. Dan almira?? Kau terlihat cantik sekali..”


Ucap nenek yang berjalan menghampiri Serkan dan Almira


“ Aku sudah siap nek. Kita turun sekarang?”


Ucap Serkan sembari mengambil jas yang tergantung dan memakainya


“ Ya.. Semua sudah sangat ingin melihatmu. Ayoo kita turun.. Almira ayoo nak..”

__ADS_1


Ucap sang nenek yang tersenyum pada Almira


Aku menundukkan kepalaku seolah mempersilahkan Serkan dan neneknya untuk pergi terlebih dahulu.. Aku tahu seharusnya kakiku ikut melangkah keluar mengikuti mereka saat ini. Tapi kenapa seolah aku tidak bisa bergerak? Aku.. Tidak ingin melihatnya bersama wanita lain! Lalu kenapa kau seperti ini almira? Semua juga sudah terlambat bukan? Teguhkan hati dan pikiranmu! Sadarlah almira!.


Akhirnya kakiku kembali bisa melangkah meninggalkan kamar ini dan berjalan untuk menuruni tangga menuju lantai bawah.. Terlihat semua begitu sangat menawan bahkan Lilian terlihat begitu cantik berada disamping Emre saat ini. Tersadar akan kehadiranku Lilian hanya memberikan senyuman karena jarak kami yang sedikit agak jauh dan terhalang oleh keluarga Serkan yang lain.. Namun kenapa senyuman Lilian terlihat begitu menyedihkan kearahku? Apa saat ini aku terlihat menyedihkan?


Tak lama acara pun dimulai.. Baru kali ini aku melihat secara langsung Ayah Serkan, Tuan Faruk Emuler bersama Bu Farrah di sampingnya, seperti biasa terlihat sangat menawan. Benar benar pasangan yang sempurna.. Aku kembali mendengarkan Tuan Faruk yang berbicara dengan menggunakan percampuran antara bahasa turki dan indonesia hingga tak kala membuat canda tawa bagi kami yang mendengarnya.. Lalu sampailah pada detik acara inti, dimana Serkan diberikan tanggung jawab penuh atas perusahaan dan melakukan pensiun dini menjelamg usianya yang sudah terbilang tidak muda lagi. Berjalan menuju tengah tepat diantara mereka, Serkan dengan gagah menerima tanggung jawab itu dan mereka pun saling berpelukan layaknya seorang ayah kepada anaknya..


Kemudian sampai pada acara inti lainnya, yaitu acara pertunangan Serkan. Kudengar nama Yashinta di panggil oleh Bu Farrah  yang membuat entah mengapa kakiku seperti hilang tenaga untuk menopang dirikuku untuk berdiri. Dadaku semakin terasa sesak hingga sulit untukku bernafas.. Hingga terlihat Serkan dan Yashinta berdiri berhadapan dengan saling menatap terlihat sangat serasi dengan penampilan mereka saat ini.  Kenapa mereka terlihat bahagia, sedangkan tidak untukku?


" Ma, maafkan aku.. Permisi, maafkan ijinkan aku lewat.."


Almira yang membalikkan tubuhnya berjalan menuju Pintu keluar memotong kerumunan para tamu


 " Almira? Kau mau kemana?"


Ucap Tante Fira yang mencoba menghentikan Almira yang terlihat terburu buru meninggalkan ruangan


" Maafkan Almira.. Tiba tiba... Tiba tiba rumah sakit menghubungiku dan sepertinya...."


Almira yang memutar kedua bola matanya mencoba mencari alasan yang tepat


" Kau tidak akan me.."


" Maafkan aku bibi.. Sampaikan salamku untuk Serkan dan semuanya.."


" APA?? Almira, tunggu Almira! ALMIRA!!"


Tante Fira yang meninggikan suara karena tidak bisa menghentikan Almira


Entah mengapa kenangan saat pertama kali bertemu dengannya berawal dengan sebuah cup coffe.. Musim dingin kedua dimana salju terlihat indah.. Moment pertama kali saat mengharuskan kami berperan sebagai sepasang kekasih.. Waktu yang kami menghabiskan, waktu berbincang di Selat Bosphorus yang indah.. Pertengkaran dan selisih pendapat.. Musim semi yang kami habiskan bermain ditaman rekreasi kota bersama yang lain, saat aku terjaga menemaninya ketika sakit.. Terakhir saat ku terluka karena kejadian itu. Ingatan akan dirinya yang merawatku dengan penuh perhatian.. Bahkan ketika disini pun dia sama sekali tidak berubah bahkan untuk perlakuannya kepada keluargaku.. Almira.. Kau....


" Kak, Almira tiba tiba pulang. Aku baru mendengarnya dari Bibi Fira.."


Ucap Emre dengan nafas tersenggah setelah berlari di ikuti Lilian di belakangnya


" Aku akan menyusulnya! Aku yakin dia belum pergi ja.."


Ucap Serkan yang menundukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan Emre dan Lilian


" Apa? Tapi Serkan jika sekarang kau tidak menghenti.."


" Ssstt.. Biarkan saja."


Emre yang menarik tangan Lilian mencoba untuk menghentikannya


" Tapi Emre. Bagaimana nasib mereka nanti?"


" Biar waktu yang menjawab. Kita bantu jika mereka memerlukan bantuan kita. Sebisa mungkin kita jangan membuat suasana menjadi lebih keruh untuk mereka berdua."


Emre yang menatap Llilian dengan tatapan serius seolah mencoba memperingati Lilian


. . . . . . . . . . . .


# 2 Tahun Kemudian


" ALMIRA, JIKA KAU TERUS SEPERTI INI, MAKA AKU AKAN MEMINTA KEPALA BAGIAN MEMBERIKAN SURAT DISIPLIN KEPADAMU!"


Ucap rekan kerja Almira, Dokter Jodi bagian bedah


" Seperti kataku. Aku tidak meminta agar jadwal operasi dibatalkan! Aku hanya meminta untuk mengundurnya selama 2 hari hingga kondisi pasien stabil."


" ATAS DASAR APA KAU BERANI SEPERTI INI?!"


" Kondisi pasien sudah kelelahan, apa kau tidak bisa melihatnya?. Dia sudah terlalu sakit karena menjalani terapi untuk penyakit kanker yang di deritanya. Aku hanya meminta memberikan waktu sehari saja jika memang kau bersikeras. Kumohon Dokter Jodi, jika tidak maka dia akan.."


" KANKER DALAM TUBUHNYA AKAN SEMAKIN MENYEBAR! LAGIPULA BERANI SEKALI KAU MENYEBERANG KEMARI MELANGKAHI SENIORMU.BAHKAN KAU MELUPAKAN SIAPA AKU DI RUMAH SAKIT INI!."


Dokter Jodi yang semakin terlihat penuh amarah


" Pasien itu akan meninggal jika tetap di operasi hari ini. Percayalah padaku!"

__ADS_1


" Jadi kau meragukan kemampuanku dalam ruang operasi? ITU MAKSUDMU?! APA YANG KALIAN LAKUKAN? BAWA PASIEN INI MENUJU RUANG OPERASI!!"


" BAIK."


Ucap beberapa suster yang akan mendampingi selama waktu operasi


Tangan mengepal dan hati yang menahan amarah pun menjadi terdiam berdiri membatu tak berdaya akan sosok yang lebih berkuasa dan merasa prioritas. Melayangkan pada pemikiran adanya jalur lain dalam masa jabatan serta permainan kotor, pasti akan tetap ditemukan dimana pun tempat aku akan bekerja. Lampu ruang operasi pun menyala dan sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini, selain hanya menunggu kabar dan berdoa untuk keselamatan pasien yang melakukan konseling padaku selama 3 bulan terakhir..


Terdiam dan berjalan maju dan mundur hanya akan membuat diriku semakin merasa gelisah. Tersadar akan waktu yang terus berjalan, akhirnya aku dapat melihat lampu ruangan operasi yang meredup dan pintu ruang operasi pun terbuka.. Terlihat para perawat yang melewatiku pun tertunduk seolah tidak berani untuk menatapku saat ini. Apa yang terjadi? Pasien itu selamat bukan?. Tak sabar hati, akhirnya aku memberanikan diriku untuk masuk kedalam ruangan operasi dan ternyata doa doa yang terucap berubah menjadi hinaan caci maki yang sangat ingin ku teriakan ketika melihat kondisi pasien yang terbujur kaku tertutup kain putih sepanjang tubuhnya.


Berdiri menatap tajam pada sesosok pria yang juga menundukkan kepalanya seolah tidak berani untuk menatapku yang masih berada di dalam ruang operasi, semakin membuatku menjadi hilang akal dengan mendobrak masuk ke dalam ruangan dan menendangnya hingga tersungkur terjatuh di atas lantai.. Semua berteriak dan menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang aku lakukan saat ini, namun aku sama sekali tidak merasa bersalah karena menendang seorang Dokter yang tidak menjalankan ikrar sumpahnya saat mendapatkan gelar Dokter yang disandangnya, hingga akhirnya aku berakhir pada Ruang Disiplin Kepala Bagian Rumah sakit.


" Dokter Almira.. Kami tahu anda hanya menjalankan tugas bakti anda, namun kami tetap tidak membenarkan tingkahmu kepada sesama Rekan Dokter sehingga merasa di permalukan olehmu.."


Ucap Kepala bagian kepada Almira yang berdiri dihadapannya


" Aku tahu itu Profesor. Tindakan Disiplin apa yang akan kuterima?"


" Untuk sementara pekerjanmu akan dilimpahkan kepada Rekan kerjamu. Lalu kau, lihatlah ini.."


Kepala bagian menyerahkan sebuah Map kertas kepada Almira diatas mejanya


" Rumah sakit Mektup Isik? Rumah sakit internasiona? Dimana Rumah sakit ini? Kenapa saya belum pernah mendengarnya?"


Ucap Almira yang terlihat kebingungan setelah membaca isi map tersebut


" Dokter Almira, Rumah sakit itu berada di Kota saat kau mengambil pendidikan S2 mu.."


" Istanbul?.. Turki?"


" Ya. Aku dengar terjadi pemberontakan pada wilayah perbatasan yang sekarang sudah berhasil diselesaikan. Namun Pihak Rumah Sakit memberikan pernyataan akan kekurangan tenaga medis dan meminta bantuan kepada Rumah sakit yang ikut bekerja sama seperti Rumah sakit ini. Karena kami menganggap kau sudah terbiasa dengan bahasa dan beberapa kebiasaan disana, tugasmu adalah melakukan konseling terapi kepada dewasa terlebih anak anak yang mengalami trauma akibat pemberontakan ini."


" Be, berapa lama aku akan berada disana?"


" Selama masa tindakan disiplinmu berakhir, yaitu selama 3 bulan."


Terdiam dan pikiran pun melayang, kenapa pada saat ini aku dipaksa untuk tertarik kembali pada tempat yang sebisa mungkin ingin ku hindari? Takdir apakah ini?.. Namun hanya bisa terdiam dan kembali menerima suratan takdir ini, akhirnya dengan sebuah tiket pesawat yang diletakkan dengan jangka waktu sehari bagiku untuk bersiap siap dan langsung terbang kembali menuju tempat yang ku pikir sangat tidak mungkin aku menginjakkan kakiku lagi disana.


Sesampainya dirumah, kembali memberikan kabar yang kurang menenangkan.. Terlihat Papa dan Mama yang keberatan namun hanya bisa terdiam dan berpaling meninggalkanku masuk kedalam kamarnya dengan terdengar suara Rintihan tangisan Mama yang sedang ditenangkan oleh Papa yang juga terdengar penuh khawatir padaku.. Terdiam dengan berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar untuk menyiapkan semua keperluanku, akhirnya semua pun selesai dan tinggal menunggu waktu pada besok hari yang merupakan waktu keberangkatanku.


Andre dan Talita yang mengantarkanku ke bandara terlihat begitu sedih dan memelukku dengan erat hingga memastikan bahwa semua keperluanku sudah tersedia hingga tak sadar waktu kembali berputar dan lambaian tangan pun kami lakukan satu sama lain dengan senyuman penuh kekhawatiran yang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana akan kondisiku saat berada disana nanti..


. . . . . . . . . . .


" Dokter Almira? Perkenalkan saya adalah Dokter Gulsen dan ini adalah Dokter Filiz yang tak lain adalah istriku.. Kami perwakilan Rumah sakit yang akan menjadi Rekan selama anda bekerja disini.."


Dokter Gulsen yang mencoba menjelaskan menggunkan bahasa turki lalu mengambil koper Almira untuk menaruhnya di bagasi mobil


" Panggil saja kami dengan nama, Gulsen dan Filiz. Aku tahu kau memerlukan penyesuaian kembali mengingat sudah lama keu tidak berkunjung kemari.."


Ucap Dokter Filiz yang tersenyum menggunakan bahasa turki dan membukakan pintu mobil untuk Almira


" Terima kasih, kau sangat pengertian sekali.."


Almira yang merasa malu, tersenyum menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil


" Jadi ceritakan padaku, apa yang terjadi dan apa saja yang harus kulakukan?"


Ucap Almira yang bertanya selama perjalanan menuju rumah sakit menggunakan bahasa turki


" Kau tenang saja, keadaan sudah aman. Namun sesekali kau jangan merasa terkejut atau takut saat terjadi jam pemeriksaan yang menyebabkan kau tidak bisa melakukan aktivitas diluar.. Tindakan itu hanya untuk menjaga keamanan saja.."


Gulsen yang mencoba menjelaskan menggunakan bahasa turki


" Kau akan kami antar menuju penginapan yang khusus bekerja sama dengan Rumah sakit. Tenanglah, meskipun penginapan biasa, namun fasilitas disana sudah seperti Hotel jadi kau tidak perlu merasa khawatir, terlebih hanya memerlukan waktu 10 menit untukmu berjalan menuju Rumah sakit karena jaraknya yang tidak jauh.."


Filiz yang mencoba menjelaskan kembali menggunakan bahasa turki


" Besok kau akan mulai bekerja, karena itu malam ini beristirahatlah mengingat jangka waktu penerbanganmu yang tidaklah sebentar.. Kami akan menunggumu besok pukul 08.00 pagi di Lobby utama Rumah sakit.."


" Baiklah, Terima kasih banyak Gulsen.. Filiz.."

__ADS_1


3 bulan.. Semoga semua berjalan lancar dan tidak ada satu hal pun yang terjadi.. Terdiam memandangi pemandangan musim gugur sepanjang perjalanan dengan udara yang terasa dingin membuat kenangan yang terlupakan hinggap sesaat di pikiranku melihat dedaunan yang kering berwarna kuning kecoklatan setelah kekeringan dan jatuh berguguran seperti kenanganku padanya yang terhenti pada musim ini.


__ADS_2