
Tali benang merah yang terjalin pun sudah terputus sejak lama. Saat ini semua yang berada disekitarku pun sudah tahu dengan jelas penyakitku ini bahkan menimbulkan masalah tentang penetapanku untuk bekerja di rumah sakit ini. Tak kala saat pikiranku melayang akan kepulanganku kembali pun akhirnya terbersit sudah dengan lapang dada aku mencoba menerima itu semua. Tak terasa sebulan sudah aku berada disini dan kedekatanku dengan kelima pasien yang kutangani pun menjadi semakin terikat disaat mereka menolak untuk mengganti Dokter pangganti dan menginginkanku yang tetap menjadi Terapis Psikolog mereka.. Sungguh mendengar itu, hati ini pun tak terasa hampa dan penuh terisi dengan senyuman manis yang mereka berikan padaku..
“ Oke, katakan alasan kalian padaku..”
Ucap Almira yang tersenyum dan duduk dihadapan kelima pasiennya menggunakan bahasa turki
“ Penyakitmu tidak ada hubungannya dengan kami. Lagi pula penyakit itu tidak menular! Aku tidak mengerti alasan mereka bertindak seperti ini padamu.”
Ucap Elif kepada Almira dengan sedikit kesal menggunakan bahasa turki
“ Aku yakin penyakitmu bisa sembuh! Kau terlihat sangat sehat, tidak sedikit pun terlihat sakit bahkan dengan kakimu yang terluka seperti ini dan berjalan menggunakan tongkat. Kau masih sanggup untuk bertahan.”
Ucap Derya dengan memalingkan pandangannya dari Almira
“ Aku sangat menyukaimu.. Kau bisa mengerti saat aku suka dan tidak suka.”
“ Aku juga sama seperti Kismet. Dokter Almira, kau seperti kakak dan juga ibu bagi kami..”
Ucap Harka yang memandang Almira penuh permohonan
“ Maafkan aku, semua karena aku..”
Ucap Emina yang mulai menangis, menundukkan kepalanya dan berjalan kearah Almira
“ Tuan puteri.. Apa aku berkata yang menyinggung perasaanmu atau menyalahkanmu?”
Ucap Almira kepada Emina yang berdiri dihadapannya
“ Ti.. tidak.. Tapi karena aku, kau.. Kau jadi seperti ini.. Maafkan aku Dokter Almira..”
Emina yang akhirnya menangis lepas dengan nada yang mulai meninggi
“ Berhentilah menangis.. Baiklah, aku akan menemani kalian sampai waktu yang ditentukan.”
Almira yang memeluk Emina dan tersenyum kepada Elif, Darya, Kismet, dan Harka
“ Betulkah?.. Maukah kau berjanji?”
Ucap Kismet dengan begitu antusias
“ Kau tidak akan tiba tiba meninggalkan kami bukan?”
Ucap Harka yang sama begitu Antusias seperti Kismet
“ Tidak akan.”
Ucap Almira yang kembali tersenyum dan melanjutkan Terapi Psikologis
Bersama sama dengan mereka dalan keadaan seperti sangat memudahkanku untuk lebih mnegerti kondisi mereka dan apa yang mereka rasakan disaat kelelahan menjalani terapi fisik dan diakhiri terapi psikologis. Dengan usia yang jauh lebih muda dariku, seorang diri dengan kehilangan orang yang mereka sayangi, bahkan kondisi tubuh yang sudah tidak sama seperti dulu.. Apa yang bisa kau bayangkan jika berada dikondisi mereka yang seperti itu namun berjuang untuk tetap hidup.
Dipenghujung hari mendekati usai jam kerja, Direktur Rumah sakit yaitu Turan memanggilku ke ruangannya dan aku begitu dikejutkan dengan kehadiran para Rekan Kerja sesama Dokter dan beberapa Perawat yang bekerja bersamaku dan juga beberapa yang tidak berhubungan langsung denganku yang menentang keberadaanku disini dan meminta aku dipulangkan kembali ke indonesia. Berdiri dengan tegap dengan menatap mereka semua yang terlihat tersenyum dan menghinaku, dapat terlihat jelas olehku bahwa saat ini mereka akan mengadakan pemungutan suara terkait dinas kerjaku yang kurang lebih masih selama 2 bulan ke depan..
“ Seperti kalian ketahui bahwa Dokter Almira mengidap Hepatitis B. Jadi, Bagaimana menurut kalian semua, aku sangat ingin mendengarnya.”
Ucap Turan menggunakan bahasa turki yang terduduk di kursi Direktur dengan melipat kedua tangannya menatap serius pada semua yang hadir
“ Dia mempermalukan dan nama baik Rumah sakit ini. Bagaimana mungkin dia bisa lolos datang kemari? Bukankah Rumah sakit sebelumnya dia bekerja adalah Rumah sakit berkelas internasional terbaik?”.
Ucap salah satu Dokter yang menunjuk nunjuk kearah Almira dengan kesal
“ Ini semua adalah kesalahanku. Aku baru menderita ini setelah lama bekerja disana, dan akulah yang belum berkata jujur pada pihak Rumah sakit prihal penyakitku ini. Jangan salahkan Rumah sakit tempatku bekerja karenaku!”
Almira yang langsung melangkah maju dengan berani mencoba melakukan pembelaan
“ Jika kau tahu kau adalah Dokter yang cacat, kenapa kau masih bekerja dan membahayakan sesama rekan kerjamu?! Tidakkah kau egois?!”
Ucap Dokter lainnya yang juga kesal kepada Almira
“. . . . . . . . . . . .”
Almira yang terdiam mendengar perkataan dokter itu dan hanya berdiri menatapnya
“ Dokter Almira memiliki gelar 2 tingkat diatasmu! Kau pikir dengan mudah dia mendapatkan 2 gelar itu? Terlebih dia lulusan dari universitas ternama dengan kerja yang luar biasa bagus menurutku.”
Ucap Gulzen kepada rekan Dokter lainnya
“ Aku dan Gulzen yang pertama kali bertemu dengannya. Menurutku kepribadian Dokter Almira jauh lebih baik dari kalian. Terlihat dari bagaimana dia memperlakukan semua pasien meskipun pasien itu bukan dirinya yang menangani.”
Ucap Filiz kembali dengan sedikit kesal kepada Rekan Dokternya
“ Dokter Almira selalu memperhatikan dirinya.. Aku dan beberapa Perawat lainnya sempat berpikir bahwa dia adalah tipe pemilih dan begitu sangat tidak menyukai hal hal disekitar kami saat istirahat bersama.. Namun kini aku tahu alasannya dengan selalu membawa pribadi gelas, piring, sendok, bahkan terkadang terlalu sering menggunakan Masker meskipun cuaca terasa sangat panas..”
“ Pernah suatu waktu aku sempat sakit hati padanya, disaat tidak sengaja ingin mengambil Roti daging yang dia bagikan selepas kami dinas malam. Dan aku tidak tahu ada Roti yang telah dia sentuh hingga aku begitu terkejut dan merasa malu karena mereka semua melihat kepadaku. Tapi, semenjak aku mengetahui alasannya seperti itu.. Aku pikir Dokter Almira bukanlah Dokter yang Cacat terlebih Egois sama sekali.”
Ucap beberapa Perawat kepada Turan yang mencoba menjelaskan
“ Tapi, tetap saja! Seorang Dokter yang bertugas menyembuhkan Pasien namun ternyata Dokter itu pun sakit! Bagaimana pendapat Pasien jika tahu hal ini?”
Ucap Dokter lainnya yang melakukan perlawanan kembali
__ADS_1
“ Tidakkah kau lihat kelima Pasien Dokter Almira? Bagaimana mereka menolak kalian dan menunggu Dokter Almira hingga dia sembuh? Masih kalian tanyakan pendapat Pasien Dokter Almira?”
Ucap Gulzen kembali kepada Dokter itu
“ Kalian berpendapat seperti itu karena kalian belum pernah bekerja sama dengan Dokter Almira!”
Ucap Filiz kembali dengan nada kesalnya
“ Bagaimana jika untuk seminggu kedepan, selepas Dokter Almira menyelesaikan Sesi Terapi Psikolognya, aku menugaskannya di Bangsal Ruang Pembedahan dan Unit Gawat Darurat selama seminggu?”
Ucap Turan yang berdiri dari kursinya dan berjalan menuju tepat dihadapan para Dokter dan Perawat
“ APA?... Pak Direktur, apa maskud dari yang anda katakan ini?”
Ucap Almira dengan terkejut
“ Hanya selama seminggu. Jika dalam seminggu untuk Para Dokter dan Perawat yang masih keberatan dan tidak menyukai dengan kehadiran Dokter Almira di Rumah sakit ini. Maka akan kita bicarakan kembali dan jika perlu, dengan sangat menyesal Dokter Almira kita pulangkan kembali ke Indonesia.. Setuju?”
Ucap Turan dengan nada tegas dan tatapan penuh keseriusan
Mendengar perkataan Turan saat ini, semua pun terdiam dan menundukkan kepalanya seraya setuju dengan pendapatnya. Mau tidak mau aku pun menyetujui persyaratan yang diberikan padanya olehku untuk membayar rasa bersalahku kepada mereka semua.. Pertemuan pun berakhir hingga akhirnya aku dan Turan berada diruangan ini berdua.. Turan memandangku dengan senyuman seraya berkata, Semangatlah.. Kau akan baik baik saja!. Dengan menghembuskan nafas panjang, entah expresi apa yang kuberikan padanya saat meninggalkan ruangan ini.
Berjalan menuju taman dihalaman belakang, aku membuka Masker yang kugunakan dan menghirup udara segar yang begitu dingin menyejukkan diawal musim pendatang musim dingin ditahun ini. Sinar matahari suda tidak seperti biasanya, hingga awan kelabu pun mulai terlihat dan awan berwarna biru pun menghilang.. Apa aku terlalu Egois saat ini? Apa aku benar benar menjadi Cacat? Apa impianku menjadi terbuang percuma karena penyakit ini?
Pikiran pikiran pun datang mengahmpiriku layaknya angin kencang yang menampar wajahku.. Tanganku entah mengapa bergetar dan air mata pun tak terasa menetes mengenai bibir yang terasa kering.. Mencoba mempersiapkan segala kemungkinan yang akan menimpaku dengan kehilangan orang orang yang menyayangiku karena mengecewakan dengan membohongi mereka selama 2 tahun ini dan juga kemungkinan akan kehilangan pekerjaanku yang begitu sangat kuimpikan ini..
. . . . . . . . . .
“ DOKTER ALMIRA! KUMOHON SEGERA DATANG KE RUANG UNIT GAWAT DARURAT!”
Ucap seorang Perawat yang berlari kepada Almira menggunakan bahasa turki
“ Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
Almira yang langsung berdiri dan dengan setengah berlari bersama Perawat itu menuju UGD
“ Pasien sepertinya mengalami Trauma terhadap alat medis sehingga kejang kejang.. Pasien tetap melakukan perlawanan dan berteriak membuat panik kepada Pasien yang lain..”
“ Baiklah aku mengerti.”
Almira langsung menggunakan Maskernya kembali dan berlari dengan sangat cepat
Begitu mendekati Ruangan UGD, teriakan wanita itu begitu terdengar jelas bahkan benar benar mengganggu kepada yang lainnya.. Dengan sigap aku kembali berlari dan melihat kondisi wanita tersebut.. Tubuhnya penuh keringat dengan mata yang terlihat tidak fokus.. Sering kali dia memegang kepalanya seolah merasa pusing yang amat sangat dikepalanya hingga tertunduk dan tertelungkup diatas lantai.. Seketika dia kembali berteriak disaat Dokter mencoba mendekatinya dengan membawa jarum suntik mencoba untuk memberikan obat penenang.
“ Aichmophobia.. Bisa tolong katakan padanya untuk menjauhkan Jarum suntiknya dahulu?”
Ucap Almira dari kejauhan dengan berkata kepada Perawat di sebelahnya
Ucap Perawat itu yang langsung menghampiri Dokter tersebut
“ APA MAKSUDMU! JIKA AKU TIDAK MEMBERIKAN OBAT INI, PASIEN BISA SAJA MELUKAI DIRINYA SENDIRI!”
Ucap Dokter tersebut dengan marah kepada Perawat yang menyampaikan pesan dari Almira
“ Bisakah aku yang memberikan obat itu?”
Ucap Almira yang mengulurkan salah satu tangannya saat menghampiri Dokter tersebut
“ BISA APA KAU? BERHENTILAH BERKELIARAN SEKITAR SINI! KAU MEM.. HEY!! APA YANG KAU LAKUKAN? HEY, DOKTER ALMIRA!!”
Ucap Dokter tersebut yang semakin terlihat marah saat Almira mengambil paksa jarum suntik di tangannya
“ Hey.. Tenanglah.. Lihat? Aku tidak membawa apa pun ditanganku.. Maukah kau duduk dan berbicara sedikit denganku?”
Almira menyembunyikan jarum suntik di jubah putih Kedokterannya dan melepaskan Masker yang digunakannya, menekuku lututnya dan tersenyum pada wanita itu
“ Apa.. Apa ka, kalian.. Akan mem.. Membunuhku?”
Ucap wanita yang penuh ketakutan itu menggunakan bahasa turki
“ Membunuh? Sepertinya itu terlalu kelewatan.. Bukankah kau tahu tugas Para Dokter apa?”
Ucap Almira lembut dengan tersenyum
“ Apa.. Apa aku sekarang berada di Rumah sakit?”
“ Benar.. Kudengar kau terjatuh dan kepalamu terbentur cukup keras.. Boleh aku memeriksamu?”
“ TIDAK! KAU AKAN MENUSUKKU DENGAN BENDA TAJAM ITU! PERGILAH!”
“ Bukankah kau lihat kedua tanganku? Apa ada sesuatu?”
“ Ti.. Tidak ada..”
“ BERHENTILAH MEMBUANG WAKTU! SEGERA BERIKAN OBAT BIUS ITU DAN...”
Ucap Dokter tersebut dengan membawa Jarum suntik yang ditangannya
“ APA YANG KAU LAKUKANNN!!”
__ADS_1
Almira yang mencoba menengahi dengan tiba tiba berdiri dihadapan Dokter tersebut
#ZZREEETTT #BREEEKKK
#KYAAAAA
Suara sobekan kain Jubah Dokter Almira dan teriakan para Perawat
“ Lenganmu... Dokter Almira.. Lenganmu...”
Ucap Dokter tersebut dengan begitu terkejut melihat Almira yang berdiri dihapannya melindunginya dari wanita itu yang tiba tiba bersikap anarkis dengan mengambil pisau bedah
“ Berikan padaku.. Boleh aku meminta barang yang ada ditanganmu?”
Ucap almira yang membalikkan lagi tubuhnya menatap wanita itu dengan tersenyum
#TRRAANGGG
Bunyi suara pisau bedah terjatuh ke lantai
“ Tidak.. Tidak, apa yang aku lakukan?.. Berdarah.. Tanganmu berdarah... Aku...”
Ucap wanita itu dengan penuh ketakutan menatap Almira
“ Tenanglah, tidak apa apa. Semua baik baik saja.. Tutuplah matamu, bernafaslah dengan pelan..”
Almira memeluk wanita tersebut dan diam diam mengambil jarum suntik bius dari dalam jubah putihnya dan menyuntik wanita itu
“ Aku.. Maaf.. Aku...”
Ucap wanita tersebut mulai tidak sadarkan diri
“ Tidurlah.. Semua akan baik baik saja..”
Almira yang dibantu perawat membaringkan wanita tersebut diatas ranjang pasien
“ Wanita itu mengidap Aichmophobia. Dia tidak bisa melihat benda benda tajam. Jadi jauhkan jika tidak ingin melihat reaksinya seperti ini terulang kembali.”
Almira menjelaskan kepada Dokter tersebut dan langsung membalikkan tubuhnya berlalu pergi
“ Apa... Dia selalu seperti itu?”
Tanya Dokter tersebut kepada salah satu perawat dengan wajah terkejut
“ Ya, Dokter Almira memang seperti itu.. Padahal kami bisa membantunya untuk membalut luka ditangannya itu..”
Ucap Perawat yang langsung berlalu pergi
Bergegas dengan berlari keruanganku dengan melepas jubah putih kedokteran sebagai lambang suci pun terpaksa aku lepaskan untuk segera menutupi luka ditanganku dan agar tidak menarik perhatian saat aku melewati mereka semua. Namun meski pun aku seperti ini, tetap saja semua mata semakin melihat kearahku seakan akan aku adalah kriminal yang melakukan kejahatan.. Dengan kambali berlari secepat yang kubisa, aku pun menutup Ruanganku dan langsung mengobati luka ini seorang diri..
Tak sadar waktu berlalu, entah mengapa hari ini aku merasa sungguh lelah.. 4 hari sudah aku berada dibagian Ruang Pembedahan dan 3 hari ini adalah waktu terakhirku berada di Ruang Unit Gawat Darurat.. Jika seperti ini, mungkin lama lama akulah yang akan terbaring diruangan itu dalam kondisi yang mengecewakan.. Hati pun kembali berdebar mengingat Lusa adalah hari penentuan dalam dunia pekerjaan yang sangat aku impikan ini.. Sempat memejamkan mata beberapa detik, tiba tiba telephone diruanganku berbunyi dan Pak Turan memanggilku ke ruangannya.. Bisa kutebak apa yang akan dia katakan padaku saat ini.. Almira, terima saja nasibmu saat ini..
TOOK TOKK TOKK
“Masuklah..”
Ucap Turan yang mendengar Almira mengetuk pintu ruangannya menggunakan bahasa turki
“ Maaf Pak, jubah putihku tadi... Jadi, Mohon maaf aku hanya memakai seragam biru ini saja..”
Almira menundukkan kepalanya seraya meminta maaf
“ 2 kali Almira.. Apa kau berniat beradu nyawa di Rumah sakit ini?! Aku tidak ingin kejadian seperti ini terjadi kembali. Setidaknya perhatikan keselamatanmu!”
Ucap Turan dengan kesal
“ Baik Pak Turan..”
“ Alasan lainnya aku memanggilmu kemari adalah, mengenai permohonan alat tes psikolog yang membutuhkan pergantian, setelah mendapat investor kini barang tersebut sedang dalam perjalanan kemari. Kau bisa berterima kasih pada kawan baikku, dialah yang menyumbangkan alat alat itu padamu..”
# TOOKK TOKK TOOKK
“Masuklah..”
Ucap Turan kembali mendengar ketukan di pintunya
“ Hey.. Apa kabarmu?.. Senang melihatmu berada disini..”
Ucap Turan yang menghampiri untuk menyapa, memeluk temannya
“ Begitu pun aku..”
Ucap Pria tersebut
“ Ini adalah Dokter yang aku ceritakan padamu. Dokter, sapalah dan ucapkan terima kasih padanya.”
Ucap Turan dengan menyuruh almira membalikkan tubuhnya dan bertemu dengannya
Dosa apa, Prahara apa, yang sedang menimpaku saat ini sampai aku harus menerima semua ini?
__ADS_1
“ Ser.. kan??”