Menarik Raga Tertawan Hati

Menarik Raga Tertawan Hati
Chapter 9


__ADS_3

“ Mir.. Udah bangun belum?”


“ Buka saja pintunya, tidak dikunci Li..”


“ Apa kau bergadang semalaman? Kamarmu berantakan sekali..”


Lilian pun merasa terkejut saat membuka pintu kamar dan berjalan masuk,


“ Hmm.. Aku mencari data untuk jurnal akademikku”


“ Untuk jurnal akademik atau untuk Serkan?”


“ Liliannn...?!”


Ucap Almira yang memberikan tatapan sinis pada Lilian


“ Bercanda sist.. Aku hanya ingin menyampaikan ini, semalam Emre menyuruhku untuk menyerahkan kertas ini padamu.. Tapi waktu aku mau menyerahkannya, pintu kamarmu sudah tertutup, kupikir kau pasti sudah tertidur.. Tau kau begadang, aku serahkan tadi malam”


Lilian pun memberikan secarik kertas pada  Almira


“ Terima kasih.. Aahh apa kau mau ke kampus? Aku meminjam sebuah buku dari hazal, bisa tolong bawakan saat kau pulang nanti?”


“ Oke, aku pergi dulu..”


“ Hati hati dijalan..”


Kertas apa ini seperti sudah dibuang ditempat sampah karena terlihat kotor dan lipatan tak jelas.. Aku pun merapikan kertas itu agar dapat membaca apa isi didalamnya.. Terdapat tulisan didalamnya Serkan.. Nasılsın? Boş vaktin var mı? Buluşabilir miyiz? ( Serkan.. Apa kabar? Apakah kau punya waktu luang? Bisakah kita bertemu?) Ternyata ini adalah kertas yang diberikan Mete Bey pada Emre pada waktu itu dan dibuang olehnya. Apa ini dari Berguzar? Jadi saat dia kembali kemari, dia langsung datang ke restourant Mete Bey dan menitipkan pesan ini untuk Serkan? Pantas saja Emre terlihat begitu kesal semalam. Selagi aku berpikir, tiba tiba handphone ku berdering dengan panggilan dari orang yang tidak kukenal..


“ Halo, maaf ini dengan siapa?"


Ucap Almira menggunakan bahasa turki


“ Almira..”


“ Ini.. IBU FARRAH??”


“ Ya.. Maaf apa ibu mengganggumu? Ibu menanyakan kepada Emre agar bisa menghubungimu. Apa kau keberatan?”


“ Aahh Tidak bu.. Ada apa ibu menghubungi almira?”


“ Bisa kita bertemu sekarang? Ada yang mau ibu bicarakan..”


“ Sekarang?? . . . . Dimana ibu mau bertemu? Almira akan datang kesana”


Isi kepalaku berputar kesana kemari tak karuan saat ini. Tak lama bu farah mengirimkan lokasi dimana kami akan bertemu, aku pun bersiap siap untuk pergi menemuinya.. Begitu sampai kulihat bu farah sudah menunggu terduduk anggun begitu elegant.. Penampilannya hari ini terlihat begitu mempesona, tidak heran serkan terlihat sama sepertinya.. Tersadar akan kehadiranku, bu farah tersenyum dan melambaikan tangan padaku.. Aku pun menundukkan kepalaku dan berjalan kearahnya, saat berada dihadapannya tiba tiba beliau berdiri dan memelukku..


“Terima kasih atas waktumu hari ini.. Duduklah almira..”


“ Terima kasih bu farah..”


“ Alasan ingin bertemu denganmu, selain ada yang mau ibu bicarakan.. Ibu ingin meminta maaf atas perlakuan Serkan padamu saat malam itu.. Ibu sudah mendengarnya dari Emre”


“ Aapa?? Tidak bu.. Serkan tidak salah, sayalah yang menghindarinya..”


“ Apa kau merasa tidak nyaman didekatnya? Dia memang pandai, teguh dan begitu teliti dalam bekerja.. Tapi dalam urusan wanita, dia nol besar”


“ Untuk apa ibu berkata seperti itu.. Menurut saya Serkan sudah sangat paham bagaimana memperlakukan seorang wanita didekatnya. Dia juga sangat sopan padaku”


“ Benarkah? Apa itu berarti kau nyaman berada didekatnya?”


“ Saya..?? Terlalu jauh bagi saya untuk berbicara kearah sana bu..”


“ Ibu dengar, Berguzar kembali? Bagaimana menurutmu? Ibu tidak ingin Serkan.....”


“ Tenanglah bu.. Besok kami akan melakukan wawancara langsung dengan serkan, kita lihat dulu sudah sejauh apa perkembangannya..”


“ Menurutmu dia akan baik baik saja?”


“ Serkan pria yang mudah belajar dengan keadaan disekitarnya.. Dia juga tegas. Jadi saya pikir dia akan sangat rasional dalam hal ini”


“ Itulah almira.. Ibu sangat mengenal anak itu.. Semoga yang ibu takutkan tidak terjadi, hanya dia dan emre yang ibu miliki saat ini.. Kalau sampai harus kehilangan seorang anak lagi, entah.......”


Tiba tiba Bu Farrah menangis namun mencoba menutupinya di hadapan Almira


“Bu farah.. Semua akan baik baik saja. Almira akan membantu sebisa mungkin..”


Almira memberanikan diri menggenggam erat tangan Bu Farrah mencoba untuk menenangkannya


“ Kau anak yang baik..”


“ Ibu terlalu menyanjungku..”

__ADS_1


Begitu Selesai berbicara, bu farah menawarkanku untuk makan malam bersamanya saat ini.. Tatapannya saat ini sama seperti serkan yang sedang menatapku tadi malam.. Entah mengapa tiba tiba membuatku tertawa melihat bu farah saat ini.. Merasa bingung, bu farah bertanya padaku dan aku pun hanya tersenyum kemudian menyetujui untuk makan malam bersamanya.. Kami makan malam bersama dengan membicarakan banyak hal yang tak kala membuat kami berdua pun tertawa.. Melihat beliau, aku pun jadi teringat mama.. Rasa rinduku padanya, serta papa dan adikku andre.. Begitu selesai bu farah kembali menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang, kembali melihat lagi tatapannya saat ini aku pun kalah dan akhirnya meyetujuinya.. Selama perjalanan kami berbincang kembali mengenai banyak hal hingga tak terasa aku pun sampai di lobby apartment. Kemudian bu farah melambai padaku dan berlalu pergi..


..................................


“ Mir.. Kau terlihat rapi dan formal sekali.. Apa kau mau pergi kesuatu tempat?”


Ucap Kirey yang baru keluar dari kamar mandi


“ Aah, tidak.. Hari ini hari pertama untuk data inti jurnal akademikku, jadi aku merasa mungkin memang seharusnya seperti ini.. Terlebih aku menjadi assisten Pak Onur”


“ Aaahh, apa hari ini? Bersama Serkan bukan? Semoga kau lancar hari ini.. Lalu, selesai itu apa kau akan langsung pergi bekerja?”


“ Jika memungkinkan, aku akan bekerja..”


“ Oke, take careberhati hatilah dijalan. Semoga lancar mir..”


Ucap Kirey yang memeluk Almira dan memberikan semangat untuknya


“ Terima kasih sist..”


Aku pergi membawa tas yang berisi data pendukung untukku hari ini.. Entah mengapa aku merasa sangat gugup sekali dan sebenarnya jika aku boleh jujur, aku masih belum ingin bertemu dengannya dalam waktu singkat ini.. Namun apa boleh buat.. Aku pun terus melangkahkan kakiku sampai akhirnya berada di depan pintu gerbang kampus, kembali kulangkahkan lagi kakiku menuju ruangan onur bay.. Saat berjalan kulihat semua mobil hitam masuk dan berhenti tepat dihadapanku.. Aku mencoba untuk melewati mobil ini tanpa melihatnya, namun tiba tiba pintu terbuka dan seorang pria keluar dari dalam mobilnya..


“ Almira, bisa kita bicara sebentar?”


Serkan dengan sedikit berlari mencoba mengejar Almira lalu menarik tangannya


“ Tidak ada yang harus kita bicarakan, aku juga sudah meminta maaf padamu. Emre, Apa kabarmu?”


“ Almira, lihat aku”


“ Ayo, kita hampir telat.. Aku tidak ingin bermasalah dalam study ku nanti gara gara terlambat”


Almira yang langsung memalingkan tubuhnya dan setengah berlari menuju gedung utama


“ Almira..”


Entah mengapa aku bersikap seperti ini padanya? Apakah susah memberikannya waktu walau hanya sebentar dan mendengarkan apa yang ingin dia katakan? Almira, kenapa kau jadi seperti ini.. Namun tubuh ini seperti tidak mendengar kata hatiku.. Pikiranku terus menerus meminta agar aku menjaga jarak dengannya dan aku melakukan apa yang aku pikirkan.. Kami pun akhirnya berjalan menuju ruangan onur bay.. Saat sampai seorang pria keluar dengan membuka pintu secara tiba tiba kemudian berlari dan tidak sengaja mendorongku.. Aku pun hampir terjatuh dibuatnya, namun serkan dengan cepat menggapai pundakku dan menahan agar aku tidak terjatuh. Aku pun langsung berdiri tegap dan melepaskan tangannya dari pundakku. Serkan tidak berkata apa pun hanya menatapku. Aku pun melangkah maju dan mengetuk pintu ruangan onur bay..


Saat memasuki ruangan, kulihat salah satu rekanku sedang berdiskusi dengan onur bay dan beliau terlihat kesal padanya.. Dapat kupastikan itu adalah salah satu klient onur bay yang menjadi data untuk jurnal akademiknya. Rekanku kemudian membalikkan tubuhnya untuk menuju pintu keluar, dapat kulihat dia menahan airmatanya. Melihat itu aku mencoba memalingkan pandanganku agar dia merasa tidak malu padaku. Rasa gugupku kian menjadi, lalu onur bey pun memanggilku..


“ Almira.. Apakah kamu siap? Apa kamu memiliki semua data yang kamu butuhkan?"


Ucap Pak Onur kepada Almira sembari mempersiapkan bahan dan perlengkapan dalam wawancara


“ Baik. Sekarang panggil Serkan kemari, kita mulai sesi pertama."


Aku pun memanggil Serkan untuk masuk. Terduduk dihadapan Pak Onur, tatapannya mengarah tajam padaku. Bahkan pada saat berjabat tangan dengan Pak onur pun dia masih melihat padaku. Aku mencoba mengalihkan pandangan dan duduk tepat disebelah kursi onur bey. Dalam sesi terapi kali ini onur bey menjelaskan akan lebih berpusat menyadari kebutuhan yang tidak terpenuhi.. Serkan harus berfokus pada apa yang dia inginkan dan juga apa yang dia rasakan.. Onur bay menyuruhnya duduk dengan sedikit terbaring santai dikursi khusus yang sudah disediakan, dia melepas kacamatanya dan menutup matanya. Onur bey berbicara banyak hal dengan nada yang menenangkan serta bunyi ketukan jam yang dapat membuat seolah kita terhipnotis.. Serkan mulai mengutarakan masalah pekerjaan, rekan kerja, saat dirumah dan berbagai aktivitas yang dia kerjakan serta masalah masalah yang timbul dan bagaimana dia menyelesaikannya. Lalu sampailah pada titik utama dalam sesi ini..


“ Apakah Anda melupakan sesuatu yang menurut Anda penting?"


Ucap Pak Onur mencoba untuk berkomunikasi dengan Serkan untuk menyadarkan alam bawah sadarnya


Mendengar perkataan Pak Onur, Serkan memberikan reaksi yang bertentangan.. Mata serta gerak tubuhnya seperti menandakan adanya penolakan namun ia mencoba dengan keras untuk berusaha menahannya.. Pak Onur mencoba menenangkannya, namun serkan seperti seolah menolak dan ia masih menutup matanya.. Emre terlihat seperti sudah bersiap jika terjadi hal seperti dulu.. Jujur saat ini aku masih belum mengerti apa yang harus aku lakukan.. Tak lama serkan mengeluarkan banyak keringat, terlihat dari kening serta kemeja yang dia kenakan saat ini.. Pak Onur menyuruhnya untuk membuka matanya, namun serkan masih saja menutup kedua matanya dengan reaksi tubuh yang masih melakukan penolakan.. Pak Onur memegang pundaknya, serkan juga masih saja tidak merespon apa yang dikatakannya.. Saat onur bey berdiri dan berjalan menuju mejanya untuk mengambil suatu barang entah mengapa seolah aku ingin mendekatinya.. Aku menyentuh wajahnya dengan lembut dan menahan tubuhnya yang bergetar..


“ Serkan... Serkan..? Tenanglah.. Buka matamu.. Lihat aku.. Aku yakin kau masih bisa mendengar suaraku.. Bukalah matamu.. Lihat aku..”


Tubuh serkan yang bergetar sedikit demi sedikit berkurang. Terlihat emre berdiri disampingku memastikan aku baik baik saja dan agar kejadian tidak terduga dapat terjadi. Tanpa berbicara aku mengarahkan tanganku pada emre, mengisyaratkan bahwa tenanglah, semua akan baik baik saja.. Emre pun akhirnya berdiri tegap dan melangkah mundur.. Aku mencoba mengusap wajah serkan dengan lembut dan sedikit mengurangi tenagaku yang menahannya.. Tak lama dia merasa tenang dan terdiam, lalu membuka matanya secara perlahan.


“ Aku melihatmu almira”


“ Tarik nafasmu secara perlahan.. Kemudian hembuskan.. Lakukan lagi.. Sudah merasa lebih tenang? Kau bisa duduk?”


“ Ya, terima kasih”


Pak Onur kembali dan memastikan kondisi serkan saat ini.. Serkan masih mengeluarkan banyak keringat dan bibirnya terlihat sedikit pucat.. Pak Onur kemudian menyuruhku mengambil minum serta obat yang sudah disiapkan diatas mejanya.. Setelah meminum obat itu, serkan terduduk dengan kedua tangan yang mengusap rambutnya kearah belakang kemudian menundukkan kepalanya.. Pak Onur memegang pundaknya untuk menyemangati dan juga menenangkannya.. Aku dan emre berdiri seperti patung melihat kondisi serkan saat ini..


Sesi terapi hari ini pun selesai, onur bay kemudian memberikan selembar kertas padaku sebelum kami meninggalkan ruangannya.. Aku menundukkan kepalaku padanya dan onur bay pun tersenyum padaku.. Saat berjalan keluar, serkan dan emre berjalan mengarah menuju mobil sedangkan aku melangkah kearah sebaliknya.. Namun saat aku berjalan terdengar suara emre sedikit berteriak..


“ KAK!! KAK SERKAN!!"


Kubalikkan tubuhku dan melihat serkan tersungkur dengan setengah berdiri.. Dia pun mencoba menahan tubuhnya dengan bersandar ke dinding.. Tanpa berpikir, kakiku seolah bergerak sendiri berlari menuju kearahnya.. Saat berada disampingnya, tanganku pun mencoba menyentuh wajahnya yang ternyata saat ini serkan mengalami demam yang lumayan tinggi dengan nafas yang tersenggah.. Tubuhnya pun mengeluarkan banyak keringat.. Melihatnya seperti ini aku dengan sigap mengambil saputangan dari dalam tasku dan mengambil botol minum untuk kuberikan padanya.. Serkan seperti kehilangan keseimbangan, Emre membantunya untuk duduk dan aku pun mencoba menahan dengan melingkarkan kedua tanganku kepundaknya.. Tak lama Serkan menyandarkan kepalanya padaku..


“ Apa yang terjadi? Emre??”


“ Dulu selalu seperti ini. Abi tiba tiba demam saat mengingat Safiye”


“ Aku baik baik saja, hanya terasa sedikit pusing. Emre papah aku, kita harus segera kembali ke perusahaan”


Ucap Serkan mencoba untuk terduduk dan berdiri Tegap


“ Apa? Serkan saat ini kau demam..”

__ADS_1


Ucap Almira yang menarik tangan Serkan


“ Aku tidak apa apa”


“ SERKAN!!”


Saat aku menarik jas yang dikenakannya, dia kembali terduduk lemas diatas kursi.. Aku kembali dengan sigap menahan kepalanya dan dia pun bersandar padaku.. Tubuhnya terasa sangat panas bahkan keringat yang keluar sangat banyak.. Apa seperti ini reaksinya disetiap sesi terapi? Apa kau tidak merasa tersiksa? Kenapa aku merasa sedih ketika melihatmu seperti ini? Serkan, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu.. Tak sadar aku menjadi memeluknya, emre yang melihat kami seperti ini langsung memalingkan pandangannya.. Entah mengapa tiba tiba terdengar suara wanita berbicara..


“ Apa yang kamu lakukan? Dia tunanganku. Lepaskan tanganmu darinya!!"


Aku dan emre memalingkan pandangan kami kearahnya, apa yang dilakukan berguzar disini? Dia melihat dengan pandangan penuh amarah kepadaku. Diaberjalan kearahku, aku pun melepaskan tanganku dengan perlahan.. Lalu aku melangkah mundur dan berguzar mengambil alih posisiku. Melihat ini emre tidak tinggal diam, dia mencoba untuk memisahkan mereka, namun aku menarik lengan emre dan menahannya.. Emre melihat padaku dengan pandangan bingun serta marah, aku pun hanya terdiam melihatnya saat ini namun aku tetap berusaha menahannya.. Berguzar kemudian membantu serkan berdiri dengan menaruh tangan serkan dipundaknya dan memapah serkan membawanya masuk kedalam mobilnya. Emre terlihat semakin tidak terima, namun aku tetap berusaha menahannya sampai akhirnya pun mereka berdua pergi.


“ ALMIRA!! APA YANG KAU PIKIRKAN SAAT INI?!”


“ Emre....”


“ Kau membiarkan dia membawa abi pergi dengan kondisinya yang seperti itu?”


“ Serkan masih mencintai wanita itu! Terimalah emre, serkan masih belum bisa mengingat kejadian waktu itu. Jika kau tambah menekannya lagi, bagaimana kondisinya jika semakin memburuk?”


“ AARGGHH!!! Ini membuatku jadi hilang akal! Kemana dia membawanya?”


Jujur aku pun sangat mengkhawatirkannya.. Tak lama emre mendapatkan sebuah panggilan mendesak dari perusahaan, dia melihat kearahku dan aku pun mengerti maksud tatapannya.. Dia menepuk pundakku kemudian berlari menuju mobil dan berkendara pergi. Aku pun kembali berjalan tapi mau kemana aku saat ini? Akhirnya aku memutuskan untuk pergi bekerja ke restourant.. Saat sampai Pak Mete dan Kak Ozcan yang melihatku terlihat terkejut, mereka setengah berlari menghampiriku lalu menarikku untuk duduk dikursi halaman depan restourant bersama mereka..


“ Katakan almira, bagaimana Serkan?"


Ucap Pak Mete pada Almira dengan tatapan penuh kekhawatiran dengan menggunakan bahasa turki


“ Dia masih menolak .. Tiba tiba demam ketika menyelesaikan sesi terapinya"


“ Demam tinggi kembali?"


“ Ya"


“  Sayang, sepertinya kita harus pergi ke rumahnya"


Ucap Pak mete kepada istrinya


“ Baik sayang. Almira, kamu ikut kami"


“Sebenarnya.. Bergüzar yang membawanya..


“ APA???"


Pak Mete dan Kak ozcan hanim berkata bersamaan dengan mulut dan mata mereka yang terbuka.. Aku pun hanya menundukkan kepalaku dihadapan mereka.. Pak Mete mengambil handphone yang berada dalam saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang, tak lama Kak ozcan datang menyerahkan kunci mobil pada Pak Mete.. Kak Ozcan memegang tanganku dan menarikku untuk masuk kedalam mobil mereka.. Dalam perjalanan kedua orang ini mempeributkan hal yang tidak jelas, bahkan sesekali Kak Ozcan memukul tangan Pak Mete hingga membuatnya terdiam. Melihat mereka, aku sedikit merasa takut hingga memlilih untuk diam tak berkata apa pun..


Saat kami sampai didepan rumah serkan, kembali aku terkejut dengan rumah yang dimiliki pria ini.. Rumah modern berlantai 3 dengan cat berwarna hitam abu yang terpadu dengan banyak tumbuhan dengan tema bebatuan dan aliran air taman membuat kesan rumah ini terlihat maskulin namun tarasa hangat dan nyaman.. Dengan garasi mobil yang bisa menampung hingga 6 mobil, area pintu masuk yang elegant serta saat memasuki lantai 2, terlihat kolam renang dengan jacuzzi didalamnya.. Dapat kubayangkan rumah seperti apa yang dia berikan untuk berguzar saat itu.. Aku yakin wanita itu memiliki banyak uang dari hasil penjualan rumah itu.. Mete bay dan ozcan hanim sibuk sendiri berjalan kesana kemari, sedangkan aku merasa bingung dengan apa yang akan aku lakukan dirumah ini.


Pandanganku teralihkan pada sebuah kamar dilantai 2 ini.. Kamar bernuansa kayu terlihat begitu mewah dan luas ,dengan lampu hasil perpaduan warna putih dan kuning sehingga terkesan hangat. Apa ini kamarnya? Aku berkeliling melihat kamar ini.. Ruangan kamar baju pun terpisah meskipun dalam satu ruangan yang sama.. Saat aku melihat, aku pun kembali terkejut dengan tatanan rapi dalam ruangan ini.. Tidak hanya jas dan kemeja, tapi jam, dasi bahkan sepatu pun terlihat sempurna. Apa dia maniak kebersihan? Lalu tiba tiba terdengar ozcan hanim memanggil namaku.. Aku berlari menuruni anak tangga menuju lantai 1, disudut pintu terlihat emre dan mete bay memapah serkan untuk berjalan dan membaringkan dikamar tidurnya.. Aku terdiam melihat kondisinya saat ini, kenapa dia terlihat begitu pucat? Pak Mete dan Kak Ozcan sibuk membantunya untuk berganti pakaian dan lain sebagainya.. Aku pun keluar dari kamar dan menghampiri emre..


“ Apa yang terjadi?”


Ucap Pak mete yang meminta penjelasan pada Almira


“ Berguzar! Dia membawa Serkan kerumah sakit dan meninggalkannya seorang diri”


Almira yang menundukkan kepalanya seraya karena merasa bersalah


“ Apa yang. . . . .”


“ Saat aku mencoba menghubunginya, salah satu perawat yang menjawab saat berada di rumah sakit. Bagitu sampai perawat itu berkata setelah mengantarkan Serkan kesana wanita itu pergi dan belum kembali. Aku menunggu hingga cairan infus habis lalu membawanya pulang”


Ucap Emre yang menjelaskan kepada mereka


“ Kenapa kau tidak menghubungiku?. . . . Maafkan aku.. Semua salahku..”


Almira semakin menundukkan tubuhnya karena merasa bersalah dan takut


“ Ada hal yang harus aku kerjakan di kantor, Mete dan ozcan pun pasti tidak bisa meninggalkan restourant terlalu lama. Sangat tidak mungkin bagiku untuk menghubungi ibu dan ayah kemari”


“ Emre, jika kau mengijinkan bolehkah aku yang menjaganya? Aku harus datang ke kampus besok pagi, jadi setidaknya kau bisa beristirahat malam ini kemudian datang pada pagi hari untuk menggantiku menjaganya..”


“ Kau... Tidak keberatan?”


“ Anggaplah ini permohonan maafku, Semua memang kesalahanku”


“ Almira, jika aku menyinggungmu.. Aku....”


“ Tidak emre.. Aku cukup sangat mengerti.. Sekarang kembalilah ke kantor, akan aku kabari jika  aku membutuhkan sesuatu padamu. Oke?”


“ Terima kasih almira. Aku pamit”

__ADS_1


“ Hati hati berkendara”


Saat aku berjalan menuju kamar serkan dilantai atas, mete bay dan ozcan hanim tampak sangat mengkhawatirkannya.. Sepertinya kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi hingga membuat mereka terlihat begitu sedih akan kondisi serkan saat ini. Aku berjalan menghampiri mereka dan mereka pun menjelaskan seperti yang dikatakan emre.. Aku pun memberitahu mereka seperti yang aku katakan kepada emre hingga mereka terlihat tenang.. Tak lama mereka pun juga pamit untuk kembali ke restaourant dan menitipkan serkan padaku.. Aku pun kembali ke kamar untuk menemani dan berusaha untuk terjaga mengurus serkan malam ini..


__ADS_2