
Hembusan angin yang menerpa dengan cuaca yang terlihat mendung tak berawan. Detik berubah menjadi menit yang membuat hati ini menjadi semakin merasa gelisah dengan kesabaran yang mulai menipis. Tersadar dengan berlari mengambil Tabung Alat kebakaran dengan berteriak agar mereka semua menghindar dan menjauhiku yang akan merusak gagang pintu tersebut.
#BRAAKKK #BRAAKKK #BRAAKKK
#CREAAK
Suara hentakan tabung alat kebakaran pada gagang pintu yang akhirnya dapat membuka pintu masuk
Berlari masuk dengan mata yang melebar mencoba melihat Emina yang sedang menangis di balkon pelataran ruang konsultasi. Meski terhalang pagar besi, namun dapat dengan mudah baginya jika ingin melompat kebawah menggunakan tongkat yang berada ditangannya. Berjalan dengan sangat hati hati menuju kearah Emina yang akhirnya menyadari kehadiranku dan terlihat begitu ketakutan saat melihatku.. Tangannya terlihat bergetar dengan air mata yang tak kunjung berhenti..
“ Tuan puteri, sedang apa berada disana? Apa aku boleh menemanimu?”
Almira yang masih belajar menggunakan bahasa isyarat dengan tangannya mencoba berbicara kepada Emina
“ Aaaa... Eeem!”
Aku ingin bertemu dengan Ayah dan ibuku balas Emina menggunakan bahasa isyarat dengan tangannya
“ Baiklah, aku mengerti. Tapi, jika tuan puteri berdiri disana, itu akan sangat berbahaya.. Bisa kemari dan kita berbicara sejenak?”
Ucap Almira kembali menggunakan bahasa isyarat
“ APA YANG KAU LAKUKAN!”
Teriakan seorang penjaga yang langsung berlari melewati Almira mencoba menyelamatkan Emina namun terhalang pagar besi
“ APA KAU HILANG AKAL?! TIDAK APA YANG KAU LA...?!... TIDAKK EMINAA!!”
Almira yang kesal membentak menggunakan bahasa turki kepada penjaga itu dan langsung melompati pagar besi saat melihat Emina yang menjatuhkan dirinya dari atas Balkon
#KYAAAAA
# BRUAAAKK # BHAAAKK #SHREEKKK
Suara teriakan para perawat yang melihat almira melompat dan terjatuh diatas atap penyangga di lantai 8 dengan jubah Dokternya yang tersangkut di besi penyangga
“ DOKTER ALMIRA! DOKTER, BERTAHANLAH! KAMI AKAN MEMBANTUMU!”
Ucap Rekan Dokter lainnya yang berteriak kepada Almira menggunakan bahasa turki
Akhirnya aku dalam kondisi seperti ini lagi.. Kejadian yang sama yang aku alami disaat selalu saja berurusan dengan hal hal yang membahayakan nyawaku sendiri namun tidak sanggup hati ini untuk menolaknya. Dengan memeluk Emina yang berada tepat diatas tubuhku, terlihat wajah panik yang penuh dengan ketakutan saat melihatku tertidur dengan pundak dan kaki ku yang merasa sakit hingga terasa seperti menyayat bagian tulang terdalamku.. Setidaknya inilah ingatan terakhir yang kuingat sebelum aku tidak sadarkan diri dan apa yang terjadi padaku selanjutnya...
. . . . . . . . . . . . .
Terdengar suara detik jam dan juga bebrapa orang sedang berbicara saat ini.. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kembali tersadar dengan membuka kedua mataku yang menatap langit langit yang berwarna putih dengan jarum infus yang masih menempel pada salah satu tanganku. Ternyata selain kaki kiriku yang kembali mendapatkan perban, bahu kiri ku pun ternyata harus menggunakan Gips mengingat saat aku memeluk Emina saat terjatuh dan membentur semen pembatas dengan lengan kiri sebagai tumpuan bagiku untuk menahan Emina. Namun lagi lagi kaki kiriku mengalami cedera, semoga kali ini tidak terjadi apa apa..
“ Apa kau merasa bisa terbang?”
Ucap Turan menggunakan bahasa turki yang masuk ke dalam ruangan tempat Almira di rawat
“ Pak Direktur, kumohon jangan berikan penilaian buruk dan memberitahu kepada Rumah sakit asalku.. Ku mohon..”
Almira yang memohon menggunakan bahasa turki, dengan menundukkan kepalanya berkali kali kemudian menatap Turan
“ Dengan pencapaianmu yang menendang salah satu rekan kerjamu saat berada di ruang operasi?, Sepertinya aku yang harus merasa takut kepadamu..”
Ucap Turan yang melepaskan salah satu kancing jasnya dan terduduk di sofa di depan Almira
“ HA HA HA HA.. Anda lucu sekali Pak Direktur..”
Almira yang merasa malu membuang mukanya kearah samping tak berani menatapnya
“ Selama diluar jam kerja bersikap biasalah padaku, jangan merasa canggung sedikit pun. Jadi Almira, boleh kutahu apa motivasimu sehingga setuju mencalonkan diri datang kemari?”
Ucap Turan yang terduduk menatap Almira dengan tersenyum
“ Tidak ada. Selain memang aku menerima Tindakan Disiplin yang diberikan padaku, aku memang sebelumnya sudah menyukai kota yang indah ini..”
Almira yang mencoba menjelaskan dengan kembali menundukkan kepalanya
“ Kau lulus dari salah satu universitas terbaik di kota ini dengan 2 gelar sekaligus.. Kulihat dari riwayat pendidikanmu selama berada di sini, kau bahkan sempat membuat Jurnal akademik.”
“ Ya, untuk memperdalam pemahamanku tentang bidang ini..”
“ Apa kau bersedia untuk menetap bekerja pada Rumah sakit ini?”
Ucap Turan kepada Almira dengan tatapan serius
“ Maaf?”
Almira yang terkejut memberikan expresi penuh tanya kepada Turan
“ Dokter sepertimu sangat sulit sekali untuk di dapatkan. Aku yakin, dengan fasilitas yang bisa kami berikan padamu, kau akan berkembang dengan sangat pesat!”
__ADS_1
“ Aku... belum... itu sangat tiba tiba.. Pak Direktur.. Maksudku adalah..”
“ Pikirkanlah dahulu, lagipula kau masih memiliki banyak waktu selama berada di sini..”
Ucap Turan yang kembali berdiri dan mengancingkan jas nya kembali
“ Baik, terima kasih Pak Direktur..”
“ Aaah aku lupa memberitahumu. Kemarin saat kau tidak sadarkan diri, Handphonemu terus berbunyi dengan nama Lilian atau Kirey yang melakukan panggilan. Jadi aku memberitahukan kondisimu pada mereka semalam.”
“ Apa? Be.. Berapa lama aku tidak sadarkan diri?”
“ 4 Hari. Sepertinya kau juga terlalu lelah bekerja, sehingga tubuhmu membutuhkan istirahat lebih. Kalau begitu aku permisi.”
Turan yang berjalan menuju pintu keluar dengan tersenyum kepada Almira
“ Terima kasih banyak Pak Direktur.. Maksudku, Pak Turan..”
Almira yang kembali menundukkan kedua kepalanya
4 Hari? Tunggu, tanggal dan hari apa ini? Seingatku Kirey menghubungiku untuk bertemu dengannya bersama Lilian pada hari disaat Kirey kembali ke Istanbul bersama Hammet. Dengan terburu buru aku mengambil handphone yang berada di atas meja, tepat di samping tempat tidurku dan tersadar akan janji yang tidak sengaja terlewatkan olehku.. Bagaimana ini, bahkan Pak Turan memberitahukan kondisiku kepada Lilian dan Kirey semalam! Dapat aku bayangkan reaksi mereka saat ini dan apa yang akan mereka lakukan.. Aarrgghh! Almira! Kenapa kau selalu saja membuat mereka khawatir kepadamu?
Waktu kembali berdetak tak terasa pagi hari pun menuju siang namun cuaca masih terlihat tertutup awan mendekati awal musim dingin di tahun ini.. Bersandar melihat langit yang tak kunjung henti, akhirnya hal yang aku khawatirkan pun terjadi dengan keributan yang mereka timbulkan karena begitu menyayangiku yang selalu saja menimbulkan masalah bagi mereka..
“ ALMIRA! DOKTER ALMIRA! DIMANA RUANGANNYA?”
Lilian yang khawatir mulai merasa histeris mencoba bertanya pada suster yang berjaga menggunakan bahasa turki
“ Ruang 501. Tepat di sebelah kanan anda Bu..”
Ucap Suster tersebut dengan mengarahkan tangannya
#BRAAKK
“ ALMIRA!”
Suara hentakan pintu yang dibuka paksa oleh Lilian yang terlihat khawatir
“ Aku tidak apa apa.. Kalian tenanglah..”
Ucap Almira yang tersenyum kepada Lilian dan Kirey
“ Bagaimana bisa kau mengalami hal seperti ini kembali? Bagaimana kakimu?”
“ Berdasarkan hasil rekam medis, hanya terjadi keretakan sedikit saja.. Namun saat ini Bahuku lah yang mengalami cedera serius..”
“ Kau yakin? Almira, kau terluka tepat di kaki yang sama dan ini sudah ketiga kalinya..”
Tersenyum mencoba untuk meyakinkan mereka, akhirnya dapat membuat percaya padaku dan akhirnya mereka pun terlihat tenang. Tersadar akan jarak tempuh yang harus mereka lakukan kemari, aku pun bertanya dan akhirnya mereka pun jujur dengan mengatakan Emre dan Hammet yang sedang berada di Lobby bawah Rumah sakit yang merasa segan untuk bertemu denganku karena merasa canggung.. Mendengar itu, aku pun tidak menyalahkan mereka yang bertindak seperti itu padaku terlebih karena aku melarikan diri dari hubungan yang mereka harapkan akan terwujud layaknya hubungan yang sedang mereka jalani saat ini.. Sepertinya saat ini, aku memang harus jujur kepada mereka semua dan tidak bisa lagi menutupi semua kebohongan ini..
“ Panggilah mereka kemari.. Ada yang ingin kubicarakan dengan mereka, terutama Emre..”
Ucap Almira yang menatap serius kepada Kirey dan Lilian
“ Kau, yakin?”
Ucap Lilian pada Almira
“ Ya.. Mau sampai kapan aku seperti ini pada suami para sahabatku ini.. Terlebih, bukankah kita juga saling mengenal satu sama lain? Ada hal yang ingin aku perjelas kepada kalian semua..”
Ucap Almira yang tersenyum kembali kepada Lilian dan Kirey
Kirey langsung mengeluarkan Handphone dari dalam Tasnya dan mengubungi Hammet dan menyuruhnya bersama Emre untuk datang menjengukku. Terlihat rasa segan dengan sedikit penolakan yang dilakukan Hammet terlebih Emre, namun Lilian dan Kirey dapat meyakinkan mereka agar bersedia untuk menemuiku walau hanya sebentar.. Mereka pun akhirnya setuju dan tak memerlukan waktu lama, aku seperti bernostalgia kembali ketika melihat mereka berdua saat ini yang terlihat kikuk di hadapanku, merasa serba salah dan menundukkan kepalanya..
“ Apa bahasa indonesiamu sudah jauh lebih baik?”
Ucap Almira kepada Hammet dengan tersenyum
“ Ya, Kirey selalu mengajariku setiap hari..”
Ucap Hammet yang mengarahkan pandangannya kepada Kirey
“ Kalau begitu, aku akan berbicara menggunakan bahasa indonesia..”
“ Apa yang ingin kau katakan padaku?”
Ucap Emre yang serius dengan menundukkan kepalanya
“ Aku tahu kalian berempat sebenarnya amat sangat marah padaku, bahkan jika memungkinkan kalian ingin sekali menendang atau memukulku.. Benar bukan?”
Ucap Almira yang tersenyum menatap mereka
“ Almira.. Kami sebenarnya ha..”
__ADS_1
“ Aku tahu Lilian.. Tanpa harus kau jelaskan pun aku mengerti, karena itu aku ingin mengucapkan banyak terima kasihku kepada kalian hari ini..”
Almira yang menundukkan kepalanya kepada mereka berempat
“ Kau, masih tidak ingin bertemu dengannya?”
Ucap Emre yang bertanya pada Almira dengan memalingkan wajahnya
“ Apa dia bersedia bertemu denganku?”
“. . . . . . . . . . .”
Semua pun terdiam mendengar pertanyaan yang diberikan Almira
Kembali menundukkan kepalaku, aku tahu jelas saat ini apa jawaban yang akan diberikan mereka semua padaku jika aku bersikeras meminta mereka untuk menjawab pertanyaanku saat ini. Mereka yang terdiam, semakin membuat suasana ini menjadi semakin terasa canggung hingga akhirnya Lilian membawa Emre untuk keluar kamar, di ikuti Kirey dan Hammet di belakangnya.. Dapat dengan jelas olehku apa saja yang akan dibicarakan oleh Lilian dan Kirey kepada suaminya masing masing yang mungkin bisa menyebabkan pertengkaran diantara mereka.. Merasa tidak ingin hal itu terjadi, akhirnya aku pun memanggil mereka kembali dan menceritakan semua yang terjadi selama 2 tahun terakhir ini dan apa alasanku memperlakukan Serkan hingga seperti ini..
Hammet merasa sangat begitu terkejut terlebih Emre yang juga tak menyangka dengan apa yang aku ceritakan pada mereka saat ini. Bahkan Lilian dan Kirey yang hanya mengetahui cerita dengan Versi kebohongan pun akhirnya menangis dengan rasa amarah yang akhirnya tidak bisa mereka bendung.. Untuk meyakinkan bahwa yang kukatakan benar, aku memperlihatkan bukti rekam medis yang aku simpan di Handphone ku dan memperlihatkan kepada mereka semua.. Lilian terlihat begitu emosi, seketika keluar dari ruanganku dengan Kirey yang mencoba untuk mengejarnya. Hingga akhirnya membiarkan aku dan Emre serta Hammet untuk berbincang..
" Almira, bagaimana bisa kau seperti ini pada kami semua?"
Ucap Hammet kepada almira dengan nada merendah
“ Jadi, saat kau pulang di hari pertunangan Serkan hari itu, kau mengalami kecelakaan mobil?”
Ucap Emre kepada Almira dengan menundukkan kepalanya merasa tidak percaya
“ Berapa lama kau sudah mengalami pengobatan?”
Ucap Hammet kepada Almira dengan tatapan serius
“ Kurang lebih selama aku tidak menghubungi kalian.. 2 tahun ini..”
Almira yang tersenyum kepada Hammet
“ Hepatitis B?.. APA KAU BERCANDA ALMIRA?!”
Emre yang langsung berdiri membelakangi Almira seolah mencoba untuk tidak melihat wajahnya
“ Apa kau mengetahui siapa yang mendonorkan darahnya padamu, hingga kau mengidap penyakit ini?”
Ucap Hammet kembali kepada Almira
“ Saat kecelakaan mobil itu, pihak Rumah sakit kehabisan persediaan darah bahkan Bank Darah pun meminta waktu yang cukup lama.. Yang kutahu, ada beberapa pria yang langsung mendonorkan darahnya untuk membantuku dan sepertinya tidak menyadari bahwa dia sendiri mengidap penyakit ini.. Mereka hanya mencoba menyelamatkan nyawaku, namun akhirnya aku mengalami kondisi ini.”
Almira yang tertunduk malu dan pasrah dihadapan Emre dan Hammet
“ Kau harus memberitahunya. Almira apa kau tahu dia, bahkan kami semua salah paham kepadamu?”
Ucap Hammet kembali kepada Almira dengan nada sedikit meninggi
“ Dia kembali seperti dulu, Robot Pekerja yang tidak kenal henti akan waktu hanya untuk mengalihkan pikirannya. Bahkan pertunangannya dengan Yashinta pun kandas karena Serkan mengabaikannya dan seolah tidak menghargai dirinya.”
Ucap Emre yang mencoba menjelaskan kepada Almira
“ Pertunangannya.. Gagal kembali?”
“ Ya Almira.. Dia seperti hilang akal saat ini! Kerja, Kerja, dan hanya bekerja.”
“ Kau harus menjelaskan ini semua kepadanya.. Agar dia me..”
“ Tidak Emre! Apa kau tahu bagaimana penyakit Hepatitis B itu?! Mungkin aku tidak akan bisa menjadi seperti Lilian yang hamil dan melahirkan anak dari pria yang aku cintai.. Sampai detik ini, aku hanya terus melakukan perawatan.. Aku juga ingin hidup dengan.. Dengan pria yang kucintai!”
Almira yang mulai menangis dengan menahan suaranya mencoba bersikap tegar
“ Almira, maafkan kami.. Seandainya kami ta..”
“ Tidak, akulah yang salah dengan menghindari kalian.. Maafkan aku.. Serta kumohon, jangan sampai Serkan mengetahui hal ini dan tahu bahwa aku sedang berada di sini! Kumohon...”
Almira yang memohon dengan menarik tangan Emre dan menatapnya serta Hammet
“ Tapi Almira...”
“ Kumohon Emre.. Aku tidak tahu apakah penyakit ini bisa Hilang! Aku tidak ingin Serkan menanggung hal yang bukan menjadi tanggung jawabnya! Biarkan dia marah padaku, atau salah paham padaku, bahkan membenciku jika itu bisa membuatnya menjauh dariku dan menemukan wanita yang benar benar terbaik untuknya..”
“ Kau.. Sangat mencintainya bukan?”
Ucap Hammet pada Almira
“ Ya Hammet. Perasaan ini benar benar aku sadari disaat hari pertunangan Serkan saat itu, karenanya aku mencoba untuk memutar balik dan berniat untuk menghentikan Pertunangan Serkan dan Yashinta.. Namun, ternyata takdir berkata lain padaku..”
“ Almira.. Sungguh! Apa yang harus aku lakukan padamu saat ini? Apa yang kubisa lakukan untuk membantumu? Maafkan kami, Almira.”
Emre yang kembali menundukkan kepalanya dengan mengepalkan kedua tangannya terlihat merasa kesal namun rasa sedih yang dalam
__ADS_1
Uluran tangan yang sudah bisa kugapai pun terhenti dengan berjalan mundur menghindari apa kata hati disaat jiwa raga ini tertawan padanya yang tidak bisa kumiliki..