Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Aldis Aurellie Marabahan


__ADS_3

Matahari baru saja tenggelam saat Dicky memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Yudha. Begitu sampai dirumah, Dhika langsung mencari mamanya dikamar. Dhika yang melihat mama nya terduduk di lantai dekat pinggiran tempat tidur, berlari lagi keluar memanggil Oom Dicky.


Dicky berlari masuk ke kamar, dilihatnya kakak iparnya sedang meringis kesakitan memegang perut nya.


"Kenapa, Kak?"


"Perutku sakit, Dek. Sepertinya sudah kontraksi"


"Kita ke dokter ya, Kak"


Dicky membantu kakak iparnya naik kemobil lalu mereka bertiga menuju dokter kandungan langganan Risa. Dokter memeriksa keadaan Risa, dan dia mengatakan bahwa itu hanya kontraksi semu. Belum ada tanda-tanda kelahiran. Dokter hanya memberinya vitamin dan memperbolehkan mereka pulang.


"Kita pulang ke rumah Papa saja, Kak. Dicky khawatir terjadi apa-apa nantinya. Kak Yudha sedang tidak dirumah. Lebih baik disana saja"


"Iya"


Risa merasa tubuh nya lemas. Rasa sakit karena kontraksi semu tadi seolah menguras tenaganya. Yulia, Juan dan Adellia gempar melihat kedatangan Risa bersama Dicky yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Dicky benar, nak. Lebih baik kamu menginap saja disini dulu. Sampai Yudha kembali", kata Juan.


"Mau Adel ambilkan sesuatu, Kak"


"Kalo bisa Kak Risa mau susu hangat ya. Biar perut ini agak mendingan rasanya"


"Oke"


Adellia menuju dapur lalu membuatkan kakak ipar nya segelas susu hangat dan roti lapis coklat.


"Adek... Adek cantik. Kamu jangan nakal ya"


"Kalo kamu mau keluar besok aja ya, ini sudah malam. Bobo aja didalam sini. Jangan nakal sama mama ya, Dek"


Lagi, seisi ruangan diam seolah terpaku oleh celotehan anak berusia empat tahun itu. Dasar anak kecil, pikir mereka. Akhirnya setelah keadaan tenang, semua keluarga Marabahan kembali kekamarnya masing-masing untuk beristirahat.


******

__ADS_1


Seperti apa yang diucapkan Dhika semalam, pagi harinya Risa kembali mengalami kontraksi. Kali ini lebih hebat dari semalam. Dengan cepat Dicky mengambil mobil lalu menuju rumah sakit. Pukul enam pagi seluruh keluarga sudah berkumpul didepan kamar persalinan. Yudha yang baru saja mendarat, langsung menuju rumah sakit.


"Dimana Risa", tanya Yudha begitu sampai di rumah sakit.


"Kak Risa didalam, Kak. Cepatlah masuk",


Adellia menyuruh kakaknya masuk kedalam kamar bersalin.


Sampai di dalam, rupanya air ketuban sudah pecah. Hanya dengan beberapa kali tarikan nafas lahirlah bayi perempuan cantik. Putri kedua Yudha. Tangisan bayi itu mengelegar, memekakkan seisi ruangan. Yudha yang sedari tadi duduk disamping istrinya, mengucapkan syukur berkali-kali. Putri keduanya lahir dengan selamat. Dia mengelap peluh yang membasahi wajah istrinya. Mencium punggung tangan wanita hebat yang telah memberinya dua anak.


"Ini putrinya, Pak. Cantik seperti mamanya"


Seorang perawat yang sudah memandikan bayi tadi, menyerahkan bayi cantik itu pada Papanya. Yudha mencium pipi putri kecilnya. Dia meletakkan bayi itu di dada ibunya.


Ia pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kembali lagi kesamping istri dan anak nya. Semua orang sudah berkumpul. Yudha menggendong bayi itu menghadap kiblat. Lalu meng-adzan-kan nya ditelinga kanan, serta komat di telinga kiri.


"Cantik sekali kamu nak. Semoga menjadi anak sholehah, membawa kedua orang tuamu kedalam syurga"

__ADS_1


Dikecupnya lagi kening dan kedua pipi bayi cantiknya. Rasa syukur tak terhingga menyelimuti hati nya. Telah lahir dengan selamat putri kedua Yudha Linatang Marabahan, berwajah cantik dengan hidung mancung nya, Aldis Aurellie Marabahan.


******


__ADS_2