
"Selamat pagi", sapa Burhan
Pagi sekali dia sudah berada dikediaman Yudha. Keluarga Marabahan baru saja selesai sarapan. Mereka sedang bercengkrama diruang keluarga.
"Pagi, Burhan. Pagi sekali kamu datang. Apa ada kabar baik?", tanya Yulia penuh harap
"Bisa dibilang seperti itu, bisa juga tidak, Tante"
"Maksudmu?"
Burhan duduk di sofa. Bergabung bersama mereka.
"Begini, berdasarkan pemantauan kamo pihak intelijen di lapangan, ada kegitan keluar masuk surat menyurat ataupun administrasi yang terjadi di kantor Yudha"
"Maksud Kak Burhan?", tanya Dicky.
"Semua dokumen kantor dan surat menyurat berjalan lancar. Maksudku selama Yudha menghilang sistem administrasi disana berjalan lancar dan yang anehnya lagi semua itu ditanda tangani ole Yudha sendiri. Aku tak tahu dari mana tapi semua tanda tangan itu asli?!"
"Asli?"
"Ya, kami sudah menyelidikinya, itu adalah tanda tangan asli Yudha. Artinya dia berada disuatu tempat. Aku tak tahu apa tujuannya"
"Artinya Kak Yudha masih hidup?!", kata Adel
"Benar. Kemungkinan itu sangat besar"
"Alhamdulillah", ucap semua bersamaan.
"Hanya saja aku belum menemukan diman dia berada sekarang dan kenapa dia harus menghilang. Dan satu hal lagi tujuan aku datang kesini adalah untuk mencari suatu berkas rahasia yang Yudha simpan"
"Berkas apa?"
"Berkas barang bukti kejahatan Richard dan kelompoknya. Bukti itu sudah lama kami kumpulkan dan Yudha yang memegangnya. Masalah nya aku butuh dokumen itu untuk diserahkan kepada kepala intelijen"
Burhan melihat ke arah Risa.
"Apakah Yudha pernah mengatakan dimana dia menyimpan dokumen itu? Aku tak mungkin memeriksa seisi rumah ini. Sebagai istrinya barangkali kami tahu sesuatu, Risa?"
__ADS_1
Risa menggelengkan kepalanya.
"Kak Yudha tidak pernah menceritakan masalah pekerjaannya. Apalagi itu dokumen negara yang penting"
"Benar, dia pasti menyimpannya disuatu tempat, tapi dimana. Dan tak ada sesorang yang memegang klue nya"
Semua terdiam. Tidak ada yang tahu maksud Yudha sebenarnya. Entah apa yang dia rencanakan. Burhan teringat ucapan yang pernah diucapkan sahabatnya itu.
"Tenang saja, Han. Kalau ada apa-apa terjadi padaku, semua ini akan aku titipkan pada seseorang yang aku percaya. Dia juga bagian dari diriku, jadi pasti dia mengerti"
"Orang yang dipercaya??! Siapa dia?",gumam Burhan.
"Siapa, Kak?", Adel memutus lamunan Burhan.
"Ah ... Kira-kira siapa orang yang dipercaya oleh Yudha, si pemegang kunci rahasia itu"
"Apa bukan Ken?"
"Aku rasa tidak, Pa!",ucap Dicky.
Semua kembali diam dan berfikir. Menerka-nerka siapakah orang itu. Tiba-tiba Burhan teringat sesuatu.
"Bagian dari diriku? Bagian? Ya, Tuhan mungkin kah itu?",pikirnya.
Dia menatap Dhika yang duduk dilantai tak jauh dari mereka. Si sulung yang sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan nya. Burhan ragu, namuan apa salahnya dia mencoba. Dia mendekati Dhika dan duduk disampingnya.
Melihat sahabat Papa nya duduk bersisian dengan nya, Dhika tersenyum. Burhan memberanikan diri untuk bertanya.
"Dhika ..."
"Ya, Oom"
"Oom Burhan, boleh tanya sesuatu?"
"Boleh"
"Kamu tahu tidak barang yang, Oom Burhan cari?"
__ADS_1
"Tahu!"
Sontak saja seisi rumah terkejut mendengar nya. Tidak mungkin. Dan itu diluar perkiraan semua orang.
"Apa itu"
"Amplop besar"
"Oiya, dari mana?"
"Papa yang simpan"
"Tahu tempat simpan nya?"
"Ya"
Lagi. Seisi rumah melongo dibuatnya.
"Dimana?"
"Buat apa, Oom?"
"Oom perlu amplop besar itu. Dimana Papa mu menyimpannya, sayang?!"
Dhika tidak menjawabnya. Dia malah pindah ke atas sofa. Bermain dengan ponselnya. Seisi rumah menunggu jawaban Dhika. Dia masih asyik bermain dengan ponselnya. Burhan sadar akan sesuatu.
"Tanyakan pada Papamu, apa Oom boleh membawa nya?"
"Ya"
Haaaaahhhh.... Lagi semua orang tercengang.
"Kami tahu dimana, Papamu, Dhika?",tanya Yulia.
"Tidak"
Burhan menunjuk ponsel yang di pegang Dhika, semua orang paham maksudnya. Yudha menghilang selama ini dan ada kemungkinan dia masih hidup. Jika demikian, orang terdekat yang tahu keberadaannya adalah ... Anak atau istrinya.
__ADS_1
******