
Yudha sudah rapi dengan pakaian kerja nya, stelan jas hitam berdasi biru dongker serta sepatu hitam mengkilat. Sebuah tas jinjing hitam ditangan kanan nya.
"Papa, berangkat kerja dulu ya, nak. Jangan nakal dirumah. Nurut sama mama"
"Iya, Pa"
Dhika mengambil tangan Papanya, lalu mencium punggung tanganya. Yudha menghadiahinya sebuah kecupan mesra di pipi dan kepala nya.
"Nanti malam sepulang kantor, Kak Yudha bersama Papa dan Dicky akan ke kantor kepolisian pusat lagi"
"Panggilan lagi, Kak?"
"Bukan. Hanya cross check pernyataan saksi dan tersangka mungkin pulang agak malam. Hati-hatilah dirumah. Jaga diri dan anak-anak ya"
Yudha mengelus perut istrinya yang sudah membesar. Risa mengambil tangan suaminya, lalu mencium punggung tangannya. Sebuah tanda bakti seorang istri kepada suaminya. Yudha mengecup mesra kening istrinya.
Ken sudah siap didepan mobil. Dia mengambil tas yang dibawa Yudha lalu meletakkannya di dalam mobil. Dia membukakan pintu tengah untuk tuannya itu.
"Hati-hati ya, Pa", teriak Dhika.
Dia melambaikan tangannya pada Papanya. Ken menutup pintu mobil lalu kembali ke belakang kemudi. Mereka menghilang di balik pagar rumah.
******
"Ya, Kak ... Dicky dan Papa sudah sampai di kantor kepolisian pusat. Kak Yudha dimana?"
"Kak Yudha sebentar lagi sampai, Dek. Ini sudah dekat ko"
"Ya sudah, hati-hati Kak"
Dicky menghubungi kakak nya saat tiba di kantor kepolisisn pusat. Mobil mereka terparkir di halaman belakang kantor. Tak lama Alphard putih datang mendekat. Dan parkir tepat disebelah mobil mereka.
Ken turun dari belakang kemudi, lalu membukakan pintu belakang untuk Yudha. Lalu mereka bertiga memasuki gedung kantor kepolisian pusat. Mereka di sambut hangat oleh para petugas disana.
Pukul delapan malam, mereka masih berada disana. Dicky dan Juan masih menunggu di ruang tunggu. Yudha masih berada di dalam ruangan, dia yang terakhir di konfirmasi oleh pihak kepolisian.
Cekreeeeekkk ...
"Malam oom, apa kabar", sapa Burhan yang muncul dari balik pintu kaca.
"Kabar baik, Nak", sapa Juan ramah.
Burhan juga menyalami Dicky yang berada disebelah Papa nya.
"Belum selesai prosesnya, Oom?"
"Belum. Masih proses cross check dengan tersangka"
"Yudha dimana?"
__ADS_1
Belum sempat mereka menjawab pertanyaan Burhan, Yudha keluar dari dalam ruangan.
"Ada apa mencari ku, Han?"
"Ga ada yang penting sih, hanya sedikit nostalgia. Anak-anak ngajak ketemuan. Kapan kira-kira kita bisa atur waktunya"
"Hmm..."
Yudha diam dan berpikir.
"Malam ini?"
Hahahaha... Yudha tertawa
"Jangan malam ini, Bro. Bisa-bisa aku di demo oleh Dhika nantinya. Dia sudah bisa protes sekarang"
"Diih... Itu mah salah mu sendiri. Kenapa pulang kantor tidak langsung pulang. Ngelayap aja kerjanya. Rasakan, anak mu sudah mulai protes pada Papa nya"
"Ya, kita atur saja waktunya nanti. Sekalian tamasya juga asik tuh"
"Bawa cewek ya ...", Burhan mengedipkan mata pada Yudha.
Yudha hanya tertawa. Burhan pamit dan meninggalkan mereka bertiga.
******
Mereka kembali menunggu d ruang tunggu, beberapa menit kemudian datang seorang kepala kepolisian beserta laki-laki asing.
"Don't mention it, Sir"2)
Setelah memberi hormat kedua orang itu berpamitan. Barulah mereka bertiga merasa lega.
"Tampaknya semua masalah sudah selesai, Pa. Papa tidak usah khawatir lagi. Semua akan berjalan seperti biasanya"
"Syukurlah, Papa lega mendengarnya"
Drrrr... Drrrr....
Handphone Dicky bergetar, dia mengambil nya dari dalam saku. Sebuah panggilan video dari keponakannya tersayang. Dia menggeser tombol hijau pada layar ponsel nya.
"Halooo... Gantengnya Oom Dicky"
Yudha menengok kearah adiknya, dia mengetahui siapa yang menelpon Dicky itu.
"Ooomm... "
"Iya sayang, ada apa?"
"Oom Dicky dimana? Sama Papa, Ya?"
__ADS_1
"Iya, ini Papa mu ada sama Oom juga kakek"
"Papa itu handphone nya tidak di angkat. Dhika mau ngomong sama Papa, Oom"
Dicky menyerahkan ponselnya pada kakaknya, Yudha menghela nafas panjang. Dia sepertinya tahu kalau anak laki-laki nya itu pasti akan protes lagi padanya.
"Ya, nak ... Ada apa?"
"Papa ...!"
"Hmmm... "
"Handphone Papa jual aja deh!"
"Dijual? Kenapa?"
"Buat apa punya handphone kalau tidak bisa angkat telepon Dhika"
Dari layar ponsel Yudha melihat Dhika cemberut manatapnya.
"Anak ini mulai ekstrim, bahaya ini", pikir Yudha.
Yudha tersenyum.
"Oke, baiklah. Papa minta maaf. Tadi Papa lupa mengaktifkan sound ponselnya. Jangan cemberut dong"
"Papa pulang jam berapa?"
"Ini sudah mau pulang, kok!"
"Are you sure? Don't lie to me "3)
"Absolutly"4)
Dhika mematikan handphone nya. Yudha hanya bisa garuk-garuk kepala. Salah tingkah dengan sikap putra nya itu.
"Ayo kita pulang, sudah malam. Dan kamu sebaiknya langsung pulang, Yudha. Kasian, Dhika pasti menunggu mu", kata Juan.
"Ya, Pa. Bisa-bisa Yudha di demo sama anak itu kalau terlambat lagi"
Yudha berpamitan untuk pulang lebih dulu, karena jalan rumah nya dengan rumah Papa nya berbeda arah. Ken yang sedari tadi menunggu dimobil langsung membukakan pintu untuk Yudha. Dia melajukan mobil kembali kerumah Yudha di Selatan ibukota.
******
Terjemahan
1) "Saya sangat berterimakasih atas kerjasama kalian. Besok pagi kami akan membawa tersangka kembali ke London"
2) "Tak usah dipikirkan, Pak"
__ADS_1
3) "Papa, Yakin? Jangan berbohong padaku"
4) "Pasti!"