Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Yudha sudah berada dikantornya sejak pukul tujuh pagi. Ruangan yang bersih, rapi dan sejuk. Sangat nyaman untuk bekerja. Ken berada disebelahnya, membantu dia dengan beberapa tumpuk berkas.


"Ken"


"Ya, Pak"


"Aku minta kamu menyelidiki sesuatu secara diam-diam. Apa kau sanggup?"


"Siap, Pak"


Yudha memberikan sebuab amplop coklat. Ken membukanya, membacanya dengan teliti. Lalu memasukkan lagi kertas-kertas itu kedalam amplop.


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan"


"Terima kasih, Ken. Aku mengandalkan mu"


Ken memberi hormat lalu keluar dari ruangan Yudha. Didepan pintu dia berpapasan dengan Burhan.


"Yudha ada di dalam?"


"Ada. Silakan masuk"


Tok .. tok ...


Cekreeeeekkk...


Ken membukakan pintu untuk Burhan.


"Apa kabar, Bro. Sepertinya kamu sedang banyak pekerjaan"

__ADS_1


Yudha bangkit dari tempat duduknya dan menyalami Burhan.


"Tidak juga. Hanya berkas-berkas biasa"


"Aku tidak menganggumu, bukan?"


"Hmm... Tidak. Sama sekali tidak. Ada apa?"


"Ini masalah Adam"


"Adam?", Yudha mengerutkan dahinya.


Burhan menghela nafas. Dia menyandarkan duduknya lebih dalam di sofa.


"Jangan kamu katakan kalau kamu tak tahu masalah ini, Yudha. Aku yakin pihak intelegen pusat sudah menghubungi mu. Karena kamu dan aku merupakan salah satu orang terdekat Adam"


"Hmmm..."


Yudha diam. Dia menopangkan kedua tangannya pada dagunya. Matanya melirik pada Burhan yang duduk tepat dihadapannya.


"Adam telah salah langkah. Dia menempuh jalan yang salah. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau dia akan bertindak sejauh ini. Ini bukan urusan yang receh, Burhan. Ini bukam lagi kejahatan kecil, ini kejahatan internasional. Aku tak bisa membayangkannya"


"Yaah... Pencurian dokumen negara, penyelundupan senjata ilegal serta organisasi terlarang. Kejahatan berlapis. Aku pun tak sanggup membayangkan kalau Adam yang dulu lugu, sederhana dan selalu di bilang cupu itu bisa bertindak sejauh ini"


"Kita semua tidak ada yang menduganya"


"Satu hal lagi yang tak kalah mengejutkan"


Yudha memandang Burhan. Menunggu lanjutan kata-kata sahabatnya itu.

__ADS_1


"Berdasarkan laporan di lapangan, Adam beberapa kali kedapatan menemui seorang perempuan. Dan kamu tau, Yudha. Siapa perempuan itu?"


Yudha masih diam. Dia tak menjawab nya. Dia hanya menunggu kata-kata Burhan.


"Mile.... Milea Idris"


Yudha tersenyum tipis. Dia tampak tak terkejut mendengar perkataan Burhan. Karena dia sendiri toh sudah tahu hubungan diantara Adam dan Mile.


"Tampaknya kau tahu sesuatu, Yudha. Katakan padaku!"


"Hmmm..."


"Ayolah, Yudha. Jangan main rahasia seperti itu!"


"Apakah kamu ingat, Burhan? Dulu saat kelas satu SMA, Mile merupakan primadona disekolah kita. Banyak laki-laki yang mengejarnya. Termasuk Adam"


"Yah, beberpa kali dia menyatakan perasaannya pada Mile. Namun Mile selalu menolaknya. Kau tahu lah, selera Mile high class. Tidak sepadan dengan Adam waktu itu"


"Ya"


"Lalu apa hubungannya dengan semua ini. Apa kamu mau mengatakan bahwa Mile pun terlibat dalam kasus ini?"


"Terlibat tapi tidak terlibat. Hanya berkorelasi saja"


"Apakah ada kaitanya dengan pembicaraan rahasia mu dengan Mile kemarin?. Kemarin aku melihat kalian berdua berbicara sembunyi-sembunyi di halaman belakang. Tampak nya ada hubungannya dengan Adam. Karena sebelumnya aku pun melihat Mile dan Adam bicara berdua. Apakah dugaanku benar, Yudha?"


"Yap, kira-kira seperti itulah yang terjadi kemarin"


"Lalu?"

__ADS_1


Yudha tak menjawabnya. Dia hanya tersenyum kecil. Burhan tak mengerti apa maksud Yudha. Dia meminta penjelasan lebih rinci pada Yudha, namun Yudha tak mau menjelaskan detail sebenarnya.


******


__ADS_2