Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Saingan Sang Tante


__ADS_3

Baby Aldis Aurellie Mabahan sudah dibawa pulang dan disambut bahagia keluarga besar Marabahan. Yulia, Adellia dan Juan sudah lebih dulu pulang untuk menyambut baby girl. Dicky dan Yudha plus Dhika membawa mama nya serta adek bayi nya pulang. Pukul sebelas siang baby Aldis sudah sampai dirumah. Dia bak seorang artis yang dikerubuti para fan.


"Cantik sekali"


"Hidungnya mancung"


"Lucunya ..."


Begitulah komentar orang-orang yang melihat baby Aldis. Rumah Yudha sudah ramai dengan rekan kerja nya serta jiran tetangga. Mereka antusias melihat si baby Aldia yang sedang jadi pembicaraan di keluarga.


"Selamat ya, Pak Yudha"


Ucapan selamat juga berdatangan dari berbagai pihak, baik secara langsung ataupun karangan bunga.


"Cucu cantik nya kakek, jadi anak solehah ya"


"Kakek ... Aku juga mau liat adek Aldis dong", pinta Dhika.


Juan duduk di sofa agar Dhika bisa melihat adik nya. Dhika senang sekali, dicium nya adik kecilnya. Greget dia melihat adiknya yang begitu kecil.


"Dhika, cium adeknya jangan begitu. Pelan-pelan dong, sayang. Kaget adek nya, Kak"


"Hehehe... Oke deh kakek?"


Lagi, dicium nya adek baby nya, kali ini dengn mesra, lebih mesra.


"Adek cantik, jangan nakal ya?"


"Memangnya kamu Dhika, kamu kan pecicilan, ga ada kalem-kalemnya", ledek Adellia.


"Tente.."


"Ya"

__ADS_1


Dhika menarik tangan tante cantik nya, dia membisikkan sesuatu di telinga Adellia.


"Dhikaaaa...."


Sontak Dhika berlari menjauhi Adellia yang mengejarnya. Dia berlari menuju Oom gantengnya yang baru turun dari lantai dua.


"Ooom, tolongin Dhika ...tante Adelnya nakal"


Dicky langsung menggendong Dhika. Menyelamatkan nya dari kelitikan si bungsu.


"Jangan dibelain, Kak. Anak ini harus di hukum. Sini kamu bawel ... "


"Tante itu kalo terlalu galak malah ga punya pacar lo. Takut sama tante"


"Enak aja..."


Dicky terbahak-bahak mendengar celotehan jahil keponakannya itu. Adel yang merasa terpojok oleh ledekan keponakannya yang jahil itu, yang mendapat pembelaan dari kakak keduanya, mencubut pinggang Dicky.


"Aduuuh...duh..."


Adel memonyongkan bibirnya. Dicky yang melihat itu langsung memeluk asik bungsunya. Mencium kepala nya.


"Maaf ya, Dek"


"Maaf ya, tante cantik"


Dhika juga ikut-ikutan memeluk dab mencium tante cantiknya yang sedang cemberut.


"Tante ..."


"Ya .."


"Love you ..."

__ADS_1


"Love you too, dear"


******


Hari itu suasana rumah Yudha meriah sekali, suara canda tawa keluarga ditambah kehebohan baby Aldi yang menangis karena tidak betah di bedong. Wajah Baby cantik itu memerah berusaha meronta melepaskan bedongnya. Tapi usahanya sia-sia, semua orang yang melihatnya tersenyum.


Semua bernuansa pink. Topi rajut warna pink, bedong, baju bayi, sarung tangan dan kaki semua berwarna pink. Warna cantik khas anak perempuan. Kasur bayi pun bernuansa sama.


"Kenapa semua warna pink, Mama"


"Ya, adik mu kan perempuan, Dhika"


"Kalo perempuan itu pink ya, Ma"


"Ya tidak harus, tapi kan biasanya begitu, sayang"


"Ooooo...."


Dhika membulatkan mulutnya, seolah mengerti apa yang dimaksudkan Mama nya.


"Kenapa nenek ga baju pink juga, pake pita pink juga?"


Hahahahaha.... Yudha yang mendengarnya. Dia membayangkan seperti apa yang diucapkan putra sulung nya. Yulia tahu benar apa yang dipikirkan anak tertuanya itu.


"Aduuuuh... iya . . ya... Ma ... "


"Kamu mau ikut ngeledek, Mama ya"


"Sekarang yang paling cantik adek Aldis. Tante ga"


"Dhika... jangan mulai lagi. Kamu ini selalu menggoda tantemu", sergah Risa.


"Hehehe...", Dhika hanya cengengesan mendengar ucapan mamanya.

__ADS_1


******


__ADS_2