
Yudha tak bisa menceritakan rahasia itu pada Burhan, dia sudah berjanji pada Mile untuk tetap diam sampai saatnya tiba. Tapi apa yang harus dia perbuat, siapa yang harus dia bela? Persahabatan nya kah? Atau negara nya?
"Adam ... Kamu membuatku berada di persimpangan. Tak mungkin aku mengabaikan negara ku. Tak mungkin juga aku membunuh sahabatku sendiri"
"Dan soal Mile, dia lah alasan kuatku untuk tetap melindungi mu sampai saat ini. Tapi aku tak bisa seperti ini terus. Aku harus bertindak"
Tuuuut.... Tuuuuttt ...
"Halo, Dam. Aku tahu kamu disitu"
"Ada apa, Yudha. Dari mana kamu tahu nomor ponselku ini"
"Mudah saja bagiku, Dam untuk mendapatkan nomormu. Dam, Aku rasa kita perlu bicara empat mata. Ini masalah penting"
"Mengenai apa? Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan"
"Kamu takut kalau aku menjebakmu?"
"Aku perlu waspada. Aku tak bisa percaya pada siapapun saat ini"
"Baiklah, tapi ini permintaan dari Mile. Aku harus menyampaikannya langsung padamu. Terserah bagaimana caranya, dimana temapatnya kau atur saja. Aku ikut saja"
Adam terdiam sejenak. Dia yakin kali ini Yudha tidak berkata bohong.
"Baiklah. Tunggu telepon dariku"
"Oke. Jaga dirimu, teman!"
"Ya ..."
******
"Holiday Hotel. Sandi bunga matahari"
Begitulah pesan WhatsApp yang diterimanya. Tanpa menyebutkan no kamar atau tempatnya. Yudha berkali-kali membacanya. Dan akhirnya dia tersenyum. Tanpa banyak basa-basi lagi dia pergi menemui Adam di tempat yang sudah ditentukan.
Kali ini dia mengendarai si hitam kesayanganmya, Kawasaki Ninja 250, motor tipe sportbike terbaik saat ini. Yang bisa berlari menbus kemacetan kota. Jaket kulit hitam, sepatu boot kulit juga berwarna hitam. Selaras dengan performa motor nya itu.
Dalam waktu kurang dari satu jam dia sudah sampai ditempat yang dimaksud. Holiday hotel kamar 406. Sandi bunga matahari adalah sebuah tempat dimana mereka dulu pernah mengunjungi sebuah kebun bunga matahari, tepatnya pada tanggal empat Juni - 406.
__ADS_1
Dan benar saja saat pintu itu dibuka Adam muncul dari balik pintu.
"Akhirnya kamu sampai juga. Tak ku sangka kamu masih ingat hari itu"
"Tentu saja aku tak akan lupa. Itu adalah saat kita mengadakan pesta perpisahan di kebun bunga matahari"
"Masuklah"
"Terima kasih"
Adam mempersilakan Yudha masuk dan duduk di sofa. Mereka duduk berhadapan.
"Ada perlu apa kamu mencariku, Yudha"
"Baiklah. Aku langsung pada persoalan. Aku rasa aku tak perlu basa-basi lagi padamu, Dam"
"Hmmm...."
"Aku ingin kamu menyerahkan diri, Dam. Paling tidak itu akan meringankan hukumanmu. Aku akan membantumu agar hukumanmu tidak terlalu berat"
"Aku tidak sepecundang itu, Yudha. Walaupun semua kelompokku sudah dilumpuhkan, tapu aku tak akan menyerah semudah itu. Tidak untuk siapapun"
"Ya"
"Walaupun demi Mile? Menyerahlah semi Milea, Dam. Dia menunggu mu"
"Tidak"
"Bahkan tidak demi Mile?"
"Tidak"
"Artinya kamu tidak sungguh-sungguh mencintainya. Kamu hanya mempermainkannya"
Seketika Adam naik pitam, dia mencengram kerah baju Yudha. Namun Yudha sepertinya sudah siap dengan kondisi yang akan terjadi. Dia masih bersikap tenang dan tersenyum. Adam yang sudah mulai tersulut emosinya makin keki melihat senyuman dan ketenangan Yudha.
"Bahkan tidak juga demi anak mu?"
"Anak?!. Hahahaha.... Kamu jangan bergurau Yudha. Aku belum punya anak bahkan belum menikah. Perempuan yang dari dulu aku cintai itu selalu mencampakkan ku, kau tahu itu Yudha. Aku sangat membencinya"
__ADS_1
"Kalau kamu membencinya, lalu apa yang kamu lakukan pada malam itu, Dam!!"
"Apa maksud mu, Yudha?'
Yudha menepis cengkraman tangan Adam. Dia menatap tajam pada lawan bicaranya itu.
"Mile hamil. Dia mengandung anak mu, Dam?!"
Adam nyaris berteriak. Bukan main terkejutnya dia mendengar ucapan Yudha. Sekali lagi dia menatap wajah sahabat lamanya itu. Yudha tidak bergeming sedikitpun, dan raut wajahnya tidak mengatakan kebohongan.
"Apa .... Itu benar?"
"Iya, Mile sendiri yang mengatakannya padaku kemarin. Jadi aku minta padamu, lakukan demi calon anakmu nanti. Agar dia bisa lahir dengan menyandang nama mu. Agar dia tetap memiliki kedua orang tua yang utuh. Ini permohonan Mile padaku"
Adam terdiam. Hatinya menjadi bimbang. Deru nafasnya mulai meluluh. Dia sedang membayangkan hidup bahagia bersama perempuan yang sangat dia sayangi dan juga anak mereka.
Namun tiba-tiba saja pintu di dobrak secara paksa.
Braaaakkk....
"Angkat tangan kalian!", Beberapa anggota kepolisian berpakaian preman mengepung mereka.
Tak lama Burhan muncul dengan nafas terengah-engah dari belakang pintu. Dia sangat terkejut melihat Yudha berada disana.
"Yudha ... !"
Dia memandangi kedua sahabatnya satu persatu. Mencoba mencari tahu apa yang baru saja terjadi diantara mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini?! Jelaskan padaku, Dam?! Yudha!"
Brugggh...
Adam melumpuhkan salah satu anggota pilisi bersenjata itu dengan satu tendangan, dengan secepat kilat dia bisa menerobos dan berlaru keluar. Para anggota polisi berbaju preman itu dengan sigap mengejarnya.
Burhan mendekat kearah Yudha.
"Ada apa ini? Apa yang telah terjadi disini, Yudha. Jelaskan padaku!?"
"Aku hanya berusaha membujuknya dan menyampaikan peemohonan Mile pada Adam. Selebihnya pada buser itu dan dirimu muncul dihadapan kami. Selebihnya kamu pasti tahu"
__ADS_1
******