
Sepuluh hari tak ada jejak yang di tinggalkan. Pihak kepolisian terus berusaha mencari segala kemungkinan. Risa tak putus-putusnya berdoa untuk keselamatan suami nya.
Tok...tok...
Cekreeeeekkk ...
Dicky dan Adel membuka pintu kamar, mencari kakak iparnya. Si sudut kamar nya Risa sedang sholat Dhuha, rutinitasnya setiap hari. Tak lupa kali ini dia sisipkan doa untuk suaminya agar bisa kembali dengan selamat.
Adel mengambil Aldis dari kasur bayi. Menggendong nya. Baby Aldis yang cantik tersenyum melihat Tante nya datang menggendongnya.
"Dicky, Adel ... "
Risa segera menghampiri adik-adik iparnya dan mereka pun menyalami Risa.
"Dhika mana, Kak?"
"Dia ada dikamar nya"
"Bagaimana keadaan, Kak Risa?"
"Alhamdulillah, kakak baik-baik saja. Mama sama Papa, bagaimana. Mereka tidak ikut kesini?"
"Mama sama Papa sehat,Ka. Mereka dirumah. Tadi Kak Dicky jemput aku kuliah, lalu kami kesini mampir"
"Ada perkembangan apa, Kak, tentang Kak. Yudha?", tanya Dicky.
"Belum ada, mereka masih mencari keberadaan Kak Yudha"
"Dicky harap pencarian mereka segera membuahkan hasil"
"Aamiin..."
Cekreeeeekkk ...
__ADS_1
"Mamaa..."
Semua orang menoleh ke arah pintu.
"Eh, Oom Dicky ... Tante Adel"
"Hii.... Ganteng nya Oom"
Dicky langsung memeluk dan mencium Dhika, keponakannya itu pun senang melihat Oom ganteng nya datang.
"Ma ... "
"Iya .."
"Ada Oom Burhan dibawah"
"Oo ... Ya tunggu sebentar"
Risa menuju wardrobe dan menukar pakaiannya, memakai hijab nya kemudian bersama Dicky dan Adel menemui Burhan di lantai bawah.
"Hai, Risa ... Oh.. ada Dicky dan Adellia juga. Kebetulan sekali"
"Ada kabar apa, Kak", tanya Adel.
"Begini, aku kesini mau memberi tahu sesuatu pada kalian. Ini masalah Yudha"
Semua diam. Hati mereka berdegub kencang menanti apa yang akan di katakan Burhan.
"Kemarin sore, Adam sudah di temukan, dia sedang ditahan di tempat yang sangat di rahasiakan. Keadaannya kritis. Dia ditemukan di tepi sungai dengan tubuh penuh luka"
"Lalu Kak Yudha bagaimana?", tanya Risa
Matanya penuh kecemasan dan harapan. Dia ingin mendengar kabar suaminya secepatnya.
__ADS_1
"Masalah Yudha dia belum ditemukan juga. Tapi ada masalah lain?"
"Masalah lain?"
"Ada seseorang lagi yang terlibat bahkan menjadi dalang ini semua. Dia adalah Richard Miller?"
"Miller?"
"Ya"
"Dia masih hidup?"
"Ya"
Risa lemas mendengarnya. Artinya suami nya terlibat bersama orang-orang yang sangat berbahaya.
"Menurutku, kamu dan anak-anak lebih baik tinggal mencari tempat yang aman dulu. Berbahaya kita kalian sendirian disini. Aku akan menempatkan beberapa orang untuk mengawal kalian. Paling tidak aku bisa menyakinkan kalau kalian baik-baik saja"
"Baiklah nanti aku fikirkan, terima kasih"
"Kalau begitu aku permisi"
Risa mengantar Burhan sampai kedepan pintu bersama Dicky dan Adel. Beberapa orang pengawal yang diminta Burhan menjaga rumah sudah berada di posisi masing-masing. Bukan hanya di halaman depan, halaman belakang dan setiap sudut rumah mereka sterilkan.
Risa sudah biasa dengan sistem pengamanana seperti ini, namun kali ini agak lebih ketat dari biasanya. Burhan menerapkan sistem protokolel ketat demi menjaga keamanan Risa dan anak-anak nya.
******
"Siapa Richard Miller itu, Kak", tanya Dicky.
"Dia adalah buronan paling berbahaya CIA, dia penjahat elite, bisa di bilang dia kepala mafia terbesar di Amerika. Dulu dia pernah dekat dengan Kak Yudha sejak masih bujang, mereka satu kampus di London. Bahkan satu dome dengan Kak Yudha. Hanya saja sejak keluar dari pekerjaannya Richard bergabung bersama anggota mafia. Dia sangat ahli dalam bidang IT. Dan sekarang dia mengetuai sebuah kelompok Mafia yang paling ditakuti di Amerika"
"Entah kenapa Kak Yudha bisa terlibat lagi dengan Richard. Dia penjuaal obat bius, senjata ilegal dan pembobol jaringan internasional. Orang yang paling dicari di banyak negara"
__ADS_1
Dicky dan Adel terdiam. Dia tahu kakak nya orang yang paling tidak bisa tinggal diam jika ada ketidak adilan dan kejahatan terlihat dimatanya. Tak heran dia banyak tahu hal-hal rumit seperti itu. Mereka lebih nyaman jika kakaknya menjadi Yudha Lintang Marabahan, kakak mereka di bandingkan petualang kebenaran seperti ini.
******