Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Bahasa Hati Ayah Dan Anak


__ADS_3

Drrr.... Drrr...


Ponsel Dhika berdering. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dia membukanya. Lalu tersenyum pada Burhan.


"Boleh?",tanya Burhan.


Dhika tersenyum dan mengangguk. Dia mendekati Oom gantengnya. Menarik tangan Oom ganteng nya.


"Temenin Dhika, Oom"


Dicky bangun dari duduknya mengikuti langkah keponakannya. Burhan mengikuti mereka dari belakang. Mereka menuju lantai atas ke ruang kerja Yudha. Melewati lorong rumah lalu berhenti di depan sebuah ruangan. Dicky menatap keponakannya. Seperti paham maksud bocah tampan itu, Dicky membuka ruangan itu.


Mereka masuk kedalam. Ruang kerja pribadi Yudha. Bersih dan rapi. Sebuah lemari besar memiliki pintu empat terletak disalah satu sujud, dipenuhi jejeran buku-buku. Disisi lain satu set sofa dan sebuah meja sudut kecil. Didindingnya terpajang poto Yudha, Risa dan kedua anaknya. Sebuah poto keluarga yang manis dipandang.


Dhika berjalan menuju salah satu sudut ruangan di balik meja kerja kerja besar.


"Oom Dicky, tolong geser meja ini?"


Dicky menggeser meja besar itu berdua Burhan. Didinding yang tertutup meja itu terlihat celah berbentuk persegi. Dhika menarik tangan Oom gantengnya. Dia meminta Dicky mencari celah lubang kunci. Lalu Dhika mengeluarkan kalung yang dipakainya dileher.


Kalung itu berbentuk penguin lucu, dari celah kaki penguin itu dia menarik batang kunci, lalu membukanya. Dicky mengamati isi lemari kecil itu. Lalu dia mengambil amplop coklat besar bersegel. Burhan menerima berkas itu dan mengangguk.


"Terima kasih, sayang", ucap Burhan.


"Ya, Oom"


Mereka bertiga merapikan kembali semuanya seperti semula lalu turun menuju lantai bawah.


Risa dan yang lainnya yang sedang menunggu dibawah menatap mereka bertiga dengan wajah penuh tanya. Dhika bersikap santai layak nya anak-anak, dia digendong oleh Oom gantengnya. Lalu burhan berjalan disisinya.


"Kalau begitu aku pamit, terima kasih atas bantuan kalian, terutama kamu Dhika"


Dhika menganguk lalu menunjukkan jempol ke arah Burhan. Burhan pamit pada semua nya lalu pergi meninggalkan rumah itu.


******


"Dhika ... "

__ADS_1


"Ya, Kek"


"Bagaimana kamu tahu tentang surat penting itu"


"Amplop tadi ya, Kek?"


"Iya"


Semua orang terdiam menunggu jawaban dari Dhika.


"Papa yang bilang"


"Kapan dia bilang sama kamu?"


"Hmmmm.... Kapan ya? Dhika lupa, Kek"


"Papamu dimana?", tanya Adel to the point.


"Disana", dia menjawab sekenanya. Tangannya asik bermain ponsel.


"Disana loh tante, disana ya disana ... "


Adel greget dibuatnya. Dia menghempaskan diri diatas sofa. Kesal dibuat bertele-tele oleh keponakannya yang jahil. Dhima tidak bisa di wawancara. Kesannya dia hanya asal menjawab. Dan akhirnya mereka semua menyerah. Kembali pada aktivitas masing-masing di hari libur itu.


******


"Papa"


"Ya, sayang"


"Pinguin mau pergi, boleh?"


"Ada yang jemput?"


"Kapten"


"Boleh, sayang"

__ADS_1


Dicky membaca berulang-ulang isi pesan WhatsApp antara Dhika dengan sebuah nomor yang tak bernama. Dari percakapannya Dicky yakin itu adalah Kak Yudha.


"Penguin sudah bobo"


"Baiklah, terima kasih sayang"


Lagi, Dicky tak paham apa ini maksudnya. Seperti celoteh anak-anak namun mungkin itu adalah kode yang hanya difahami oleh kedua ayah dan anak itu. Oleh Kak Yudha dan Andhika. .


"Ada apa, Kak?", sapa Adellia.


Dicky menunjukkan isi pesan WhatsApp yang ada di handphone Dhika pada Adel. Adel membaca nya, sama seperti Dicky dia juga tidak paham maksudnya. Tapi yang jelas itu pasti pesan WhatsApp kakak sulung nya.


"Ini pasti dari, Kak Yudha"


Dicky menganguk.


"Berarti Kak Yudha, masih hidup. Syukurlah kalo begitu"


"Masalahnya adalah kita tidak tahu keberadaannya sekarang ini"


"Barangkali Dhika tahu, Kak"


"Kak Dicky rasa, tidak. Kak Yudha hanya berhubungan lewat pesan WhatsApp saja"


"Jadi sekarang ini kita hanya bisa menunggu kemunculan Kak Yudha saja, begitu"


"Ya"


"Ada apa sebenarnya? Apa yang direncanakan Kak Yudha"


"Apapun itu sepertinya Kak Yudha tidak ingin keberadaannya diketahui siapapun. Mungkin lebih baik kita juga berpura-pura tidak tahu"


"Adel setuju, Kak"


Dicky meletakkan kembali ponsel keponakannya di atas meja. Apapun keputusan kakak mereka, Kak Yudha pasti punya pertimbangan yang sangat matang, itulah yang ada dipikiran Dicky dan Adel saat ini.


******

__ADS_1


__ADS_2