Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Protesnya Sang Putra Mahkota


__ADS_3

Hampir pukul dua puluh malam, mobil Dicky terparkir di halaman rumah kakaknya. Mereka bertiga turun dan memasuki rumah, dari dalam Risa sudah menyambut mereka. Menyalami suami dan mertua nya, serta adik iparnya.


"Dhika sudah tidur?", tanya Yudha sambil melepas jasnya, lalu di berikan pada isterinya.


"Sudah. Dia tertidur di depan televisi. Dia dari kemarin menunggu Papa nya pulang"


"Didepan televisi? Nanti dia bisa masuk angin", kata Juan.


Yudha menuju ruang tengah, Dicky mengikuti di belakang nya. Benar saja dia tertidur. Yudha berlutut disamping putra nya yang tertidur dikasur lantai. Dia membelai lelaki kecil yang terlelap itu, perasaannya sebagai seorang ayah terusik saat melihat putra sulungnya yang terlelap menunggunya pulang.


"Lebih baik kamu pindahkan dia kekamar, Yudha", kata Juan.


Yudha melepaskan handphone dari genggaman Dhika dan memberikannya pada Dicky. Yudha membopong Dhika di pundaknya. Belum juga sampai ujung tangga, Dhika terbangun.


Dilihatnya seseorang yang menggendongnya. Dia tersenyum sambil mengucek-ucek matanya.


"Papa sudah pulang?!"


"Hmm... Tidur dikamar ya?!"


"Papa mau pergi lagi, ya?"


Yudha terdiam, matanya menatap anak kesayangannya, ada secuil kesedihan dimatanya, kerinduan dan sebuah permohonan agar papanya tetap bersamanya.


"Papa tidak kemana-mana lagi, ko. Kan mau anter kamu kekamar?!"

__ADS_1


Diciumnya Dhika. Dipipi. Dikening. Kepala. Di perut. Dhika tertawa terpingkal-pingkal kegelian. Lalu dia memeluk Papanya.


"Yap, ucapkan selamat malam dulu sama kakek dan Oom Dicky"


"Ehh..."


Dhika menengok ke belakang. Dia baru sadar kalo ada kakek dan Oom ganteng kesayangannya. Juan mencium cucu lucunua itu.


"Selamat tidur ya, sayang", kata Juan.


"Selamat tidur, ganteng nya Oom"


Yudha membawa Dhika kelantai atas. Memasuki kamar putra sulungnya. Kamar khusus buat Dhika yang si setting dengan nuansa anak laki-laki. Penuh dengan ornamen bola dan mobil. Kamar yang rapi dan nyaman.


Yudha ikut merebahkan tubuhnya disampinh Dhika. Dia sengaja menunggu Dhika sampai tertidur pulas, barulah dia kembali kekamarnya.


******


Cekreeeeekkk ...


Dia membuka pintu itu, lalu matanya mencari seseorang yang semalam. Dilihatnya Papanya sedang sholat.


"Hore... Papa pulang beneran", gumamnya.


Dhika menuju kamar mandi, mencuci muka dan mulutnya. Lalu kembali lagi ke kamar Papanya. Dilihatnya Papanya masih khusuk berdoa. Dia duduk dibelakang Papanya. Ikut berdoa juga.

__ADS_1


"Semoga, Papa bisa sering bermain bersama aku. Aku sayang Papa"


Begitu doa nya dalam hati.


Yudha menengok kebelakang. Dia tertawa geli melihat Dhika yang menengadahkan tangan dan menutup mata, komat-kamit membaca doa.


Sadar ada yang memperhatikan. Dhika membuka matanya. Lalu mengusap kedua telapak tangannya kewajahnya.


"Aamiin...", katanya kuat-kuat.


"Kamu berdoa apa, nak?"


"Papa berdoa apa?"


"Berdoa supaya kamu jadi anak yang sholeh, sayang Papa Mama dan adek. Rajin belajar. Jadi kebanggan keluarga"


"Panjang amat doanya, Pa?"


"Hmmm..."


"Allah dengar tidak kalau kita doa panjang?"


"Pasti dong. Makanya kalau kamu berdoa karus khusuk. Harus serius. Jadi pasti di dengar dan di kabulkan Allah. Apalagi kalau kamu jadi anak baik, anak sholeh"


"Iya, Pa"

__ADS_1


Mereka berdua turun kelantai bawah untuk sarapan pagi setelah membersihkan diri dan ganti pakaian. Clarissa sudah menyiapkan sarapan untuk suami dan anak nya. Nasi goreng spesial dengan telur ceplok dan segelas susu hangat.


******


__ADS_2