
Hari minggu yang damai. Matahari juga bersinar tidak begitu terik. Namun hangatnya menyinari seisi rumah. Yudha masih malas-malasan diatas tempat tidurnya. Sehabis sholat subuh tadi dia menyempatkan diri untuk jogging bersama Dhika. Lalu dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur berdampingan dengan baby Aldis.
Mengajak si cantik kecilnya bercanda. Mencium nya. Mengajaknya tertawa. Dia meletakkan Aldis diatas dadanya. Baby Aldia tertawa senang. Bayi perempuan berusia 5 bulan itu senang dimanna-manja oleh Papa nya. Yudha pun gemas melihat senyuman malaikat kecilnya yang cantik itu.
"Kak"
"Ya"
"Makan siang sudah siap, ayo makan"
"Nanti sajalah. Kak Yudha masih mau kencan sama pacar baru yang cantik ini"
Diciumnya Aldis berkali-kali. Dia tertawa kegelian. Risa duduk disebelahnya.
Cekreeeeekkk ...
Dhika yang sudah mandi dan berganti baju mendekat pada Mama, Papa dan Adik nya. Dia duduk diantara Papa dan Mama nya. Ikut bermain bersama adik bayinya. Aldis sangat lucu dan menggemaskan. Dhika pun ikut gemes melihat adik cantiknya.
"Papa"
"Ya, sayang?!"
"Aku mau gendong adek, Pa"
"Oke. Kakak Dhika. Sambil Papa pegang ya. Kamu duduk sini dekat Papa"
"Lucu banget sih kamu, Dek. Greget loh, Pa"
Dhika memegang kepala adiknya dengan kedua tangannya. Gemes sekali dia melihat Aldil kecil yang botak.
******
"Makan yuk, Pa. Dhika lapar"
"Lapar?!"
"Hmm..."
"Oke. Ayo kita turun"
__ADS_1
Risa turun lebih dahulu, mempersiapkan makan siang untuk suami dan anaknya. Setelah Yudha dan Dhika plus Adel turun, makan siang sudah terhidang. Risa mengambikan stroller dan meletakkan baby Aldis di dalam nya. Lalu dia mengbil piring yang ada dihadapan Yudha, mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya. Tak lupa juga putra sulungnya.
Mereka makan siang dengan penuh semangat. Hari Minggu memang hari yang ditunggu-tunggu, karena pada hari itu seluruh anggota keluarga berkumpul.
******
"Terus, Pa. Belok kanan eeh... Kiri lagi, Pa..."
Dhika bersorak-sorai kegirangan bermain mobil remote control bersama Papa nya. Yudha piawai sekali mengendalikan remote control nya. Dhika berlari mengejar mobilan itu. Tawa mereka terdengar sampai ke dapur. Risa keluar membawa Aldis melihat Papa dan Kakaknya di halaman belakang.
"Hati-hati sayang, jangan lari-lari nanti kamu jatuh", teriak Risa.
"Oke, Ma", Dhika memperlambat lari nya sebentar. Lalu dia kembali lagi berlari mengejar mobil mainan itu.
Risa hanya bisa geleng-geleng melihatnya. Baby Aldis pun ikut senang melihat kakaknya berlarian mengejar mobil mainan. Dia berlonjak-lonjak kegirangan.
Dicky yang baru saja datang, ikut tersenyum bahagia melihat keluarga kecil kakak sulungnya itu.
"Oom Dicky!!", teriak Dhika saat menyadari kehadiran Oom ganteng kesayangannya itu.
Dia berlari memeluk Dicky. Lalu menyambar kue coklat yang dibawa Oom ganteng nya. Dicky menyalami kakak dan kakak iparnya. Lalu dia mengambil baby Aldis yang lucu.
"Kamu sendirian, Dek?"
"Iya, Kak. Tadi habis dari rumah kawan, lalu Dicky mampir kesini"
"Habis mingguan dengan pacar", celetuk Yudha.
"Eeh... Bener ya, Dek?",tanya Risa penasaran.
Dicky hanya tertawa. Benar kata Adellia, kalo udah berurusan dengan Kak Yudha pasti tidak bisa bohong. Dia tau segalanya.
"Hmmm... Muka mu merah lo", goda Risa.
Dicky jadi salah tingkah. Yudha tertawa melihat sikap Dicky seperti itu.
"Ya, sudah. Kak Risa tinggal kebelakang dulu"
"Ya, Kak"
__ADS_1
"Jadi kamu sudah yakin dengan perempuan itu, Dek", tembak Yudha tiba-tiba.
"Hahaha... Kak Yudha bisa saja"
"Kamu tunggu apa lagi, jangan terlalu lama. Kalau sudah mantab langsung dilamar saja"
"Rencana Dicky mudah-mudahan tidak ada halangan, akhir tahun ini Kak. Itu juga kalau disetujui"
"Kak Yudha setuju. Papa dan Mama juga pasti setuju. Maya anak yang baik. Keluarga nya juga bukan orang sembarangan. Kak Yudha rasa cocok denganmu"
Dicky terkejut kakaknya menyebut nama Maya, perempuan yang saat ini disayanginya.
"Kak Yudha kenal Maya?"
"Wah ... Kamu meremehkan kakakmu ini Dicky. Sebelum kamu memperkenalkan pacarmu itu, Kak Yudha sudah tahu hubungan kalian. Papi nya Maya mantan duta besar Korea Selatan, diplomat yang paling disegani pada masa nya. Kak Yudha pernah beberapa kali bertemu dengan nya di kementrian"
"Kak"
"Hmmm..."
"Ternyata benar kata Adel"
"Eh... Anak itu bilang apa?"
"Kalau dengan Kak Yudha tidak ada yang bisa berbohong. Kak Yudha pasti tahu segalanya. Kak Yudha kayak dukun sakti"
Hahahhahaha ...
Yudha terbahak-bahak mendengar nya.
"Adel bilang begitu?"
"Ya ..."
"Awas anak itu, ya. Pencemaran nama baik itu namanya"
Dicky tertawa. Kalau Adel tahu dia mengadu pada Kakaknya, pasti adik bungsunya itu sudah sewot, pikirnya.
Bahagia rasanya berkumpul bersama seperti ini, bisa saling berbagi cerita dengan saudara sekandung. Dicky memang sudah lama berniat ingin menghabiskan masa lajangnya dengan perempuan solehah pilihannya. Dan hanya dengan kakak sulungnyalah dia bisa leluasa bercerita dan bertukar pikiran.
__ADS_1
******