
Long weekend. Pagi-pagi sekali keluarga Marabahan sudah berkumpul. Mereka sedang bersiap-siap hendak menghabiskan liburan panjang akhir pekan mereka dengan menginap di villa keluarga. Semua sudah standby di dalam mobil.
Yudha yang pegang kemudi. Dhika duduk dipangku kakeknya di kursi sebelah. Sementara Baby Aldis di gendong Risa dikursi tengah bersama Yulia. Di bagian paling belakang Adellia dan Dicky. Musik slow sengaja di putar Yudha untuk menemani perjalanan santai mereka.
Drr....drrr...
Yudha menekan tombol speaker pada handsfree bluetooth nya. Suara yang diterima nya tidak jelas dan berdenging. Bahkan bunyi gema. Beberapa kali panggilan telepn yang demikian adanya.
"Gangguan sinyal barangkali, Kak", sahut Adellia dari belakang.
Yudha menepikan mobilnya. Menelepon balik nomor telepon masuk tadi tapi tiba-tiba terputus. Dia mulai curiga.
"Diamlah. Jangan ada yang bicara!"
Yudha membuka dasboard mobilnya, mengambil sebuah handphone lipat disana. Dia keluar dari dalam mobil, kemudian pergi kesebrang jalan. Tampaknya dia menelepon seseorang menggunakan ponselnya yang lain.
Tuuut.... Tuuuut...
"Halo..."
"Halo, Han. Ini Yudha"
"Kamu, Yudha. Ini nomor siapa"
"No handphone ku yang lain. Dengarkan aku baik-baik. Aku bersama keluargaku sedang dalam perjalanan ke villa, sepertinya ada bayangan aneh yang mengikutimu. Aku minta kau dan beberapa orang mu datang kesini segera"
"Apa ada yang mencurigakan"
"Ya"
"Baiklah, aku segera kesana"
Yudha menghela nafas panjangnya. Sejenak iya berfikir. Perbuatan siapa ini?!
__ADS_1
Yudha kembali ke mobilnya. Dia tak ingin yang lainnya khawatir. Namun dia tak melanjutkan perjalanannya.
"Ada apa, Yudha?", tanya Juan.
"Tidak ada apa-apa, Pa. Kita berhenti sebentar sambil memunggu seseorang"
"Siapa?"
Yudha nyaris melonjak dari tempat duduknya saat melihat dari sepion tengah mobil. Dia kembali membuka dashboard dan keluar dari mobil. Lalu membuka pintu tengah.
"Maaf, Ma. Mama bisa keluar sebentar?!"
"Ada apa?", tanya Yulia sambil turun dari mobil.
Yudha tak menjawabnya. Dia memegang sebuah pisau kecil dan merobek bagian atas mobil. Mengeluarkan sesuatu benda yang terbungkus solasiban putih. Yudha tersenyum mengejek, tampaknya ada yang ingin uji nyali dengan ku, batinnya.
Semua yang ada dalam mobil itu heran melihat apa yang dilakukan Yudha. Mereka hanya saling pandang penuh tanda tanya.
Setengah jam kemudian terdengar mobil sirine dari belakang mereka. Tiga buah mobil patroli dan sebuah sedan hitam berjejer di depan mereka.
"Sepertinya ada yang ingin uji nyali denganku", Yudha menunjukkan sesuatu di telapak tangannya.
Lalu dia menyerahkan handphone nya pada Burhan. Sebuah benda yang terbungkus isolasi. Burhan menatap tajam kepada Yudha. Mereka tidak saling bicara untuk beberapa saat. Yudha hanya menunjuk pada kedua benda itu. Burhan menganguk. Dia paham apa yang dimaksudkan sahabat nya itu.
Burhan memanggil salah seorang dari anak buahnya. Lalu menyerahkan kedua benda itu.
"Kembali kekantor, lalu selidiki kedua benda ini"
"Baik, Pak"
Sebuah mobil pergi berbalik arah.
"Kalian dalam pengawalanku. Silakan lanjutkan perjalanan"
__ADS_1
Yudha menganguk, lalu kembali kedalam mobilnya. Melanjutkan perjalanan mereka.
******
"Kak"
"Hmmm..."
"Apa tadi penyadapan?", tanya Dicky saat tiba di villa
Yudha tersenyum. Lalu menganggukkan kepala nya.
"Oleh siapa, Kak?"
"Entahlah"
"Bagaimana Kak Yudha yakin kalau itu penyadapan"
"Dalam sebuah penyadapan bisa dicirikan dengan beberapa hal, jika ponsel terkendala dalam menghubungi sesorang atau nomor-nomor tertentu, tau tiba-tiba terputus, atau suara-suara aneh yang terdengar, bahkan suara gema dari lawan bicara. Dan juga benda aneh yang Kak Yudha temukan tadi. Semua mengarah kesana. Hampir bisa dipastikan benar"
"Yang pasti orang itu ingin tahu gerak-gerikku"
Dicky terdiam. Apa mungkin semua itu ditujukan untuk Kakaknya. Saingan bisniskah? Saingan politikkah? Atau musuh lain? Ya, ampun merinding memikirkannya.
"Kak"
"Hmmm..."
"Kak Yudha jangan melibatkan diri dalam bahaya. Kasihan Kak Risa dan anak-anak. Mama dan Papa juga pasti khawatir"
"Ya, dek. Kak Yudha akan jaga diri. Tapi jika nanti terjadi apa-apa pada Kak Yudha, kamulah yang harus menggantikan Kak Yudha menjaga keluarga ini"
"Kak Yudha minta tolong padamu. Tolong jaga Risa dan anak-anak. Kak Yudha percaya padamu, dek"
__ADS_1
Dicky tak bisa berkata-kata. Entah kenapa sepertinya ucapan kakaknya itu terdengar seperti sebuah salam perpisahan di hatinya.
******