
Sebuah Honda Jazz mewah terparkir sore itu dihalaman rumah keluarga Marabahan. Risa dan Andhika turun dari dalam nya. Baru saja mereka menutup pintu mobil, mobil Oom ganteng kesayangan Dhika pun datang dan mengambil posisi tepat disebelah mobil mereka.
Dicky keluar dari balik kemudi. Menyalami Kakak iparnya lalu mencium si cantik Aldis. Dan yang pasti tak terlupa si sulung Andhika.
"Oom Dicky tumben sudah pulang?"
"Kebetulan Oom lagi tidak banyak kerjaan jadi bisa pulang lebih cepat dan sampai rumah ketemu kamu, Dhika"
Dhika bersorak kegirangan. Lalu masuk dalam rumah sambil bergandengan tangan dengan Oom ganteng kesayangannya.
"Kakeeekkk...."
"Oh, Dhika ... Cucu kakek yang ganteng datang rupanya?"
Juan langsung memeluk cucu sulungnya. Lalu beralih pada si bungsu yang cantik. Juan menggendong Aldis. Dari lantai atas Adel turun dan bergabung bersama mereka.
"Risa ...", Yulia pun muncul dari belakang diikuti Bik Iyah yang membawakan sepiring pisang goreng.
"Yudha mana. Kalian bertiga saja?"
"Iya, Ma. Kak Yudha masih dikantornya. Tadi aku habis membawa Aldia kedokter. Jadi pulangnya mampir kesini"
"Eehh, Aldis sakit, Kak", tante Adel yang calon dokter langsung memegang kepala baby Aldis.
"Ooh, bukan, Dek. Hari ini jadwalnya Aldis imunisasi. Semoga saja nanti malam dia tidak demam"
"Ya, sudah. Ayo duduk. Makan pisang goreng dulu. Nanti dingin. Bik Iyah sedang membuatkan kalian teh hangat", ajak Yulia.
Keluarga Marabahan minus putra sulungnya, berkumpul di ruang tengah keluarga menikmati secangkir teh panas dan pisang goreng.
Drrr.... Drrr..
Dering handphone berbunyi. Semua mata tertuju pada sumber suara. Dhika mengambil selembar tisu, mengelap tangannya yang penuh minyak lalu merogoh saku celananya, mengambil ponsel milik nya.
"Papa", teriak nya begitu melihat layar ponsel.
Digesernya tombol hijau pada layar.
"Halo sayang, kamu dimana?"
"Ya, Pa. Aku dirumah kakek?"
"Ooh, sama Mama?"
__ADS_1
"Iya, tadi Adek Aldis disuntik. Dia pinter loh, Pah. Adek ga nangis"
"Oiya, waaah... Anak Papa pinte-pinter ya. Kakak Dhika juga pasti pinter dong?!"
"Ya, dong"
Dhika mesem-mesem mendengar pujian Papanya. Rasa bangga pada dirinya mendengar pujian sang Papa.
"Mama, mana sayang?"
"Ada. Lagi makan pisang goreng. Mama kelaperan, tuh. Habis Papa ga pulang-pulang"
Hahahahahha....
Yudha dan semua orang yang mendengarnya tertawa, celoteh Dhika memecah suasana sore itu. Wajah Risa memerah, ini anak kalau bicara suka asal saja, batinnya.
"Kak Dhika, tolong berikan handphone kamu pada, Mama. Papa mau bicara sebentar. Bisa?"
"Ya, Pa"
Dhika memberikan ponselnya pada Mama nya.
"Ada apa, Kak?"
"Burhan?"
"Hmmm...."
Risa bangun dari duduknya, berjalan menjauh dari yang lainnya agar suaranya tidak didengar. Dia duduk disofa ruang tamu.
"Kak"
"Ya, sayang"
"Kak, jangan menempuh bahaya deh. Inget anak-anak dirumah"
Yudha terdiam. Dia tahu pasti istrinya sangat mengkhawatirkannya. Dia menarik nafas lembut.
"Insha allah, ini aku akan baik-baik saja, sayang. Kamu tak perlu khawatir. Jaga anak-anak dirumah"
"Kak"
"Ya"
__ADS_1
"Kak Yudha kan bukan anggota polisi atau tentara, juga bukan bagian dari badan intelijen. Kak Yudha itu cuma pegawai kementrian biasa, Kak. Aku mohon jangan terlibat dengan hal berbahaya seperti itu. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mu, Kak"
Airmata Risa mengalir. Rasa khawatir pada suaminya membuat dia tak dapat menahan aliran air dipipinya. Firasat nya sebagai seorang istri tidak bisa dianggap main-main.
"Sudahlah, tak usah menangis. Kak Yudha cuma ngobrol biasa dengan Burhan tidak ada apa-apa. Obrolan kawan lama, sayang. Kamu tidak usah khawatir. Kak Yudha janji akan jaga diri baik-baik"
Risa mematikan handphone nya. Tapi airmatanya masih saja mengalir.
"Kak Risa, kenapa?"
Dicky yang keluar hendak cari angin terkejut melihat kakak iparnya menangis. Dia duduk disebelahnya. Risa memalingkan wajahnya. Menghapus air matanya.
"Kak Risa, baik-baik saja?"
"Ya", jawab nya lirih.
Tapi lagi-lagi airmatanya mengalir. Kali ini dia tak bisa menyembunyikannya dari adik iparnya.
"Ada apa, Kak?"
Dicky makin cemas melihat keadaan kakak iparnya. Diambilnya tisu dan segelas air mineral yang ada diatas meja. Lalu diberikan pada Risa. Risa meminum air itu sampai habis, melegakan kerongkongannya yang kering sehabis menangis tadi.
"Terima kasih, Dek"
"Ada apa, Kak?"
Risa diam. Dia mengatur desah nafasnya, mengatur hatinya agar dia tidak mengeluarkan airmata lagi.
"Kak Yudha"
"Kak Yudha, kanapa?"
"Dia menempuh jalan berbahaya, Dek. Dia ikut dalam pencarian DPO badan intelijen bersama Burhan. Dia itu kalau kalau sudah ada maunya tidak bisa dicegah, memikirkan kesetiakawanan atau apakah itu. Ini bukan masalah kecil"
"Ada apa sebenarnya. Apa yang Kak Yudha lakukan bersama Kak Burhan"
"Ini masalah salah seorang dari sahabat mereka. Adam. Dia terlibat organisasi terlarang internasional. Aku dengar dia juga melakukan penjualan senjata ilegal serta pencurian dokumen negara. Makanya badan intelijen bersama CIA sedang mencarinya. Kalau Burhan memang wajar terlibat, dia memang bagian dari badan intelijen. Tapi Kak Yudha"
"Apa karena mereka bersahabat?"
"Itulah masalahnya, Dek. Rasa solidaritas nya terhadap kawan yang terlalu tinggi itu membuatnya ikut ambil bagian. Ini bukan masalah sederhana. Aku takut terjadi hal buruk sama, Kak Yudha, Dek"
Risa menunduk, raut wajah sedih dan khawatir terpancar dari wajah nya. Dicky menghela napas panjang. Dia paham kekhawatiran kakak iparnya. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk membantunya. Dia paham benar watak kakak sulung nya itu.
__ADS_1
******