
Rumah keluarga Marabahan ramai dengan para tamu undangan. Acara akikah putri kedua Yudha di gelar di rumah Rainal Juan Marabahan. Acara besar dan meriah dihadiri oleh kolega Juan, Dicky dan pastinya Yudha. Mereka bertiga orang-orang yang cukup dikenal di masyarakat, pasti banyak orang yang datang turut bersuka cita, berbahagia atas kelahiran baby girl.
"Sini,Kak. Biar Dicky yang gendong Aldis. Kak Risa makan saja dulu"
Dicky mengambil baby Aldis dari gendongan kakak ipar nya, walaupun lelah, malam itu seluruh keluarga Marabahan berkumpul di rumah Juan.
"Haloo.. cantik. Sabar ya, Mama mu sedang makan. Maen sama Oom Dicky dulu ya"
"Gantian, Kak. Aku gendong Aldis", pinta Adellia.
"Nanti dong. Kak dicky aja baru gendong loh. Belum puas main ya, sayang"
"Iih, Kak Dicky sekilit"
"Jangan rebutan, begitu dong. Kasian Aldis. Binggung memilih", kata Yulia.
"Habis lucu sih, Ma. Mungil dan cantik"
"Seperti Papanya", Yudha yang tiba-tiba muncul menyambung ucapan Adellia.
"Diiih, Aldis cantik, nanti kalo besar jangan tiru papa mu yang badung itu, jadi anak baik-baik yang sholehah"
"Enak aja, badung"
Yudha mencubit pipi adik bungsunya, Adellia dengan cepat menghindar dari serangan kakak sulungnya. Dia bergeser duduk di sebelah Dicky. Dhika yang baru turun dari lantai dua ikut bergabung bersama papa, oom dan tantenya.
******
Sejenak Dhika diam dan memperhatikan sekelilingnya, lalu dia sibuk seperti menghitung sesuatu dengan jarinya. Lalu dia seolah seperti orang yang sedang berfikir.
__ADS_1
"Kamu sedang apa, nak", tanya Yudha pada anak sulung nya.
Dia duduk bersisian dengan Dhika yang senyum-senyum sendiri. Melihat Papa nya duduk disebelahnya, Dhika menggeser posisi duduknya. Dia langsung meletakkan duduknya pada pangkuan Yudha.
"Papa"
"Hmm..."
"Kalo begini jadi nya seri dong, Pa"
"Seri"
"Iya"
Kembali dia menghitung lagi. Lalu seolah berfikir lagi. Menepuk jidatnya sambil menggeleng.
"Seri apa sih?!", Dicky juga duduk bersisian dengan mereka.
"Apa nya?"
"Cowoknya aku, Papa, Oom Dicky, Kakek. Lalu cewknya adek Aldis, Mama, Tante Adel, Nenek"
Dicky berfikir sejenak, apa maksud dari perkataan keponakannya itu. Yudha yang sudah paham maksud anak nya itu tertawa.
"Jadi, menurut kamu siapa yang menang?!", tanya Yudha
"Hmmm...pasti kita dong, Pa"
"Eh...", Dicky masih belum paham juga.
__ADS_1
"Jumlah nya, Dek", Yudha menjelaskan.
"Jumlah apa, Kak. Dicky belum paham nih"
"Maksunya yang cow itu ada empat orang, (Kak Yudha, kamu, Papa, dan Andhika). Lalu cew juga ada empat orang, (Kak Risa, Mama, Adel dan Aldis). Makanya Dhika bilang seri. Empat melawan empat"
"Oooo..."
Hahahhaa.... Dicky baru paham.
"Hmm... Jadi tadi kamu bilang siapa yang menang?"
"Kita dong, Oom. Kuat...", Dhika menirukan gaya binaraga yang menunjukkan otot tangan nya.
Lalu dia dan juga Oom ganteng kesayangannya ber-tos menyatakan kemenangan mereka.
"Hmmm... sudah bentuk komplotan baru rupanya. Sudah punya sekutu sekarang ya??", ledek Adel melihat kekompakkan para lelaki itu.
"Tante"
"Ada apa??"
"Ini urusan laki-laki tante. Perempuan jangan ikut-ikut"
Sontak saja Yudha dan Dicky yang mendengarnya tertawa terpingkal-pingkal. Ada-ada saja celoteh anak kecil ini pikir mereka. Adellia bukan lawan yang seimbang buat Andhika.
"Sudah becandanya, sudah malam. Jangan terlalu ribut. Aldis baru saja tidur. Kalau sampai dia bangun dan menangis, awas kalian", ujar Risa di depan pintu kamar.
Dhika, Yudha dan Dicky terdiam. Adellia yang melihat kejadian itu tersenyum mengejek mereka.
__ADS_1
"Horeeee... Kak Risa memang jago, bisa membungkam tiga lelaki itu"
******