Mencari Sisian Hati

Mencari Sisian Hati
Kembalilah Ke Jalan Yang Benar


__ADS_3

"Yudha, tolong aku"


Pesan WhatsApp singkat dari Mile diterima di ponsel Yudha.


"Ada apa, Mile?"


"Kamu dimana?"


"Hei!"


"Milea?!"


Tuuuuttt .... Tuuuuttt ...


Tidak ada jawaban. Rentetan pesan WhatsApp Yudha tadi pun tak dibalasnya. Nada nya terhubung, tapi tidak diangkat nya.


"Ada apa denganmu, Mile"


Lagi. Yudha menghubungi Milea sekali lagi. Dan respon nya pun masih sama. Nada sambung nya terhubung, tapi lagi-lagi tidak di angkat nya.


Tuuuuttt .... Tuuuuttt ...


"Ken, tolong kamu pergi kerumah Mile. Cari tau apa yang terjadi pada nya"


"Baik, Pak"


Yudha kembali keruang rapat. Hari ini dia memimpin rapat rutin bulanan di kementrian. Mau tidak mau dia harus mengirim Ken untuk mencari tahu keberadaan Mile.


Sejak dulu Mile dikenalnya sebagai perempuan mandiri, tegar dan kuat. Karakter agak tomboy melekat pada dirinya. Berbeda dengan Irene, dia tipikal perempuan yang lemah lembut, jiwa keibuannya sudah tampak dari dulu. Kedua perempuan ini bertentangan namun mereka sangat akrab. Mungkin karena hanya mereka berdua lah perempuan diantara mereka bertujuh.


Tiga setengah jam berlalu sejak dia memerintahkan Ken pergi menemui Mile. Namun Ken belum memberinya kabar apapun. Rapat pun sudah selesai.


Yudha kembali ke ruang kerjanya. Dia mengamati lagi berkas berkas yang ada diatas mejanya. Dia kembali hanyut dalam pekerjaan dikantornya.


Drrr.... Drrr....


Getar handphone terdengar. Yudha melihat layar ponselnya.


"Irine", gumam nya.


Dia menggeser tombol hijau.


"Halo, irine. Apa kabar?"


"Kabar buruk, Yudha"

__ADS_1


"Kabar buruk. Ada apa?"


"Barusan Milea dari rumahku. Dia banyak cerita. Dia sudah bercerai dengan suaminya. Sekarang wartawan infotainment banyak mencarinya, dia bilang belakangan ini rumah tangga nya sering cekcok. Kalau yang aku dengar dari berita di televisi, ada kemungkinan orang ketiga"


"Dan yang paling mengagetkan lagi tadi dia memintaku untuk menemaninya kesuatu tempat. Kamu tahu, Yudha, kemana kami pergi?"


Yudha diam sejenak. Dia menghela napas panjangnya.


"Dokter kandungan?"


"Haaaaahhh.... Bagaimana kamu tahu? Jangan-jangan kami tahu sesuatu?" Katakan padaku Yudha, apa yang terjadi sebenarnya"


"Apa Mile mengatakan sesuatu tentang kehamilannya?"


"Tidak ada. Hanya saja dia ngotot ingin membesarkan anak itu sendirian. Tadi dokter menyatakan kalau dia tidak boleh stress, karena kandungannya lemah. Takut berakibat buruk pada janinnya nanti"


"Lalu Mile dimana?"


"Dia sudah pulang. Dia hanya meminta aku mengantarnya sampai dekat stasiun. Mungkin sekarang dia sudaj ada dirumah"


"Hmmm..."


"Yudha"


"Ya"


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya. Aku akan mencari Mile"


Yudha menutup teleponnya. Lalu memencet sebuah nomor.


"Bagaimana? Apa kamu menemukannya?


"Ya, Pak. Saya akan kirim sent location nya pada, Bapak"


"Oke!"


******


"Bogor?", gumam Yudha begitu melihat ponselnya.


Ken mengirimkan sent location pada Yudha. Yudha memanggil salah seorang staf nya dan meminta dia untuk memanggil sopir dan menyiapkan mobil. Dengan waktu satu jam tiga puluh menit perjalanan melewati tol, dia sudah sampai di lokasi yang dimaksud.


Ken membukakan pintu mobil untuk bos nya itu. Yudha menyuruh staf nya untuk kembali kekantor.


"Dimana dia?"

__ADS_1


"Nona Milea ada di rumah kecil di ujung jalan ini, Pak. Jalannya cukup sempit. Silakan ikuti saya"


Ken berjalan didepan, menunjukkan arah jalan pada Yudha. Mereka melewati beberapa gang kecil. Sedikit berkelok-kelok, barulah mereka sampai pada rumah yang dimaksud. Rumah kecil yang hanya berukuran delapan kali lima belas meter. Rumah semi permanen berdinding bata merah dan papan. Jauh dari hingar bingar nya kota.


Tok .... Tok...


Cekreeeeekkk ...


"Yudha, aku tahu kamu pasti datang"


Milea merasa sangat senang dengan kedatangan sahabatnya itu dan mempersilakannya masuk. Yudha memberi kode pada Ken untuk mengawasi keadaan diluar rumah. Ken mengangguk. Dia berdiri disisi kanan depan pintu.


"Apa maksud semua ini, Mile"


"Aku minta maaf karena merepotkan mu, Yudha. Kamu pasti sudah tahu apa yang menimpa rumah tanggaku"


"Hmmm..."


"Kemarin setelah putusan dari pengadilan agama, Adam menemuiku"


"Adam?"


"Ya. Dia mengatakan kalau dia baru bertemu dan bicara empat mata denganmu. Aku membujuknya untuk menyerahkan diri dan memulai hidup baru dengan nyaman disini. Bersama-sama membesarkan anak ini"


"Lalu?"


"Dia menyetujuinya. Tapi dia bilang ada sesuatu hal yang harus dia selesaikan dulu. Setelah itu pasti dia akan datang padaku. Begitulah katanya. Namun aku punya firasat tidak baik tentangnya, Yudha. Makanya aku terlalu stress dan menyebabkan sedikit masalah pada kandunganku"


"Apa yang harus aku lakukan, Yudha? Aku takut"


"Kamu mencintainya?"


"Iya, aku sangat mencintai Adam"


"Jika kamu mencintainya, kamu harus percaya padanya Mile. Tenanglah dan tunggu dia disini. Jaga kesehatanmu demi anak yang dikandungmu"


"Iya, kamu benar Yudha. Setelah semua urusan ini beres dan anak ini lahir nanti, kami berencana menikah. Agar anak ini mendapatkan status yang jelas dimata hukum negara"


"Ya, aku doakan kalian akan bahagia bersama. Kalau begitu aku pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik, Milea"


"Yudha"


"Ya"


"Boleh aku memelukmu. Paling tidak aku merasa punya kekuatan lebih bersamamu. Aku mohon, Yudha"

__ADS_1


Yudha mendekati Milea dan memeluknya, pelukan hangat seorang sahabat, mentransfer kekuatan hati pada perempuan yang sedang rapuh dihadapannya.


******


__ADS_2