
"Mama"
"Ya ..."
"Mas kawin itu apa?"
Risa sampai tersedak mendengar pertanyaan putra sulungnya. Nyaris saja dia memuntahkan kue yang hendak ditelannya tadi.
"Kamu tahi dari mana kata-kata itu", tanya Yulia
"Dari Papa, Nek"
Semua orang disana terdiam. Saling pandang penuh tanya.
"Mama ..."
"Hmmm..."
"Memangnya Papa mau menikah lagi ya?"
Kali ini semua orang terbelalak mendengarnya.
"Kamu bilang apa? Kamu dengar dari mana, Dhika?", tanya Risa.
"Tadi Papa bilang"
"Papa bilang begitu sama kamu?"
"Bukan, Tante"
"Lalu?"
__ADS_1
"Lalu apa, Nek!"
"Lalu kamu tahu dari mana masalah tadi, Dhika", Adellia mulai greget dibuatnya.
"Tadi itu Papa sedang telepon, Papa bilang baiklah mas kawinnya sudah siap. Aku akan jemput pengantinnya. Begitu, Ma"
Risa dan semua nya mengerutkam dahi. Mencoba menelaah maksud perkataan bocah itu.
"Mama, cerewet sih. Makanya Papa mau menikah lagi. Ya, kan Ma"
Seketika mata Risa merengut mendengarnya. Anak ini terlalu banyak tahu, pikirnya. Yudha turun dengan santai dari lantai atas. Dia heran melihat semua mata tertuju pada nya.
"Eehh.... Ada apa?"
Adellia menceritakan apa yang mereka dengar dari Dhika barusan. Sebuah celoteh anak kecil tapi sepertinya bisa dipercaya. Yudha terpingkal-pingkal dibuatnya.
Hahahahhahaha....
"Aduuuh .... Duuuh..."
"Maaf, jangan terlalu diambil hati ucapan Dhika. Dia tidak paham apa yang ku maksud kan tadi"
"Makanya kalau dekat anak jangan suka asal bicara. Anak seusia ini pandai meniru perilaku orang-orang disekitarnya", ujar Yulia.
"Lalu maksudnya apa, Kak", tanya Adel penasaran.
"Bukan apa-apa. Sedang berburu sesuatu"
"Berburu apa?", tanya Adellia.
"Ada deh, anak kecil tidak boleh tahu"
__ADS_1
******
"Memangnya Yudha ada masalah dikantornya ya, nak?",tanya Juan pada menantunya setelah makan malam.
"Masalah apa, Pa? Kalau urusan kantor Kak Yudha tidak pernah cerita"
"Ada apa, Pa?", Dicky menyambung obrolan Papanya.
"Masalah perkataan Dhika tadi, Papa rasa itu adalah kode rahasia untuk melakukan perburuan buronan. Mas kawin yang dimaksud adalah barang bukti. Lalu pengantin adalah tersangkanya. Kata-kata itu biasa diucapkan oleh intel atau polisi"
"Ooo... Begitu"
Adel dan Yulia yang ikut mendengarkan mengangukkan kepala nya. Tanda mengerti.
"Barangkali ada hubungannya dengan Kak Burhan, Pa. Mereka kan sahabat. Bukannya Kak Burhan orang intelijen?!"
"Bisa jadi, Del. Mama rasa seperti itu"
Risa hanya terdiam. Memang beberapa hari ini ada gelagat aneh dari suaminya. Dan juga dia mempunyai firasat yang tak enak beberapa waktu belakangan ini. Dia jadi khawatir terhadap suaminya. Karena dia tahu benar watak suaminya itu.
******
Suasan villa yang sejuk di daerah pegunungan membuat segar hati dan fikiran. Dhika bukan main senangnya, dia bisa bebas berlarian kesana kemari di tanah lapang di ujung perkebunan. Oom ganteng dan Papa nya juga ikut bersamanya. Mereka main layang-layang bertiga. Menjelang sore kakek datang menyusul, mengajak mereka bermain di sungai yang ada di ujung kampung. Kakek sudah membawa ember dan serok ikan. Juga tak lupa bekal dan baju ganti untuk cucu laki-laki kesayangannya.
Sementara para lelaki sibuk bermain di sungai, para wanita mempersiapkan makan malam dirumah. Tante Adel membakar sate kesukaan Dhika, Nenek sibuk membuat bakwan dan lauk lainnya sedangkan Mamanya menata meja makan.
Menjelang magrib mereka berempat kembalu ke rumah. Dhika di gendong Papanya di pundak. Kakek berjalan di samping kanannya dan disebelahnya oom ganteng membawa ember.
"Kalian mandi dulu, baru kita makan malam", kata Yulia.
"Oke, Nek!"
__ADS_1
Dhika mandi bersama Papanya. Setelah semua selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, keluarga Marabahan berkumpul di meja makan. Menikmati makan malam mereka di pegunungan.
******