
"Kalau begitu Mama mau kesana. Berbahaya jika mereka sendirian disana. Atau lebih baik mereka tinggal disini saja dulu sementara sampai keadaan aman"
Yulia mendadak panik saat Dicky menceritakan apa yang mereka alami di rumah kakak iparnya tadi. Dia mengkhawatirkan keselamatan menanti dan kedua cucu nya itu.
"Ya sudah, kalau begitu. Malam ini kita kesana", kata Juan menyetujui ucapan istrinya.
"Adel ikut, Pa"
"Ya, Kak Dicky juga ikut dong"
Mereka bersiap menuju rumah Yudha diselatan kota. Dicky mengendalikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pajero Sport Dakar 4x4 A/T warna hitam miliknya memecah angin malam, dan tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di gerbang rumah Yudha. Penjaga membukakan gerbang, dan menutupnya kembali.
Saat turun ada beberapa pengawal yang menanyai mereka, baru setelah itu mereka dipersilakan masuk. Risa turun kelantai bawah saat bibi memberitahu kedatangan keluarga mertuanya. Dia menyalami kedua mertua dan adik-adik iparnya.
"Dhika dimana, nak?", tanya Juan.
"Mereka ada dikamar, Pa. Tadi sudah dipanggilkan. Sebentar lagi dia turun"
"Aldis, cucu cantik kakek. Sudah besarnya. Gemuk dan lucu"
"Tadi pagi baru imunisasi lagi , Pa. Semoga saja badannya tidak demam. Takutnya rewel"
Dhika turun dari lantai atas, matanya separuh mengantuk. Dia menyalami kakek, nenek, tante dan juga oom gantengnya.
"Sudah tidur, sayang", tanya Yulia.
"Kayak nya sudah nek"
__ADS_1
"Kayaknya?"
"Iya, tapi tadi ada aku lihat Papa usap kepala Dhika, Nek"
Semua terdiam. Mungkin anak ini kangen sama Papanya pikir mereka.
"Aah... Mungkin kamu tadi benar-benar tertidur dan bermimpi"
"Ga loh, tante. Tadi itu Papa beneran"
"Kamu halu, Dhika"
"Ya sudah, kalau tidak percaya"
Dhika merengut. Hatinya kesal juga dibilang halu sama tante cantiknya. Dicky yang melihat itu langsung membujuknya. Mengajak nya bermain kekamarnya di lantai atas. Air muka Dhika langsung cerah. Memang Oom ganteng kesayangannya paling bisa deh.
Dhika mengajak Oom nya kekamarnya. Disana dia menunjukkan sesuatu. Sebuah mainan baru yang terakhir dibelikan Papa nya sebelum kejadian naas itu terjadi.
"Ya, Oom..."
"Tadi beneran Papa kamu?"
"Oom ga percaya juga ya?!"
"Oom percaya sama kamu. Makanya Oom tanya"
"Iya, Oom tadi beneran Papa. Dia usap kepala Dhika. Dia duduk disini. Dipinggir tempat tidur"
__ADS_1
"Lalu Papa mu kemana?"
"Nah, ga tau Dhika. Gelap sih. Waktu Dhika nyalain lampu, Papanya udah ga ada"
"Kamu yakin itu Papa kamu, sayang?"
"Iya lah, Oom. Bau parfumnya sama Oom"
"Parfum?"
"Iya, kalo Papa peluk Dhika. Harum nya wangiiiii banget, Oom... Dhika suka kalo di peluk Papa"
"Oiya??!"
"Iya, Oom Dicky juga wangi. Ganteng juga kayak Papa"
"Hmmm... jadi ganteng siapa. Oom Dicky apa Papamu?"
Dhika berfikir sejenak. Seolah-olah dia diberi pertanyaan sulit. Dahinya berkerut. Lalu dia mengangkat kedua bahunya. Binggung.
Hahahhaha... Dicky tertawa melihat nya.
"Semoga Papamu bisa segera pulang ya, sayang"
Dhika tersenyum. Wajah tampannya yang menggemaskan semakin terlihat manis saat tersenyum seperti itu. Walaupun masih anak-anak tapi sikap dhika terkadang jauh lebih dewasa dari usianya.
Dicky tersenyum dan mengusap kepala keponakannya itu. Dia separuhnya masih ragu apa kah itu hanya halusinasi Dhika atau memang kenyataannya. Karena sampai saat ini Yudha belum diketemukan. Dan tak ada jejak yang menunjukkan dimana keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Semua orang hilang komunikasi dan kehilangan jejaknya. Dengan harapan yang sama kalau saja Yudha bisa kembali dalam keadaan selamat dan sehat.
******