
"Katakan dulu kau mau mengajakku kemana, Ray?"
Rayyan hanya tersenyum tanpa mau mengatakan apa-apa. Digapai lengan Nabila, ditarik pelan dan dilingkarkan tangan nya di pinggang istrinya. Kedua telapak tangan Rayyan bertaut di atas perut Nabila yang sudah membuncit.
Kepala Rayyan jatuh di bahu Nabila. Berbisik lirih di telinga sang istri.
"Ikut saja, nanti kau juga akan tahu sendiri."
Nabila berdecak lalu menghela Nafasnya. Rayyan ini selalu penuh kejutan.
Rayyan menarik lembut lengan Nabila keluar dari dalam kamar. Nabila hanya menurut saja kemana Rayyan akan membawanya, tanpa banyak kata dan pertanyaan.
Hingga saat mobil Rayyan yang melaju menuju kesuatu tempat kening Nabila mengernyit. Rayyan membawanya masuk ke sebuah kawasan perumahan.
Kepala Nabila menoleh ke kanan dan ke kiri meneliti sepanjang jalan yang ia lalui. Ini adalah salah satu kawasan perumahan elit. Mau apa Rayyan membawanya kemari?
Saat Nabila menoleh ke samping untuk menatap suaminya, Rayyan justru masih fokus menatap kedepan.
Nabila mengurungkan niat untuk bertanya pada Rayyan.
Hingga mobil Rayyan berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sepi, lalu Nabila melihat Rayyan yang kini sudah sibuk dengan ponselnya. Tampak sedang menelpon seseorang.
" Iya, saya sudah sampai."
"..................."
" Baiklah akan saya tunggu."
Rayyan menutup panggilan telpon nya, menoleh pada Nabila dan tersenyum.
" Ayo kita turun!" ajak nya pada Nabila.
Mereka berdua turun, baik Rayyan juga Nabila sama-sama mengamati rumah dua lantai yang ada di hadapan mereka ini.
" Ray! Ini rumah siapa?" Nabila tak bisa lagi menyembunyikan tanya nya karena dia sudah sangat penasaran.
" Menurutmu ... rumah nya bagus tidak?" justru Rayyan balik bertanya, bukan nya menjawab pertanyaan Nabila.
Nabila akui memang rumah bernuansa minimalis ini sangat bagus.
" Bagus...." Nabila manggut- manggut.
"Kamu suka?"
"Suka ... Eh...." Nabila menatap Rayyan penuh tanya. Tapi Rayyan tetap saja tersenyum sedari tadi.
"Jika kita cocok dengan rumah ini, maka rumah ini bisa kita tempati."
__ADS_1
"Maksudnya? Kau menyewanya, Ray!"
Rayyan menggeleng. " Tidak." jawabnya singkat.
" Lalu?"
"Aku akan membelinya jika kamu cocok dan suka dengan rumah ini."
Nabila terkejut, mulutnya menganga akan tetapi segera ia tutup dengan kedua telapak tangan nya. Benarkah Rayyan akan membeli rumah ini untuk mereka tinggali.
Siapa yang tidak akan merasa senang jika seorang suami akan membelikan hunian untuk istrinya. Begitupun dengan Nabila, dia yang selama ini mendambakan ingin memiliki rumah sendiri, tentu akan sangat senang seandainya Rayyan benar - benar akan membeli rumah ini.
Bagi Nabila, tinggal di rumah sendiri akan lebih baik daripada tinggal di rumah sewa atau rumah mertua. Apapun yang terjadi, jika di rumah sendiri, mereka akan bebas mengekspresikan diri. Mau mereka bersenang-senang atau mereka sedang bertengkar tak akan ada yang tahu. Beda jika tinggal di rumah mertua. Maka Nabila pun akan selalu menjaga sikap agar terlihat sebaik baiknya menantu di mata mama mertuanya.
Sementara jika tinggal di rumah sewa, dia juga tak akan bisa berimajinasi untuk merombak atau merenovasi rumah tersebut. Apalagi jiwa-jiwa perempuan, sudah wajar jika ingin menata rumah sesuai dengan selera. Jika yang dirombak adalah rumah nya sendiri tak akan jadi masalah.
" Sayang, itu orang marketing nya datang." bisik Rayyan membuat Nabila terkesiap.
Satu orang lelaki dan seorang perempuan menghampiri mereka.
" Selamat siang Pak Ray."
"Siang. Ah ya, perkenalkan ini Nabila istri saya."
Nabila berkenalan dengan kedua orang tersebut.
Nabila tampak mengamati seisi rumah. Rayyan melirik istri nya, dan Rayyan tau seperti nya Nabila menyukai rumah ini.
" Bagaimana, kamu suka?"
Nabila menoleh mendengar bisikan Rayyan.
"Suka." dia tersenyum.
Lega rasanya hati Rayyan jika istrinya menyukai rumah ini.
Rayyan berbincang dengan pihak marketing dan dia sudah setuju untuk membeli rumah ini.
***
Dalam perjalanan pulang, Nabila tak mampu menyembunyikan kebahagiaan nya. Rayyan benar-benar serius dalam menjalani rumah tangga mereka.
Nabila menoleh menatap Rayyan. Dan yang merasa ditatap ikut menoleh hingga kini mereka saling tatap.
"Kenapa menatapku seperti itu,"
" Ray! Terimakasih."
__ADS_1
"Terimakasih untuk?"
"Untuk semua."
Tangan kiri Rayyan terulur menggenggam tangan Nabila.
" Aku juga sangat berterimakasih karena kamu mau menjadi istri ku, menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu bagi anak-anak ku."
Rayyan membawa tangan Nabila dan mencium punggung tangan Nabila. Dengan satu tangan nya masih fokus pada kemudi dan pandangan matanya sesekali fokus ke jalan yang mereka lalui.
Pipi Nabila sudah bersemu merah menerima perlakuan manis dari Rayyan. Dalam hati Nabila berdoa, semoga rumah tangga yang ia jalani bersama Rayyan akan selamanya baik-baik saja.
Sesampai di rumah, mendapati Mama Silvya yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.
"Kalian darimana?" tanya mama.
Memang saat berangkat tadi, mereka hanya mengatakan pada mama jika ingin pergi keluar tanpa memberitahu mama kemana tujuan mereka berdua.
Rayyan menatap Nabila seolah meminta persetujuan pada istri nya, karena dia akan mengatakan pada mama tentang rumah yang baru saja ia beli.
Rayyan duduk di sofa, begitupun Nabila yang juga duduk di samping Rayyan.
"Ma...!" Rayyan mulai menyiapkan kata, semoga mama nya tidak keberatan jika mereka berdua akan pindah dari rumah ini.
" Ray dan Bila baru saja bertemu dengan marketing perumahan."
"Marketing perumahan?" Mama Silvya tampak bingung.
"Iya. Jadi Rayyan sudah memutuskan untuk membeli rumah sendiri. Rumah yang akan Ray tempati bersama Nabila dan anak-anak kami kelak."
Penjelasan Rayyan membuat Mama Silvya terkejut.
"Jadi, kalian akan pindah dari rumah ini?"
"Ma, Ray hanya ingin belajar hidup mandiri dengan tidak merepotkan mama dan papa terus menerus."
"Tapi, Mama tidak keberatan jika kalian tinggal disini."
" Ray hanya ingin belajar hidup mandiri bersama Nabila. Agar Ray juga bisa belajar bertanggung jawab pada istri dan anak-anak Ray."
Mama Silvya tampak berkaca-kaca, menatap Rayyan. Beliau tidak menyangka jika Rayyan bisa berubah menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Semua berkat Nabila. Dan Mama Silvya sangat bersyukur akan perubahan Rayyan yang lebih baik.
" Mama bangga sama kamu, Ray. Dan mama akan mendukung apapun yang akan kamu lakukan untuk istri dan calon anak kalian. Semoga kalian berdua hidup bahagia selamanya."
" Terimakasih, Ma."
Rayyan lega karena mama nya sama sekali tidak melarang nya untuk pindah. Justru mama sangat mendukung keputusan nya. Rayyan tahu, sejak dulu mama nya selalu mengerti akan dirinya. Bahkan dia bisa menikah dengan Nabila juga berkat usaha mama. Jika tidak karena mama yang keras kepala, mungkin hingga saat ini Rayyan belum menemukan hidup bahagia yang sesungguhnya.
__ADS_1