
Kimy yang usai dari toilet sempat mendengar sedikit perbincangan para orang tua. Gadis itu terdiam mencoba mencerna perjodohan yang telah mereka rancang. Apa-apaan dia yang masih dua puluh tahun ingin dinikahkan? Yang benar saja. Lihatlah bagaimana nanti dia akan protes pada mama dan papanya. Tidak di sini karena masih ada teman orang tuanya.
Kimy mencoba menormalkan ekspresi wajahnya sebelum kembali bergabung di meja untuk melanjutkan aktivitas makan mereka.
Sementara Nabila yang sejak tadi sering kali mencuri pandang pada Kimy, sejujurnya tengah menilai gadis yang akan dijodohkan dengan putranya. Meski terlihat banyak perbedaan antara Kimy dengan Rich, tapi tak menyurutkan niat dan juga tekadnya tetap menjodohkan keduanya.
Sampai ketika mereka harus berpisah karena Rayyan dan Nabila memang sudah menghabiskan waktu cukup lama berada di resto ini. Selain lelah, Rayyan juga ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadilah pasangan suami istri itu berpamitan pada keluarga Rega.
"Kami permisi dulu. Mengenai pembicaraan kita tadi ... akan kita sambung lain waktu," ucap Nabila ada Rega.
Lelaki itu mengangguk paham dan mempersilakan sahabatnya pulang.
Kimy yang sudah tak mampu menahan diri, memberikan celetukan. "Jadi, kalian berniat menjodohkanku?"
Rega yang terkejut mendongak, mengalihkan pandangan dari Kimy pada Firza.
Wanita yang sedang ditatap oleh suaminya itu tampak melotot setelahnya mengedikkan bahu. Tak menyangka jika putrinya itu mendengarkan semua apa yang tadi dibicarakan dengan Rayyan dan Nabila.
"Tak ada salahnya juga kan jika papa dan mama menjodohkanmu. Daripada kamu tak ada kerjaan atau aktivitas yang berarti ... ada baiknya menikah saja agar kamu tahu arti kehidupan yang sesungguhnya itu seperti apa." Entang Rega menjawab. Tak ada kesan memaksa juga bersemangat akan rencananya. Menghadapi Kimy memang harus dengan cara daftar agar putrinya kesulitan membantah. Sebagai seorang papa yang sudah dua puluh tahun merawat Kimy, tentu Rega tahu apa yang harus dia lakukan. Lain halnya dengan Firza jika berbicara dengan Kimy yang ada berakhir dengan perdebatan, tak ada yang mau mengalah dan memaksa menang sendiri. Oleh karena itu pula di sini Firza memilih diam dan menyerahkan semua pada sang suami.
"Papa ingat kan jika usiaku baru dua puluh tahun?"
"Tentu saja ingat. Karena dulu yang membantu dokter mengeluarkan kamu dari perut mama ... ya, papa. Memangnya kenapa dengan umurmu?"
"Papa tahu aku masih dua puluh tahun. Lalu ... Kenapa juga papa sudah ada rencana menikahkanku?"
"Habisnya? Papa minta kamu kuliah ... yang ada juga di DO. Papa minta kamu kerja ... eh kamunya malah main-main saja. Ya, sudah jangan salahkan jika papa memilih menikahkanmu saja. Lagipula, Rich itu sosok lelaki idaman untuk menjadi seorang suami."
"Rich?" Kimy bertanya. Dia sedikit lupa dengan penampakan wajah lelaki yang namanya baru saja disebut oleh papanya.
__ADS_1
"Iya. Richard Alexander. Putra pertama Om Rayyan dan Tante Nabila. Kamu lupa, sayang?"
Kimy menganggukkan kepalanya.
"Nanti jika kamu melihatnya langsung, papa jamin kamu tak akan menolak perjodohan ini. Percaya sama papa."
"Sebegitu percaya dirinya papa jika aku pasti akan menyukai si Rich itu. Papa kan tidak pernah tahu bagaimana kriteria lelaki idamanku."
"Halah, palingan juga tidak jauh-jauh dari boyband Korea yang cantik-cantik itu. Laki kok cantik. Nggak macho. Kayak papa ini macho."
"Papa. Kimy. Kalian ini bertengkar saja. Ini tempat umum. Sebaiknya segera habiskan makanan kalian lalu kita pulang. Mama malu dijadikan bahan perhatian."
Baik Rega dan juga Kimy langsung membungkam mulutnya jika Firza sudah menengahi.
•••
Nabila dan Rayyan masih berada di dalam pusat perbelanjaan itu ketika kedua selesai makan siang dengan Rega sekeluarga. Rencananya, Rayyan akan mengantarkan Nabila pulang lebih dulu, barulah Rayyan akan kembali bekerja. Bertemu dengan klien sore nanti sekitar jam tiga.
Dan kepala Nabila yang memang tidak bisa diam ketika melewati satu demi satu toko yang berjejer di dalam mall tersebut, justru mengantarkan matanya menangkap sesosok pemuda yang sudah dia hafal di luar kepala. Karena pemuda itu dirinya lah yang mengandung selama sembilan bulan lamanya lalu melahirkannya juga. Pemuda yang sudah hampir mendekati usia kepala tiga tidak sedang sendirian. Melainkan menggandeng lengan seorang perempuan cantik dan seksi. Nabila tidak pernah mengenal siapa perempuan itu. Jika para model yang bekerja dengan putranya, Nabila lebih banyak mengenal. Namun, jika klien Nabila tentu tidak paham karena sebagai seorang mama dirinya tidak mau ikut campur terlalu banyak dengan pekerjaan putranya.
"Pa!" Nabila menarik lengan Rayyan yang masih melangkahkan kakinya karena tidak melihat akan keberatan Rich.
"Ada apa?"
"Itu Rich."
"Mana?" Kepala Rayyan celingak celinguk mencari sosok putra pertamanya.
"Di sana!" Tunjuk Nabila pada sebuah toko sepatu yang jaraknya tidak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
__ADS_1
"Iya. Dengan siapa dia? Dan ... perempuan itu ...."
"Siapa, Pa?"
"Ya dia itu yang aku pernah lihat di laptop Rich."
"Pa ... lihatlah bagaimana Rich menggandeng lengan perempuan itu. Kenapa Mama gemas sendiri. Lagian itu perempuan tidak tahu diri sekali. Sudah tahu punya calon suami, kenapa masih saja menjerat putra kita. Mama nggak rela, Pa. Pokoknya Mama nggak mau Rich jadi perebut calon istri orang."
"Sabar, Ma. Jangan emosi dan jangan gegabah."
"Apa ini yang dinamakan karma."
Nabila dengan tubuh lemah dan nada lirih membuat Rayyan bertanya-tanya.
"Karma apa? Jangan aneh-aneh kalau bicara."
"Iya kan dulu aku menikah denganmu ketika kamu masih menjadi calon suami Firza."
"Dari mana ada cerita seperti itu. Lagian itu kenapa bicara jika aku calon suami Firza. Aku masih pacaran saja Firza sudah berani mendua. Jadi bukan kamu atau aku yang salah jika kita pada akhirnya menikah. Itu semua karena Firza sendiri yang memilih selingkuh. Beruntungnya setelah Firza ditaklukkan Rega, wanita itu jadi setia sampai punya anak tiga."
"Haish, kenapa jadi kita yang bernostalgia tentang masa lalu. Sebaiknya ayo kita hampiri Rich. Keburu mereka kabur nanti."
"Tapi ingat dan mama harus janji. Jangan bikin masalah ... jangan juga berulah. Kita pura-pura saja tidak tahu menahu sembari kita mencari tahu tentang siapa sebenarnya perempuan itu."
"Iya ... iya aku janji. Jangan khawatir begitu."
"Biasanya kaum perempuan itu susah mengontrol diri jika lagi emosi."
"Ayo, Pa!"
__ADS_1
Nabila menarik paksa lengan Rayyan. Mereka berdua menuju di mana keberadaan Rich dan Resca.