Mencintaimu Mr Photographer

Mencintaimu Mr Photographer
Episode 49


__ADS_3

"Kak Rich! Bisakah aku memilih jurusan sesuai dengan yang aku inginkan?"


Kepala Rich menggeleng. "Aku sudah memilih jurusan yang terbaik untukmu."


"Terbaik bukan berati cocok untukku."


"Kamu cari yang cocok, ujung-ujungnya juga DO. Percuma saja," cibir Rich.


Kimy hanya mencebikkan bibirnya. Sekian kali harus kalah dari Rich.


"Aku sudah memilih jurusan yang sesuai denganmu."


"Apa?"


"Managemen bisnis."


"Hah?"


Kimy lemas seketika. Managemen bisnis yang akan memusingkan kepala. Kimy menyerah. Dan hanya menurut saja dengan apa yang Rich lakukan untuknya.


Hingga keesokan harinya, Kimy masih saja tidak bersemangat menjalani harinya. Itu sebab pembicaraan dengan Rich kemarin masih juga jadi beban pikirannya.


"Pagi, Kak!" Sapa gadis itu ketika mendapati Rich keluar dari dalam kamar sudah rapi dengan baju santai. Bukan berarti Rich tidak bekerja, tapi memang begitulah penampilan Rich setiap harinya. Bekerja di kantornya sendiri jadi suka-suka hati dia mau berpenampilan seperti apa. Lagipula menjadi fotografer mengharuskan dia ada di luaran. Yang penting penampilannya rapi dan selalu terlihat tampan.


"Pagi." Rich menarik kursi di ruang makan. Menunggu Kimy menyiapkan sarapan.


Rich memang harus berterima kasih pada istri kecilnya ini karena di pagi hari seperti ini, menu sarapan sudah terhidang di atas meja. Bukan makanan berat tapi tidak buruk juga untuk mengganjal perut di pagi hari.


Lima tumpuk pancake yang disiram maple Syrup dengan toping stoberi.


"Maaf ya, Kak. Kita sarapan sederhana saja. Nanti aku akan belanja bahan makanan agar kita tidak kelaparan."


Dalam hati Rich berucap, sejak kemarin Kimy selalu saja memulai obrolan dengan permintaan maaf. Memangnya salah apa istrinya itu?


Apakah dia terlalu keras pada Kimy hingga gadis itu selalu merasa bersalah padanya.


Kimy kembali datang dengan segelas coklat hangat yang disodorkan di hadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apakah Kak Rich akan minum kopi di pagi hari. Karena tidak ada persediaan kopi dan hanya ada coklat bubuk yang mama Nabila bawakan, jadi aku tidak membuat kopi untuk kakak."


"Aku tidak pernah minum kopi. Ya, memang coklat hangat inilah kesukaanku."


"Oh," jawab Kimy sambil berpikir, pantas saja Mama Nabila membawakan, rupanya adalah minuman favorit Rich.


Baiklah. Sedikit-sedikit Kimy mulai tahu apa yang Rich suka sehingga nantinya tidak akan menyulitkan dia jika mengurus suami tampannya itu.


Kimy memang masih belia, tapi dia pernah hidup mandiri jauh dari orang tua. Juga seringkali melihat mamanya mengurus anak dan suami. Jadi Kimy hanya mengikuti saja dari apa yang selama ini dia perhatikan.


Meski sikap Kimy masih saja sesuka hati, tapi Kimy juga ingin terlihat baik di mata Rich. Ingin Rich menganggapnya layak sebagai seorang istri. Lagipula bagi Kimy, Rich ini lelaki idaman untuk menjadi suaminya. Tidak mau pilih-pilih karena belum tentu lelaki lain jauh lebih baik dari Rich.


Hanya membutuhkan penyesuaian saja sampai suatu saat nanti pernikahan yang mereka jalani akan sesuai dengan yang diharapkan.


"Jika kamu bosan di rumah ... pergi saja ke rumah Mama. Atau jika kamu mau pulang ke rumah Papa Rega, aku tidak pernah melarangmu," ucap Rich di tengah kesibukan mengunyah menu sarapannya.


Kimy mendongak menatap pada Rich dengan binar bahagia. "Benarkah kakak tidak keberatan aku pulang ke rumah."


"Tidak. Pergi saja."


Rich hanya mengangguk. Sebenarnya rumah Rega tidak sejalan dengan kantornya. Tapi tak apalah jika hanya mengantar Kimy sebentar saja.


"Buruan siap-siap. Aku tunggu sepuluh menit dari sekarang," titah Rich ketika mereka sudah selesai dengan aktifitas sarapan.


"Sepuluh menit?"


"Jangan banyak protes, Kimy!"


"Iya ... iya."


Daripada Kimy harus pergi sendiri ada baiknya dia menumpang saja pada mobil suaminya.


Kimy melesat meninggalkan Rich yang menunggunya di sofa ruang tamu. Secepat yang bisa dia lakukan agar Rich tak menunggunya terlalu lama. Hanya baju santai berupa celana jeans juga kaos kebesaran yang menjadi favorit Kimyra. Wajah tanpa polesan juga rambut yang dikucir asal tanpa perlu repot-repot menyisirnya. Beruntung Kimy memiliki jenis rambut halus yang mudah diatur. Jadi sangat memudahkan dia dalam situasi darurat seperti ini. Menyambar tas selempang juga ponsel yang tergeletak di atas meja. Gegas Kimy melesat keluar kamar.


"Sudah, Kak!" ucapnya semangat membuat Rich mendongak mengalihkan perhatian dari ponsel di tangan.


Tanpa banyak kata pria itu beranjak berdiri lalu keluar rumah.

__ADS_1


"Jangan lupa kunci pintunya," titahnya pada Kimy.


Gadis itu pun mengangguk. Membiarkan Rich lebih dulu masuk ke dalam mobil. Pun halnya dengan pagar rumah. Kimy memberikan kesempatan bagi Rich untuk mengeluarkan mobil barulah dia kunci sekalian pagar rumah minimalis lalu setelahnya Kimy masuk ke dalam mobil suaminya.


"Pakai seat belt nya." Lagi-lagi Rich yang memang sangat disiplin memerintahkan pada Kimy setelah beberapa menit lamanya setelah gadis itu masuk ke dalam mobil tanpa memasang sabuk pengaman.


"Iya, Maaf."


"Jangan suka menyepelekan keselamatan. Selama ini mungkin kamu tidak seberapa peduli dengan hal remeh seperti ini. Tapi jika bersamaku maka segala hal kamu harus ikut aturan yang aku buat."


Kimy hanya mengangguk pasrah tak menyangka jika dia akan terkekang hidup bersama suaminya yang tampan tapi penuh aturan.


Rich menjalankan mobil membelah padatnya kemacetan. Selama di dalam mobil itu pun sama sekali Rich tak mengijinkan Kimy menyentuh apa pun yang ada di dalam mobilnya termasuk itu audio.


"Mendengarkan musik saja tidak boleh."


"Hal itu hanya akan memecah konsentrasiku saja."


Dan Kimy memilih memejamkan mata meskipun dia tak dapat tidur. Lelah lama-lama berdebat dengan lelaki arogan yang egois dan mau menang sendiri.


Hingga mobil yang dikendarai Rich berhenti di depan rumah mewah Rega. Kimy berbinar sekali karena ketika nanti di rumah ini dia tidak akan lagi tertekan dan bisa berbuat segala hal yang dia sukai.


"Jangan pulang sebelum aku jemput nanti sore."


"Iya. Kak Rich nggak mau turun dulu?"


"Tidak. Keburu kesiangan nanti."


"Ya sudah. Aku turun dulu. Kak Rich hati-hati di jalan."


Kimy mengulurkan tangan pada Rich.


Pria itu menatap heran seraya bertanya, "Apa?" Dan detik selanjutnya dia paham jika Kimy mau berpamitan. Dia ulurkan juga tangannya pada Kimy hingga gadis itu mencium punggung tangannya.


"Bye, Kak Rich. Jangan rindukan Kimy, ya?"


Mengatakan itu sembari keluar dari dalam mobil lalu cekikikan sendiri. Tidak langsung masuk ke dalam tapi melambaikan tangan sampai mobil Rich tak terlihat lagi. Gadis itu berbalik badan dan ingin masuk ke dalam rumah. Namun, melihat mamanya yang berdiri di teras dengan senyuman menggoda, mengubah langsung ekspresi Kimyra. Gadis itu tidak mau jadi bulan-bulanan sang mama karena kedapatan memuja suaminya.

__ADS_1


__ADS_2