
Acara makan malam pun diadakan demi mengenalkan lebih dekat Kimy dengan Rich, meski sebenarnya keduanya sudah saling mengenal. Hanya waktu yang sudah cukup lama tidak mempertemukan mereka berdua hingga ada rasa lupa ketika kini dipertemuan kembali.
"Ayo, silahkan masuk." Firza yang menyambut para tamunya di depan pintu.
"Hai, Fir." Nabila mendekat dan memeluk sahabatnya itu. Tak lupa saling menempelkan kedua pipi masing-masing.
"Rega sudah menunggu di dalam," ucap Firza selanjutnya pada Rayyan setelah pelukan dengan Nabila terlepas.
Rayyan hanya mengulas senyuman, lalu menoleh ke belakang di mana Rich hanya berdiri dalam kecanggungan. "Rich, Ayo!"
Ragu sebenarnya pria itu melangkah masuk ke dalam. Entah kenapa perasaannya tidak enak saja. Apa karena dia akan bertemu dengan sosok gadis yang akan menjadi istrinya.
Rich mengekor di belakang mama dan papanya. Firza langsung menggiring mereka ke ruang makan yang disambut oleh Rega di sana.
"Selamat datang. Mari silahkan duduk."
"Terima kasih sudah mengundang kami makan malam."
"Hai, Rich! Senang Om bisa bertemu denganmu lagi."
Setelah Rega bersalaman dengan Rayyan selanjutnya pria itu menyalami Rich. Wajah tampan Rich yang menggambarkan sosok Rayyan ketika muda dulu. Rega tidak akan rugi jika menikahkan putrinya dengan putra Rayyan ini. Selain tampan, sikap Rich yang dingin dan juga pekerjaan mapan menjadi nilai tambah dalam diri sosok Richard Alexander.
Mereka sudah duduk di kursinya masing-masing. Beberapa jenis makanan terhidang di atas meja. Rayyan dan Rega sibuk membicarakan bisnis sementara Rich sesekali mendengar juga menimpali obrolan para orang tua. Firza sedang menata minuman di atas meja dengan dibantu asistennya. Nabila sendiri yang ingin membantu justru dilarang oleh Firza.
"Fir, Kimyra mana? Sepertinya aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya."
"Dua tahun dia di Korea. Dan palingan hanya pernah pulang satu atau dua kali saja. Sebentar, aku panggil dia dulu di kamarnya. Lama sekali dandannya. Tadi padahal sudah aku minta cepat keluar."
__ADS_1
"Nggak apa, Fir!"
Firza meninggalkan semua untuk menemui Kimy di dalam kamar gadis itu. Mengetuk pintu sebelum Firza masuk ke dalamnya.
"Astaga, Kimy! Ini sejak tadi kamu belum juga bersiap-siap?"
Firza hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya. Bisa-bisanya Kimy belum bersiap-siap. Bahkan masih dengan baju rumahan, rebahan di atas ranjang sibuk bermain ponsel.
"Memang tamunya sudah datang, Ma?"
"Coba lihat ini sudah jam berapa?"
Dengan polosnya Kimy mendongak melihat pada jam dinding yang ada di dalam kamarnya. "Baru juga jam tujuh, Ma. Kenapa cepat sekali mereka datangnya."
"Mama sudah katakan padamu, Kimy. Papa mengundang keluarga Om Rayyan makan malam di rumah kita. Itu artinya ya saat jam makan malam mereka pasti sudah datang."
"Sudah ... sudah. Mama tidak mau dengar alasan apapun. Sekarang buruan ganti baju lalu siap-siap dan segera keluar."
Firza sudah berniat keluar dari dalam kamar putrinya. Namun, dia teringat jika Kimy tidak bisa dipercaya. Pasti ada saja tingkah putrinya itu. Oleh sebab itulah kenapa Firza memilih masuk kembali ke dalam kamar. Lalu menarik lengan putrinya agar bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sementara wanita itu membuka almari dan memilih baju untuk putrinya. Malam ini adalah malam spesial di mana mereka akan membicarakan perihal perjodohan Rich dengan Kimy. Firza sungguh tak apa jika Kimy segera menikah. Akan lebih baik begitu agar ada yang mendidik Kimy menjadi wanita dewasa. Dia sendiri merasa gagal menjadi sosok mama bagi putrinya itu. Mungkin sejak Kimy kecil baik dia dan Rega sangat memanjakan putrinya itu sehingga ketika Kimy tumbuh besar maka suka sekali bersikap sesuka hati. Dan Firza sudah menyerah dengan sikap dan perilaku Kimy.
"Ini ayo pakailah." Firza menyerahkan selembar gaun berwarna tosca pada putrinya. Kulit putih milik Kimy pasti sangat cocok dengan baju berwarna cerah seperti itu.
"Mama yakin memintaku untuk memakai gaun ini?" Kimy merentangkan gaun tersebut dan menatap tidak minat. Bagaimana mungkin mama meminta padanya untuk memakai baju yang sangat seksi. Ini sungguh memalukan sekali.
"Kenapa memangnya? Sekali-kali kamu harus berpenampilan feminim Kimy. Jangan terus memakai celana kurang bahan."
"Baju ini juga kurang bahan, Ma."
__ADS_1
"Ini dress panjang selutut. Kurang bahan apanya. Kamu coba saja dulu baru berkomentar."
Dengan malas Kimy membawa baju tersebut ke dalam kamar mandi. Sembari menunggu putrinya, Firza mulai membongkar meja rias Kimy dan menyiapkan semua make up yang akan dia pakai untuk mendadani putrinya itu.
Kimy keluar dari dalam kamar mandi dengan dress sudah melekat di tubuh rampingnya. Firza tersenyum lebar mendapati sang putri tampak cantik jelita.
"Duh, cantiknya putri mama."
"Cantik apanya. Aku tidak nyaman mama."
"Hanya malam ini. Eh, tapi mulai sekarang memang kamu harus membiasakan dirimu sayang. Apalagi nanti setelah menikah. Rich pasti senang dan betah di rumah jika melihat istrinya cantik begini."
"Mama! Bisa nggak berhenti untuk tidak membicarakan soalan pernikahan. Aku geli mama. Lagian aku juga belum setuju untuk mau menikah."
"Mama yakin kamu tidak akan menyesal jika menikah dengan putranya Om Rayyan. Ayo, sini. Mama dandani biar makin cantik lagi."
Tak mungkin Kimy bisa mengelak paksaan Firza. Mamanya itu sudah menarik lengannya dan mendudukkan dia di meja rias. Dengan cekatan Firza mulai membubuhkan bedak di pipi putrinya. Kimy hanya pasrah dan tak ada daya upaya untuk menolak.
Hampir dua puluh menit barulah semua selesai. Firza yang menatap pantulan wajah putrinya sangat puas dengan hasil riasannya. "Selesai. Ayo sekarang kita keluar. Kasihan keluarga Om Rayyan sudah menunggu."
Dengan malas Kimy beranjak berdiri. Dengan digandeng mamanya, Kimy menurut saja ketika ibu yang sudah melahirkannya ke dunia itu membawa menuju ruang makan. Di sana keluarga Rayyan memang sudah cukup lama menunggu.
Nabila yang pertama kali menyadari kedatangan Firza dengan putrinya itu. "Ah, Kimy cantik sekali." Puji Nabila ketika menyambut salam dari gadis itu.
Firza memang sudah mendoktrin banyak hal pada Kimy agar bersikap sopan dan tak boleh sesuka hati. Beruntung Kimy menurut.
Ketika Kimy dihadapkan pada sosok Rich, gadis itu harus mengagumi dalam hati sosok pria tampan yang didengung-dengungkan akan dijodohkan dengannya. Kimy sudah lama tak melihat sosok Richard Alexander. Dan ternyata apa yang mamanya sampaikan seputar pria itu benar adanya. Rich memang tampan, serta pembawaan serta sikap dingin pria itu membuat Kimy jatuh cinta sejak malam ini. Tidak jadi menolak keinginan papa dan mamanya. Dan sebaiknya memang dia terima saja.
__ADS_1