
Rich membawa Kimy memasuki sebuah rumah minimalis satu lantai. Bukan sebuah apartment yang Rega berikan, tapi rumah mungil yang berada di salah satu kawasan perumahan yang cukup asri dan nyaman. Kebanyakan penghuninya juga pasangan baru semacam Rich dengan Kimy. Bukan tanpa sebab Rega memilihkan tempat tinggal ini. Semua karena Rega ingin putrinya hidup mandiri. Agar tahu bahwa perjuangan menjadi seorang istri. Dan juga agar Kimy lebih memahami apa yang dimaksud dengan arti hidup yang sesungguhnya. Memang baik tujuan Rega oleh sebab itulah kenapa Rich mau menerima hadiah pemberian papa mertuanya ini. Lagipula tidak enak juga jika dia terus berada menumpang di rumah kedua orang tuanya sementara dia sudah menikah. Rich tahu tanggung jawabnya sekarang makin besar dengan adanya Kimy. Dan Rich masih pada taraf mencoba kehidupan barunya ini meski setiap hari harus direcoki oleh Kimy.
"Rumahnya bagus, tapi kecil," celetuk Kimy begitu langkah kakinya memasuki ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga.
"Bagus dong jika rumahnya kecil. Kamu nggak akan kesulitan untuk membersihkan."
"Kak Rich pikir aku pembantu di rumah ini."
"Rumah ini nggak ada pembantu yang dipekerjakan. Jadi kamu bisa pikir sendiri kan siapa nanti yang bertugas membersihkan dan merawat rumah ini."
"Maksud Kak Rich ... nggak akan ada pembantu di sini yang artinya aku dong yang harus membersihkan rumah ini?"
"Iyalah. Memangnya siapa lagi? Aku setiap hari kerja nggak ada waktu bersih-bersih."
"Ish nggak bisa gitu dong, Kak. Lagian mana mungkin sih Papa kasih hadiah rumah ini tapi nggak sama pembantunya sekalian."
"Papa hanya ingin kita hidup mandiri. Agar kamu juga belajar lebih dewasa. Lagian kamu lama di luar negeri. Harusnya hal seperti ini tidak jadi soalan."
"Meski aku lama di luar negeri tapi ada petugas cleaning servis yang membersihkan apartment."
"Ya, sudah. Terima saja kenapa. Lagian jadi orang harus pandai bersyukur."
"Iya ... Iya. Aku tak pernah lupa bersyukur termasuk punya suami ganteng macam Kak Rich."
Rich hanya menghela napas lalu meninggalkan Kimy untuk mengecek kamar tidur yang ada di rumah ini. Hanya ada dua ruangan yang berfungsi sebagai kamar tidur. Salah satunya adalah kamar utama yang memiliki ukuran lebih besar. Dan Rich langsung menandai ini sebagai kamarnya karena dia memang membutuhkan ruangan yang luas. Nantinya tidak hanya sebagai kamar tidur saja tapi merangkap sebagai ruang kerja.
"Ini kamarku. Kamarmu yang sebelah," ucap Rich ketika Kimy mendekati dan ikut melongokkan kepala melihat ke dalam ruangan.
"Kenapa harus di kamar sebelah?"
"Ya karena kamar ini akan aku gunakan sebagai ruang kerja juga. Jadi kamu tempati saja kamar yang satunya."
"Jadi kita akan pisah kamar?"
"Ya."
"Mana bisa begitu?"
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa?"
"Namanya suami istri itu tidak ada yang namanya pisah kamar. Yang ada juga tidur di satu kamar yang sama seperti mama dan papa juga papa Rayyan dan mama Nabila."
"Tapi kita pengecualian. Aku tidak ingin kamu merecoki ketenanganku di rumah ini. Jadi jangan banyak protes lagi Kimy. Bawa barang-barangmu ke dalam kamarmu sendiri."
"Ish, Kak Rich nggak seru."
Kimy mengerucutkan bibirnya sembari menyeret koper menuju kamar sebelah. Memang ukurannya lebih kecil tapi masih terlihat nyaman dia tempati. Ya, sudahlah. Kimy terima. Membangkang Rich pun tak ada guna.
•••
Usai dengan bebenah beberapa barang yang mereka bawa, karena kebetulan perabot juga sudah tersedia di dalam rumah ini sehingga Kimy dengan Rich hanya perlu menempati saja, Rich membawa Kimy kembali pulang ke rumah orang tuanya. Rencana untuk pindahan besok belum berubah dan masih sesuai rencana.
"Nanti di rumah kamu cek lagi jangan sampai ada barang yang tertinggal. Karena mulai besok kita akan menempati rumah itu."
"Iya."
Sampai di depan rumah, Rich hanya menurunkan Kimy di luar. "Kakak tidak masuk dulu."
"Kak Rich ini sok sibuk sekali."
"Ya, memang aku sibuk."
"Iya, iya paham."
Sebelum keluar Kimy menyodorkan tangan pada suaminya. Dia hanya suka saja melihat apa yang sering mamanya lakukan pada sang papa.
"Apa?" Rich tak paham.
"Tangan Kak Rich mana?"
"Untuk apa tangan?"
"Sudah jangan banyak tanya."
Rich ulurkan tangan yang langsung disambut oleh Kimy. Gadis itu membungkuk lalu mencium tangan Rich.
__ADS_1
Nyes. Rasanya sedikit aneh dan Rich berdehem sebentar demi menyembunyikan kegugupan akibat pertama kali dicium tangannya oleh Kimy.
"Kak Rich hati-hati di jalan."
"Iya. Sudah sana turun!"
"Dih, jahat banget."
Rich melotot, dan Kimy buru-buru keluar dari dalam mobil sebelum mendapat amukan dari suaminya.
Setelahnya Rich memacu kembali mobil meninggalkan rumah. Hari ini dia ada janji temu dengan Resca. Ini kali pertama mereka akan kembali bertemu setelah sekian minggu mencoba saling menjauh. Rich sendiri juga tidak ingin mengecewakan orang tuanya dengan setuju menikahi Kimy.
Namun, dari segi hati masih jelas dia menyukai Resca. Oleh sebab itu pula yang menggerakkan dirinya untuk menemui wanita itu hari ini. Sebab rasa rindu yang tak mampu Rich kendalikan lagi.
"Rich!" Resca memanggil ketika melihat lelaki yang dia tunggu-tunggu menampakkan diri di pintu masuk cafe. Tempat di mana mereka janjian untuk saling bertemu.
Begitu netra Rich bersiborok dengan mata sayu milik Resca, pria itu mengulas senyuman sangat lebar. Gegas mendekat pada meja yang ditempati oleh Resca. Tanpa kata Resca berdiri dan bersiap memeluk Rich.
Namun, sayangnya Rich menahan Resca untuk tidak kebablasan. Serindu apapun dia pada wanita di hadapannya ini, Rich masih tahu batasan untuk tidak berbuat hal yang tak senonoh dengan istri orang. Lagipula dia sendiri juga masih sadar bahwa memiliki status suami orang. Apalagi ini tempat umum. Rich tak ingin ambil resiko dituduh berselingkuh nantinya.
"Maaf," cicit Resca merasa kecewa atas penolakan Rich.
"Duduklah," pinta Rich lalu pria itu pun menyeret kursi hingga kini keduanya selain duduk saling berhadapan.
Keduanya saling bungkam unyu beberapa saat. Menyelami perasaan masing-masing hingga sebuah kata meluncur dari bibir Resca. "Aku merindukanmu, Rich."
Inginnya Rich pun menjawab, 'Aku pun juga sama merindunya denganmu.'
Namun, Rich sekuat hatinya menahan diri untuk tidak lepas kendali mengatakan itu semua.
"Apa kabarmu, Ca?"
Resca tak menyangka jika tanggapan Rich begitu dingin padanya. Apakah karena pria itu sudah menikah sekarang? Jadi tak lagi menganggap keberadaannya.
"Masihkah kau bertanya bagaimana keadaanku? Menurutmu apakah aku tampak baik-baik saja?"
Rich menghela napas panjang. "Maafkan aku, Ca. Karena tak ada yang bisa aku lakukan untuk hubungan kita berdua."
__ADS_1