
Kawin lari tanpa restu orangtua sama sekali tak ada dalam kamus hidup sosok Richard Alexander. Berminat melakukan hal itu pun tidak pernah. Lantas, bagaimana mungkin ada seorang wanita yang menawari diri untuk dia bawa kabur agar batal menikah dengan calon suaminya. Hal yang sangat mustahil Rich lakukan hingga dengan sangat lembut dan penuh perhatian Rich memberikan pengertian pada Resca.
"Ca, bagiku pernikahan itu satu kali untuk seumur hidup. Pernikahan juga bukan hal yang patut untuk kita permainkan. Dulu, aku juga begitu mencintai seorang wanita sampai saat aku serius dan ingin menikahinya tapi rupanya takdir tak memihak untuk aku dan dia bersatu. Sejak saat itu, hati ini terasa beku dan tak lagi tertarik dengan hubungan serius ke jenjang pernikahan. Karena bagiku perempuan susah dipercaya. Dan karena aku berpikir jika menikah itu bukan sekedar ....Oke kita nikah. Bukan seperti itu tapi juga ada dua keluarga yang wajib disatukan. Restu orang tua juga salah satu hal wajib yang harus aku kantongi sebelum menajalani hubungan yang serius."
Rich menghela napasnya ketika memperhatikan wajah Resca dengan mata tampak berkaca-kaca. "Ca, pilihan keluargamu itulah yang terbaik. Jangan lagi lari dari kenyataan apalagi demi aku seorang."
"Tapi aku mencintaimu, Rich."
"Aku pun sebenarnya juga memiliki rasa yang sama padamu. Hanya saja aku sadar jika aku datang di saat yang tidak tepat. Aku mengenalmu di saat kamu sudah memiliki calon suami. Andai kita bertemu sejak dulu, mungkin aku tak akan pernah mengingkari rasa yang sama denganmu. Sayanganya, aku tak mau merusak masa depan seseorang. Termasuk merusak kebahagiaan keluargamu karena karma itu ada. Dan setelah melalui pemikiran yang panjang ... aku sudah putuskan untuk menerima perjodohan yang keluargaku rancang. Begitu pun denganmu, Ca. Terimalah dan jalani pernikahanmu dengan hati lapang. Aku yakin sekali jika kebahagian itu akan kamu temukan seiring perjalanan waktu."
Resca yang sedih tak mampu membendung air matanya.
"Maafkan aku, Ca." Ucap Rich penuh kesedihan karena sejujurnya dia sangat berat mengatakan demikian. Tapi demi kebaikan bersama hal ini memang harus dia lakukan.
"Rich ...."
"Sudah lah, Ca. Jangan takut atau mengkhawatirkan hal apapun juga. Semua pasti akan baik-baik saja. Sebaiknya kamu aku antar pulang. Karena kondisimu yamg seperti ini, aku takut kamu tak bisa pulang dalam kondisi yang baik-baik saja."
"Aku memang sedang tidak baik-baik saja, Rich."
"Ca, please!"
Pada akhirnya Resca tak ada pilihan lain kecuali menurut pada Rich. Dengan diantar oleh pria itu, Resca kembali pulang ke rumahnya. Beruntung tak ada yang menyadari kehadiran Rich yang mengantar wanita itu sehingga tak lagi ada keributan yang terjadi.
•••
__ADS_1
Sejak hari itu, kehidupan yang Rich jalani sangat datar dan tak ada yang menarik sama sekali. Dia terima rencana perjodohan dengan Kimy meski tidak dengan sepenuh hati. Bahkan Rich menurut saja ketika mamanya meminta ini dan itu padanya. Seperti mulai mengurus segala macam hal yang berhubungan dengan rencana pernikahan mereka.
"Kak, besok jangan telat datang. Aku sudah siapkan tema terbaik untuk foto prewed kakak," ucap Zayn mengingatkan Rich karena untuk acara pre wedding kali ini diserahkan pada Zayn. Anak kedua Rayyan dan Nabila.
"Iya, iya. Jangan bawel."
"Haduh, mulutnya kakak masih pedas ternyata. Kukira setelah mendapat daun muda ... kakak akan kembali muda. Tapi rupanya tidak."
"Sialan kau, Zayn."
Anak kedua Rayyan itu hanya terbahak mendengar kekesalan kakaknya.
Sesungguhnya sampai detik ini pun Rich masih tak paham akan dibawa ke mana rencana pernikahan yang hanya tinggal menunggu hari dengan Kimy.
Bahkan fitting baju pengantin pun sudah diatur dengan Nabila, dan Rich hanya tinggal datang saja ke butik lusa. Sangat melelahkan sebenarnya mengurus pernikahan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Tak ada yang bisa Rich lakukan demi mengelak dari ini semua.
"Rich!"
"Ya, Ma."
"Jangan lupa lusa bawa Kimy fitting baju."
"Kenapa nggak datang sendiri-sendiri saja ke butik."
"Tante Firza nggak bisa antar Kimy jadi tolong kamu jemput dia."
__ADS_1
Rasanya kepala Rich hampir meledak saat ini juga. Semua orang meributkan acara pernikahannya. Belum lagi permintaan mamanya yang ingin dia menjemput Kimy. Gadis yang membuat Rich selalu sering menghela napas dengan segala tingkah absurd-nya. Bagaimana mungkin ada gadis yang dengan terang-terangan menyetujui bahkan bersyukur dengan adanya perjodohan ini. Dan Rich harus kecewa ketika usahanya mempengaruhi Kimy agar membatalkan perjodohan gagal total.
"Kak Rich, bukankah perjodohan ini sangat indah? Aku saja harus banyak-banyak berterima kasih dengan papa dan mama karena telah mendatangkan jodoh setampan Kak Rich."
Itulah kata yang Kimy dengungkan dan bisa-bisanya dia terjebak dengan hubungan bersama gadis belia yang di setiap pertemuan mereka selalu berhasil membuatnya sakit kepala. Bagaimana nanti jika mereka sudah benar-benar menikah? Yang pasti hidup Rich akan semakin direcoki.
Kegalauan hati Rich rupanya nampak di mata Zayn. Pemuda itu mendekati mamanya lalu berbisik lirih. "Ma ... sepertinya Kak Rich sedang berpikir keras tentang bagaimana cara menaklukkan istrinya di saat malam pertama."
Plak
Satu pukulan singgah di paha putra keduanya. "Kamu ini. Jangan asal bicara dan jangan menggoda kakakmu. Awas saja jika sampai Rich kabur di hari pernikahannya nanti. Mama sunat kamu nanti."
"Lah, kenapa jadi aku?"
"Habisnya hanya kamu ini yang suka menggoda kakakmu. Sudah tahu Rich ini susah sekali menerima pernikahannya ... kamunya malah sibuk menggoda."
"Lah, kenapa harus dijodohkan segala. Kenapa nggak biarkan Kak Rich memilih calonnya sendiri saja."
"Menunggu kakakmu nikah bisa sampai nanti pun tak ada progres juga. Dan kamu juga tahu kan apa konsekuensinya jika Rich tidak menikah juga. Itu berarti kamu pun tak bisa mendahului kakakmu karena Rich harus menikah lebih dulu."
"Dih, Mama. Iya ... iya. Aku akan berada di pihak mama. Ikut mendukung Kak Rich biar cepat nikah. Karena aku sendiri juga sudah tak sabar ingin menikah juga."
"Lah, memangnya kamu sudah ada calonnya. Jika sudah ... kenapa nggak sekalian saja kalian nikah bersama-sama."
"Mama ini ada-ada saja. Kayak nikah itu gampang. Lah, ini Kak Rich yang mau nikah ... yang repot semua keluarga. Bagaimana jika aku ikut ikutan nikah juga. Bisa tambah ruwet dari ini."
__ADS_1
Nabila mengulas senyuman. "Anak mama ini bisa juga berpikir dewasa."
Dan Zayn akan malu-malu jika Nabila mulai memanjakannya karena Zayn tidak suka dianggap anak kecil oleh keluarganya.