
Rich masih fokus menatap layar laptop yang menampakkan banyaknya foto sosok calon mempelai wanita dari klien yang memakai jasanya untuk sebuah acara pre-wedding.
'Ini sudah gila!' gumam Rich lebih pada menyalahkan dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin sejak pertemuan pertama mereka, Rich terpesona pada perempuan itu. Seorang perempuan yang mendekati kriteria wanita idamannya. Bukan hanya kecantikan wajah yang wanita itu miliki saja, tapi juga aura yang terpancar juga sikap anggun yang menyentuh hatinya.
Dan di satu minggu kebersamaan mereka, dengan terang-terangan Rich mengungkapkan pada dirinya sendiri bahwa dia jatuh cinta pada Resca.
Netra itu tak berkedip menatap satu per satu foto yang dia ambil secara candid. Rich tahu kesalahan apa yang dia buat tapi dia tak bisa berbuat banyak. Ini semua menyangkut tentang perasaan juga rasa suka. Tak ada yang ingin menyukai calon istri orang. Namun, hati Rich tak mampu berbohong. Meski pun tak ada juga niatan untuk merebut wanita itu dari tangan lelaki lain yang lebih berhak yaitu calon mempelai pria dari Resca.
Ehem
Suara deheman yang cukup keras, sampai membuat Rich terjengit kaget. Terlambat. Bahkan Rich belum sempat menutup atau mengalihkan tampilan layar laptop dari foto-foto Resca yang sejak tadi diperhatikannya, ketika sang papa tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang tubuhnya. Dengan satu lengan bertumpu pada kursi yang sedang Rich duduki.
"Cantik," ucap Rayyan ikut mengamati banyaknya foto perempuan yang sejak tadi menyita perhatian putra pertamanya. Jelas Rayyan curiga karena tidak biasanya Rich akan melamun dengan bibir mengulas senyuman demi melihat gambar wanita cantik yang tersimpan dalam laptopnya. Menjadi seorang fotografer memang profesi Rich dan menyimpan banyak gambar wanita cantik memang sudah biasa Rayyan lihat. Yang tidak biasa adalah cara pandang putranya itu yang jelas terlihat jika Rich tengah terpukau atau bahkan mengagumi sosok Wanita yang masih diperhatikan oleh Rayyan.
"Papa! Tiba-tiba saja sudah di sini. Mengagetkanku saja."
"Ya, jelas kamu kaget. Sejak tadi kamu melihat foto perempuan itu tak berkedip. Bahkan langkah kaki papa saja kamu tak dengar."
"Ya, maaf."
"Dia siapa? Kekasihmu? Ah, sepertinya bukan. Apa dia salah satu modelmu? Kenapa papa baru melihatnya sekarang."
"Dia klienku." Tanpa rasa bersalah Rich menjawab.
Kening Rayyan mengernyit mendengar jawaban tak masuk akal dari putranya. Mana mungkin wanita itu klien Rich. Jika memang benar, lantas kenapa putranya itu memandang penuh minat pada wanita itu. Jangan-jangan ....
Rayya menggelengkan kepalanya. Tak mau berpikir negatif pada putranya sendiri.
"Klien?" Rayyan mencoba bertanya untuk memastikan.
Rich mengangguk. "Iya. Baru saja melakukan foto prewedding satu minggu lalu."
"Foto pre wedding hanya perempuannya saja? Yang lelaki mana?" Masih penasaran Rayyan bertanya. Karena yang tengah dia lihat hanya sosok calon pengantin wanita. Mempelai prianya tidak nampak olehnya.
"Ada. Tapi memang aku sedang mengedit foto perempuannya."
Rayyan mencebik. Dalam hati berucap mengatai putranya itu. Buaya kok di kadalin.
__ADS_1
Bukan Rayyan tak tahu jika jawaban Rich hanya asal. Mana ada foto prewedding dengan tangkapan layar yang terlihat diambil tanpa sepengetahuan si empunya. Yang artinya pemilik gambar tersebut tidak tahu jika Rich mencuri foto wanita tersebut.
Rayyan menepuk bahu Rich. Berkata lirih sebelum meninggalkan putranya itu. "Hati-hati ambil foto orang tanpa izin. Apalagi sampai dipelototi begitu."
Sepeninggalan papanya, Rich mengusap wajah kasar. Berpikir dalam hati apakah papanya tahu jika dia menyukai wanita dalam gambar itu.
Dan satu hal yang baru Rich ingat. Papanya adalah suhu. Mana bisa dibohongi begitu saja dengan ucapan ngasalnya tadi. Sial! Nasibnya kini dipertaruhkan.
••••
"Sayang!" Panggil Rayyan ketika malam ini keduanya bersiap untuk tidur.
"Ya. Ada apa?"
"Kemarilah. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Nabila yang masih mengoles lotion lada tangannya menatap sang suami dengan mata menyipit. "Adakah hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku, Pa?"
Ya, hidup berpuluh tahun bersama Rayyan tentunya semakin paham saja Nabila akan sikap dan sifat suaminya itu. Jika berbicara tanpa ekspresi seperti ini, tandanya jika Rayyan memang sedang serius.
Nabila mendekati ranjang. Lalu naik ke atasnya dan duduk berselonjor kaki di samping suaminya. Namun, sekian detik menunggu tak terdengar Rayyan berkata-kata. Pria itu justru diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku sedang sibuk berpikir."
"Berpikir apa?"
"Tentang Rich."
"Kenapa dengan Rich?"
"Sebaiknya kamu juga awasi dia karena aku mencurigai sesuatu."
Karena bicaranya Rayyan ini tidak jelas, Nabila yang belum paham pun menegakkan badan lalu merangsek mendekat pada Rayyan. "Maksudnya apa? Bicara yang jelas kenapa, Pa."
Rayyan menghela napas. Kecurigaan yang dia rasakan ada baiknya memang dia ceritakan saja pada Nabila.
"Aku curiga jika anak kita suka dengan calon istri orang."
"Hah? Calon istri orang? Siapa?"
__ADS_1
"Tadi aku tidak sengaja masuk ke dalam kamarnya. Anak itu tampak fokus sekali menatap laptop di mana aku lihat sendiri jika di sana ada gambar wanita cantik. Dan satu hal lagi. Senyum Rich itu loh. Tak bisa dibohongi jika dia memang terpesona pada sosok wanita cantik yang dikatakan adalah kliennya."
Nabila sedikit berpikir sebelum mencerna satu hal. "Jadi maksudmu ... Rich suka dengan calon pengantin wanita yang jadi kliennya?"
Rayyan mengangguk. "Ini masih dugaannku saja. Belum tahu kebenaranya. Tugasmu yang barus mencari tahunya."
"Kenapa aku?"
"Ya karena kamu mamanya dan kamu pasti bisa mendekatinya dan mengorek semua informasi seputar Rich tentunya."
"Apa benar seperti itu. Mungkin hanya perasaanmu saja, Pa."
"Jika kamu tidak percaya dengan feelingku coba kamu tanyakan langsung saja pada Rich. Sungguh. Aku was was sekali jangan sampai dia menjadi orang ketiga yang akan menghancurkan pernikahan kliennya sendiri."
"Apa mungkin wanita itu mantannya Rich?"
"Mantan dari mana? Memangnya kamu pernah tahu siapa saja pacarnya?"
Kepala Nabila menggeleng karena memang Rich ini setahu Nabila tak lagi pernah memiliki kekasih setelah pernah ditinggal oleh seorang perempuan yang sudah dia dan Rayyan kenal. Sejak itu, yang diutamakan Rich hanya kerja dan kerja.
"Tapi, Pa. Jika memang Rich suka dengan wanita itu bagaimana?"
"Ya kita harus melarangnya. Tidak baik merusak kebahagiaan orang lain."
"Aku paham dan aku tak akan membiarkan Rich berlaku demikian. Nanti coba aku akan tanyakan padanya apakah benar dia menyukai kliennya. Jika benar ... ah, entahlah. Anak itu ada-ada saja. Sekalinya menyukai wanita kenapa harus calon istri orang."
"Ya nggak tahu. Anakmu."
"Anakmu juga."
Rayyan tertawa lalu kembali menghela napas panjang. Anak pertamanya ini sedikit aneh memang. Tertutup, dingin dan tak tersentuh. Hampir tidak pernah dekat dengan perempuan meski banyak yang mencoba mendekati.
Pikiran buruk mulai meracuni dan Rayyan berusaha mengusir semua pikiran konyol seputar Rich.
####
Halo, aku come back.
Btw, di episode sebelumnya aku ada revisi nama Raisa menjadi Resca. Karena lupa jika nama Raisa pernah digunakan jadi nama sekretaris Rayyan.
__ADS_1
Selamat membaca.