
Rich duduk di ruang makan. Membuka penutup mangkok berisikan makanan. Ada sayur pakcoy bawang putih juga ayam teriaki. Nasi putih juga sudah tersedia di atas meja makan. Rupanya istri kecilnya ini bisa diandalkan juga untuk mengisi perut yang keroncongan. Rich manggut-manggut puas menunggu Kimy menyusulnya meski sebenarnya dia sudah lapar.
Lima belas menit kemudian, Kimy yang sudah tampak segar sehabis mandi menyeret kursi di sebelah Rich. Tanpa diminta, gadis itu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
"Cukup, jangan banyak-banyak nanti aku kekenyangan," ucap pria itu ketika Kimy sudah mengisi piring dengan dua centong nasi dan Kimy masih ingin menambahnya lagi.
"Maaf ya Kak. Hanya ini yang bisa Kimy masak. Waktunya singkat takut jika Kak Rich keburu lapar. Besok jika Kimy ada waktu banyak, Kimy akan memasak banyak makanan juga untuk kakak."
Rich tak menjawab lalu meraih piring yang Kimy sodorkan. Piring yang sudah berisikan nasi beserta sayur dan lauknya. Tidak buruk juga meski Kimy hanya memasak menu sederhana. Namun, yang membuat Rich heran, Kimy mendapat bahan makanan dari mana? Tidak mungkin juga makanan ini hasil dari Kimy membelinya. Tampaknya memang hasil olahan tangan gadis itu sendiri. Rich yang heran pun melontarkan pertanyaan.
"Kamu bisa memasak ini semua dapat bahan makanan dari mana? Atau jangan-jangan kamu membeli jadi makanan ini?"
"Enak saja. Aku memasak sendiri makanan ini. Tadi belanja di aplikasi online. Kakak saja yang kudet tidak pernah tahu aplikasi belanja bahan makanan seperti ini. Tapi tadi aku tidak beli banyak. Besok jika Kak Rich tidak sibuk, antar Kimy belanja ya?"
"Tidak bisa janji karena aku sibuk."
Kimy mengerucutkan bibirnya. Kenapa Rich ini tidak mau bersikap baik sedikit saja padanya. Padahal dia sendiri sudah mengalah dengan menurut akan segala perintah pria itu.
Dia memasak ini semua penuh dengan cinta dan kasih sayang. Meski menu sederhana tapi Kimy yakin rasanya sangat enak.
Beruntung kemarin Papa Rega mendatangkan satu mobil peralatan serta perlengkapan rumah tangga untuk mengisi rumah ini. Mulai dari peralatan memasak, perlengkapan makan, sampai peralatan bersih-bersih dengan lengkap papanya kirim ke rumah ini. Sehingga Kimy dengan Rich tidak perlu repot-repot membelinya. Furniture di dalam rumah ini juga sudah lengkap ketika mereka memasuki rumah ini.
Benar-benar tinggal masuk dan semua tinggal menikmati.
Kimy melirik Rich yang makan dengan lahap. Dalam hati Kimy mengulum senyuman. Dia berpuas hati karena Rich menikmati tanpa komplain hasil masakannya. Membuat Kimy makin semangat saja. Dia berjanji besok-besok akan memasak menu yang lebih enak dari ini. Dia memang bukan jago memasak layaknya chef profesional. Tapi Kimy mau belajar. Bukankah di YouTube banyak sekali berseliweran aneka resep menu makanan mulai dari yang rumahan sampai makanan khas Eropa yang biasa disantap oleh orang-orang kaya.
"Kak Rich mau nambah lagi? Ini nasi dan sayurnya masih ada. Sayang jika tidak dihabiskan," tawar Kimy.
Tanpa menjawab, Rich hanya menyodorkan piringnya. Dengan senang hati Kimy mengisi piring Rich dengan makanan yang masih sisa.
Dan kembali Rich melahap makanan hasil masakan Kimy tanpa kata.
•••
__ADS_1
Usai makan malam, Rich beranjak berdiri membawa piring bekas makannya juga tempat kosong bekas sayur dan lauk tadi. Rich berniat mencuci piring kotor tersebut di wastafel. Tapi Kimy langsung melarangnya.
"Kak! Biarkan di sana saja. Nanti aku sendiri yang akan mencucinya."
"Biar aku saja. Tadi kamu sudah capek-capek memasak. Sekarang tugasku bersih-bersih."
Lagi-lagi Kimy mengulas senyuman sangat lebar. Lama-lama gunung es itu pasti akan mencair juga jika dia menurut pada suaminya itu.
"Kak!"
"Hem!" Rich yang memunggungi Kimy berdehem.
"Aku minta maaf ya, Kak. Tadi nggak sengaja berantakin rumah. Habisnya aku bosan di rumah."
"Jika kamu bosan, kenapa tidak pergi ke luar saja. Bukankah aku tidak pernah melarangmu untuk bergaul bersama teman-temanmu?"
"Beneran Kak Rich ngizinin aku keluar bareng teman-teman? Kukira setelah menikah kakak akan membatasi ruang gerakku. Bukankah tujuan papa menikahkan kakak dengan aku agar kakak bisa mendidik agar aku tak lagi bersikap sesuka hati lagi?"
"Iya, aku paham Kak."
"Bagus."
Rich tidak langsung kembali ke dalam kamar tapi kembali duduk di depan Kimy.
"Satu hal lagi. Aku akan mendaftarkan kamu ke salah satu Universitas."
"Apa? Kakak ingin aku kuliah?"
"Ya. Aku ingin kamu kuliah."
"Tapi aku sudah pernah kuliah kak?"
"Di DO kan?"
__ADS_1
Kimy menunduk malu.
"Kimy, dengar aku. Kamu masih sangat muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Jangan sampai kamu menyesal nantinya karena ketika muda kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat menggapai cita-cita dan pendidikan."
Kimy diam. Menelaah akan semua ucapan Rich yang memang benar. Melihat Kimy yang hanya diam, Rich kembali berucap. "Tidak ada bantahan dengan semua yang sudah aku rencanakan karena itu untuk kebaikan kamu juga. Kamu mengerti Kimy?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Mana mungkin berani membantah semua ucapan Rich. Suaminya itu sangat menyeramkan jika marah dan Kimy tak berani menghadapi sikap dingin Rich.
Entahlah kenapa baginya Rich ini lebih menakutkan daripada papanya. Dulu dengan papanya, Kimy dengan sesuka hati membantah. Tapi dengan Rich ... nyali Kimy langsung menciut seketika.
"Iya. Aku ikut saja dengan apa yang Kak Rich inginkan."
"Tapi kamu juga harus ingat jika kuliah bukan untuk main-main. Kamu harus serius sampai mendapat gelar sarjana."
"Lalu apa yang akan aku dapatkan nanti jika sudah berhasil mendapat gelar Sarjana."
"Apapun yang kamu inginkan akan aku turuti."
Mata Kimy berbinar bahagia. Benarkah Rich akan mengikuti apapun yang dia mau.
"Beneran, Kak?"
"Asal jangan yang aneh-aneh saja."
"Jika aku minta cintanya Kakak ... boleh tidak."
Rich menelan ludah. Pertanyaan macam apa yang Kimy lontarkan. Rich gugup lalu memilih beranjak dari duduknya.
"Jangan memikirkan soalan cinta. Pikirkan saja masa depanmu agar lebih baik dari sekarang. Siapkan dirimu baik-baik karena bulan depan aku akan daftarkan kamu kuliah."
Setelah mengatakan itu Rich meninggalkan meja makan.
"Kak Rich! Bisakah aku memilih jurusan sesuai dengan yang aku inginkan?"
__ADS_1